
"Dokter, bagaimana hasilnya? Cucu saya baik-baik saja, kan?" tanya Nandira begitu dokter selesai memeriksa Justin.
"Cucu Anda hanya mengalami demam biasa, Nyonya. Mungkin itu di sebabkan karena cucu Anda yang terlalu aktif. Jangan khawatir, tidak ada masalah serius dalam hal ini," ucap Russel seraya menatap dalam pada bocah kecil yang baru saja di periksa olehnya.
Wanita ini sangat mirip dengan Amora. Apakah mungkin Justin adalah anaknya Bern? Jika benar, maka bisa di pastikan kalau rasa sakit yang muncul di kepalanya adalah karena dia yang mewarisi salah satu kelebihan yang dimiliki oleh anggota keluarga Ma. Hmmm, sepertinya aku harus memberitahu Andreas tentang hal ini.
"Tapi jika tidak ada masalah yang serius lalu kenapa putraku terus mengatakan kalau kepalanya sakit, dok? Jika memang di perlukan, kita lakukan saja pemeriksaan menyeluruh. Saya khawatir ada penyakit lain yang tidak terdeteksi," ucap Renata sambil menciumi kening Justin yang masih saja mengeluhkan kepalanya sakit. Dia kemudian duduk di kursi samping sang ibu, menatap seksama pada dokter yang malah sibuk memperhatikan putranya. Kening Renata mengerut. "Dokter, Anda menyimak perkataan saya barusan, kan?"
"Saya menyimak." Russel menghela nafas. Tadi dia sedang memikirkan kemungkinan kalau Justin adalah anaknya Bern, jadi sedikit tak menghiraukan ucapan wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Amora. Tidak mirip sih, tapi ke lebih memang ini orangnya. Walaupun sebelumnya Russel tidak pernah bertemu dengan gadis tersebut, tapi dia masih bisa mengingat dengan jelas seperti apa foto wanita yang telah berhasil menghancurkan hati sepupunya hingga kehilangan jati dirinya sekarang sekarang. Teringat dengan kondisi Bern semalam, tiba-tiba saja Russel terpikir untuk menanyakan kapan Justin mulai demam. Dia ingin memastikan sesuatu hal. "Nyonya, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Silahkan, dokter!"
"Kapan Justin mulai demam?"
"Tepatnya pukul empat dini hari tadi," jawab Renata. "Saya tak sengaja mendengar suara rintihannya. Lalu setelah di ukur, ternyata suhu tubuh Justin mencapai tiga puluh sembilan derajat. Saya lalu memberikan pertolongan pertama di rumah. Lalu saat terbangun Justin mengeluhkan kalau kepalanya sangat sakit. Jadi saya dan Ibu saya buru-buru pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya!"
"Jam empat dini hari tadi?"
"Iya, dokter."
Seulas senyum samar muncul di bibir Russel begitu dia mengetahui hal tersebut. Setelahnya dia segera meresepkan obat guna membantu menurunkan panas bocah laki-laki yang kemungkinan besar adalah keponakannya. Renata dan ibunya yang melihat gelagat aneh di diri dokter yang tadi memeriksa Justin tampak saling melempar lirikan. Mereka merasa janggal.
"Nyonya, saya pastikan keadaan Justin baik-baik saja dan tidak ada penyakit serius di kepalanya. Terkadang anak-anak sepertinya seringkali tidak bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia mimpi. Bisa saja rasa sakit itu muncul karena sebelumnya Justin memimpikan sesuatu. Makanya dia merasa kesakitan seolah dirinya masih terjebak di dalam dunia mimpi tersebut. Begitu," ucap Russel sembari menyerahkan resep obat.
"Darimana Anda tahu kalau cucu saya baik-baik saja di saat Anda sendiri belum melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dok?" cecar Nandira merasa berat saat tak ada kepastian tentang sakit di diri cucunya. Jadi dia meminta penjelasan dari dokter ini agar hatinya bisa merasa tenang.
Bagaimana mungkin aku tidak mengenali gejala dari seseorang yang adalah bagian dari keluarga Ma, Nyonya? Konyol. Justin kesakitan bukan karena mengidap penyakit, tapi karena dia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.
"Kalau kalian tidak percaya, kalian boleh melaporkan saya ke kantor polisi jika di suatu hari nanti terjadi hal yang tidak di inginkan pada Justin. Nama saya Russel Eiji Wang!" sahut Russel dengan tenangnya menjaminkan diri atas keadaan Justin.
"Dokter, maaf. Kami hanya terlalu mengkhawatirkan keadaan Justin. Makanya kami sampai bersikap seperti ini. Mohon dokter jangan tersinggung ya," ucap Renata merasa tak enak hati saat di tawari untuk melapor ke polisi jika suatu hari Justin sampai kenapa-napa.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sangat paham dan bisa mengerti seperti apa perasaan Anda. Jadi jangan khawatir. Saya sama sekali tidak merasa tersinggung."
"Terima kasih, dok. Kalau begitu kami permisi dulu. Selamat pagi,"
"Selamat pagi,"
Karena hari ini Russel diminta datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit, dia langsung berangkat dari apartemen Bern. Namun begitu tiba di sini Russel tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang tergesa-gesa sambil menggendong seorang anak di pelukannya. Merasa familiar dengan wanita tersebut, Russel akhirnya meminta dokter umum yang sedang bertugas agar membiarkannya memeriksa wanita dan anak kecil itu. Dan benar saja. Kefamiliaran Russel terjawab begitu dia berhadapan langsung dengan orangnya.
Sementara itu Renata yang lebih dulu pergi ke mobil tampak menyeka keringat dingin yang membasahi kening Justin. Dia lalu tersenyum saat bocah ini membuka mata.
"Ibu, kita mau pergi ke sekolah ya?" tanya Justin dengan suara yang masih sangat lemah.
"Tidak, sayang. Hari ini kita libur dulu ya. Kan Justin sedang sakit," jawab Renata dengan lembut. "Nanti tunggu setelah Justin sehat baru kita akan berangkat ke sekolah seperti biasa. Ya?"
"Apa Justin boleh bermain di toko bunga?"
Renata menghela nafas panjang. Bahkan sedang sakit pun Justin masih terpikir untuk bermain. Benar-benar terlalu aktif. Hmmm.
"Bu, Justin ingin di gendong Ayah seperti kemarin,"
Deg deg deg
Di gendong Ayah? Bukankah waktu itu Bern yang telah menggendong Justin saat mereka tak sengaja bertabrakan di toko bunga ya? Ada apa ini? Justin tidak mungkin menganggap Bern sebagai ayahnya, kan?
"Ibu, Justin mau di gendong Ayah lagi. Hiksss,"
Justin akhirnya menangis setelah merengek ingin di gendong oleh sang ayah. Renata yang melihat hal itupun tak tahu harus berbuat apa. Ayah yang mana? Hanya Bern, pak sopir dan ayahnya saja yang pernah menggendong Justin. Atau jangan-jangan Justin masih terpikir dengan mimpi yang muncul di tidurnya sehingga beranggapan dirinya telah di gendong oleh ayahnya?
"Justin, mau Bapak gendong tidak? Sembari menunggu Nenek Nandira kembali kita bisa berjalan-jalan sebentar di sekitar sini. Mau?" ucap sopir mencoba menawarkan bantuan. Dia merasa terenyuh mendengar suara tangis bocah menggemaskan ini.
"Hiksss, tapi Justin mau di gendong ayah," sahut Justin sambil terisak sesenggukan.
"Anggap saja Bapak adalah ayahnya Justin,"
"Tapi ayahnya Justin tidak tua. Ayahnya Justin sangat tampan,"
"Masa sih,"
"Iya, Bapak." Justin mengusap air mata di wajahnya. "Ayahnya Justin sangat wangi dan hangat. Justin suka sekali di gendong oleh ayah."
Berkat pak sopir tangis Justin akhirnya terhenti sendiri. Bocah itu dengan seriusnya menceritakan betapa ayahnya sangat tampan dan juga keren. Pak sopir yang mendengar celotehan bocah tiga tahun itupun nampak menyikapinya tak kalah serius. Sesekali ekpresinya terlihat sedih saat mendapati wajah sang majikan yang terselimuti awan mendung. Satu kesedihan yang selalu muncul setiap kali Justin membahas tentang ayahnya.
Apa aku temui Bern saja ya? Aku khawatir hal ini akan berdampak pada kesehatan Justin jika mereka tidak segera di pertemukan. Iya benar. Biarlah kalau nanti Bern akan menganggapku sedang aji mumpung. Selama itu bisa membuat Justin bahagia, menikah dengannya pun aku rela. Sungguh.
***