
Renata terus memperhatikan Bern yang tengah menemani Justin bermain game. Di tangannya ada dua gelas minuman milik kedua pria beda usia ini, sedang di tangan satunya ada ponsel, dompet, dan juga kunci mobilnya Bern. Entah apa maksud pria ini menyerahkan semua benda tersebut kepadanya. Dan anehnya Renata sama sekali tak bisa menolak. Dia patuh saja, seakan ada sesuatu yang mengendalikan tubuh dan pikirannya.
Kenapa aku bisa sepatuh ini kepada Bern ya? Apa yang terjadi dengan tubuh dan pikiranku? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang memaksa agar patuh kepadanya? Aneh sekali.
"Ayah, ayo cepat hancurkan sepeda itu. Kita tidak boleh kalah!" seru Justin dengan semangatnya. Dia sampai mengepalkan kedua tangan dengan erat saking takut kalau ayahnya kalah.
"Siap, bos kecil. Tenang saja, hari ini kita yang akan menjadi raja di semua permainan. Kau siap?" sahut Bern dengan hebohnya. Bern benar-benar sudah tidak mempedulikan imagenya di hadapan umum. Dia masa bodo. Yang penting bisa menghabiskan waktu bersama dengan putranya, juga Renata. Ya meskipun wanita ini hanya menjadi penonton saja.
"Siap Ayah, siap. Yeyyyy! Kita akan menjadi raja game hari ini!"
Kehebohan yang sedang terjadi berhasil menyita perhatian beberapa orang. Renata yang menyadari hal itupun segera meminta Bern dan Justin supaya tidak terlalu kuat berteriak. Dia takut sikap kedua pria ini mengganggu kenyamanan orang lain. Karena bagaimanapun time zone ini adalah tempat umum, bukan pribadi.
"Jangan khawatir, Ren. Mereka semua tidak akan ada yang berani macam-macam pada kita. Kau dan Justin aman bersamaku," ucap Bern sambil mengelus tangan Renata. Bibirnya lalu menyunggingkan senyum tipis, merasa senang atas perhatian yang wanita ini coba berikan.
"Bukan begitu, Bern. Tempat ini bukan milik keluarga kita, jadi sebisa mungkin kita jangan sampai menganggu kenyamanan orang lain. Bisakan?" sahut Renata mencoba untuk bersikap biasa saja menghadapi sikapnya Bern.
Jujur, saat ini jantung Renata berdegub kuat sekali. Dia gugup, tapi senang. Aneh, kan? Entahlah. Rasa ini terlalu membingungkan. Pikiran dan tubuh Renata seolah dipaksa untuk mengingat sesuatu hal, tapi dia tidak tahu tentang apa.
"Kalau begitu apa kau akan mengizinkan aku dan Justin berteriak sesuka hati jika tempat ini menjadi milik kita?"
"K-kita?"
"Iya kita. Kau, aku, juga Justin. Bagus, kan?"
Perhatian Bern teralih saat Justin merengek memintanya agar melanjutkan permainan. Sebelum lanjut menyenangkan hati putranya, tangan Bern terulur mengusap puncak kepala Renata. Baru setelahnya dia memenuhi keinginan Justin yang terobsesi menjadi raja game. Hahaha, putranya benar-benar sangat lucu. Membuat Bern menjadi semakin sayang padanya.
"Ibu, coba lihat. Ayah hebat sekali memainkan game ini. Saat besar nanti Justin mau jadi seperti Ayah saja. Pintar dan juga punya banyak uang. Iyakan, Yah?" ucap Justin dengan cerianya membanggakan sang ayah.
"Jelas iya, sayang. Ayahnya siapa dulu," sahut Bern dengan senangnya.
"Justin Goh,"
Tiba-tiba saja Bern tersulut amarah saat Justin menyebutkan marga kakeknya. Dia yang tadinya sedang asik memainkan game mendadak jadi tak fokus lagi pada permainan itu. Bern emosi. Dia tidak terima Justin tidak menggunakan marga miliknya.
Bukan Justin Goh, tapi Justin Ma, anaknya Bern Wufien Ma. Aku tidak terima ini. Tidak terima!!!!
Melihat game yang dimainkan ayahnya mengalami game over membuat Justin langsung menangis histeris dan jatuh terduduk di lantai. Bocah ini merasa sangat kecewa karena tadi ayahnya telah berjanji kalau mereka akan menjadi raja game hari ini.
"Huaaaaa, Ayah jahat. Kenapa gamenya kalah. Justin mau jadi raja, Ayah. Justin mau jadi raja game," rajuk Justin sambil menangis kencang.
"Sayang, sudah ya jangan menangis lagi. Ayah mungkin sudah lelah, atau waktunya untuk bermain sudah habis. Justin lihat tidak kalau Ayah juga terlihat sedih. Jadi jangan menangis lagi ya," bujuk Renata dengan sabar. Dia kemudian mengangkat Justin ke dalam gendongan, memperhatikan dengan seksama perubahan ekpresi di wajahnya Bern. Sadar ada sesuatu yang salah, dengan lembut Renata mengelus bahunya. "Bern, aku tidak tahu apa yang membuatmu tiba-tiba jadi seperti ini. Tapi kau sadar tidak sikapmu sudah membuat Justin kecewa. Coba lihat, dia sekarang menangis. Memangnya kau tidak kasihan, hm?"
"Justin putraku. Harusnya dia memakai marga Ma, bukan Goh. Dia anakku, Renata," sahut Bern seperti orang tidak sadar. Dia kemudian menoleh, tapi tatapan matanya kosong. "Justin adalah anakku dengan Amora. Dia mana boleh menggunakan marga orang lain. Harus marga keluargaku, dan itu adalah Ma. Kau mengerti itukan?"
Sebegini dalamnya rasa kehilangan yang Bern tanggung hingga membuatnya tak bisa membedakan mana putra kandungnya dan mana putra orang lain. Kasihan sekali dia.
Setelah menimang beberapa saat, Renata akhirnya memutuskan untuk mengizinkan Bern mengganti nama belakang Justin. Hanya untuk menenangkan saja, tidak benar-benar di ganti.
"Kalau kau merasa berat untuk menerima marga Goh di belakang nama Justin, kau boleh kok menggantinya dengan marga keluargamu. Itupun jika kau tidak keberatan."
Tatapan Bern berangsur-angsur kembali seperti semula begitu Renata mengizinkan untuk dia menyematkan marga keluarganya di belakang nama Justin. Segera Bern berdiri kemudian mengambil Justin dari gendongan Renata.
"Justin, Ayah minta maaf ya. Tadi Ayah tidak sengaja kalah. Tolong jangan marah pada Ayah ya. Pleaseee," ucap Bern mencoba membujuk putranya agar mau memaafkan. Dia jadi merasa bersalah karena sudah membuat bocah ini menangis.
"Hiksss, Justin tidak marah, Ayah. Justin hanya menangis." Sesenggukan Justin menjawab. Dia lalu merebahkan kepala di bahu sang ayah, menumpahkan segala kekecewaan di sana. "Ayah bilang hari ini kita akan menjadi raja game, tapi sudah gagal gara-gara Ayah kalah. Makanya Justin menangis."
"Iya Ayah tahu Ayah salah. Ayah benar-benar minta maaf sekali pada Justin. Emmm sebagai permintaan maaf bagaimana kalau sekarang kita pergi ke toko es krim saja. Nanti di sana Justin bebas ingin membeli yang rasa apa. Mau tidak?"
Tangisan Justin langsung terhenti begitu Bern menyebutkan kata es krim. Renata yang melihat hal itupun hanya bisa pasrah saja. Dia lalu menggelengkan kepala saat kedua pria ini sama-sama menatapnya.
"Mau bagaimana lagi. Kau sudah terlanjur menyebutkan nama makanan sakral itu. Jadi mau tidak mau kita harus membelikan es krim untuknya. Jika kita tidak, putramu bisa menangis semalaman suntuk dan hanya bisa dibujuk dengan makanan itu saja. Kau ini ya," omel Renata sembari menepuk pelan lengan Bern.
"Tidak apa-apalah, Ren. Kan ini pertama kalinya aku mentraktir Justin makan es krim," sahut Bern sambil mengedipkan mata.
"Jangan terlalu sering ya. Aku takut Justin sakit perut jika terlalu banyak memakan makanan manis itu."
"Siap, Ibunya Justin. Ayah tidak akan sering-sering menjanjikan untuk membeli makanan itu."
Renata dan Justin tertawa lucu melihat kelakuan Bern. Setelah itu mereka bertiga keluar dari time zone dan berjalan mencari toko es krim.
Suatu pemandangan yang sangat menghangatkan hati di mana seorang pria tengah menggendong anaknya sambil memeluk bahu istrinya. Sangat menyejukkan. Mungkin bagi yang tidak mengenal siapa mereka, orang pasti akan berpikir kalau Renata dan Justin adalah istri dan anaknya Bern. Hmm.
"Ayah, nanti Justin pulang ke rumah Ayah saja ya," rengek Justin yang kembali ingin menginap di rumah ayahnya.
"Sayang, kan kemarin kita sudah menginap. Masa sekarang mau menginap lagi. Kasihan Ayah," sahut Renata pelan-pelan menegur putranya.
"Tapi Justin mau tinggal di sana, Ibu,"
"Kapan-kapan saja ya?"
"Tidak mau,"
"Justin, Ibu ....
"Tenang saja, Justin. Mulai nanti malam kau dan Ibu akan tinggal bersama Ayah. Oke?"
Bern menoleh. "Kau maukan tinggal bersamaku?"
"Bern, jangan beginilah. Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa. Kalau kita tinggal serumah, orang pasti akan berpikiran
buruk tentang kita. Tolong jangan meracuni pikiran Justin dengan hal-hal seperti ini. Oke?"
Tak ada jawaban. Bern hanya diam tak menanggapi penolakan Renata. Tekadnya sudah bulat. Secepat mungkin dia akan membawa Justin dan Renata tinggal bersamanya. Itu pasti.
(Bestie, apakah kalian menemukan kejanggalan di part ini? Jika iya silahkan komen-komen di bawah ya)
***