
Tok tok tok
"Bern, ini Ibu, Nak. Tolong buka pintunya ya. Ini Ibu, sayang!"
Sayup-sayup Bern seperti mendengar suara ketukan pintu dan juga teriakan ibunya dari depan pintu apartemen. Kondisinya yang masih sangat lemah membuat Bern tak bisa bangun dari tempat pembaringan. Sebenarnya pagi tadi Russel dan Andreas sudah mengusulkan untuk membawanya pergi ke rumah sakit. Akan tetapi hal tersebut di tolak oleh Bern. Dia sudah terbiasa sakit seperti ini selama lebih dari tiga tahun, jadi tidak mungkin Bern akan kalah dan membiarkan dirinya dirawat di rumah sakit. Bern tidak mau. Dia benci tempat berbau disinfektan itu. Menyakitkan.
"Bern, tolong buka pintunya, sayang. Jangan membuat Ibu khawatir begini. Ibu datang bersama Flow. Tolong biarkan kami masuk ya?!" teriak Elea sambil terus mengetuk pintu apartemen. Air mata tak berhenti menetes sejak tadi saking dia khawatir saat Bern tak kunjung membuka pintu. Elea takut putranya kenapa-napa setelah Andreas mengabarkan kalau semalam Bern demam tinggi.
Di dalam apartemen, Bern yang mendengar kalau adiknya ikut berkunjung segera menguatkan diri untuk keluar. Dia berpegangan di dinding sambil satu tangan memegang infus. Andai ada yang melihat, di pastikan orang itu pasti akan merasa sangat terenyuh sekali melihat kondisi Bern yang sangat amat kasihan. Dia bak tua renta yang tidak ada siapapun yang menolong. Sendirian menanggung sakit.
Ceklek
"Ibu," ....
Elea langsung memeluk Bern begitu pintu apartemen terbuka. Dan tangisnya pecah saat merasakan suhu tubuh putranya yang begitu panas seperti bara api.
"Nak, kau panas sekali. Kita ke rumah sakit saja ya?" bujuk Elea tak tega. Hatinya bagai teriris-iris melihat keadaan putra sulungnya yang seperti ini.
"Jika Ibu datang hanya untuk membujukku, lebih baik Ibu pulang saja. Aku sudah menjalani kesakitan seperti ini selama lebih dari tiga tahun, tanpa siapapun. Jadi tolong Ibu jangan memaksaku. Bisa?" sahut Bern dengan tegas menolak bujukan sang ibu. Dia lalu menatap seksama ke arah Flow yang duduk di kursi roda. "Flow, bagaimana kabarmu?"
"Tadinya aku baik-baik saja, Kak. Tapi setelah melihat kondisimu hatiku jadi terasa sakit. Kita kembar, kan?" sahut Flow mencoba untuk tidak meneteskan air mata. Walau tak ingat apapun, tapi Flow ikut merasa kesakitan melihat sang kakak yang begitu tidak berdaya.
"Ya, kita kembar."
Tiga malah. Tapi sayang, di hatiku hanya tersisa dirimu sebagai kembaranku. Yang lain bukan.
"Flow, Bern, sebaiknya kita masuk saja ke dalam. Tidak baik bicara di depan pintu begini!" ucap Elea mengajak kedua anaknya untuk masuk ke dalam.
Pertama-tama Elea membantu memapah Bern kemudian dengan sangat hati-hati memegangi tubuhnya saat akan duduk di sofa. Setelah itu dia kembali lagi ke pintu guna mendorong kursi roda Flow. Karena kepulangan Bern masih dengan membawa amarah, Elea tak membiarkan satupun penjaga ikut datang. Hanya satu, dan itupun diminta menunggu di dalam mobil. Sebenarnya Elea sudah memberitahu Gabrielle tentang kepulangan Bern. Akan tetapi Gabrielle menolak untuk datang karena merasa malu telah gagal sebagai seorang ayah. Jadilah Elea hanya datang bersama Flow saja kemari.
"Bern, kau sudah makan belum? Tadi sebelum kemari Ibu membuatkan makanan kesukaanmu. Kita makan bersama-sama ya?" ucap Elea sembari mengeluarkan makanan dari dalam wadah. Dia lalu menoleh, tersenyum getir saat putranya seperti tidak suka dengan perhatian yang dia beri. "Bern, Ibu hanya ....
"Bu, tolong jangan memaksaku. Aku tahu niat Ibu baik, tapi aku masih belum lupa kalau tangan Ibu pernah tergerak untuk melindungi bajingan itu. Tolong Ibu pahami perasaanku juga!" ucap Bern langsung menyampaikan alasan kenapa dia menolak makanan yang telah susah payah dimasak oleh ibunya. Hatinya sangat sakit. Sakit karena telah membuat wanita ini kecewa, juga sakit karena teringat akan pembelaan sang ibu yang lebih memilih melindungi Karl daripada berpihak kepadanya.
Amora, jika hari itu yang datang dalam mimpiku adalah benar dirimu, aku mohon segeralah muncul di hadapan Bern. Tolong aku. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa meredam kekecewaannya terhadap kami semua. Aku mohon tolong datanglah, Amora. Aku mohon ....
"Kak Bern, kalau aku yang memasak untukmu, kau mau tidak untuk memakannya?" tanya Flow memecah kecanggungan yang sedang terjadi.
"Apa itu tidak akan membuatmu repot?" sahut Bern. "Kau dan kursi rodamu. Aku tidak ingin membuatmu berada dalam kesulitan hanya karena aku merasa lapar."
"Awalnya memang sulit, tapi sekarang aku sudah terbiasa melakukannya. Di sela-sela melakukan terapi, saat berada di rumah Ibu selalu mengajariku banyak hal. Dan salah satunya adalah memasak. Jangan khawatir. Aku sama sekali tak merasa direpotkan," jawab Flow dengan lembut.
Bern melirik ibunya. Dia lalu menarik nafas panjang melihatnya yang masih menundukkan kepala.
"Bu, bisakah kau membantu Flow membuatkan makanan untukku? Sejak pagi aku belum makan apa-apa. Tubuhku lemas," ucap Bern mencoba untuk sedikit melunak. "Tapi tolong tangan Ibu jangan sampai ikut membantu memasak ya. Ibu cukup awasi Flow saja karena aku takut dia akan terluka. Kondisiku sekarang sedang tidak memungkinkan untuk menemaninya memasak. Ibu tidak keberatan, bukan?"
"Tentu saja tidak, sayang. Malah Ibu merasa senang karena adikmu bisa unjuk kemampuan yang telah di pelajarinya selama ini. Iyakan, Flow?" sahut Elea berbesar hati untuk tidak mempermasalahkan keinginan Bern. Perlahan tapi pasti. Elea yakin suatu saat nanti hatinya Bern pasti akan kembali menghangat seperti dulu. Dia yakin sekali.
"Ya sudah kalau begitu aku dan Ibu ke dapur dulu ya, Kak. Oya, di kulkasmu ada bahan makanan yang bisa dimasak tidak? Kalau tidak kami perlu memesannya terlebih dahulu!"
"Kulkasnya kosong. Hanya ada minuman dan beberapa makanan cepat saji saja. Aku belum sempat berbelanja."
"Haih, sudah aku duga kalau di apartemen ini pasti tidak ada apapun."
Segera Flow meraih ponselnya kemudian memesan sayuran dan juga bumbu-bumbu dapur lewat aplikasi online. Ekor mata Flow lalu tak sengaja melihat perban di kaki kakaknya yang sudah memerah akibat darah yang merembes keluar.
"Ya ampun, Kak Bern. Kakimu terluka!" seru Flow dengan mata membelalak lebar. Dia lalu menatap sang kakak penuh rasa khawatir. "Kak, darimana asal luka itu?"
"Aku tak sengaja terkena pecahan gelas semalam. Jangan khawatir, hanya luka ringan biasa," sahut Bern datar. Pikirannya jadi melayang pada Amora begitu teringat dengan kejadian semalam. Hmmm.
Kalau saja bisa, ingin rasanya Elea mengobati luka di kaki Bern. Namun dia harus bersabar dengan tidak memaksakan kehendak. Bern masih terselubung kecewa. Akan sangat fatal jika Elea tetap memaksakan diri untuk menyentuh menggunakan tangannya yang di anggap bersalah. Untuk sekarang biarlah seperti ini dulu. Elea hanya bisa berharap suatu saat nanti akan ada seseorang yang bisa meluluhkan kekecewaan putranya.
Merasa tak harus khawatir secara berlebihan, Flow segera mengajak sang ibu pergi ke dapur sembari menunggu barang pesanan datang. Di sana mereka menyiapkan alat-alat untuk memasak, kemudian kembali memesan ketika barangnya kurang lengkap. Sedangkan Bern, pria itu hanya duduk termenung di sofa. Entah apa yang dia pikirkan. Hanya Tuhan dan Bern sendiri yang tahu.
***