Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 57


"Iya Ayah, Ibu. Aku lupa memberitahu kalian kalau akhir bulan nanti Justin akan berulang tahun yang ketiga. Jika sempat, tolong carikan hadiah kecil untuknya. Justin sangat suka beternak dinosaurus. Mungkin kalian bisa membelikan mainan itu untuknya," ucap Bern sesaat sebelum masuk ke dalam mobil.


"Beternak dinosaurus?"


Elea dan Flow tertawa. Ada-ada saja kelakuan cucunya. Sedangkan Gabrielle, dia tampak mengerutkan keningnya. Seingat Gabrielle kedua putranya tidak ada yang memiliki hobi nyeleneh, tapi kenapa cucunya rada menyimpang? Apa ini yang di sebut dengan perkawinan silang?


"Iya, Ibu. Sebenarnya aku bisa-bisa saja memborong semua mainan itu untuknya. Akan tetapi Renata melarang agar jangan terlalu memanjakan putra kami. Padahal harganya tidak seberapa. Hmmm,"


"Ya sudah nanti biar kami saja yang membelikannya untuk Justin. Jangan khawatir," sahut Gabrielle penuh semangat. Cucu pertamanya berjenis kelamin laki-laki. Sudah pasti keluarga Ma telah memiliki penerus yang baru. Gabrielle harus memanjakannya. Hehehe.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya. Sebentar lagi Justin pulang sekolah. Dia bisa menangis jika aku dan Renata sampai telah menjemputnya," ucap Bern berpamitan.


"Emm Bern, boleh Ibu bertanya?"


Elea berjalan mendekat. Tatapan menyiratkan sebuah harapan yang begitu besar.


"Silahkan, Ibu."


"Boleh tidak kalau Ibu pergi menemui Justin dan Renata?"


"Aku rasa sebaiknya jangan dulu. Aku takut mereka merasa tidak nyaman. Tolong Ibu mengerti ya?"


"Oh, begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Ibu akan menunggu kau yang membawa mereka ke rumah ini. Tapi jangan lama-lama ya, Bern. Ibu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan cucu dan calon mantu," ucap Elea berusaha tuk tidak menampakkan kekecewaannya.


Sayang, sepertinya Bern masih ingin menjaga jarak dengan kita. Dia seolah tak mengizinkan aku mencampuri masalah pribadinya. Sedih sekali.


Gabrielle yang mendengar isi pikiran Elea hanya bisa menghela nafas panjang. Mau bagaimana lagi. Dia juga sedih, tapi jauh lebih baik seperti ini dulu. Sudah sangat beruntung Bern bersedia pulang dan berbicara dengan mereka. Gabrielle belum berani bicara macam-macam padanya. Takut tersinggung. Semuanya butuh proses karena apa yang terjadi tiga tahun lalu cukup menggores hati putranya.


"Bu, aku pergi dulu ya. Takutnya jalanan macet," ucap Bern mulai gelisah ketika sang ibu berkata ingin menemui Justin dan Renata lebih awal. Ada semacam rasa was-was muncul di hatinya. Bern panik.


"Ya sudah pergilah. Hati-hati ya," sahut Elea. Dia berusaha bersikap biasa saja meskipun sangat amat menyadari ada yang salah dengan sikap putranya.


Segera Bern masuk ke dalam mobil kemudian melaju pergi dari sana setelah berpamitan pada sang ibu. Flow yang melihat kakaknya pergi dengan tergesa-gesa pun merasa heran. Dia lalu memutuskan untuk bertanya pada kedua orangtuanya.


"Ayah, Ibu. Kenapa Kak Bern terlihat seperti orang yang sedang kepanikan ya? Dia juga buru-buru sekali. Aneh ya?"


"Kakakmu hanya sedang terlalu mengkhawatirkan putranya, Flow. Tidak ada yang salah kok dengan sikapnya barusan," jawab Elea menutupi kebenaran yang ada. Dia tak mau Flow berpikir macam-macam tentang kakaknya. "Sekarang kita masuk saja yuk. Ibu lelah, ingin istirahat sebentar."


"Baik, Ibu. Ayo!"


Sementara itu di dalam mobil, Bern yang terus dilanda panik memutuskan untuk menghubungi Renata. Entahlah, dia tak mengerti dengan dirinya sekarang. Sangat mudah untuk Bern merasa takut dan juga panik setiap kali terpikir ada orang yang ingin mengambil anak dan calon istrinya darinya. Aneh, bukan?


"Halo, Bern. Ada apa?"


Suara lembut Renata seperti meredam kegelisahan Bern begitu dia menjawab panggilan. Lega, itu yang Bern rasa. Sambil tersenyum kecil, Bern memberitahu Renata kalau dia sedang dalam perjalanan menuju toko bunga.


"Astaga, hampir saja aku lupa. Di toko sedang banyak pesanan, aku sampai tidak ingat kalau sebentar lagi Justin keluar dari kelas. Kalau begitu panggilannya aku matikan dulu ya. Aku perlu bersiap agar nanti saat kau tiba di sini kita bisa langsung pergi ke sekolah Justin. Tidak apa-apakan, Bern?"


"Iya tidak apa-apa. Ya sudah kau matikan saja panggilan ini. Jangan berdandan terlalu cantik. Aku tidak suka kau menjadi pusat perhatian orang," sahut Bern tak ragu menunjukkan rasa cemburunya.


"Hmm, kau ini. Ya sudah iya aku tidak akan berdandan."


Perasaan Bern langsung membuncah saat Renata patuh mengikuti perkataannya. Sambil bersenandung kecil, Bern terus melajukan mobil menuju toko. Karena jalanan sedang lenggang, tak butuh waktu lama untuk Bern sampai di sana. Namun belum juga Bern memarkirkan mobilnya, tujuh buah mobil tiba-tiba ramai berdatangan ke toko bunga milik Renata.


"Siapa mereka?" gumam Bern terheran-heran. Khawatir mereka adalah gerombolan orang jahat, dia memarkirkan asal mobilnya kemudian berlari kencang menyusul orang-orang tersebut.


Renata yang sedang sibuk melayani pembeli terlihat kaget sekali ketika tokonya digeruduk oleh segerombolan wanita yang pagi tadi sempat bertengkar dengan Bern. Dia panik seketika.


"Hei kau wanita pembawa aib. Cepat tanggung jawab. Gara-gara ulah priamu sekarang keluargaku terancam menjadi gelandangan. Ayo cepat tanggung jawab atau kami akan membakar toko bungamu yang jelek ini!" teriak salah seorang wanita dengan garang.


"Maksudnya apa, Nyonya? Aku ... aku sama sekali tidak melakukan apa-apa pada kalian. Dan priaku, maksudku ayahnya Justin juga tidak melakukan apapun setelah kami pergi dari sana. Tolong jangan menebar fitnah!" sahut Renata syok mendengar penuturan wanita tersebut.


"Halah, tidak usah berlagak sok terdzolimi kau. Dasar tidak tahu diri. Sudah melahirkan anak tanpa suami masih saja tidak tahu malu. Ayo kita rusak saja toko bunga ini!"


Braakkkk


"Setangkai saja kalian berani menyentuh bunga yang ada di toko istriku, aku bersumpah akan memotong tangan kalian detik ini juga. Cobalah jika tidak percaya!" ancam Bern sambil menatap nyalang pada segerombolan wanita yang ternyata adalah pembully anak dan istrinya. Bern lalu berjalan cepat menghampiri Renata kemudian menangkup wajahnya. "Sayang, kau tidak apa-apa, kan? Mereka melukaimu tidak?"


"Tidak, Bern. Aku baik-baik saja. Tapi mereka ....


Tatapan Bern menggelap. "Jangan pedulikan sampah-sampah itu. Mereka biar aku yang membereskan!"


"Bern, bukan ini yang aku maksud. Semua masalah pasti bisa di selesaikan dengan cara baik-baik. Pikirkan dampak yang akan di terima Justin kalau kau sampai bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu. Yang tenang. Jangan marah. Oke?" bujuk Renata tak membiarkan Bern dikendalikan oleh amarahnya.


"Mereka menghinamu lagi, sayang. Dadaku sakit mendengarnya!"


"Iya aku tahu, tapi bukan berarti kita harus membalasnya dengan cara yang buruk juga!"


"Hei kalian pasangan menjijikkan. Kalian jangan malah tidak tahu diri begini ya. Kami semua datang untuk meminta pertanggungjawaban dari kalian. Gara-gara kehebohan pagi tadi sekarang nasib dan masa depan kami semua terancam suram. Pokoknya aku tidak mau tahu. Cepat minta maaf dan tarik semua gugatan yang sudah kalian layangkan. SEKARANG!"


Darah di tubuh Bern makin mendidih setelah mendengar teriakan tersebut. Tak tahan, Bern berniat merobek mulut wanita itu. Tapi baru juga dia akan berbalik badan, Renata sudah lebih dulu menciumnya. Hal ini membuat Bern kaku seketika. Perasaannya terbang entah kemana.


"Tunggu di sini saja ya. Biar aku yang bicara dengan mereka,"


Bak kerbau yang dicolok hidungnya, Bern hanya bisa mengangguk patuh mendengar perkataan Anaya. Dia sama sekali tak bergeming dari tempatnya berdiri sekarang. Terlalu syok, juga bahagia.


Renata menciumku. Aku tidak sedang bermimpi, kan?


***