Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 25


“A-Ayah?”


Belum hilang kekagetan Bern akan kemunculan Renata di apartemennya, dia sudah kembali dibuat kaget ketika Justin memanggilnya ayah. Ada apa ini? Kenapa ibu dan anak ini bisa tiba-tiba muncul lalu mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya Bern seperti akan berhenti berdetak? Dan apa tadi? Ayah? Ayah apa maksudnya? Diakan belum menikah.


“Ayah, ayo cepat gendong Justin,” desak Justin mulai merengek sambil mengulurkan tangan. Kakinya nampak bergerak menendang ke depan saat pria di hadapannya hanya diam tak merespon. “Hiksss, Ayah. Gendong,” ….


“Um Bern, maaf sekali. Justin sedang demam dan dia memaksa ingin bertemu dengan ayahnya. Aku … aku bingung bagaimana harus menjelaskannya padamu, tapi bisakah sekarang kau berpura-pura dulu sebagai ayahnya Justin? Sudah seharian dia menangis seperti ini. Aku takut itu akan memperburuk keadaannya. Aku mohon tolong kami, Bern,” bisik Renata menghiba. Biarlah dia di cap sebagai wanita yang tidak punya malu. Selama itu bisa membuat Justin jauh lebih tenang, maka Renata tak keberatan dengan julukan tersebut.


“Renata, aku bukan tidak mau. Tapi aku sendiri sedang sakit. Lihat, tanganku bahkan masih terpasang selang infus,” sahut Bern seraya mengangkat sebelah tangannya yang sedang memegang botol infus. Dia lalu menatap Justin saat bocah ini terus mengulurkan tangan padanya. Tak tega, Bern pun segera memikirkan cara agar bocah ini bisa berhenti menangis.


Apa aku ajak mereka masuk ke dalam saja ya? Aku takut jatuh jika tetap memaksakan diri untuk menggendong Justin.


“Hiksss, Ayah,” ….


“Justin, tangan Ayah sedang terluka. Bagaimana kalau kita masuk dan duduk di dalam saja. Kau mau tidak?” tanya Bern sambil melirik ke arah Renata. Kasihan. Wanita ini terlihat sangat kelelahan sekali. Bern jadi iba.


“Mau, Ayah,” sahut Justin sambil mengangguk cepat. Tangisnya kemudian berhenti begitu saja. “Ibu, ayo masuk ke rumah,”


Renata menatap sejenak ke arah Bern. Dia tengah meminta izinnya untuk masuk ke dalam apartemen. Bern yang melihat hal itupun segera menganggukan kepala kemudian membuka pintu selebar mungkin. Dia lalu bergeser ke samping, membuka jalan untuk kedua tamu tersebut.


“Waahhh, rumah Ayah besar sekali. Kita tinggal di sini saja ya, Bu?” ucap Justin kegirangan. Dia bertepuk tangan dengan heboh saat melihat lukisan yang sama persis dengan yang dia lihat di dalam mimpi. "Lihat gambar itu, Ibu. Justin pernah melihatnya saat sedang tidur.”


Mendengar celotehan Justin langkah Bern langsung terhenti. Dia kaget, tak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya. Namun karena tak mau berpikiran yang bukan-bukan, Bern segera menepis dugaannya itu. Dia lalu berjalan perlahan menghampiri Renata yang kini sudah duduk di sofa sambil memangku Justin.


“Bern, aku benar-benar minta maaf sekali. Kau sedang tidak sehat, tapi aku dan Justin malah datang mengganggu istirahatmu. Aku malu sekali,” ucap Renata sambil menunduk dalam. Entahlah, jangan sampai tanya seberapa tebal mukanya sekarang. Terlalu malu untuk Renata jabarkan.


“Jangan merasa tak enak hati begini, Ren. Aku bisa mengerti posisimu sekarang. Lagipula keadaanku juga tidak seburuk yang kau pikir. Jadi kau tenang saja. Aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan kedatangan kalian. Sungguh,” sahut Bern seraya tersenyum kecil.


Wajah itu … Ya Tuhan. Renata terlalu mirip dengan Amora. Berdosakah dia jika menganggap wanita ini sebagai kekasihnya? Namun begitu bayangan Amora yang sedang tersenyum melintas di matanya, di detik itu juga Bern langsung menggelengkan kepala. Sekuat mungkin Bern berusaha menahan diri agar tidak terpengaruh oleh bisikan yang muncul di dalam pikiran. Dalam hati, Bern terus meyakinkan diri kalau wanita yang sedang duduk di hadapannya bukanlah Amora, melainkan wanita yang kebetulan berwajah mirip dengannya. Saking Bern fokus menepis pemikiran tersebut, dia sampai tidak menyadari kalau sekarang Justin sudah berpindah duduk di sebelahnya. Dia lalu tersentak saat sebuah lengan kecil tiba-tiba melingkar di leher. Bern terpaku.


“Ayah, Justin sedang sakit. Kenapa Ayah tidak datang menjenguk ke rumah Nenek?” tanya Justin sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang membengkak. Gara-gara terus menangis, sekarang dia jadi kesulitan membuka mata.


“Em kan Ayah juga sedang sakit. Jadi Ayah belum bisa menjenguk Justin di rumah Nenek. Maaf ya,” jawab Bern dengan piawainya mengikuti alur pembicaraan bocah laki-laki ini.


Justin tampak mengangguk-anggukkan kepala setelah di beritahu kalau ayahnya sedang sakit. Sedangkan Renata, dia terus menundukkan kepala sembari mendengarkan pembicaraan Justin dan Bern. Sungguh, Renata benar-benar bingung dengan apa yang sedang terjadi. Mulai dari Justin yang terus merengek meminta gendong oleh ayahnya, tentang nomor asing yang mengirimkan alamat apartemen ke ponselnya, juga dengan fakta kalau Bern adalah pemilik dari apartemen tersebut. Semua pemikiran itu terus berlarian di dalam kepala Renata hingga membuatnya sampai tak menyadari kalau sejak tadi Bern terus memanggilnya.


"Renata, you okay?" tanya Bern dengan nada suara yang sedikit meninggi. Dia sudah memanggil Renata berulang kali, tapi wanita ini hanya diam dengan kepala tertunduk. Jadilah Bern memanggilnya dengan suara yang cukup kuat karena khawatir wanita ini kenapa-napa.


"Ren, kau kenapa?"


"Oh, a-aku ... aku, aku ....


Entah dorongan darimana, tangan Bern tiba-tiba terulur mengelus bahu Renata. Sedang tangan yang satunya lagi masih tetap memegang infus yang sesekali dimainkan oleh Justin.


"Tarik nafas perlahan, lalu buang. Kau sedang sangat kelelahan, Ren. Makanya pikiranmu menjadi tidak fokus begini. Yang tenang. Oke?" ucap Bern dengan sabar membantu Renata menenangkan diri. Dia iba sekali melihatnya.


Dengan patuh Renata mengikuti arahan Bern. Dia menarik nafas perlahan lalu mengeluarkannya secara perlahan juga. Hal itu terus dia ulangi sampai perasaannya menjadi jauh lebih tenang.


"Maaf, Bern. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Sepertinya kau memang benar kalau aku terlalu kelelahan. Sekali lagi aku minta maaf ya," lirih Renata sambil menatap lekat ke manik mata Bern. Keningnya kemudian mengerut, merasa sedikit familiar dengan manik mata tersebut.


"Jangan selalu meminta maaf begini, Ren. Aku memang belum menikah, tapi sedikit banyak aku bisa mengerti sulitnya menjadi seorang ibu tunggal dalam membesarkan anak," sahut Bern maklum. Dia kemudian menunduk, tersenyum melihat Justin yang sedang bersenandung tidak jelas. "Justin terlihat bahagia sekali tidur di pangkuanku. Padahal di awal pertemuan kami, dia bilang kalau aku adalah paman yang menakutkan. Hmmm,"


"Bern?"


"Ya?"


Bern menoleh.


"Aku tidak tahu harus memulai darimana. Dini hari tadi Justin tiba-tiba demam tinggi. Lalu aku dan Ibuku membawanya pergi ke rumah sakit. Akan tetapi seharian ini dia malah menangis tanpa henti dan terus merengek meminta di gendong oleh ayahnya. Di saat yang bersamaan sebuah nomor asing mengirimiku sebuah alamat apartemen, dan ternyata apartemen ini adalah milikmu. Aku sungguh tidak tahu-menahu soal ini, Bern. Aku hanya mengikuti apa yang di ingini oleh Justin. Sungguh, aku bukan penguntit."


Renata segera menjelaskan alasan kenapa dia dan Justin bisa sampai di apartemen Bern. Dia takut pria ini akan berpikir macam-macam tentangnya. Jadi sebelum terjadi kesalah-pahaman, Renata memutuskan untuk menjelaskannya terlebih dahulu.


"Apapun itu yang penting kalian bukan datang ke tempat yang salah. Awalnya aku memang terkejut melihatmu tiba-tiba muncul di depan pintu kamar apartemenku. Tapi ya sudahlah, sekarang aku bisa sangat memaklumi penyebab kenapa kalian bisa sampai kemari. Yang terpenting sekarang Justin sudah tidak rewel lagi dan kau bisa istirahat," sahut Bern sambil membelai-belai rambut Justin. "Renata, ini sudah malam. Kalau kau tidak keberatan kalian menginaplah saja di sini. Aku bukan bermaksud buruk. Kau tahu itu, kan?"


"Tapi aku ....


"Aku tahu kau sudah sangat kelelahan, Renata. Jadi istirahatlah saja agar besok kau bisa menjaga Justin lagi. Jangan takut. Aku bukan pria yang seperti kau pikirkan. Kau aman di sini!"


Renata diam memikirkan tawaran tersebut. Pandangannya kemudian beralih ke arah Justin yang terlihat begitu nyaman berbaring di pangkuan Bern. Mencoba mengalahkan ego demi kesembuhan putranya, dengan berat hati Renata akhirnya mengangguk setuju. Tapi sebelum itu dia meminta izin pada Bern untuk menemui pak sopir yang masih menunggu di bawah. Renata juga ingin menghubungi ibunya dulu guna memberi tahu kalau malam ini dia akan menginap di luar.


Justin, demimu, Nak. Demi agar bisa melihatmu sembuh, Ibu rela menginap di rumah seseorang yang sebelumnya tidak pernah Ibu kenal. Tolong cepatlah sembuh ya agar Ibu bisa melihat senyummu lagi.


***