
"Dia wanita. Kalian jangan menyakitinya."
"Tapi Tuan Muda Karl meminta kami untuk menjadikannya sebagai makanan buaya, Tuan. Dan kami harus merekam videonya sebagai bukti kalau wanita ini benar-benar telah kami singkirkan."
"Kalian jangan khawatir. Nanti biar aku saja yang memberitahukan hal ini pada Karl!"
"Lalu apa yang harus kami lakukan pada wanita ini?"
"Bawa dia pergi ke ruang bawah tanah. Minta beberapa orang di sana untuk sedikit memberikan kejut jantung padanya."
"Baik, Tuan."
Gabrielle menatap nanar pada seorang wanita yang berniat menyakiti cucu dan calon menantunya. Kondisi wanita tersebut sangat tragis. Wajah babak belur dan dalam keadaan pingsan. Dengan kondisi seperti itu bisa dipastikan kalau orang suruhan Karl telah menganiayanya dengan sangat kasar. Hmmm.
"Ibu, di sini aku tidak sedang menurunkan kewaspadaan keluarga kita. Aku hanya sedang berusaha menghentikan takdir buruk agar tidak menurun kepada para cucuku kelak. Maaf jika aku melakukan hal ini. Kuharap Ibu tidak marah," gumam Gabrielle sembari menatap ke arah taman tempat kedua orangtuanya disemayamkan.
Tadi saat Gabrielle mendengar kabar kalau cucunya mendapat kiriman berupa barang peledak, langkah pertama yang dia lakukan adalah mencari keberadaan anak buahnya Karl. Gabrielle yakin sekali kalau putranya pasti akan langsung menghabisi orang yang lancang mengusik keluarga mereka. Dan benar saja. Sesampainya Gabrielle di rumah peninggalan orangtuanya, dia melihat dua orang penjaga tengah menyeret seorang wanita yang kondisinya sangat memprihatinkan. Segera dia datang mendekat kemudian meminta mereka agar tidak membunuhnya. Gabrielle terlalu trauma akan karma yang muncul di keluarganya akibat perbuatan leluhur di masa lalu.
Drrtt drrtt drrtt
Getaran ponsel di saku celana membuat Gabrielle tersentak kaget. Tangannya segera merogoh ponsel tersebut kemudian melihat siapa yang menelpon.
"Halo, sayang. Ada apa?"
["Sayang, kau di mana sekarang? Cepat pulang. Justin dan Renata sedang dalam bahaya. Ayo cepat kita datangi mereka!"]
"Jangan panik. Semua masalahnya sudah dibereskan oleh anak-anak. Justin dan Renata aman," sahut Gabrielle menenangkan Elea yang sedang panik. Padahal tadi dia sudah berpesan pada semua orang agar tidak memberitahukan hal ini pada Elea. Gabrielle takut istrinya pingsan karena terkejut. Tetapi pada akhirnya Elea tahu juga. Entah sumber mana yang memberitahunya.
Hening. Dari dalam telepon tidak terdengar suara apapun lagi selain deru nafas Elea yang memburu. Tahu istrinya kesal, Gabrielle pun segera membujuk.
"Maaf. Aku tidak bermaksud merahasiakan hal ini darimu. Aku hanya tidak ingin melihatmu panik dan ketakutan. Tolong jangan marah ya?"
["Tolong jangan diulangi lagi ya. Apapun kondisinya, aku berhak tahu permasalahan yang terjadi di keluarga kota. Justin dan Renata adalah orang yang sangat penting untukku. Kau tahu itu, bukan?"]
"Iya aku tahu. Sekali lagi maaf ya." Gabrielle menghela nafas, berpikir keras agar Elea jangan sampai merajuk. "Emm sayang, sekarang kau bersiaplah. Aku akan segera menjemputmu di rumah sakit lalu kita akan pergi menemui Justin dan Renata. Mau, kan?"
["Aku sudah siap sejak lima menit yang lalu, sayang. Segeralah datang. Aku ingin memastikan kalau cucu dan calon mantu kita baik-baik saja."]
"Baiklah. Aku akan segera ke sana."
Tak mau membuat Elea menunggu, Gabrielle pun bergegas masuk ke mobil kemudian meminta sopir pergi ke rumah sakit untuk menjemput anak dan istrinya. Hari ini Flow dijadwalkan melakukan terapi pengobatan kakinya yang sudah tiga tahun lebih tak bisa digunakan untuk berjalan.
Sementara itu di rumah sakit, Elea tak henti mondar-mandir sambil sesekali melihat ponsel. Flow yang melihatnya pun menjadi cemas. Dia syok sekali saat tahu kalau keponakannya mendapat teror dari seseorang.
"Bagaimana, Bu. Apa kata Ayah? Justin dan kakak ipar baik-baik saja, kan?"
"Ayahmu bilang mereka baik-baik saja. Tapi hati Ibu tetap tak bisa tenang. Apa yang harus Ibu lakukan ya?" jawab Elea penuh kecemasan.
"Ibu juga berpikiran sama sepertimu, Flow. Hmmm, dasar anak nakal. Bisa-bisanya ada masalah segenting ini tapi dia hanya diam saja!" ucap Elea setengah menggerutu.
"Jangan marah. Mungkin Russell melakukannya karena dia tak mau kita khawatir. Makanya Russell pergi diam-diam dan hanya memberitahu Ayah seorang. Kekasihku pria yang sangat baik, Ibu."
Elea hanya bisa diam saat Flow terang-terangan membela Russell. Kalau saja di sini ada Levi, Elea berani jamin kepala pelakor halal itu pasti akan ditumbuhi tanduk berbulu. Secara. Flowrence adalah calon mantunya. Lalu tiba-tiba Flowrence menjadi kekasih dari laki-laki yang notabennya adalah anak dari temannya sendiri. Kalian bayangkan saja betapa kesal Levi pada Kayo dan Jackson meski wanita itu tahu kalau Flow tidak sengaja menjalin hubungan dengan anak mereka. Putrinya lupa ingatan. Dan orang pertama yang membuatnya terpesona adalah Russell.
Tok tok tok
Pintu ruangan terbuka setelah seseorang mengetuk dari luar. Dan begitu melihat siapa yang datang, senyum di bibir Flow langsung mengembang. Binar kebahagiaan menghiasi wajahnya yang tirus nan putih bersih.
"Maaf membiarkan kalian menunggu lama. Tadi aku ada urusan mendesak di luar," ucap Russell meminta maaf pada Flow dan juga Bibi Elea. Dia kemudian masuk ke dalam ruangan sembari memperhatikan Flowrence yang sedang tersenyum. "Bagaimana terapinya tadi? Lancar, kan?"
"Tidak selancar saat kau ada di sini menemaniku," sahut Flow pura-pura merajuk. Dia sangat suka bermanja pada kekasihnya.
"I'm sorry."
"Akan dimaafkan kalau kau memberitahu kami apa yang sebenarnya terjadi di rumah kakak ipar."
Sebelah alis Russell terangkat ke atas mendengar perkataan Flow. Rupanya kedua wanita ini telah mengetahui kabar yang coba dia sembunyikan. Karena sudah ketahuan, terpaksa Russell harus menceritakan apa saja yang terjadi di kediaman keluarga Goh. Dia bicara sambil berjongkok di hadapan Flow.
"Seseorang mengirimkan hadiah untuk Justin. Dan isi dari hadiah tersebut adalah peledak. Untung saja Renata tidak gegabah dengan membiarkan Justin membuka kado tersebut. Jadi mereka semua selamat. Mungkin sekarang mereka dibawa ke tempat lain oleh Bern untuk menghindari teror susulan!" ucap Russell. "Maaf karena tidak memberitahu kalian sejak awal. Kalian pasti pahamlah apa alasannya!"
"Aku bisa mengerti, tapi tetap saja kau dan Ayah tidak seharusnya merahasiakan masalah ini dariku dan Ibu."
"Keadaan membuatku harus merahasiakannya,"
"Bebal juga kau ya,"
"Hmmm," ....
(Dari sorot mata Russell sepertinya dia tak benar-benar ingin menikahi Flowrence. Apa mungkin rasa sayang yang Russell rasakan hanya sedikit kelewat batas saja. Makanya dia tak menolak saat Flowrence memintanya untuk menjadi kekasih. Kalau benar begitu artinya Oliver masih punya kesempatan untuk memenangkan hatinya Flow. Hmm, semoga saja.)
"Russell, apa orang yang mengirim barang itu sudah ditemukan?" tanya Elea penuh penasaran.
"Karl ada di sana. Mustahil pelakunya belum ditemukan, Bi," jawab Russell. "Jangan khawatir. Mulai sekarang Justin dan Renata akan ada dibawah pengawasan Karl. Aku berani jamin tidak akan ada orang yang bisa mengusik mereka lagi."
"Benarkah?" Mendadak hati Elea dilanda kecemasan. "Lalu bagaimana dengan Bern? Apa dia tidak marah atas sikapnya Karl?"
"Sepertinya tidak. Mereka terlihat akur-akur saja tadi. Bern selalu bilang kalau hanya dengan Amora hidup kembali, dia baru akan memaafkan Karl. Dan Tuhan mengabulkan keinginannya. Amora selamat dari kecelakaan yang terjadi tiga tahun lalu. Bahkan berbonus Justin. Paman dan Bibi bisa tenang sekarang."
Deg deg deg
(Ada apa ini? Kenapa aku merasa ada yang aneh saat Russell menyebut nama Amora? Juga dengan kecelakaan itu. Kenapa aku bingung? Aneh.)
***