
"Russel, bagaimana keadaan Flow?" tanya Bern seraya menatap sepupunya yang baru saja keluar dari dalam kamar. Posisinya sekarang tengah memeluk Renata. Calon istrinya ini seperti orang linglung setelah apa yang baru saja terjadi.
"Sekarang Flow sedang tidur." Russel menghela nafas panjang. Ekor matanya melirik ke arah sosok wanita yang tengah dipeluk oleh Bern. Ada rasa Iba yang muncul di diri Russel saat mendapati gurat kebingungan di wajah wanita tersebut. Wajar. Calon istrinya Bern pasti sangat kaget melihat reaksi Flowrence yang histeris begitu mendengar nama Amora. Dia bahkan berani bertaruh kalau saat ini benak Renata sedang dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan. Kasihan. "Justin di mana Bern? Sepertinya aku perlu bicara serius dengan bocah menggemaskan itu."
"Justin tidak tahu apa-apa. Jangan perlakukan dia seperti seorang pelaku."
"I know. But, aku tetap harus bicara dengannya."
"Untuk apa?"
"Untuk mengingatkannya agar lain kali jangan menyebut nama Amora di depan Flow. Kalian sadar tidak kalau kejadian hari ini cukup membuat Flow berada dalam bahaya?"
Bern terdiam. Sedikit banyak dia telah mengetahui kondisi sang adik pasca mengalami kecelakaan fatal. Bern diberitahu oleh keluarganya kalau sangat berbahaya bagi Flowrence mendengar atau mengetahui tentang masa lalunya, terutama soal Amora. Karena saat kecelakaan itu terjadi mereka berdua berada dalam satu mobil yang sama. Dan sampai sekarang, tidak ada yang tahu pasti penyebab kecelakaan tersebut bisa terjadi.
Tak dipungkiri, kekuatan keluarga Ma sempat diragukan oleh banyak orang karena gagal membongkar motif dibalik kecelakaan tersebut. Namun dibalik itu semua keluarga inti sangatlah tahu kalau apa yang terjadi merupakan rantai dari kutukan bawaan Jenderal Liang Zhu. Jadilah mereka semua sepakat untuk diam dan bersabar menghadapi cobaan demi cobaan yang datang silih berganti.
"Flow dan Amora ... sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?" tanya Renata pelan. Dia lalu menatap pergantian ke arah dua pria yang berada di dekatnya. "Sebegitunya Flow menyimpan trauma pada wanita itu. Dan juga kenapa setiap kali nama Amora disebut aku selalu merasa seperti ada yang salah dengan diriku. Ada apa ini, Bern, Russel. Rahasia apa yang sedang kalian tutupi dariku? Tolong jelaskan supaya aku tidak bingung."
Baik Bern maupun Russel, tidak ada satupun dari mereka yang berkeinginan untuk menjawab pertanyaan Renata. Keduanya bungkam, memilih untuk mengunci mulut alih-alih menjelaskan soal masa lalu Amora.
(Maafkan aku, sayang. Entah belum saatnya atau memang tidak seharusnya kau tahu, selama memiliki dampak yang buruk, apapun itu aku tidak akan pernah bersedia untuk buka mulut. Bukan aku tak sayang, aku hanya tidak ingin kau merasa sedih jika mengingat kembali masa lalumu yang sangat kelam. Dan juga karena aku ingin menjaga impianmu yang ingin hidup sebagai orang lain, bukan sebagai Amora Shin. Sekali lagi aku minta maaf ya)
"Bern, Russel, Renata. Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
Setelah bertemu dan berbicara dengan Nyonya Nandira, Gabrielle bergegas pergi mencari putranya. Dia berniat membicarakan soal Justin yang mengatakan tentang suatu penglihatan aneh di mana penglihatan tersebut berhubungan dengan Flow dan Renata. Dan ketika sampai di sini Gabrielle melihat ketiga orang tersebut tengah terlibat pembicaraan serius. Ini dia ketahui dari mimik wajah ketiganya yang terlihat cukup tegang. Juga setelah Gabrielle mendengar isi pikiran Bern. Jadilah dia buru-buru datang mendekat guna memastikan apa yang sedang terjadi.
"Ayah darimana?" tanya Bern. Sengaja dia balik bertanya untuk mengalihkan perhatian Renata. Bern enggan menjawab.
"Tadinya Ayah berniat memeriksa keadaan Justin, tapi Ayah malah bertemu dengan ibunya Renata yang sedang dduk sendirian di depan pintu kamar," jawab Gabrielle tanggap kalau putranya tengah mengalihkan perhatian.
"Ibu duduk di depan pintu kamar?" beo Renata kaget. "Memangnya apa yang sedang dilakukan Ibu di sana, Paman? Bukankah tadi Ayah dan Ibu sedang menemani Justin ya? Kenapa bisa di luar?"
"Entahlah, Paman juga tidak tahu jelasnya, Ren. Ibumu hanya bilang kalau dia sedang resah memikirkan kejadian yang terus datang belakangan ini."
"Emm begitu ya?"
Renata tak serta merta mempercayai ucapan ayahnya Bern. Jauh di dalam lubuk hati, ada bisikan kecil yang mengatakan kalau calon mertuanya tengah berkata bohong. Namun karena tak ingin dianggap lancang, Renata memutuskan untuk diam membiarkan. Dia pasrahkan saja semuanya pada kuasa Tuhan.
"Ibumu di mana, Bern?" tanya Gabrielle.
"Bibi sedang menemani Flow istirahat di dalam kamar, Paman," sahut Russel menggantikan Bern menjawab. Sadar ada hal penting yang ingin disampaikan oleh sang paman, Russel segera mencari cara agar Renata pergi dari sana. "Renata, aku haus. Bisakah kau membuatkan minuman untukku? Tapi kalau kau tidak sempat juga tidak apa-apa. Aku bisa membuatnya sendiri!"
"Biar aku saja yang membuatkan," ucap Renata sambil tersenyum. Dia lalu menatap Bern. "Apa kau mau kubuatkan minuman juga?"
"Kalau lelah istirahat saja. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku dan Russel bukan anak kecil sehingga harus selalu dilayani," sahut Bern penuh kasih membelai pipi Renata.
"Ya sudah kalau begitu buatkan juga satu untukku. Jangan terlalu manis. Dengan melihatmu tersenyum saja itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi gula di tubuhku."
Blusshhh
Wajah Renata langsung merona saat Bern lagi-lagi menebar bualan. Segera dia pergi menuju dapur setelah menanyakan pada ayah mertuanya apakah ingin dibuatkan minuman juga atau tidak.
Bern yang melihat punggung Renata semakin menjauh segera merubah ekspresi di wajahnya. Sambil memasang raut serius dia menanyakan sesuatu pada sang ayah.
"Masalah apa yang ingin Ayah sampaikan?"
"Ini tentang Justin." Gabrielle menepuk bahunya Bern beberapa kali, mencoba menguatkan putranya ini sebelum dia melanjutkan pembicaraan. "Ibu mertuamu bilang kalau Justin melihat Flow dan Renata hanyut di sungai. Dia menertawakannya."
"Hanyut di sungai?" beo Bern dan Russel.
"Ya, tapi kapan jelasnya Ayah tidak tahu. Dan kebetulan hari ini mereka berdua pergi jalan-jalan ke pinggir sungai. Untung saja Ayah dan Ibu cepat datang lalu mengajak mereka berdua untuk pulang kemari. Kalau tidak, sepertinya penglihatan Justin benar-benar akan menjadi kenyataan."
Reaksi yang muncul di wajah Bern dan Russel seperti menunjukkan kalau mereka baru saja bertemu dengan hantu. Kaget, syok, tak percaya, juga takut. Bayangkan saja. Bocah berusia tiga tahun itu mengatakan sesuatu yang mampu membuat bulu kuduk berdiri semua. Ya Tuhan, pertanda apa ini?
"Lalu apalagi yang dikatakan oleh ibunya Renata, Ayah?" tanya Bern mulai gugup. Jujur, sekarang jantungnya berdebar kuat sekali. Pikirannya sempit, tak mampu membayangkan jika dia harus kehilangan Amora untuk yang kedua kali. Bern tak sanggup.
"Tenangkan dirimu dulu, Bern. Reaksimu bisa membuat Renata curiga," bisik Russel seraya menggerakkan dagu ke arah bayangan seseorang yang tengah berjalan mendekat. "Rileks.Renata sedang dipusingkan oleh masa lalunya sebagai Amora. Jangan sampai perkataan Justin membuatnya bertambah semakin stres. Takutnya nanti dia kena mental. Jadi tenanglah dulu barang sejenak. Oke?"
"Oke?"
Dan benar saja. Tak lama setelah Bern ditegur oleh Russel, Renata kembali datang menghampiri mereka. Bahan untuk membuat minuman habis, jadi dia meminta izin untuk pergi berbelanja dulu di luar. Kesempatan ini digunakan oleh Bern untuk berbincang lebih serius bersama ayah dan sepupunya. Meski sedikit tak rela, dia terpaksa mengizinkan Renata pergi dengan ditemani oleh sopir dan penjaga saja.
"Jika ada apa-apa di jalan segera hubungi aku ya," bisik Bern sebelum mencium kening Renata. Terus dia ulangi beberapa kali sampai puas.
"Ada sopir dan penjaga yang menemaniku. Kau jangan khawatir. Mereka pasti bisa menjalankan tugasnya dengan baik," sahut Renata sudah tak kaget dengan keposesifan calon suaminya. Dia mulai terbiasa.
"Siapapun mereka aku akan tetap mengkhawatirkanmu. Pokoknya kau harus pulang dengan kondisi yang utuh. Tidak boleh lecet sedikitpun. Mengerti?"
"Iya-iya aku mengerti. Ya sudah, aku pergi dulu. Kau temanilah Ayah dan Russel di dalam."
"I love you," ....
Renata tersipu. Dia lalu melangkah keluar dengan diantar oleh Bern sampai di depan pintu apartemen.
(Aku bisa gila jika kau sampai kenapa-napa, sayang. Tolong selalu sehat untukku. Aku mohon,)
***