Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 115


"Kenapa kau memintaku datang malam-malam begini, Bern?" tanya Karl seraya menduduki bokongnya di sofa. Dia lalu menatap seksama ke arah saudaranya yang terdiam murung sambil memijit kening. "Semuanya baik-baik saja, bukan?"


"Karl, tadi sebelum makan malam Justin mengatakan sesuatu yang sangat aneh sekali. Dia bilang Amora tidak terjatuh ke sungai, melainkan terpeleset bebatuan. Apa ya maksudnya?"


Bern beralih menatap Karl. Kulit dahinya tampak mengerut saking stres memikirkan ucapan putranya. Karena tak bisa menemukan titik terang, dia akhirnya memanggil Karl agar datang ke apartemen. Rumah barunya belum selesai dipersiapkan. Jadi untuk sementara dia masih akan tinggal di sini.


"Amora tidak jatuh ke sungai? Maksudnya bagaimana? Aku kurang paham."


"Itu dia yang mengganggu pikiranku sejak tadi. Apa mungkin sebelum mobil masuk ke sungai Flow telah mengeluarkan Amora terlebih dahulu? Tapi karena Amora dalam kondisi terluka kakinya tak sengaja terpeleset bebatuan yang membuatnya hanyut di sungai? Astaga, teka-teki ini membuat kepalaku sakit!"


"Hanya Flow satu-satunya orang yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun lalu. Dan jujur, kecelakaan itu sama sekali tak ada hubungannya denganku. Aku berani bersumpah atas nyawaku sendiri!" ucap Karl sekali lagi menegaskan kalau kecelakaan yang dialami Flow dan Amora bukanlah hasil dari perbuatannya. Dia tak mau Bern kembali curiga.


"Kau tenang saja. Aku tidak bermaksud mencurigaimu. Aku hanya bingung saja apa yang sebenarnya terjadi hingga Justin bisa bicara seperti itu. Menurutmu mungkin tidak kalau Amora tidak ikut menjadi korban dalam tragedi tiga tahun lalu?"


"Itu mungkin-mungkin saja." Karl menghela napas. "Tapi, Bern. Bukankah Bibi Nandira dan Paman Max menemukan Renata di sungai ya? Ini bagaimana sih, aku jadi bingung."


"Memang betul mereka menemukan Renata tengah mengapung di sungai. Tetapi yang membingungkan di sini adalah soal ucapan Justin yang menyebut kalau Amora tidak jatuh ke sungai, melainkan terpeleset bebatuan. Begitu,"


"Hmmm, sepertinya calon mertuamu belum menceritakan semua tentang kejadian itu. Kalau memang benar mereka menyelamatkan Amora saat terapung di sungai, harusnya Justin tidak mendapat penglihatan tersebut. Aku rasa kau perlu meminta penjelasan lagi pada mereka!"


Bern terdiam. Haruskah dia menanyakan masalah ini lagi pada calon mertuanya?


(Kondisi Ibu Nandira sedang kurang baik sekarang. Sepertinya aku harus menunda pertanyaan ini untuk sementara waktu. Tunggu setelah semuanya kembali tenang baru aku akan menanyai mereka secara mendetail. Semoga saja tidak ada rahasia lain dibalik kejadian ini.)


"Aku dengar kau pergi ke kediaman keluarga Shin. Ada apa? Apa mereka melakukan sesuatu yang merugikanmu?" tanya Karl sembari menyesap minuman. Ekor matanya melirik ke arah Bern yang seperti kaget mendengar pertanyaannya. "Bukan memata-matai, aku hanya ingin memastikan semua anggota keluargaku baik-baik saja. Jangan tersinggung."


"Sedikit." Bern berseloroh. Dia kemudian tersenyum. "Kadang aku masih lupa kalau kau bukan lagi seorang iblis. Maaf,"


"Santai saja."


Saudara kembar yang pernah terlibat konflik panas kini sama-sama menertawakan kekonyolan mereka. Kebersamaan yang begitu hangat, membuat mereka tak sadar tengah diawasi oleh sosok tak kasat mata dari arah jendela. Sosok tersebut terlihat gembira. Jelas gembira. Perselisihan yang terjadi pada cicit-cicitnya telah terselesaikan. Bahkan keduanya kini tengah bersenda gurau tanpa memendam kebencian. Kuasa Tuhan memang luar biasa sekali. Tak ada satupun janji yang meleset di mana dibalik semua cobaan, pasti akan ada kebahagiaan.


"Apa yang kau lakukan di rumah Tuan Kendra? Membuat perhitungan dengannya atau mengabari mereka soal pernikahanmu dengan Renata?" tanya Karl setelah puas tertawa. Hatinya plong sekali. Momen yang sudah sangat dia nanti-nantikan akhirnya terjadi juga.


"Sebenarnya aku tak mau lagi berhubungan dengan mereka. Akan tetapi Ruth tiba-tiba muncul di kediaman Renata dan memanggilnya dengan nama Amora. Gadis itu mengacau, jadi aku berniat memberikan sedikit pelajaran kepadanya. Tapi," ....


Ucapan Bern terjeda. Rasa miris kembali menggelayut di pikiran saat terkenang dengan kondisi Tuan Kendra. Pria yang notabennya adalah calon mertuanya, kini tak ubahnya mayat hidup yang begitu menyedihkan.


"Kau yakin akan mempertemukan mereka?"


"Yakin tidak yakin aku tidak boleh egois, Karl. Karena biar bagaimana pun Tuan Kendra adalah ayah kandung Renata. Aku tak bisa memungkiri fakta ini."


"Memang benar, tapi apa kau sudah siap jika dari pertemuan itu Renata kembali mengingat masa lalunya?" tanya Karl memastikan. Agak kaget dia mendengar keputusan Bern yang mengijinkan Renata bertemu dengan keluarga kandungnya.


"Aku harus siap menghadapinya. Toh mau itu Renata ataupun Amora, mereka sama-sama adalah milikku. Iya 'kan?" jawab Bern santai.


Angin dingin tiba-tiba berembus ke dalam ruangan tempat Karl dan Bern berada. Dan hal itu membuat tengkuk mereka meremang hebat. Sambil menelan ludah, mereka saling melempar lirikan. Suasana mencekam yang hadir di sana cukup familiar.


"Nenek Zhu, apa itu kau?" tanya Karl memberanikan diri. Dia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan sosok tak kasat mata yang pernah tak sengaja dilihatnya.


Tak ada jawaban. Namun, embusan angin dingin dan juga suasana mencekam tersebut masih kuat terasa.


"Kalau benar itu adalah kau, berilah tanda agar kami tidak mengira ada orang asing yang menyusup. Kau ....


Traanngg


Karl dan Bern sama-sama terlonjak kaget saat mendengar bunyi seperti kaca pecah. Segera mereka menatap ke arah jendela. Kosong. Tidak ada apapun di sana selain tirai yang bergerak-gerak. Padahal ruangan itu sendiri sangat tertutup, lalu darimana asal angin tersebut? Mungkinkah gerakan tirai itu adalah tanda kalau Nenek Zhu benar ada di sana?


"Sayang sekali Justin tidak ada di sini. Kalau ada, dia pasti sudah berjingkrak kesenangan karena dikunjungi oleh nenek buyutnya," ucap Bern tak lagi merasa takut. Dia berusaha untuk bersikap biasa meski jantungnya terus berdegub kuat.


"Perlukah aku meminta penjaga untuk menjemputnya?" goda Karl iseng.


"Jangan gila kau. Ini sudah malam. Putraku pasti sudah tidur!"


"Justin pasti akan langsung bangun jika diberitahu kalau di sini ada Nenek Zhu. Kau seperti tidak hafal sikap putramu saja. Justin itukan sangat menyukai nenek buyutnya."


"Sekalipun suka aku tetap tidak akan membiarkan anak buahmu mengganggunya. Besok Justin sudah harus masuk sekolah seperti biasa. Aku tidak mau istirahatnya jadi terganggunya gara-gara masalah ini. Tahu kau!"


Bern terus memarahi Karl yang ngotot ingin menjemput Justin ke apartemen. Gila saja. Ini sudah hampir tengah malam. Hanya orangtua gila yang akan mengijinkan anak mereka begadang sia-sia hanya untuk bertemu dengan sosok tak terlihat. Huh.


***