
"Iya tunggu sebentar!"
Renata yang sedang sibuk di dapur bergegas menuju pintu saat bel apartemen berbunyi. Sebelum membukanya, dia melihat melalui layar monitor untuk memastikan bukan orang jahat yang datang bertamu.
Ceklek
"Ibuu!" seru Justin begitu pintu rumah ayahnya terbuka. Segera dia memeluk kedua kaki ibunya penuh kerinduan. "Ibu, Justin rindu sekali."
"Ibu juga sangat merindukanmu, sayang," sahut Renata sembari mengusap puncak kepala Justin. Setelah itu dia berjongkok dan meraih tubuh kecil Justin ke dalam pelukannya. "Maaf ya karena hari ini Ibu tidak bisa menemani Justin pergi ke sekolah. Justin tidak marah, kan?"
"Tidaklah. Kan ada Kakek Gabrielle, Nenek Elea dan juga Bibi Flow yang mengantarkan Justin ke sekolah. Jadi Justin tidak kesepian,"
"Baik sekali anak Ibu. Di sekolah Justin nakal tidak?"
Justin menggelengkan kepala. Dia lalu mencium seluruh wajah ibunya.
"Benar tidak nakal, hm?"
"Benar, Ibu. Dan tadi Miss memberi bintang satu untuk Justin. Katanya itu hadiah karena Justin sudah bersikap baik di dalam kelas."
Kedua alis Renata saling bertaut begitu mengetahui kalau putranya mendapatkan bintang satu. Ada apa ini? Tumben sekali bukan bintang lima. Apa yang terjadi?
"Bu, Ayah di mana. Justin mau mengajak Ayah bermain," tanya Justin mulai merengek.
"Sekarang Ayah sedang sibuk bekerja. Justin jangan mengganggu Ayah dulu ya?"
"Yahhhh, tapikan Ayah sudah berjanji mengajak Justin bermain,"
"Iya Ibu tahu. Emmm lebih baik sekarang Justin masuk dan ganti baju dulu. Baru setelahnya Justin boleh menemui Ayah. Oke?"
"Oke, Ibu."
Gabrielle, Elea, dan Flowrence nampak tersenyum melihat keakraban yang terjalin antara ibu dan anak ini. Sangat menghangatkan hati.
"Paman, Bibi, Flow. Mari masuk. Kebetulan aku sedang memasak. Sekalian makan siang di sini saja ya?" ucap Renata mempersilahkan keluarganya Bern untuk masuk ke dalam rumah.
"Apa kami tidak menggangu waktumu bersama Bern nanti?" tanya Elea setengah sungkan.
"Tentu saja tidak, Bibi. Bern pasti senang jika tahu kalian datang kemari,"
"Benarkah?"
"Kalian adalah keluarganya. Jangan sungkan. Ya?"
"Baiklah kalau kau memaksa."
Renata mencegah ayah mertuanya yang ingin mendorong kursi roda Flow. Dia meminta mereka untuk masuk bersama Justin dan menggantikan untuk mendorong adik iparnya.
"Terima kasih banyak, kakak ipar. Maaf merepotkan," ucap Flow sesampainya di dalam.
"Sama sekali tidak, Flow. Aku malah senang bisa membantumu," sahut Renata seraya menatap manik mata Flowrence. Dadanya tiba-tiba berdegub kuat.
(Aneh. Kenapa aku merasa seperti pernah melakukan satu perjanjian dengan Flowrence ya? Bukankah selama ini kami tidak saling kenal? Darimana asal perasaan ini?)
Gabrielle langsung menatap bergantian ke arah Flow dan Renata yang sedang tenggelam dalam pikiran mereka begitu mendengar apa yang calon mantunya pikirkan. Benaknya kembali bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kedua wanita ini tiga tahun lalu. Gabrielle yakin. Pasti ada kejadian yang terlewat sebelum Flow dan Renata sama-sama kehilangan ingatan mereka.
"Sayang, ada apa?" tanya Elea sembari mengusap pelan punggung Gabrielle. Dia bingung melihat suaminya yang tiba-tiba melamun tanpa sebab.
"T-tidak. Tidak ada apa-apa," sahut Gabrielle tergagap. Dia kaget sekali saat Elea menyentuhnya. Seketika lamunannya pun buyar.
"Kalau tidak ada apa-apa kenapa kau melamun?"
"Nanti saat di rumah aku akan memberitahumu apa yang kupikirkan. Oke?"
"Umm baiklah."
"Justin di mana?"
"Dia pergi mengganggu ayahnya," jawab Elea sambil terkekeh pelan. "Keinginan Cio benar-benar kesampaian. Bern sekarang bekerja padanya."
"B*jingan itu pasti senang sekali," ucap Gabrielle sambil menggelengkan kepala.
"Biar sajalah. Mungkin dengan begini hubungan Bern dan Karl bisa tetap terjaga. Kau tidak masalahkan kalau Bern tidak bergabung dengan Group Ma?"
"Tentu saja tidak. Lagipula perusahaan milik Junio adalah gabungan perusahaan milikmu dan milik Patricia. Di sana ada hak anak-anak kita juga. Jadi anggap saja Bern tengah memantau aset milik keluarga kita. Iya, kan?"
Sementara itu di dalam ruangan lain, terlihat Bern yang sedang asik bermain kuda-kudaan dengan Justin. Masih dengan memakai seragam sekolah, Justin dengan girangnya duduk di atas punggung ayahnya. Suara gelak tawanya membuat seisi ruangan menjadi sangat ramai. Dan itu membuat mood Bern kembali membaik setelah dibuat kesal oleh perbuatan Kimberly.
"Ayah, Justin lelah," ucap Justin sembari menyeka keringat di keningnya. Suhu ruangan tak membuatnya merasa sejuk.
"Lelah?" tanya Bern.
"Iya, Ayah. Ayo kita duduk."
"Baiklah,"
Dengan sangat hati-hati Bern memegangi Justin saat akan turun dari punggungnya. Setelah itu dia membantu melepas seragam dan sepatu Justin kemudian mengambilkan air minum untuknya.
"Ekhmm-ekhmmm, boleh bergabung tidak?"
Gabrielle dan Flowrence tersenyum senang saat Bern mengizinkan mereka untuk ikut bergabung. Sejak tadi mereka berdiri di depan pintu menonton adegan kuda-kudaan yang dilakukan oleh sepasang ayah dan anak ini.
"Ibu mana, Flow?" tanya Bern saat tak mendapati keberadaan sang ibu.
"Ibu sedang membantu kakak ipar di dapur, Kak," jawab Flow. "Kakak ipar meminta kami untuk makan siang di sini. Kau keberatan tidak?"
"Kita keluarga. Apanya yang membuat keberatan?"
"Siapa tahu kau ingin menghabiskan waktu bersama dengan Justin dan kakak ipar."
"Bersama kalian juga harus. Selama itu bisa menyenangkan hati kakak iparmu, maka aku akan melakukan segalanya."
"Hmmm, romantis sekali. Jadi iri,"
"Oliver pasti akan melakukan hal yang sama juga kepadamu. Kalian masih berhubungan, kan?"
Flow menggeleng cepat.
"Tidak ada hubungan apapun yang terjalin antara aku dengan Oliver. Russell, Kak. Dia yang menjadi kekasihku sekarang."
Bern diam tak menyahut. Ekor matanya melirik ke arah sang ayah yang seperti memberi kode agar dirinya tidak melanjutkan pembicaraan tersebut. Sampai di detik ini Bern masih belum mengetahui penyebab pasti mengapa posisi Oliver bisa digantikan oleh Russell. Jelas-jelas Flow dan Oliver telah dijodohkan sejak mereka masih menjadi embrio di dalam perut ibu masing-masing. Mengapa bisa berubah? Aneh sekali.
"Kak, gurunya Justin bilang hari ini dia tidak fokus di kelas. Kau dan kakak ipar harus mengatur ulang jadwal istirahatnya," ucap Flow memberitahu sang kakak tentang apa yang terjadi pada keponakannya.
"Benarkah?" Bern langsung mengelus rambut Justin yang tengah kelelahan setelah bermain. "Apalagi yang dikatakan olehnya?"
"Ayah yang berbincang dengan gurunya Justin tadi."
"Flow benar, Bern. Hari ini Justin sedikit bermasalah di kelasnya," imbuh Gabrielle seraya menatap penuh sayang pada cucunya. "Kau dan Renata harus lebih memperhatikannya lagi. Jangan terlalu sering membawanya pergi keluar."
"Baik, Ayah. Nanti aku akan membicarakan masalah ini dengan Renata," sahut Bern.
"Oya, Bern. Rencananya nanti di mana kau akan menggelar perayaan pesta ulang tahunnya Justin?"
"Aku ikut apa kata Renata saja. Di manapun tidak jadi masalah selama itu bisa membuat anak dan istriku nyaman."
"Di rumah Kakek Max saja, Ayah. Kakek Max bilang Justin boleh membuka peternakan dinosaurus di sana. Ya?" ucap Justin tiba-tiba menimbrung percakapan antara ayah dan kakeknya. Matanya tampak berbinar-binar saat menyebutkan tentang keinginannya membuka peternakan dinosaurus. Terbayang betapa nanti dia akan memiliki banyak mainan.
"Justin maunya di sana?" tanya Bern gemas.
"Iya, Ayah. Boleh, kan?"
"Tentu saja sangat boleh."
"Yeyyyy, Ayah Justin adalah yang terbaik!" sorak Justin heboh.
"Lalu Kakek bagaimana?" Gabrielle melayangkan protes.
"Kakek Gabrielle juga yang terbaik."
"Kalau Bibi Flow bagaimana?" Flowrence ikut-ikutan mengajukan protes.
"Bibi juga yang terbaik kok. Tapi nanti Bibi bawakan cemilan yang banyak untuk Justin ya?"
"Siap, bos."
Bern dan Gabrielle tertawa lucu melihat Justin yang seperti salah tingkah setelah meminta cemilan dari bibinya. Bocah ini menggemaskan sekali. Sungguh.
***