Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 35


“Nona Renata, cepat lihat ini!” teriak seorang karyawan yang sedang istirahat sambil menonton televisi. Tangannya menunjuk ke arah layar televisi yang sedang menayangkan sebuah berita.


Renata yang baru saja menidurkan Justin segera datang mendekat. Dia penasaran apa yang sudah membuat karyawannya berteriak heboh.


“Ada apa?" tanya Renata sembari duduk di salah satu kursi.


“Lihat, Nona. Bukankah itu adalah mobil yang tadi menyerempet kakinya Justin ya? Aku tadi sempat menghafal plat nomornya, dan sekarang mobil itu mengalami kecelakaan tragis. Apa ini yang di sebut karma?”


Bulu kuduk Renata langsung berdiri semua saat dia melihat mobil yang sudah ringsek karena di hantam oleh dua buah truk pengangkut alat berat dari arah yang berlawanan. Sungguh, ini terlalu mengerikan untuk dilihat. Perut Renata sampai mual melihat melihat tubuh korban yang hancur berceceran.


“Tuhan benar-benar sangat adil, Nona. Orang ini dengan teganya menyakiti bocah yang tidak bersalah. Dan karmanya langsung di bayar tunai. Sukurlah, aku lega melihatnya.”


“Tidak baik mengucap syukur pada seseorang yang sedang tertimpa musibah. Jangan lupa kalau apa yang keluar dari mulutmu itulah yang akan terjadi padamu. Hukum tabur tuai itu ada, jadi berhati-hatilah menjaga lisan. Mengerti?” tegur Renata kurang suka mendengar karyawannya yang malah memanjatkan syukur atas kecelakaan yang terjadi.


“Maaf, Nona. Aku hanya terlalu kesal saja pada orang ini. Siapa suruh mencelakai Justin, kena batunya kan dia sekarang!”


Renata hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala. Setelah itu dia terdiam, merenung memikirkan sesuatu hal.


Kecelakaan mobil? Kenapa aku merasa dejavu ya? Aku memang pernah mengalami kecelakaan, tapi tak pernah sekalipun merasa seperti sekarang. Apa yang terjadi?


Tadi saat Bern sedang menemani Justin bermain, tiba-tiba saja pria itu berpamitan untuk pergi setelah menerima telepon. Bern terlihat sangat buru-buru sekali, yang mana sempat membuat Renata merasa heran. Meski begitu, Renata tak memiliki keberanian untuk bertanya ada apa. Dan anehnya saat Bern pergi, Justin terlihat bahagia sekali. Putranya terus saja berkata mempunyai paman-paman yang tampan dan juga mobil yang sangat bagus. Renata sampai bingung sendiri di buatnya.


“Kenapa sejak bertemu dengan Bern Justin terus saja mengatakan hal-hal yang aneh ya. Dari mulai dia yang menganggap Bern sebagai ayahnya, rengekannya yang memaksa agar aku pergi ke apartemen, lalu dengan paman-paman aneh dan juga mobil bagus. Ada apa ya?” gumam Renata bertanya-tanya sendiri.


“Mungkin Justin mempunyai bakat seorang cenayang, Nona.”


Karyawan yang bernama Lindri nampak meringis saat Renata menatapnya. Dia lalu meminta maaf.


“Maaf, Nona Renata. Aku tak sengaja mendengar gumamanmu tadi, jadi sedikit menimbrung. Jangan marah ya?”


“Aku bukan marah, tapi kaget mendengar ucapanmu,” sahut Renata sambil tersenyum. “Memangnya ada ya orang dengan bakat seperti yang kau sebutkan barusan. Apa tadi … cenayang?”


“Tentu saja ada, Nona. Memangnya kau tidak pernah mendengar tentang seseorang yang mampu melihat masa depan?”


Renata menggelengkan kepala. Dia tak pernah menjajaki hal-hal semacam ini, dan menurutnya itu hanyalah mitos belaka.


“Jangankan hanya cenayang, reinkarnasi pun ada di dunia ini. Nona tahu reinkarnasi tidak?” tanya Lindri antusias. Dia paling suka menonton film yang berbau mistis dan misteri. Saking sukanya, Lindri sampai membuka situs-situs yang memuat tentang kebenaran adanya manusia yang melewati mesin waktu.


“Kalau reinkarnasi aku pernah dengar. Akan tetapi jika cenayang … aku rasa baru kali ini aku mendengarnya. Kenapa memang?” jawab Renata ikut antusias. Dia jadi penasaran.


Saat Lindri hendak menjelaskan, seseorang masuk ke dalam toko bunga. Segera Lindri dan Renata melihat ke arah pintu. Dan ternyata yang datang adalah pria yang di anggap Justin sebagai ayahnya.


“Bern, kenapa kau kembali lagi? Ada yang tertinggal atau bagaimana?” tanya Renata sambil berjalan menghampiri Bern yang berdiri terpaku di depan pintu.


“Mana Justin?” sahut Bern yang malah menanyakan keberadaan putranya. Dia ingin segera memeluknya.


“Oh Justin. Dia sedang ….


“Anak Ayah, bangun Nak. Ayo kita pergi jalan-jalan,” bisik Bern sambil menciumi pipi gembulnya Justin. Mati-matian dia menahan agar air matanya tidak menetes keluar. Renata ada di sana, dia tak mau membuatnya merasa curiga.


Merasa terganggu, Justin melenguh sambil menggeliatkan tubuh saat seseorang tak henti menciumi pipinya. Renata yang melihat kalau istirahat putranya terganggu memutuskan untuk mendekat.


“Bern, Justin belum lama tertidur. Nanti dia mengamuk kalau kau terus mengganggunya,” ucap Renata menegur dengan halus. Jujur, dia bingung melihat sikap pria ini. Sebulumnya Bern tidaklah sebegini dekatnya pada Justin. Tapi begitu dia kembali dari luar sikapnya langsung berubah drastis. Renata jadi takut.


“Ren, ayo kita pergi jalan-jalan bertiga. Kau mau tidak?” tanya Bern tak mengindahkan teguran wanita cantik ini. Dadanya bergemuruh, tak tahan ingin segera mendapatkan bukti kalau Renata adalah wanita yang dia cari.


“Jalan-jalan?” Kening Renata mengerut. “Kemana?”


“Kemana saja. Asalkan bisa menghabiskan waktu bersama kalian, ke ujung dunia pun aku mau” jawab Bern sambil tersenyum manis.


Hening. Sadar ada yang tidak beres, dengan penuh perhatian Renata mencoba menenangkan Bern. Di usapnya pelan tangan pria ini yang masih bertengger di pipiJustin. Renata merasa kasihan.


“Bern, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu dan apa yang baru saja kau temui di luar. Akan tetapi yakinilah kalau semuanya pasti baik-baik saja. Karena mau segelap apapun warna langit dan sekencang apapun angin bertiup, yang namanya badai pasti berlalu. Jika kau butuh tempat untuk bercerita, maka aku siap menjadi pendengar. Jangan merasa sendiri. Oke?”


Greppp


Begitu Renata selesai bicara, Bern langsung menariknya ke dalam pelukan. Perkataan yang dia ucapkan sama persis seperti yang sering Amora katakan saat Bern sedang murung. Meskipun Cio belum membawakan bukti padanya, tapi dia yakin betul kalau Renata adalah kekasihnya yang hilang. Rasa nyaman dan nasehatnya yang teduh membuat Bern semakin yakin dengan asumsi tersebut.


“Terima kasih sudah mengizinkan aku mengenal kalian. Dan terima kasih juga telah menjaga Justin dengan baik. Terima kasih,” bisik Bern dengan mata yang mulai memanas. Posisinya yang sedang memeluk Renata membuat wanita ini tak bisa melihat butiran bening yang mulai menetes keluar. Bern terselamatkan.


Apa mungkin Bern sedang teringat dengan kekasihnya ya? Ya ampun, kasihan sekali dia. Sebaiknya aku jangan mengganggunya dulu. Biarkan saja dia menumpahkan segala kesedihan dengan memelukku seperti ini.


“Jangan berterima kasih padaku, Bern. Mungkin ini memang sudah menjadi garis Tuhan untuk mempertamukan kita bertiga,” ucap Renata sambil mengelus punggungnya Bern. Dia iba.


“Kau benar, Renata. Pertemuan kita memang sudah di atur sedemikian rupa oleh Tuhan. Walau ada kisah kelam di baliknya, aku benar-benar sangat bersyukur karenanya. Mungkin kau akan terkejut mendengar perkataanku. Tapi mulai sekarang kau dan Justin akan menjadi prioritas pertamaku. Aku harap kau tidak keberatan,” sahut Bern tak mau mengulur waktu untuk terus menjalin hubungan dekat dengan Justin dan Renata. Dia tak mau kehilangan momen indah bersama mereka lagi.


“Prioritas pertama? Maksudnya bagaimana?”


Bohong kalau Renata tak merasa lega mendengar perkataan Bern. Dia lega sekali malah. Sikap pria ini seolah menjadi jawaban atas tawaran Renata yang malam itu mengajak Bern untuk menikah. Ini bukan soal serakah dan tidak tahu diri, tapi Renata hanya ingin melihat putranya bisa tersenyum bahagia dan mempunyai orangtua yang lengkap. Itu saja.


“Tidak ada maksud apa-apa. Pokoknya aku hanya ingin ….


“Ayah, Ibu. Kenapa Justin di tinggal? Kenapa Ayah dan Ibu tidak memeluk Justin juga?”


Tangis Justin akhirnya pecah saat dia melihat ayah dan ibunya berpelukan tanpa memeluknya serta. Bern yang melihat hal itupun segera melepaskan Renata kemudian mengangkat Justin ke atas pangkuan. Di tatapnya dalam-dalam wajah menggemaskan putranya yang basah air mata.


Kenapa aku baru sadar kalau Justin hampir mirip denganku ya? Hmmm, karena terlalu fokus pada Amora dan Renata aku sampai tidak menyadari kalau putra kandungku ada di depan mata. Tolong maafkan Ayah ya, Nak. Ayah benar-benar tidak tahu kalau kau adalah bagian dari hidup Ayah. Sungguh.


Renata hanya bisa pasrah saja saat Bern berkata akan membawa Justin jalan-jalan asalkan mau berhenti menangis. Dia kemudian tertawa sambil menggelengkan kepala melihat Justin yang langsung menari-nari kegirangan. Sangat manis.


***