
“Ayah, Ibu. Kalian darimana saja? Kenapa baru pulang sekarang?” tanya Renata sambil berjalan cepat menghampiri kedua orangtuanya. Raut wajahnya terlihat khawatir sekali.
Max dan Nandira menatap Renata dengan pandangan yang begitu dalam. Jauh di dalam lubuk hati mereka, ada ketakutan dan kecemasan yang begitu besar setelah tadi mengakui kebenaran di hadapan Karl dan Cio.
“Ayah, Ibu. Ada apa? Kenapa wajah kalian terlihat seperti orang yang sedang kebingungan? Sesuatu telah terjadikah?”
“Ren, mana Justin?” tanya Max mengalihkan pembicaraan. Suaranya sedikit bergetar, takut kalau-kalau kedua pria itu telah membawa cucunya pergi dari rumah ini.
“Justin sedang pergi jalan-jalan dengan ayahnya, Ayah. Mungkin sebentar lagi mereka sudah akan pulang,” jawab Renata agak canggung saat menyebut Bern sebagai ayahnya Justin di hadapan kedua orangtuanya.
“Ayahnya?” Max menghela nafas. Dia berusaha untuk berpura-pura tidak tahu siapa pria yang adalah ayah kandung dari cucunya. “Apa dia adalah pria yang sore tadi bicara dengan Ayah dan Ibu?”
“Iya, Ayah. Itu dia. Namanya Bern, Bern Wufien Ma."
“Kemana mereka pergi?”
“Em mungkin ke taman bermain atau ke time zone. Ayah pasti tahulah tempat apa yang paling di sukai oleh Justin.”
Max mengangguk. Lagi-lagi dia menatap dalam ke arah Renata.
“Kau tidak ikut?”
Renata menggeleng. Dia semakin merasa aneh dengan sikap kedua orangtuanya. Jika biasanya sang ibu akan langsung mereog jika tahu Justin pergi bersama orang lain, kali ini keributan itu tidak terjadi. Bahkan sang ibu terkesan diam dan tak berkata apa-apa. Aneh sekali, bukan?
Penasaran akan apa yang terjadi, Renata memutuskan untuk bertanya saja pada ayah dan ibunya. Sikap mereka terlalu janggal, membuat Renata jadi merasa tidak tenang.
“Ayah, Ibu. Ini sebenarnya ada apa? Kenapa sikap kalian aneh sekali?” cecar Renata sambil menatap bergantian pada kedua orangtuanya.
“Tidak ada apa-apa, sayang. Kami hanya sedikit kelelahan saja,” jawab Nandira memaksakan diri untuk tersenyum.
“Benar tidak ada apa-apa?”
Nandira mengangguk. Setelah itu dia memeluk Renata penuh sayang, merasai betapa dia sangat takut kehilangan anak ini.
Ren, tolong maafkan Ayah dan Ibu. Kami terpaksa membohongimu karena tak sanggup harus kehilangan Renata asli. Dari Karl dan Cio kami akhirnya tahu kalau namamu adalah Amora. Maaf, maaf sekali. Ibu tidak bermaksud menjauhkanmu dari keluarga Shin. Ibu hanya tidak siap harus kehilangan saudara kembarmu. Nanti di saat kau mengetahui rahasia ini tolong jangan benci kami ya. Kami tidak berdaya oleh keadaan. Sungguh.
Saat Renata sedang terheran-heran dengan sikap kedua orangtuanya, seorang pelayan datang melapor kalau putranya sudah pulang. Segera mereka bertiga pergi ke luar untuk menyambut bocah kecil itu.
Di dalam mobil, Bern yang sedang membantu melepas seatbelt di tubuh Justin hanya tertawa saja ketika putranya tak henti mengobrol dengan dinosaurus mainan yang baru saja di belinya. Setelah itu dia menggendong dan membawanya keluar dari mobil.
“Ayah, apa dinosaurus ini berteman dengan Koni dan Gora?” tanya Justin seraya menampilkan mimik wajah yang begitu penasaran.
“Um sepertinya iya. Tapi Ayah tidak tahu pasti karena mereka itukan berasal dari tempat yang berbeda,” jawab Bern.
“Berbeda?”
“Iya. Koni dan Gora tinggal di rumah Nenek Zhu. Sedangkan dinosaurus itu tinggalnya di hutan,”
“Tadi Koni dan Gora bilang pada Justin supaya sering-sering mengajak mereka bermain, Ayah. Mereka bilang Nenek Zhu sangat sayang padaku,”
“Benarkah?”
“Iya, Ayah. Justin tidak bohong.”
“Ya sudah kalau begitu kapan-kapan kita main ke sana lagi ya. Tapi ingat pesan Ayah jangan terlalu dekat dengan air danau. Di sana ada monsternya. Ya?” ucap Bern mengingatkan putranya yang tadi hampir jatuh ke dalam danau penangkaran buaya. Bisa gawat jika buaya-buaya itu sampai memangsanya.
“Itu bukan monster, Ayah. Tapi boneka bergigi,” sahut Justin serius. “Nenek Zhu bilang boneka bergigi itu adalah anaknya. Mereka patuh dan tidak nakal. Jadi Ayah jangan takut ya?”
Renata, Max, dan juga Nandira terus memperhatikan kedua pria beda usia yang tengah asik mengobrol sambil berjalan menuju pintu masuk. Ketiganya dengan sabar menunggu Bern dan Justin tiba di hadapan mereka.
“Ibuu!” seru Justin begitu melihat keberadaan sang ibu. Dia langsung mengulurkan tangan meminta untuk di gendong.
“Hati-hati,” ucap Bern sambil menyerahkan Justin ke gendongan Renata. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala keduanya.
Betapa manisnya mereka.
“Kasihan sekali anak dinosaurusnya, sayang. Apa mereka sudah dibawa ke dokter?” tanya Nandira menimpali celotehan cucunya. Dia berusaha tenang berhadapan dengan pria yang adalah kekasih Renata.
“Belum, Nenek. Bibi toko bilang besok pagi mereka baru akan dibawa ke rumah sakit. Begitu,”
“Owh, ya sudah tidak apa-apa. Tunggu mereka sudah sehat baru Justin boleh membawanya pulang. Oke?”
“Oke, Nenek.”
Renata tersenyum pada Bern yang terus membelai rambutnya. Dia sebenarnya canggung, tapi tak kuasa menolak perlakuan pria ini karena takut moodnya akan berubah seperti kemarin. Alhasil Renata hanya diam membiarkan saja meski dia sadar betul kalau sejak tadi pandangan sang ayah terus tertuju pada mereka.
“Tuan Muda Bern, selamat malam,” ucap Max memutuskan untuk menyapa.
Bern agak tersentak kaget saat ayahnya Renata tiba-tiba menyapanya. Segera dia berdehem kemudian beralih menatapnya.
“Selamat malam kembali, Tuan Max,” sahut Bern dengan sopan. "Tolong panggil Bern saja. Aku bukan tuan muda lagi.x
“Oh, baiklah. Apa cucuku membuatmu repot? Dia agak nakal belakangan ini,”
“Tidak sama sekali, Tuan. Justin adalah putraku. Jadi mau senakal apapun dia, aku tidak akan pernah merasa direpotkan. Tolong jangan sungkan,”
Agak kikuk saat pembicaraan berakhir begitu saja. Max sudah tak kaget saat Bern menyebut kalau Justin adalah putranya karena tadi Cio telah memberitahukan kalau ayah biologis cucunya adalah pria ini.
“Bern, kau dan Justin sudah makan malam belum?” tanya Renata memecah kecanggungan yang terjadi.
“Belum, Ren. Aku buru-buru mengajaknya pulang karena takut dia kelelahan di jalan,” jawab Bern dengan suara yang sangat lembut. Dia kemudian tersenyum. “Besok dia sekolah, kan?”
“Iya besok Justin masuk sekolah seperti biasa,”
“Boleh aku yang mengantar kalian?”
Renata sedikit kaget mendengar tawaran Bern yang ingin ikut mengantarkan Justin ke sekolah.
“Justin juga putraku, Renata. Aku punya hak untuk ikut andil dalam mengawasi pendidikannya. Boleh ya?” bujuk Bern.
“Ya sudah iya. Tapi kau datangnya jangan terlalu siang ya karena besok pagi Justin ada acara di sekolahnya,” sahut Renata akhirnya mengiyakan keinginan Bern. Biar sajalah. Tidak ada salahnya juga jika Bern ikut menemani Justin ke sekolahnya.
Dengan penuh semangat Bern menganggukkan kepala. Dia senang sekali.
“Ekhmmm, karena ini sudah waktunya makan malam bagaimana kalau kau sekalin makan bersama kami saja, Bern. Tidak apa-apa, kan?” tanya Nandira menawarkan ajakan pada Bern. Nandira mencoba untuk bersikap biasa supaya Renata tidak menaruh rasa curiga.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Oh maaf, aku lupa menyapamu. Selamat malam, Nyonya Nandira,” sopan Bern menyapa ibu Renata.
“Selamat malam kembali. Ayo masuk.”
Dengan cepat Bern mengambil Justin dari gendongan Renata saat melihatnya sedikit kesulitan berjalan, Justin lumayan berat, dan Bern tidak mau Renata sampai kelelahan karena menggendongnya.
“Terima kasih,” ucap Renata lirih.
“Aku lebih tertarik kau berterima kasih dengan cara yang lain, Renata,” sahut Bern iseng. Dia kini berjalan beriringan dengan Renata. Sedang kedua orangtua wanita ini berjalan di depan mereka.
“Maksudnya?”
“PR untukmu. Pikirkan malam ini karena besok aku akan meminta jawabannya.”
Gluukk
Renata langsung menelan ludah saat Bern dengan isengnya berbisik di samping telinga. Tengkuknya sampai meremang saat deru nafas pria ini mengenai kulit tubuhnya.
Astaga, apa-apaan si Bern. Kenapa dia berani sekali menggodaku. Padahal Ayah dan Ibu ada di sini. Hmmm.
***