Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 61


Cio, Reiden, Andreas, Oliver, dan Russell duduk diam sambil memperhatikan keponakan mereka yang hanya mengenakan celana d*lam saja. Justin Goh, anak kandung Bern yang baru saja di ketemukan. Bocah itu terlihat asik sendiri dengan banyaknya cemilan yang di sediakan oleh kakek dan neneknya. Sedangkan Flow, gadis cantik itu terus saja membuka semua cemilan itu agar bisa di cicipi oleh keponakannya.


"Umm Bibi, ini enak sekali. Seperti ada yang meletus di dalam mulut Justin," ucap Justin takjub akan rasa salah satu cemilan. Karena obat olesnya belum mengering, Justin terpaksa belum di izinkan untuk memakai baju dulu. Hanya celana d*lam saja yang menempel di badannya yang putih bersih.


"Benarkah?"


Flow penasaran. Dia mengambil satu kemudian memakannya. Benar juga. Mungkin letusan marshmello ini yang di maksud oleh Justin. Lucu sekali.


"Enak ya?"


"Iya enak. Justin suka?"


"Suka, sangat suka. Di rumah Ibu tidak mengizinkan Justin jajan, Bi. Kata Ibu nanti perut Justin bisa membesar jika sembarangan makan," jawab Justin menceritakan larangan sang ibu yang sangat dia takuti.


"Ibumu benar, Justin. Tapi kau jangan khawatir. Semua cemilan ini aman kok untuk dimakan. Jadi jangan takut untuk menghabiskannya ya?"


"Iya, Bibi."


Pandangan Justin kemudian teralih pada lima orang dewasa di hadapannya. Ditatapnya satu-persatu wajah mereka lalu Justin menemukan ada yang kurang di sana.


"Bibi, pamannya kurang satu!"


"Hah?"


"Satu, dua, tiga, empat, lima. Harusnya ada enam, Bibi. Jadi pamannya kurang satu. Hilang kemana ya?"


Kelima pria itu tersentak kaget mendengar perkataan Justin. Mereka heran sendiri mengapa bocah ini bisa tahu kalau dia mempunyai enam orang paman. Memang, saat ini Karl tidak ada bersama mereka. Pria kejam itu memilih duduk di teras karena merasa canggung dengan keberadaan Bern. Padahal Bern sendiri sedang berbincang dengan orangtuanya di halaman samping. Mengejutkan sekali.


"Kau mencariku?"


Karl berjalan masuk. Pandangannya kemudian beradu dengan pria kecil yang sedang mencari-cari keberadaannya.


"Wahhh, paman tampan. Nenek Zhu bilang Paman adalah orang yang baik,"


"Nenek Zhu? Siapa dia?" tanya Karl penasaran.


"Ya Nenek Zhu, Paman. Waktu itu Ayah pernah mengajak Justin bermain ke rumah Nenek Zhu. Rumahnya besar dan bagus sekali. Di sana juga ada temannya Lan," jawab Justin dengan gembiranya bercerita tentang dua harimau besar yang waktu itu menemaninya bermain.


"Temannya Lan? Siapa?"


"Koni dan Gora. Mereka besaaarr sekali, Paman."


Untuk kedua kalinya para pria itu dibuat kaget bukan kepalang oleh celotehan bocah tiga tahun ini. Mereka sampai tidak bisa berkata-kata saking bingung memikirkan apa yang baru saja mereka dengar.


Bagaimana bisa Justin mengetahui soal Koni dan Gora? Kedua harimau itu sudah sangat lama meninggal. Juga Nenek Zhu. Apa mungkin yang Justin maksud adalah Jendral Liang Zhu? Ya Tuhan, ada apa ini. Kenapa Justin bisa mengetahui nama mereka yang sudah meninggal?


Drrtt drttt


Saat Karl sedang bingung memikirkan perkataan Justin, ponsel di sakunya bergetar. Segera dia menjawab panggilan tersebut begitu tahu kalau anak buahnya yang menelpon.


"Bagaimana? Apa kalian sudah meretasnya?"


"Sudah, Tuan Muda. Akan tetapi kami belum bisa membuat mereka keluar dari rumah. Yang melakukan adalah para ibu, jadi mereka masih harus mengurus anak-anak terlebih dahulu."


"Aku tidak peduli apakah mereka adalah para ibu atau anak bayi sekalipun. Lakukan dan buat mereka pergi ke suatu tempat yang sepi. Keponakanku di bully hingga terluka di sana sini. Ini penghinaan untukku!" geram Karl dengan suara tertahan. Dia kemudian tersenyum saat Justin menatapnya lekat.


Cio dan Reiden melirik ke arah Karl yang sedang berusaha menahan emosi di hadapan Justin. Lucu sekali. Biasanya pria kejam itu tak pernah peduli dengan keadaan sekitar. Mendadak Karl jadi bersikap manis ketika Justin menatapnya. Cio jadi ingin mengabadikan momen ini ke dalam video. Pasti menyenangkan jika dipakai untuk mengolok-olok Karl nanti.


"Jangan berpikiran macam-macam, Cio. Sekarang bukan waktunya untuk bercanda!" tegur Andreas tanggap akan apa yang sedang direncanakan oleh pria jahil ini.


"Cihh, kau ini. Tahu saja kalau aku ingin mencari bahan untuk mengerjai Karl. Cenayang kau ya?" sungut Cio jengkel karena Iyas selalu mengetahui rencananya. Menyebalkan.


"Tidak harus menjadi cenayang untuk bisa menebak kejahilan apa yang ingin kau lakukan. Sudahlah. Diam dan biarkan Karl bekerja dengan caranya sendiri. Mengerti?"


"Huh!"


Karl masih berusaha untuk sabar saat Justin tak henti memperhatikannya. Sungguh, baru kali ini Karl merasa terpojok. Padahal bocah itu tidak melakukan apa-apa, tapi dia merasa terintimidasi. Aneh sekali, bukan?


"Baiklah, Tuan Muda. Beri kami waktu sekitar lima belas menit untuk menggiring para wanita itu agar keluar dari kediaman mereka. Nanti akan kami kabari jika mereka sudah berada di lokasi!"


"Oke!"


"Kenapa, Karl?" tanya Oliver. "Wajahmu masam sekali. Mereka tidak bisa menemukan pembully-nya ya?"


"Bukan tidak bisa, tapi mereka meminta waktu karena yang akan kuburu adalah para ibu yang harus mengurus anak mereka dulu," jawab Karl seraya membuang nafas kasar.


"Nanti jangan terlalu keras pada mereka. Kasihan!"


"Tergantung sebatas mana kesadaran mereka!"


"Melunaklah sedikit,"


"Hmmm, sepertinya mulutmu perlu mencoba jarum baru. Mau bantu kurobek tidak?" ancam Karl jengah saat Oliver malah membujuknya.


"Hehehe, galak sekali. Nanti aku ikut ya?" sahut Oliver.


"Terserah!"


Tak lama setelah itu Bern dan Renata datang ke ruang tamu. Di belakang mereka ada kakek dan neneknya Justin. Kedua orangtua itu langsung berjalan cepat menghampiri cucu mereka yang sedang sibuk dengan banyak cemilan di tangannya.


"Justin, suka tidak dengan cemilan yang Nenek belikan?" tanya Elea gemas sembari membersihkan mulut cucunya yang sedikit kotor.


"Suka, Nenek. Justin suka sekali,"


"Nanti sering-sering ya main kemari. Kakek, Nenek, dan juga Bibi Flow akan menyiapkan banyak makanan dan juga mainan untukmu. Ya?"


"Emmm, kalau Ibu marah bagaimana?"


"Ayah yang akan membujuknya nanti," sahut Bern membuka suara.


"Yeyyyy, Ayahnya Justin yang terbaik!" seru Justin kesenangan karena mendapat banyak pembela. Dia merasa menang sekarang.


Renata hanya bisa pasrah saat putranya begitu dimanjakan oleh semua orang di sini. Dan anehnya, keluarga Justin memperlakukannya seolah Justin adalah cucu kandung mereka. Padahal Bern dan Justin bukanlah ayah dan anak kandung, tapi kenapa perlakuan mereka begitu berbeda?


Apa yang sudah Bern katakan pada keluarganya ya sehingga mereka bisa begitu menyayangi Justin? Dan jika dilihat-lihat wajah Paman Gabrielle sedikit mirip dengan Justin. Ini hanya kebetulan saja atau bagaimana sih?


"Apa kabar?"


Ruang tamu langsung berubah hening saat Bern tiba-tiba menanyakan kabar Karl. Elea bahkan hampir terjengkang saking dia terkejut mendengar kedua putranya mulai saling bicara. Ini mengharukan sekali. Sungguh.


"Aku baik. Kau sendiri?" jawab Karl agak gugup saat Bern memulai pembicaraan lebih dulu.


"Putraku di bully. Masih bisakah aku menjawab baik-baik saja?"


"Pelakunya sudah ditargetkan. Tinggal menunggu kapan kau siap memberi pelajaran pada mereka!"


"Berapa orang?"


"Tujuh."


Bern segera menghitung luka yang ada di tubuh Justin. Jumlahnya lebih dari tujuh. Itu artinya orang-orang itu sengaja mengulangi perbuatan mereka.


"Kau punya rekamannya?" tanya Bern dengan gigi yang saling menggeretak. Darah di tubuhnya mendidih.


"Tunggu sebentar. Aku akan meminta mereka untuk mengirimkan ke ponselku!"


Agak kaku cara mengobrol Karl dan Bern. Renata yang mendengar hal itupun hanya berani bertanya-tanya dalam hati. Kini dia tahu siapa yang menjadi saudara kembarnya Bern. Ternyata Karl adalah orangnya.


"Ada apa?" tanya Bern sambil menatap Renata yang hanya diam saja.


"Hah? O-oh tidak. Ini aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja," jawab Renata tergagap.


"Sesuatu? Apa itu? Pria lain?"


Cio langsung membulatkan bibirnya begitu menyadari keposesifan di diri Bern. Ngeri sekali. Pandangan mata sepupunya langsung berubah tajam. Pasti seru kalau Bern sedang cemburu. Haha.


"Jangan berpikiran macam-macam. Aku tidak pernah memikirkan seorang pria pun!" ucap Renata menyanggah tuduhan Bern. Pria ini kumat lagi. Hmmm.


"Kalau aku? Pernah tidak kau memikirkannya?"


"Bern, jangan beginilah. Lihat, ada keluargamu di sini."


"Tak usah pedulikan mereka. Percuma. Di antara mereka tidak ada yang memiliki urat malu. Jadi acuhkan saja!"


"Benarkah?"


Andreas, Cio, Reiden, Oliver dan Russel hanya bisa menghela nafas panjang saat Bern menyebut mereka tidak mempunyai urat malu. Sungguh, ketajaman lidah pria ini sama sekali tidak berubah. Masih saja suka asal bicara. Hmmm.


"Ini rekamannya," ucap Karl sambil menyodorkan ponselnya pada Bern. Setelah itu Karl menatap Renata sejenak. "Halo. Senang bertemu denganmu."


"Halo juga, Karl. Terima kasih sudah menyapa," sahut Renata sedikit kikuk saat Karl menyapanya.


Sebelah alis Karl tertarik ke atas saat dia tak sengaja melihat pegangan tangan Bern semakin menguat di pergelangan tangan Renata. Mungkinkah saudaranya ini masih waspada terhadapnya?


Aku tidak bisa membiarkan Renata terlalu akrab dengan Karl. Aku takut kejadian tiga tahun lalu kembali terulang.


Akhirnya Karl tahu penyebab mengapa Bern masih begitu mewaspadainya. Rupanya pria ini masih menyimpan trauma atas apa yang terjadi di masa lalu. Merasa bersalah, Karl memilih untuk menjauh saja. Hubungannya dengan Bern baru saja membaik. Jadi Karl harus bisa menjaga sikap supaya tidak ada salah paham yang terpantik.


"Pelakunya adalah segerombol wanita yang datang merusuh di toko bunga, sayang. Lihat. Betapa kejamnya mereka yang terus melukai Justin meskipun putra kita sudah menangis kesakitan," ucap Bern sambil memperlihatkan video pada Renata.


"Padahal mereka juga punya anak yang seusia Justin. Tapi kenapa mereka tak merasa kasihan melihat Justin menangis kesakitan? Jahat sekali," lirih Renata berkata. Sesak sekali dadanya saat menyaksikan bagaimana putranya ditunjuk dan diteriaki oleh mereka.


"Bern, sudah. Video seperti itu jangan di tonton terus. Hapus. Lalu temui mereka dan minta tanggung jawab. Kalau menolak, beri pelajaran yang bisa membuat keluarga mereka jera. Kasus bully dan juga kekerasan pada anak bukan masalah yang kecil. Harus segera ditindak supaya tidak ada korban lain seperti Justin!" perintah Gabrielle dengan tegas. Tanpa harus melihat videonya saja Gabrielle sudah bisa mengetahui penderitaan yang cucunya rasakan. Hihh. Dasar orang-orang bodoh.


"Baik, Ayah!"


"Apa yang ingin kau lakukan pada mereka, Bern?" bisik Renata ingin tahu.


"Kau jangan khawatir. Aku tidak akan membunuh mereka. Hanya ingin memberi sedikit pelajaran saja supaya mereka tidak lagi membully anak-anak lain yang tidak bersalah," sahut Bern tak membiarkan Renata tahu seberapa kejam ke enam saudaranya jika sudah terpancing emosi.


"Tolong kau kendalikan emosimu ya. Masalah ini masih bisa diselesaikan secara baik-baik kok. Ya?"


"Iya,"


Setelah meyakinkan Renata, Bern mengajak ke enam saudaranya untuk pergi dari sana. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan orang-orang yang telah lancang menghina dan melukai putra kesayangannya.


"Ibu, Ayah dan Paman pergi kemana? Kok Justin tidak di ajak," tanya Justin merasa kehilangan saat ayah dan ke enam pamannya pergi tanpa membawanya serta.


"Ayah dan Paman sedang ada urusan, sayang. Jadi Justin tidak di ajak. Kan Justin belum dewasa. Tunggu setelah besar nanti Ayah dan Paman pasti mengajak Justin pergi bersama mereka," jawab Renata dengan lembut menjelaskan pada putranya.


"Nenek Nandira bilang sebentar lagi usia Justin genap tiga tahun, Ibu. Itu artinya Justin sudah dewasa. Boleh ya nanti ikut bersama Ayah dan Paman?"


"Iya boleh,"


"Yeyyy, Ibu baik sekali. Justin sayang Ibu."


Orang mana yang tidak gemas melihat kelucuan Justin. Elea dan Gabrielle saja sampai tak bisa berpaling saking mereka begitu terpesona pada kelucuan bocah ini.


"Justin, nanti Justin mau hadiah apa dari Bibi? Sebentar lagi Justin berulang tahun, bukan?" tanya Flow.


"Emm apa ya?"


Justin berpikir sambil menusuk-nusuk dagu bawahnya. Lucu sekali. Ekpresi wajahnya terlihat seperti orang dewasa yang sedang memikirkan suatu masalah.


"Ayah bilang Justin ingin membuka peternakan dinosaurus. Bagaimana kalau Bibi saja yang memberikannya untuk Justin. Mau tidak?"


"Harus tanya Ibu dulu, Bibi. Karena Ibu bilang Justin tidak boleh membuang-buang uang. Nanti Tuhan marah,"


"Oh, benarkah?"


"Iya,"


"Ya sudah kalau begitu Justin tanyakan dulu pada Ibu apakah boleh Bibi membukakan peternakan dinosaurus atau tidak," ucap Flow sambil menahan tawa. Benar-benar sangat menggemaskan sekali keponakannya ini. Sungguh.


Segera Justin meminta persetujuan pada ibunya soal sang bibi yang ingin memberikan peternakan dinosaurus untuknya. Gabrielle dan Elea yang mendengar celotehan Justin tak kuasa untuk tidak tertawa. Kehadiran Justin benar-benar menghapuskan semua kesedihan yang tadinya menyelimuti keluarga Ma. Kelucuannya membuat semua orang merasa terhibur. Tak terkecuali dengan Renata juga.


Tuhan, terima kasih untuk kebahagiaan hari ini. Terima kasih....


***