Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 27


Justin turun dari ranjang sambil menggosok matanya yang menjadi sangat sipit akibat terlalu banyak menangis sejak kemarin. Dia lalu mencari-cari keberadaan ibunya yang tidak dia temukan di dalam kamar.


Ceklek


"Ayah, Ibu," panggil Justin seraya menatap dua orang yang tertidur di sofa sambil bergandengan tangan. Merasa itu adalah pemandangan yang menarik, tanpa pikir panjang Justin langsung berlari pelan ke arah sana. Dia lalu merebahkan kepala di atas tautan tangan kedua orang tersebut. Justin tersenyum. "Ayah, Ibu. Justin sudah bangun."


Orang yang pertama kali terjaga adalah Bern. Dia merasa bising, hingga perlahan-lahan mulai membuka mata. Awalnya Bern kaget saat mendapati ada dua orang asing di hadapannya. Namun begitu dia ingat kalau kedua orang asing ini adalah Justin dan Renata, keterkejutan di diri Bern pun lenyap. Dia tertegun diam saat matanya mendapati sepasang mata yang tengah berkedip-kedip lucu.


"Ayah, Ayah sudah bangun?" tanya Justin sambil tersenyum lebar.


"Sssttt, jangan berisik ya. Ibu masih tidur. Kasihan, Ibu lelah. Jangan mengganggunya dulu. Oke?" bisik Bern sambil menempelkan jari telunjuk di depan bibir. Perlahan-lahan dia memisahkan jari tangan Renata dari tangannya lalu mengajak Justin untuk menjauh. "Semalam Ibu tidak bisa tidur, jadi Ayah menemaninya istirahat di sini. Begitu,"


Justin tampak mengangguk-anggukkan kepala saat mendengar penuturan pria yang dia anggap sebagai ayahnya. Sedangkan Bern, dia terpana melihat wajah lucunya Justin yang begitu menggemaskan. Mata bocah ini terlihat bengkak, sedang rambutnya acak-acakan seperti sarang burung. Dengan satu tangan yang masih terpasang infus, Bern mencoba merapihkan rambut bocah ini. Dia lalu tersenyum saat Justin menatapnya tak berkedip.


"Kenapa menatap Ayah sampai seperti itu?" tanya Bern penasaran.


"Ibu bilang Ayah masih menjadi nyamuk. Tunggu setelah Justin dewasa baru Ayah akan pulang," jawab Justin menyampaikan perkataan ibunya. "Waktu itu Justin bilang pada Ibu kalau Justin pernah di gendong oleh Ayah, tapi Ibu dan Nenek tidak percaya. Makanya Justin menangis terus kemarin."


Hah? Jadi sejak hari itu Justin sudah menganggapku sebagai ayahnya? Ya ampun, kasihan sekali bocah ini. Aku jadi penasaran siapa ayah kandung Justin sebenarnya.


Setelah dirasa agak rapi, Bern mengajak Justin untuk mencuci muka di kamar mandi. Hal ini Bern lakukan agar Justin tidak mengusik istirahat Renata. Kasihan, wanita itu pasti lelah sekali.


Sesampainya di kamar mandi, Bern mengangkat tubuh mungil Justin lalu memintanya untuk mencuci muka di wastafel. Dia sendiri segera menggosok gigi sembari memegangi tubuh Justin dari belakang.


"Ayah, mulai sekarang Justin mau tinggal bersama Ayah saja di sini. Rumah Ayah sangat bagus. Justin suka sekali," celoteh Justin sambil menyipratkan air ke cermin. Dia lalu tertawa saat air itu memercik mengenai wajahnya sendiri.


"Memangnya rumah Ibu tidak bagus apa?"


Bern menurunkan Justin dari atas wastafel lalu berjongkok di hadapannya. Aneh. Kedatangan Justin dan Renata bagai obat mujarab bagi Bern. Mendadak tubuhnya terasa sangat fit sekali setelah kemarin sempat tak sadarkan diri. Mungkinkah ini terjadi karena Bern yang merasa seperti sedang di jaga oleh Amora? Entahlah, dia tidak berani terlalu berharap lebih sebelum Cio membawakan hasil tes DNA-nya dengan Justin. Dia takut harapan itu membuatnya terluka kembali.


"Rumah Ibu bagus, tapi di sana aku tidak punya Ayah," jawan Justin polos. Bibirnya mengerucut. "Di sekolah semua teman-teman Justin punya Ayah dan Ibu, tapi Justin hanya punya Ibu saja."


Rasa sedih perlahan bergulir di dalam benak Bern saat dia mendengar aduan Justin. Hatinya bagai teriris-iris, perih membayangkan anak ini yang tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Tergerak hati, Bern memeluk Justin penuh sayang. Di elusnya pelan punggung bocah ini, membiarkan tangan mungilnya bermain selang infus di tangan.


"Justin, kau di mana, Nak!"


Suara panik Renata membuat lamunan Bern buyar. Dia lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Justin. Tak ingin membuat Renata kian khawatir, dia segera mengajaknya keluar. Dan ketika tangan Bern baru akan memutar knop pintu, Renata sudah lebih dulu membukanya. Mereka lalu saling menatap, kaget.


Renata tersadar lebih dulu dari kontak mata yang sedang terjadi antara dia dengan Bern. Untuk menutupi rasa gugup yang muncul, dia segera berjongkok kemudian menatap Justin yang sedang bergelayut di kaki pria ini. Hati Renata tersentuh, juga sedih karena Bern bukanlah siapa-siapanya Justin.


"Ibu, Justin tidak mau pulang. Justin ingin tinggal dengan Ayah saja di sini. Boleh?" tanya Justin penuh harap.


"Sayang, kalau kau tinggal di sini lalu bagaimana dengan Ibu, hem?" sahut Renata dengan lembut. Dia berusaha agar tidak menangis. "Lalu Nenek Nandira dan Kakek Max bagaimana? Mereka pasti sedih kalau Justin tinggal di sini."


"Tapi Justin ingin tinggal dengan Ayah, Ibu. Di sana Justin tidak punya Ayah, di sini Justin punya. Boleh ya, Bu?" Justin kembali merengek. Kali ini matanya kembali berkaca-kaca, sudah siap untuk menangis lagi jika sang ibu menolak keinginannya.


Renata tergugu. Dia dilema harus menjawab apa. Bern yang tahu akan perasaan Renata pun mencoba untuk menengahi. Dia berjongkok, melepas perlahan pegangan tangan Justin dari kakinya. Setelah itu Bern memegang bahu bocah tiga tahun yang sudah hampir menangis di hadapannya.


"Justin, sekarang Ayah sedang tidak sehat. Kalau Justin memaksa untuk tetap tinggal di sini, takutnya nanti Justin jadi tertular penyakit Ayah. Kan kasihan Ibu. Ibu pasti sedih kalau Justin sampai sakit. Justin anak yang baik, bukan?" ucap Bern dengan lembut membujuk.


Kepala Justin terangguk pelan.


"Kalau begitu Justin harus patuh pada Ibu. Tunggu nanti setelah Ayah sehat, Ayah akan menjemput dan membawa Justin untuk tinggal di sini. Oke?"


Ekor mata Bern melirik ke arah Renata yang tengah menundukkan kepala. Dia jadi teringat dengan tawaran wanita ini yang ingin mengajaknya menikah.


Semoga saja Cio bisa secepatnya membawakan hasil tes itu padaku. Baru nanti aku bisa memikirkan keputusan apa yang harus kuambil untuk menangani Justin. Aku memang tidak ada hubungan apa-apa dengan kedua orang ini, tapi bukan berarti aku menutup mata akan kesedihan yang mereka tanggung. Semoga saja segera ada kabar baik yang datang.


"Bern, tolong maafkan sikap Justin ya. Dia masih anak-anak, belum paham dengan apa yang terjadi pada orang dewasa. Sekali lagi aku minta maaf ya," ucap Renata lirih meminta maaf. Dia tentu saja mengerti kalau pria di hadapannya ini merasa kurang nyaman atas apa yang di ucapkan oleh putranya.


"Kau tidak perlu meminta maaf padaku, Ren. Aku sangat mengerti mengapa Justin berkata demikian. Jangan khawatir, aku sama sekali tidak merasa terganggu atau risih dengan sikapnya," sahut Bern seraya tersenyum tipis. "Karena kalian masih ada di sini, bagaimana kalau kita sekalian sarapan saja. Baru setelah itu kalian boleh pulang. Bagaimana?"


"Apa itu tidak merepotkanmu?"


"Tentu saja tidak, Renata." Bern menghela nafas, terpikir untuk mencari tahu sesuatu tentang wanita ini. "Maaf, apa kau bisa memasak? Kemarin Ibu dan adikku datang ke apartemen ini. Mereka membeli banyak sayur beserta daging dan ikan di dalam kulkas. Kalau kau mau kau bisa mengolahnya untuk di jadikan sarapan kita bertiga. Tapi itu jika kau mau. Aku tidak memaksa."


"Di rumah aku sudah terbiasa memasak, Bern," sahut Renata. Dia kemudian berdiri, menatap lekat ke arah Justin yang sudah berpindah ke pelukan Bern. Bocah ini ... kenapa bisa begitu manja pada orang asing? Aneh sekali. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi ke dapur dulu ya. Tolong jaga Justin untukku."


Bern mengangguk. Bersama dengan Renata, dia mengajak Justin keluar dari dalam kamar mandi. Bern lalu memutuskan untuk menonton film saja sembari menunggu sarapan siap. Sedangkan Justin, bocah itu terus saja mengekorinya. Lucu.


***