Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 55


"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Oke?" pesan Bern setelah mengantarkan Renata sampai di tokonya. Mereka kini tengah berdiri di depan pintu masuk.


"Iya." Pasrah Renata.


"Masuklah!"


"Kau mau pergi kemana setelah dari sini?"


"Ada sesuatu yang perlu kulakukan. Kenapa memangnya? Kau mau ikut?"


"Tidak, terima kasih. Kasihan karyawan di sini kalau aku pergi. Takut mereka kelelahan,"


Bern menyunggingkan senyum. Inilah Amora-nya. Selalu khawatir orang lain kesusahan meski terkadang Amora jauh lebih kesulitan lagi.


"Kenapa kau tersenyum, Bern? Ada yang lucu kah?" tanya Renata heran.


"Ada. Kau," jawab Bern.


"Aku?"


"Ya, kau. Kau yang lucu."


"Maksudnya?"


Tak langsung menjawab, Bern malah menangkup pipi Renata kemudian mensejajarkan wajah mereka. Setelah menatap manik matanya beberapa detik, dengan gilanya Berb mencium kening wanita ini. Cinta, sangat amat mencintainya.


"B-Bern, a-apa yang sedang kau lakukan?"


Renata kaget setengah mati saat Bern tiba-tiba menciumnya. Segera dia melepaskan tangkupan tangan pria ini kemudian mundur ke belakang.


"T-tolong jangan begini, Bern. Apa kata orang-orang jika mereka melihat tindakanmu barusan?" tegur Renata sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia takut sekali ada yang melihat.


"Maka aku akan memberitahu mereka kalau kau adalah istriku. Gampang, kan?"


"Gampang bagimu belum tentu gampang bagiku. Selama ini yang orang tahu aku adalah ibu tunggal. Tidak punya suami ataupun kekasih. Mereka pasti akan berpikiran buruk tentangku!"


"Jangan takut, sekarang kan kau punya aku. Aku yang akan melindungimu dan juga Justin!" sahut Bern tiba-tiba menangkap sinyal aneh dari gelagat panik Renata. Benaknya mulai bertanya-tanya mungkinkah selama ini Renata menerima banyak bullyan dari orang lain?


Sepertinya aku perlu menempatkan seseorang untuk berjaga di sekitar toko ini. Amora adalah tipe wanita yang akan memilih untuk memendam masalah alih-alih menceritakannya pada orang lain. Aku khawatir dia sebenarnya memiliki banyak masalah tapi berpura-pura kuat demi Justin. Tidak bisa dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu.


"Masuklah. Aku sudah harus pergi!" ucap Bern.


"Baiklah. Kau hati-hati saat menyetir. Jangan lupa nanti kita harus pergi menjemput Justin," sahut Renata tak lupa mengingatkan Justin.


"Baik, sayang. Aku pasti tidak akan melupakan putra kita."


Blusshhh


Pipi Renata merona saat Bern memanggilnya sayang. Tak mau terus digoda, dia bergegas masuk ke dalam toko tanpa berkata apa-apa lagi padanya. Renata kemudian menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas. Padahal dia tidak sedang demam.


Manis sekali dia. Hmmm.


"Halo, Bern. Ada apa? Apa kau sudah siap bekerja di perusahaanku?"


"Bantu carikan bodyguard untuk mengawasi toko milik Renata. Aku merasa ada yang tidak benar di sini," jawab Bern sembari mengemudikan mobil. "Tadi saat kami mengantarkan Justin ke sekolah, banyak sampah-sampah membully anak dan calon istriku. Mereka juga menyebut Justin sebagai aib. Aku tidak suka itu, Cio!"


Untuk beberapa saat hanya kesunyian yang terdengar dari dalam telepon. Namun, Bern tahu kalau Cio merespon perkataannya. Mungkin pria itu sedang mencoba berdamai dengan kekesalannya. Mungkin.


"Kau tenang saja. Segera aku akan mengirim orang untuk mengawasi Renata dan juga Justin. Dan untuk para sampah itu, haruskah aku mengadu pada Karl? Dia pasti senang sekali mendapat job seperti ini. Apalagi yang di ganggu adalah cucu keluarga Ma. Aku berani menjamin besok orang-orang itu pasti akan langsung bersujud dan meminta maaf pada anak dan calon istrimu. Bagaimana?"


"Kau atur sajalah. Aku tutup dulu panggilannya. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Ibuku. Aku berniat memberitahu mereka kalau Amora masih hidup dan kami sudah memiliki seorang anak!"


Tanpa menunggu Cio membalas perkataannya, Bern sudah lebih dulu mematikan panggilan. Setelah itu dia mengirim pesan kepada Flowrence.


"Flow, tolong katakan pada Ayah dan Ibu agar tetap berada di rumah. Aku sedang dalam perjalanan ke sana sekarang."


Send. Pesan terkirim. Bern lalu memasukkan ponsel ke saku celana. Mengenang kisah cinta singkatnya dengan Amora tak sadar membuatnya meng*lum senyum. Kepolosan Amora, kepasrahannya, kesabarannya, semua itu membuat Bern merindu. Walaupun sekarang mereka bagaikan orang asing, Bern merasa kalau Amora masih sangat mencintainya. Wanita itu hanya sedikit melupakan kisah indah yang pernah mereka rajut bersama.


"Sayang, sekarang aku tidak butuh apakah kau mengingat kisah cinta kita atau tidak. Yang kubutuhkan hanyalah kau dan Justin terus berada di jarak pandang mataku. Aku tidak ingin lagi berpisah dengan kalian. Aku ingin kita bertiga selalu bersama selamanya!" ucap Bern penuh harap.


Bern tak hentinya meng*lum senyum mengingat kebersamaan indah yang terjadi tiga tahun lalu. Masih begitu jelas di ingatannya bagaimana Amora terlihat malu-malu saat dia menggodanya. Hingga di suatu ketika, senyum malu-malu tersebut berubah menjadi ekpresi dingin dan juga kaku. Bern kemudian tersentak kaget saat teriakan penuh emosional menggema di telinganya. Dia terbawa arus menyakitkan di mana dengan kedua tangannya sendiri Bern mengangkat dan membawa Amora ke dalam rumah sakit.


"Tidak, Bern. Kendalikan dirimu. Yang ada di dalam ingatanmu bukan Amora, tapi Renata. Amora masih hidup. Dia sudah kembali padamu!"


Tak ingin rasa trauma itu mengusik pikirannya, Bern menambah kecepatan mobil agar segera sampai di rumah orangtuanya. Hingga tak berapa lama kemudian sampailah dia di depan sebuah rumah yang begitu megah dan juga besar.


"Ibu, aku kembali," ....


Saat Bern tengah termenung di dalam mobilnya, pintu gerbang tiba-tiba terbuka. Kemudian muncullah sang ibu yang datang sambil mendorong kursi roda adiknya. Di belakang mereka berjalan seorang pria yang tak berani menatap ke arahnya. Gabrielle, pria itu adalah ayahnya.


"Kakak, kenapa kau tidak keluar?" tanya Flow antusias sekali menyambut kepulangan kakaknya.


"Sabar, sayang. Biarkan kakakmu menata hati terlebih dahulu sebelum bertemu dengan kita," sahut Elea tak kalah antusias seperti putrinya. Tangannya tampak mencengkram kuat pegangan di kursi roda ketika pintu mobil tak kunjung terbuka.


"Sayang, apa Bern benar-benar ingin bertemu dengan kita?" tanya Gabrielle.


"Flow bilang dia meminta agar kita tetap berada di rumah saat dia datang. Mungkin sekarang Bern memang benar-benar sudah siap untuk bicara dengan kita," jawab Elea. Dia kemudian menoleh, mengusap dada suaminya yang debarannya begitu jelas terasa. "Bern adalah putra kita. Dia pasti tahu kalau kita bukan tidak menyayanginya. Jangan cemas. Oke?"


"Aku hanya merasa malu padanya, sayang. Aku gagal menjadi ayah yang baik untuknya."


"Kau tidak gagal, tapi kau adalah manusia biasa yang terjepit oleh suatu keadaan. Sudah, lebih baik kita jangan membahas masalah ini dulu. Kita tunggu sampai Bern keluar dari mobilnya. Oke?"


Gabrielle mengangguk. Dia memberanikan diri menatap mobil yang berada di hadapannya.


Sementara itu di dalam mobil, rasa canggung tengah menyelimuti pikiran Bern. Ada rasa berbeda muncul di hatinya ketika melihat ayah dan ibunya ada di sana. Bohong kalau Bern tak merindu. Sangat malah. Tapi bayangan saat mereka memohon agar dirinya tidak menembak Karl, kembali menghadirkan denyutan nyeri yang seperti menembus dada. Bern sakit.


"Tenang, Bern. Jangan biarkan emosi itu merusak semua rencanamu. Sekarang ada Justin dan Amora. Pikirkan kesulitan yang harus mereka tanggung gara-gara ketidak adaan dirimu di sisi mereka. Tenang. Buang jauh-jauh ego itu dan katakan pada mereka kalau kebahagiaanmu sudah kembali!"


Kau pasti bisa, Bern. Bisa.


***