Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bab 47


“Ayah, ini rumah siapa? Besar sekali,” tanya Justin sambil menatap penuh takjub pada rumah megah yang ada di hadapannya.


“Ini rumah Nenek Zhu. Apa kau tidak ingat?” jawab Bern sembari mengusap puncak kepala putranya. Tadi setelah mengantar Renata pulang, dia bergegas membawa Justin kemari. Bern ingin mengenalkannya secara langsung pada kakek dan neneknya supaya Justin tidak di ganggu lagi.


“Nenek Zhu?”


Dengan raut wajah yang begitu polos Justin terlihat memikirkan sesuatu. Mungkin dia merasa ada yang aneh setelah di beritahu sedang berada di rumah nenek yang dilihatnya dalam mimpi.


“Mau turun?” tanya Bern menawarkan.


“Ayah, Nenek Zhu tidak punya rumah. Nenek hanya punya pedang dan kuda saja,”


“Iya Ayah tahu. Rumah ini milik nenek buyutmu, Nak. Nama nenek buyut Liona Serra Zhu. Ayo masuk. Nanti Ayah tunjukkan foto nenek padamu. Oke?”


“Umm baiklah, Ayah.”


Sebelum keluar, Bern melepas seatbelt di badan Justin terlebih dahulu. Setelah itu dia dia turun dan berlari memutar untuk membuka pintu samping. Dengan penuh sayang Bern menggendong Justin dan membawanya masuk ke dalam rumah yang sudah tiga tahun ini tak pernah dia datangi. Terkesan keterlaluan memang. Bahkan di saat kakek dan neneknya meninggalpun Bern tak berniat datang sebagai bentuk penghormatan terakhirnya. Dan ini adalah kali pertama dia menginjakkan kaki setelah kedua orang hebat itu meninggal dunia.


“Tuan Muda Bern, selamat datang,” sapa beberapa penjaga sambil membungkukkan tubuh. Ekpresi mereka menunjukkan keterkejutan, tak menyangka kalau tuan muda mereka tiba-tiba datang ke rumah ini.


“Ayah, paman-paman ini siapa?” tanya Justin penasaran. Dia menatap seksama pada orang-orang berseragam hitam di hadapannya.


“Mereka adalah paman pengawal yang berjaga di rumah ini,” jawab Bern agak was-was saat Justin memanggilnya ayah di hadapan para penjaga tersebut. Dia takut mereka akan melaporkan hal ini pada orangtuanya.


“Paman pengawal ya?”


“Iya,”


“Justin mau turun, Ayah.”


Bern mengangguk. Dengan hati-hati dia menurunkan Justin dari gendongan kemudian memperhatikan apa yang ingin dilakukan olehnya.


“Halo paman pengawal, namaku Justin. Aku anaknya Ayah Bern,” ucap Justin dengan sopan mengenalkan diri pada para pengawal. Tak lupa dia ikut membungkuk saat orang-orang dewasa di hadapannya membungkuk badan.


“Selamat datang Tuan Muda Justin. Kami adalah para pengawal yang di tugaskan menjaga rumah mendiang Nyonya Liona dan Tuan Greg,” sahut salah satu penjaga gemas melihat cara anak kecil ini memperkenalkan dirinya. Sangat lucu.


“Nyonya Liona dan Tuan Greg?” Justin membeo sambil mengerutkan kening. Dia lalu menatap ayahnya. “Ayah, apa mereka adalah Kakek dan Neneknya Justin?”


“Bukan sayang, tapi mereka adalah buyutmu. Kenapa memangnya? Apa kau mengenal mereka?” sahut Bern iseng-iseng mencaritahu apakah arwah kakeknya juga mendatangi putranya atau tidak.


Justin menggelengkan kepala. Setelah itu dia berteriak kencang sambil menunjuk patung harimau yang ada di tengah taman. Justin kemudian berlari ke sana, tak peduli meski dia baru pertama kali datang ke rumah tersebut.


“Rahasiakan kedatangan kami ke rumah ini. Jika kalian berani buka mulut, dengan tanganku sendiri aku akan mengirim kalian ke neraka!”ancam Bern sambil terus memperhatikan Justin. “Dan ingat. Aku sudah bukan tuan muda lagi. Karena gelar tersebut sudah berganti menjadi milik putraku."


“Baik, Tuan Bern. Kami tidak akan memberitahu siapapun tentang kedatangan Anda dan Tuan Muda Justin. Namun untuk berjaga-jaga bisakah Anda memberitahu kami siapa Tuan Muda Justin sebenarnya? Yang kami tahu Anda itu belum menikah,”


“Dia anakku dan Amora. Kandung, bukan pungut ataupun adopsi!”


“Apa?”


Para penjaga segera meminta maaf setelah tak sengaja memekik kaget. Siapalah yang tidak akan bereaksi seperti ini saat mengetahui fakta yang begitu mengejutkan. Menghilang selama lebih dari tiga tahun dan tiba-tiba muncul sambil membawa anak. Mau sebanyak apapun orang yang melihatnya mereka pasti syok mengetahui kebenaran ini. Tapi ya sudahlah, mereka tak berhak ikut campur dengan urusan yang terjadi di keluarga ini.


“Apa ruang bawah tanah masih di gunakan seperti dulu?” tanya Bern penasaran. Tiga tahun meninggalkan keluarga ini tanpa saling bertukar kabar membuat Bern merasa rindu. Jujur, dia rindu kehangatan di rumah ini.


“Sejak Nyonya Liona dan Tuan Greg meninggal rumah ini sengaja di kosongkan, Tuan. Semuanya di pindahkan ke musiumnya Tuan Karl. Dan semua itu dilakukan atas amanat dari Nyonya Liona sendiri. Beliau berpesan kalau rumah ini harus bersih dari segala hal yang berhubungan dengan dunia!” jawab salah satu penjaga.


“Lalu bagaimana dengan makam mereka?”


“Ada di belakang danau, Tuan. Biasanya seluruh keluarga akan datang berziarah seminggu sekali. Dan kebetulan minggu ini belum ada yang datang kemari. Anda dan Tuan Muda Justin adalah yang pertama.”


“Lalu buaya-buaya itu bagaimana? Apa masih ada di danau?”


“Masih, Tuan. Merekalah yang setia menjaga makam Nyonya Liona dan Tuan Greg. Di malam-malam tertentu sekelompok buaya itu akan naik ke darat kemudian mengelilingi makam Tuan dan Nyonya seharian penuh. Seperti pasukan yang sedang mengawal panglimanya untuk berperang.”


Bern menghela nafas. Neneknya memang adalah seorang panglima perang, wajar jika binatang bergigi tajam itu tunduk kepadanya meskipun jasadnya sudah terkubur di dalam tanah.


“Tuan Bern, apa Anda ingin berziarah ke sana?”


“Iya. Aku ingin mengenalkan putraku pada Kakek dan Nenek.”


“Jadi Nenek meninggal lebih dulu sebelum Kakek ya?”


“Benar, Tuan. Tujuh belas hari setelah Nyonya meninggal barulah Tuan Greg pergi menyusulnya. Di saat itulah Tuan Greg menanam bunga-bunga ini sebagai bentuk kerinduannya terhadap Nyonya.”


“Ambilkan bunga-bunga itu untukku. Sekarang!”


“Baik, Tuan.”


Rasanya dada Bern seperti tertusuk pedang setelah mendengar cerita penjaga. Cinta dan kasih sayang yang kakeknya terhadap sang nenek memang sangat luar biasa sekali. Namun Bern sama sekali tak menyangka kalau di penghujung maut sang kakek masih sempat meninggalkan bukti cintanya dengan meminta semua orang yang datang berziarah agar menebar bunga kesukaan sang nenek. Luar biasa.


Mungkinkah kisah cintaku dan Amora akan sama seperti kisah cinta Kakek Greg dan Nenek Liona?


Sambil menunggu penjaga selesai menyiapkan bunga, Bern berjalan menghampiri putranya yang sedang asik naik turun di punggung patung harimau. Koni dan Gora, ya, patung ini pasti di peruntukkan bagi mereka. Walau tidak pernah melihatnya, tapi Bern tahu kalau Koni dan Gora merupakan binatang kesayangan sang nenek. Bahkan patung mereka di jadikan sebagai penjaga gerbang menuju makam tempat peristirahatan seorangJendral Liang Zhu.


Bughhhh


“Ughhhh, patah pinggangku, Ayah,” keluh Justin setelah terjatuh ke tanah. Dia lalu meringis menahan pegal, tapi tidak menangis.


“Hati-hati, Nak,” seru Bern khawatir.


“Tidak apa-apa, Ayah. Nenek bilang aku tidak boleh cengeng. Nanti Koni dan Gora marah.”


Kedua mata Bern langsung membelalak lebar saat Justin menyebutkan nama binatang peliharaan neneknya. Segera dia mengedarkan pandangan untuk memastikan sesuatu.


Entah kau adalah Nenek Liona atau Jendral Liang Zhu, aku mohon tolong ganggu putraku lagi. Biarkan dia tumbuh seperti anak-anak lain. Jangan mengusiknya terlalu jauh. Bisa?


Tiba-tiba saja angin dingin datang berhembus seusai Bern membatin seperti itu. Merasakan hawa dingin yang begitu kuat membuat tengkuk Bern meremang hebat. Dia sampai menelan ludah ketika suasana berubah menjadi sunyi dan mencekam.


“Ayah, sekarang Nenek sedang berdiri di samping Ayah. Nenek sedih,” ucap Justin sambil menunjuk sosok yang berdiri di samping ayahnya. Sosok tersebut seperti sedang menahan tangis. Dia merasa kasihan, hingga membuat matanya jadi ikut berkaca-kaca. “Nenek jangan menangis ya. Nanti Justin ikut sedih. Ayo kita main lagi.”


Bibirnya Bern bergetar. Mungkinkah wanita ini sedang meminta maaf atas apa yang di alaminya? Walau terkesan tidak masuk akal, tapi karma yang harus Bern, Karl, dan juga Flow rasakan berasal dari perbuatan masa lalu wanita ini. Bern jadi merasa bersalah karena tadi sudah memintanya agar tidak mengganggu Justin. Dia sudah membuatnya bersedih.


“Nenek, aku minta maaf ya. Kata-kataku tadi mungkin telah menyakitimu. Aku mengatakannya karena tidak mau putraku merasakan hal yang sama seperti yang menimpa kami bertiga. Tolong jangan marah ya?” bisik Bern berbesar hati meminta maaf pada neneknya meski tak berwujud. “Dan jika Nenek ingin meminta maaf, aku sudah memaafkan semua kesalahan yang tak sengaja Nenek lakukan. Kesalahan itu sudah lama terjadi, jadi aku harap Nenek tidak merasa terbebani lagi. Ya?”


Penjaga yang sudah selesai mengambil bunga memilih untuk tidak langsung menyerahkannya pada Tuan Bern saat melihatnya sedang berbicara sendiri. Mereka maklum, sama sekali tak merasa heran ataupun takut. Karena saat di tugaskan berjaga di rumah ini mereka sudah di beritahu untuk bersikap biasa saja jika melihat sesuatu. Dan kejadian ini adalah salah satunya.


“Ayah-Ayah, Nenek tersenyum. Nenek cantik!” seru Justin sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan. Dia lupa kalau pinggangnya hampir patah karena terjatuh.


“Benarkah?” sahut Bern terharu.


“Iya, Ayah. Tapi sekarang Nenek sudah pergi. Nenek melayang ke sana.”


Jari tangan Justin menunjuk ke arah belakang danau tempat di mana ada dua makam di sana. Hal ini membuat Bern semakin yakin kalau hembusan angin dingin tadi merupakan tanda kalau sang nenek sedang berada di sekitarnya. Mungkin jika hal ini terjadi pada orang lain, mereka pasti akan lari terbirit-birit karena ketakutan. Di datangi oleh arwah orang yang sudah meninggal, siapalah yang tidak takut. Tapi bagi Justin dan Bern, semua itu bukanlah sesuatu yang menyeramkan. Sungguh.


“Ayah, ayo kita ke sana. Nenek sedang menunggu kita bersama temannya,” celetuk Justin sambil tersenyum lebar ketika melambaikan tangan. Bocah ini terlihat girang sekali melihat sesuatu yang hanya dia saja yang mampu melihat.


“Memangnya Nenek sedang bersama siapa, Nak?” tanya Bern penasaran.


“Bersama temannya, Ayah. Laki-laki. Orangnya tinggi sekali, juga tampan seperti Ayah,” jawab Justin jujur.


“Benarkah?”


“Iya. Justin tidak bohong,”


Kakek Greg, kaukah itu?


Dengan perasaan yang sudah campur aduk, Bern berbalik hendak memanggil penjaga. Dia bermaksud meminta bunga dari mereka.


“Ini bunganya, Tuan. Jangan lupa untuk menyiramkan air ini ke atas makam Tuan Greg dan Nyonya Liona,”


“Baiklah. Terima kasih,”


Sambil menggandeng tangan mungil Justin, Bern melangkah menuju makam kakek dan neneknya. Jalan menuju makam tersebut di hiasi dengan tanaman bunga berwarna putih bersih. Sangat luar biasa indah. Mirip dengan taman yang ada di negeri dongeng.


Kakek, Nenek. Aku datang mengunjungi kalian untuk mengenalkan putraku Justin. Dia sangat manis, kalian bisa melihatnya, kan?


***