
Cio menaikkan sebelah alisnya ke atas saat tak sengaja melihat Bern yang sedang menggendong seorang bocah laki-laki. Di sebelah sepupunya itu terlihat seorang wanita yang wajahnya sudah tak asing lagi. Renata, ya, itu dia.
"Kenapa Renata dan anaknya bisa bersama Bern ya? Apa mungkin semalam mereka sudah tidur bersama?" gumam Cio seraya mengetuk-ngetuk stir mobil. "Ummm, ini menarik. Sebaiknya aku tanyakan saja apa yang terjadi pada Bern. Siapa tahu dia bisa memberikan petunjuk."
Tak gegabah, Cio memilih untuk tetap berada di dalam mobil sambil terus mengawasi apa yang ingin dilakukan oleh ketiga orang itu. Hingga tak berapa lama kemudian sebuah mobil datang dan berhenti di depan mereka. Cio lalu tertawa sendiri menyaksikan betapa kakunya Bern ketika berhadap-hadapan dengan Renata. Mirip dengan remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.
"Kalau aku menjadikan pemandangan ini sebagai bahan lelucon, kira-kira Bern menghajarku tidak ya?" ucap Cio mulai berpikir aneh. Biasalah, diakan suka usil.
Sambil menunggu Renata pergi, Cio mengenang percakapannya dengan Ruth, kakaknya Amora. Demi mencari tahu kebenarannya, semalam Cio rela menyambangi kediaman keluarga Shin hanya untuk menanyakan apakah sebelumnya Amora terlahir kembar atau tidak.
Flashback
"Amora ... apa dia kembar?"
Ruth menghela nafas. Dia lalu bersedekap tangan sembari menatap sinis pada pria yang baru saja bertanya padanya.
"Maaf, Tuan Cio. Jika tujuan Anda datang kemari hanya untuk membuka luka lama di keluarga ini, saya minta sebaiknya Anda segera pergi saja. Kami tidak butuh bicara dengan anggota keluarga yang nyata-nyata tega membuat nyawa adik saya melayang. Pergilah. Pintu keluarnya ada di sana!" ucap Ruth dengan tegas mengusir pria yang adalah sepupu Bern dan Karl. Dia jijik melihatnya.
Alih-alih merasa tersinggung, Cio malah tertawa saat dirinya di usir pergi. Dia kemudian bangun, berpindah duduk ke sisi Ruth lalu mendekatkan wajahnya ke samping telinga wanita ini.
"Nona Shin, kau jangan lupa kalau Ayahmu lah yang telah melemparkan Amora ke tangan Bern sebagai penjamin keberlangsungan hidup keluarga ini. Jadi jangan hanya sepupuku saja yang kau salahkan. Otak di balik semua kejadian ini adalah keserakahan Ayahmu sendiri. Jangan lupakan itu!"
"Kau!"
"Apa, hem? Masih tidak mau mengakui dosa yang telah kalian lakukan?" sergah Cio. Dia menarik mundur tubuhnya kemudian merangkul bahu Ruth. "Sekarang beritahu aku apakah Amora mempunyai saudara kembar atau tidak. Bisa?"
"Amora tidak punya kembaran. Hanya kami bertiga yang menjadi saudaranya," sahut Ruth sambil menahan kesal.
"Kau yakin?"
"Dua puluh tahun kami hidup bersama di bawah atap yang sama. Mana mungkin aku tidak tahu jika Amora mempunyai saudara kembar!"
Wajah Ruth terlihat sangat buruk saat pria di sebelahnya tertawa. Benar-benar sinting. Semua pria yang terhubung dengan keluarga Ma merupakan pria yang otaknya tidak waras. Selain Karl dan Bern, Cio dan Reiden ada di deretan bajingan yang sangat menjijikkan. Kalau saja pria ini tidak berbahaya, Ruth pasti sudah menjejalkan sepatu ke dalam mulutnya itu. Tapi apa daya. Dia tidak dalam kondisi untuk bisa melakukan hal tersebut.
"Nona, kau memang benar kalau selama dua puluh tahun kalian tinggal di bawah atap yang sama dengan Amora. Akan tetapi di dua puluh tahun yang sama juga kalian telah memperlakukannya seperti seekor
anjing. Jangan kalian pikir kami tidak tahu apa yang terjadi di keluarga ini ya. Dan asal kau tahu saja. Dengan di jualnya Amora pada sepupuku, dia bisa merasakan yang namanya hidup layaknya manusia normal. Sepupuku mencintainya, sangat malah. Bahkan sampai di detik ini, nama adikmu masih tertulis nyata di hati sepupuku. Berhati-hatilah. Karena aku bukan orang yang akan diam saja saat ada seseorang memandang remeh pada keluarga besarku. Siapapun itu, termasuk dirimu. Paham!"
Tok tok tok
"Yakkk, brengsek!" umpat Cio ketika seseorang mengetuk kaca mobilnya. Dia yang sedang melamun sampai terlonjak kaget karenanya.
Bern diam menunggu sepupunya keluar dari dalam mobil. Sebenarnya dia sudah tahu sejak tadi kalau Cio ada di sini. Akan tetapi karena saat itu dirinya sedang bersama Justin dan Renata, Bern memutuskan untuk membiarkannya terlebih dahulu. Dia baru menghampiri Cio setelah kedua orang itu pergi.
"Kau ini apa-apaan sih, Bern. Tidak bisa ya kalau tidak mengageti orang?!" keluh Cio sambil melangkah keluar dari dalam mobil. Dia lalu berdiri berhadap-hadapan dengan pria ini. "Yas bilang semalam kau hampir mati karena demam. Kenapa sekarang kau terlihat baik-baik saja?"
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Bern tak menghiraukan pertanyaan Cio. "Apa hasil tesnya sudah keluar?"
"Ck, bukannya menjawab kau malah balik bertanya padaku. Dasar tidak sopan!"
Cio membuang nafas kemudian menyender ke pintu mobil. Tatapan matanya terlihat dalam, tak puas akan sesuatu hal.
"Semalam aku pergi ke rumah Tuan Kendra. Akan tetapi aku hanya bisa bertemu dengan putri sulungnya saja, si Ruth. Darinya aku mencoba mengorek informasi tentang kemungkinan Amora mempunyai saudara kembar. Dan jawaban wanita itu membuatku merasa sangat tidak puas sekali. Ruth bilang Amora tidak mempunyai kembaran. Yang artinya Renata tidak ada hubungannya dengan kekasihmu!"
Wajah Bern pias mendengar perkataan Cio. Seketika jantungnya berdenyut nyeri, tak sanggup mendengar kenyataan yang kemungkinan akan membuatnya kembali mengalami patah hati.
"Jangan putus asa dulu, Bung. Hasil dari tes DNA itu masih belum keluar dan aku juga belum bertemu langsung dengan Tuan Kendra. Melihat kemiripan di diri Amora dan Renata, aku tidak yakin mereka tidak punya hubungan. Pasti ada sesuatu yang hanya di ketahui oleh orang-orang tertentu. Kau jangan cemas. Kita pasti bisa menemukan kebenarannya!" ucap Cio tak tega melihat wajah sepupunya yang langsung berubah murung begitu dia bercerita.
Bahkan jika harus membangunkan Tuan Kendra dari dalam lubang kuburan sekalipun, aku pasti akan melakukannya demi bisa membuatmu kembali akur dengan Karl. Aku tidak akan tinggal diam, Bern.
"Memangnya Tuan Kendra ada di mana?" tanya Bern berusaha untuk tegar. Dia tak mau di kasihani.
"Sejak kejadian tiga tahun lalu pria serakah itu sama sekali tak pernah muncul di manapun. Dia juga sangat sulit untuk di temui. Dan kemungkinannya hanya ada dua. Antara mengurung diri di rumahnya atau dirawat di rumah sakit jiwa," jawab Cio. Lagi-lagi dia menghela nafas panjang. "Kejadian tiga tahun lalu mengguncang hidup beberapa orang, Bern. Banyak yang terluka selain dirimu saja. Karenanya aku minta padamu tolong melunaklah sedikit. Aku tahu kau merasa kecewa dan kehilangan, tapi kau juga harus tahu kalau yang terjadi tidak seperti yang kau pikir. Ada kesalah-pahaman yang tidak kau ketahui. Terutama tentang Karl!"
"Sebaiknya kau jangan muncul lagi di hadapanku jika hanya ingin membahas tentang bajingan itu. Aku tidak sudi membuang waktuku hanya untuk membahas sesuatu yang jelas-jelas membuatku merasa sangat jijik!" sergah Bern langsung tersulut emosi begitu nama bajingan itu di sebut. "Selama bajingan itu tidak bisa membawa Amora ke hadapanku, maka selama itu pula aku tidak akan pernah mau melunak ataupun memaafkannya. Tolong kau pahami itu, Cio!"
Setelah berkata demikian Bern segera pergi menuju kamarnya. Dia muak. Sangat amat muak sekali.
"Dasar keras kepala. Apa kau tidak tahu kalau Karl itu menderita seribu kali lebih menyakitkan dari apa yang kau rasakan, Bern. Mungkin kalau kau bertemu dengannya sekarang, aku jamin kau pasti akan sangat kaget sekali. Tak pernah sehari pun terlewat tanpa Karl menyalahkan dirinya sendiri. Semua waktunya selalu di habiskan dengan gila-gilaan dalam bekerja. Jika tidak segera di hentikan, aku bahkan tidak tahu sampai kapan bajingan itu mampu bertahan hidup!" ucap Cio merasa sedih akan apa yang terjadi pada kedua sepupunya yang kembar itu. Dan hal ini semakin membuat tekadnya membara untuk bisa membuktikan kalau Renata adalah Amora, atau adalah kembarannya. Karena dengan begitu kekecewaan dan juga kesedihan di hatinya Bern baru bisa berkurang.
Tuhan, aku bukan orang baik. Tapi bisakah kau membukakan jalan untukku mematahkan permusuhan di antara Karl dan Bern? Kasihan mereka. Tolonglah.
***