Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 60


Di kediaman keluarga Ma, terlihat semua orang sibuk menata ini dan itu. Sedang tuan rumahnya sendiri tak henti berjalan mondar-mandir sambil menatap ke arah gerbang. Raut wajah mereka terlihat cemas dan juga penuh kekhawatiran.


Tadi setelah Flow memberitahu ayah dan ibunya kalau ada segerombolan orang sinting telah melukai Justin, Elea dan Gabrielle langsung bereaksi keras. Mereka segera menghubungi Karl dan memintanya agar mengirimkan obat ke rumah. Gabrielle kemudian menghubungi ke lima saudara Karl dan meminta mereka semua untuk segera datang. Menyakiti Justin adalah penghinaan untuk keluarga Ma. Dan tentunya masalah ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Harus ada timbal balik atas apa yang mereka lakukan terhadap cucu pertama di keluarga mereka.


"Ayah, Ibu, mereka datang!" teriak Flow sembari menunjuk ke arah gerbang. Dia sejak tadi terus menunggu di luar rumah. Sudah tak sabar ingin segera melihat seperti apa rupa keponakan dan calon kakak iparnya.


Elea langsung berlari keluar dan berdiri di samping kursi rodanya Flow. Sedangkan Gabrielle sendiri, pria itu terlihat tenang. Namun sorot matanya menunjukkan kalau dirinya sedang kelewat cemas.


"Apa mereka keluargamu?" tanya Renata agak canggung setelah mobil berhenti. Pandangannya terus tertuju pada ketiga orang yang sedang menunggu kedatangan mereka.


"Iya mereka keluargaku. Yang duduk di kursi roda adalah adikku. Kami kembar tiga," jawab Bern.


"Kembar tiga?"


Bern mengangguk. Dia melepas seatbelt kemudian menatap Justin sejenak. Karena kelelahan menangis, Justin tertidur dalam perjalanan menuju kemari. Wajah polosnya yang menggemaskan, juga dengan luka membiru di pipinya membuat perasaan Bern menjadi tidak karu-karuan. Sungguh.


"Lalu siapa kembaranmu yang satunya lagi? Dia tinggal di kota inikah?" tanya Renata penasaran.


"Kau akan mengetahuinya nanti. Sekarang kita turun dulu ya? Kasihan Justin. Dia pasti tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu," jawab Bern enggan untuk membahas Karl sekarang.


"Baiklah."


Bern keluar lebih dulu kemudian berlari memutar guna membukakan pintu mobil untuk Renata. Dengan penuh perhatian dia membantu melepaskan seatbelt kemudian perlahan mengangkat Justin dari pelukannya.


"Huaaaaa sakit," ....


Tangis Justin kembali pecah saat tangan Bern tak sengaja menekan luka di pinggangnya. Mendengar suara tangisan itu membuat Gabrielle reflek berlari mendekat. Dia tertegun beberapa saat menyaksikan cucunya yang begitu lucu sebelum akhirnya raut wajah Gabrielle berubah dingin mendapati ada luka membiru di pipi gembul bocah tersebut.


"Bawa Justin masuk ke dalam, Bern. Kami sudah menyiapkan obat untuknya!"


"Baik, Ayah." Bern menoleh. Dia paham sekali kalau Renata sedang canggung. "Ren, perkenalkan. Ini Ayahku. Dan itu adalah Ibuku serta adikku."


Meski canggung, Renata berusaha bersikap sopan dengan langsung menyapa dan membungkuk ke arah keluarga Bern. Sementara Justin, anak itu masih terus menangis sambil memperhatikan ketiga orang di hadapannya.


"Hiksss, Kakek. Justin sakit, Kek. Justin sakit," ucap Justin tiba-tiba mengadu.


"Justin sakit ya?" sahut Gabrielle agak kaget. Sedetik kemudian dia tersenyum, lalu mengulurkan tangan hendak menggendong cucunya yang baru saja mengadu. "Mau ikut Kakek bertemu dengan Tora tidak?"


"Tora?"


"Iya. Justin pasti suka. Mau?"


Walaupun baru pertama kali bertemu, tapi Justin tak merasa asing dengan pria yang dia panggil dengan sebutan Kakek. Namun sebelum itu Justin terlebih dahulu melihat ke arah ibunya. Dia ingin meminta izin apakah diperbolehkan untuk ikut kakek ini atau tidak.


"Mainlah bersama Kakek. Tapi jangan nakal ya?" ucap Renata sembari mengusap rambut putranya.


"Iya, Ibu."


Senyum lebar langsung mengembang di bibir Gabrielle saat Justin sudah berpindah ke gendongannya. Dia dengan penuh sayang mencium kening bocah ini kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.


"Renata, Bern. Apa yang sebenarnya terjadi pada Justin? Kenapa pipinya bisa lebam begitu?" tanya Elea tak sabar ingin segera mengetahui penyebab cucunya terluka.


Aneh sekali. Kenapa aku tidak melihat tanda-tanda kemunculan Justin ya? Apa mungkin ada sesuatu yang tak biasa di diri cucuku itu?


"Kami sendiri tidak melihat kejadian itu secara langsung, Ibu. Tapi guru Justin memberitahu kami kalau beberapa orangtua murid terlihat sedang memarahi Justin saat gurunya pergi ke kamar mandi," jawab Bern. Sebelah tangannya langsung terkepal kuat. Dia kembali naik pitam.


"Ya Tuhan, jahat sekali mereka. Justin masih begitu kecil. Kenapa mereka tega menyakitinya sampai seperti itu?"


"Ibu tidak usah khawatir. Setelah ini aku akan meretas CCTV di sekolah itu untuk mencari tahu siapa saja yang telah menyakiti putra kami. Aku tidak terima jika mereka dilepas begitu saja!"


"Ya, kau benar. Ibu setuju denganmu!"


Renata hanya diam mendengarkan percakapan Bern dengan ibunya. Dia bingung harus melakukan apa sekarang.


"Kak Renata, ayo masuk ke dalam. Kau pasti lelah. Iya, kan?" ucap Flow mengajak calon kakak iparnya masuk ke dalam rumah. Entah mengapa dia merasa dekat sekali dengan wanita ini. Padahal mereka baru sekali ini bertemu.


"Umm aku di sini saja, Flow," sahut Renata agak sungkan jika harus masuk tanpa ada Bern bersamanya.


"Kenapa? Kau malu ya?"


"Bukan, bukan malu. Aku hanya ....


"Kau ingin aku masuk bersamamu?" tanya Bern menyela perkataan Renata. Dia tentu saja sangat mengerti kalau Renata merasa sungkan untuk masuk ke kediaman keluarganya.


"Aku datang bersamamu, Bern. Rasanya agak aneh saja kalau aku masuk tanpa ada kau bersamaku. Aku malu," bisik Renata jujur mengakui.


Bern tersenyum. Tangannya kemudian terulur mengelus rambut Renata yang sedikit kusut. Kasihan sekali wanita ini. Dia jadi membayangkan apa yang telah terjadi pada Justin dan Renata selama tiga tahun hidup tanpanya. Bern yakin sekali kalau anak dan calon istrinya pasti telah melewati satu kesedihan yang begitu menyakitkan.


"Ya sudah ayo kita masuk. Sekalian kita mengobati luka-luka di tubuh Justin."


"Baiklah,"


Bersama dengan adik dan juga ibunya, Bern menggandeng tangan Renata dan membawanya melewati pintu menuju keagungan keluarga Ma. Entah Renata menyadarinya atau tidak, mulai detik ini Bern telah menganggap kalau Renata resmi menjadi bagian dari keluarganya. Dia juga mengambil sumpah di dalam hati kalau untuk tidak pernah melepaskan genggaman tangan mereka apapun yang terjadi.


Gggrrrrrrr


Rasanya jantung Renata seperti mau copot melihat Justin yang sedang duduk di atas punggung seekor harimau loreng. Dia sampai membeku di tempat saking syok melihat binatang buas tersebut.


"J-Justin, turun, sayang. Nanti harimaunya marah kalau Justin duduk di situ. Turun ya, Nak?" bujuk Renata khawatir putranya celaka jika binatang buas itu sampai mengamuk.


Ya Tuhan, bagaimana bisa keluarganya Bern memelihara binatang buas seperti ini? Apa mereka tidak takut terlibat masalah dengan orang kepemerintahan? Ini melanggar aturan, bukan?


"Tidak mau, Ibu. Justin ingin duduk di punggungnya Tora saja. Justin ingin bermain dengannya,"


"Tapi ....


"Tidak apa-apa, Renata. Tora tidak akan mungkin menyakiti Justin. Dia sudah diberitahu kalau Justin adalah bagian dari keluarga ini. Jadi dia sudah jinak," ucap Gabrielle menjelaskan pada Renata kalau Tora tidak akan menyakiti cucunya.


"Hah? Sudah di beritahu?"


Cengo sekali Renata mendengarkan hal tersebut. Saking dia bingung akan apa yang terjadi, Renata sampai tidak sadar kalau sejak tadi Bern terus memperhatikannya.


"Auwhhhh sakiiit!"


Tiba-tiba Justin kembali berteriak. Karena terlalu girang, tangannya sampai tak sengaja menekan luka di pinggang. Namun kali ini Justin tidak langsung menangis. Hanya berteriak kesakitan sambil menggeliat di atas tubuh Tora.


"Renata, obati dulu lukanya Justin. Takutnya nanti infeksi kalau dibiarkan terlalu lama," ucap Elea tak sampai hati melihat cucunya menggeliat kesakitan.


"Baik, Bibi," sahut Renata. Dia menelan ludah saat hendak melangkah mendekati putranya yang masih berada di atas punggung harimau loreng tersebut.


"Jangan takut. Sentuh saja kepalanya. Tora tidak akan mungkin menyerangmu," ucap Gabrielle sambil memegangi tubuh Justin yang tak mau diam. Bukan karena nakal, tapi karena sedang menahan sakit.


"Aku tidak berani melakukannya, Paman. Seumur-umur aku hidup, baru sekali ini aku bertemu dengan harimau secara langsung. Jadi bisakah Paman menolongku membawa Justin kemari? Lukanya harus segera di obati," sahut Renata menyerah. Keberaniannya hilang entah kemana ketika pandangannya tak sengaja beradu dengan pandangan harimau bernama Lan itu.


"Baiklah,"


Dengan sangat hati-hati Gabrielle menyentuh bagian tubuh Justin kemudian membawanya turun dari atas punggung Tora. Justin yang sempat menolak turun kali ini tidak melawan. Lukanya sangat menyakitkan hingga membuatnya hanya terdiam sambil terus meringis.


"Nah sudah sampai. Sekarang Kakek buka dulu ya seragam Justin. Nanti kita baru bermain lagi dengan Tora," ucap Gabrielle setelah mendudukkan Justin di sofa. Sedang dia sendiri memilih untuk berjongkok saja.


"Tapi Justin sakit,"


"Iya Kakek tahu. Makanya Justin mau di obati dulu supaya tidak sakit lagi. Ya?"


Justin mengangguk. Dia lalu merentangkan tangan agar sang kakek mudah melepas seragamnya.


"Astaga, Bern. Siapa sebenarnya orang-orang gila yang sudah tega menyakiti anak sekecil Justin? Ya Tuhan, jahat sekali mereka. Apa mereka pikir Justin ini bantal guling yang bisa seenaknya dilukai? Gila!" teriak Elea syok melihat perut dan pinggang cucunya membiru semua. Segera dia datang mendekat kemudian mencium puncak kepala bocah ini. "Sayang, siapa yang melakukan ini padamu, Nak. Apa yang mereka katakan?"


"Nenek, Bibi itu bilang kalau Justin aib. Katanya Justin tidak boleh bermain dengan teman-teman yang lain karena Justin menjijikkan. Padahal Ibu selalu memandikan Justin sebelum berangkat sekolah. Lalu Justin diserang. Sakit sekali," jawab Justin dengan polosnya. Dia kemudian lanjut berbicara sambil menatap bergantian pada kakek dan neneknya. "Memangnya aib itu siapa, Nek? Kan Justin namanya Justin Goh. Lalu aibnya mana?"


Kepala Renata tertunduk dalam mendengar penuturan putranya. Jujur, saat ini dia ingin sekali menjerit. Entah karena terbiasa atau bagaimana, dia dan Justin memang selalu disebut aib oleh beberapa orangtua siswa. Rasanya sungguh memalukan sekali karena faktanya Renata memang melahirkan Justin tanpa ada suami yang menemani. Kasihan sekali Justin. Renata yang berbuat, tapi putranya harus ikut menanggung beban tersebut. Dia merasa bersalah sekali.


"Jangan sedih. Kau dan Justin bukanlah aib. Hanya saja satu keadaan membuatmu harus melahirkan tanpa memiliki ikatan. Mengerti?" ucap Bern ikut merasa sakit mendengar cerita putranya. Genggaman tangannya semakin menguat saja. Dia tidak tahan lagi sekarang.


"Aku bisa menerimanya, Bern. Tapi Justin? Dia tahu apa?"


"Karena itulah aku akan menuntut pertanggungjawaban pada mereka yang sudah menghakimi putra kita. Sekarang obatilah dulu Justin. Aku tak mau lagi mengulur waktu!"


Bern mengajak Renata mendekati Justin yang sedang asik bercerita pada keluarganya. Walau ayah dan ibunya tidak menunjukkan reaksi apapun, tapi Bern tahu kalau mereka sebenarnya sangat amat marah. Tapi sengaja ditahan karena tak ingin membuat Justin ketakutan.


"Justin, sekarang biarkan Ibu mengobati lukamu dulu ya,"


"Tapi sakit, Ayah," jawab Justin panik.


"Tidak, tidak sakit kok. Hanya seperti di gigit semut saja. Setelah itu Justin sembuh dan bisa bermain dengan Lan seperti tadi. Mau ya?" bujuk Bern dengan lembut.


Gabrielle dan Elea akhirnya ikut membujuk Justin dengan mengiming-imingi ini dan itu. Eitsss jangan salah. Yang mereka janjikan sudah pasti mampu mereka belikan. Apalagi untuk cucu kebanggaan keluarga Ma. Andai dunia ini bisa diperjual belikan, Gabrielle pasti tidak akan ragu untuk membelinya. Sungguh.


"Pelan-pelan saja, Ren. Jangan menekannya terlalu kuat," ucap Gabrielle cemas sendiri.


"Iya, Paman. Aku akan melakukannya pelan-pelan," sahut Renata sambil menatap nanar pada luka lebam di kulit putih putranya.


"Pasti itu sakit sekali. Kasihan cucuku,"


Begitu Renata mengoleskan obat cair tersebut, tangis Justin langsung membahana memenuhi seluruh sudut rumah. Bocah tiga tahun itu menangis tersedu-sedu saat lukanya terasa begitu menyakitkan. Gabrielle yang tidak tega melihatnya memilih untuk menjauh dulu. Dia berdiri di antara kerumunan para pelayan yang juga sedang menyaksikan tuan muda kecil mereka.


"Hei, apa yang terjadi? Siapa yang berteriak?"


Cio dan Karl berlari kencang sekali saat mereka mendengar suara teriakan melengking dari dalam rumah. Dan setelah sampai di dalam, mereka berdua tak jadi marah begitu melihat Justin menangis karena sedang di obati.


"Wow, aku baru tahu ada orang yang begitu bernyali menyentuh keluarga kita, Karl. Lihat. Tidakkah menurutmu luka-luka di tubuh bocah bulat itu sangat menjengkelkan? Mungkin akan sangat menarik kalau kita meremukkan jari-jari tangan pelakunya!" bisik Cio santai. Dia kemudian tersenyum, tapi senyum itu bukanlah senyum yang baik. Ada iblis yang sedang meronta memaksa untuk segera dikeluarkan. "Bekerjalah, Karl. Tunjukkan pada Justin kalau kita adalah paman yang bisa di andalkan!"


Tanpa banyak bicara Karl langsung menghubungi bawahannya. Dia pikir Justin hanya mengalami luka kecil biasa. Siapa yang akan mengira kalau keponakannya itu mengalami bully yang lumayan parah. Karl tidak terima.


"Retas CCTV yang ada di sekolahnya Justin. Cari tahu apa yang terjadi di sana dan buat orang-orang yang terlibat keluar dari kediaman mereka. Jangan membuatku menunggu. Mengerti?!"


"Baik, Tuan Muda. Akan segera kami lakukan!"


Klik. Panggilan terputus. Dan badai itupun akan segera datang.


***