Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 62


Brugghhh


"Awwhhhh! Yakkk, kalian sudah gila ya. Berani sekali kalian menculik kami. Tidak takut suami kami akan menuntut kalian? Hah!" teriak salah satu wanita dengan murkanya. Pipinya nampak lebam dan sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah. Dia terluka.


"Tutup mulutmu dan kalian lihat ke sana. Di dalam mobil itu ada alasan kenapa kalian kami seret paksa ke tempat ini!" sahut salah satu penjaga sembari menjambak rambut wanita yang baru saja bicara. Penjaga tersebut kemudian mengarahkan wajahnya ke deretan mobil yang berjumlah tujuh buah. "Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Hati-hati. Berdoa saja supaya mereka mau mengampuni kalian. Dasar wanita to lol!"


Dari dalam mobil, terlihat Bern yang tengah menatap bengis pada segerombolan wanita yang telah melukai putranya. Saat ini dia dan ke enam saudaranya duduk di mobil masing-masing sembari menunggu waktu yang tepat datang untuk membalas para wanita itu.


"Orang-orang dewasa seperti kalian bagaimana bisa menyakiti bocah kecil yang usianya saja bahkan belum genap tiga tahun. Menjijikkan. Aku akan membalas kalian semua!" geram Bern sesaat sebelum dia keluar dari dalam mobil. Tangannya sudah sangat gatal ingin segera memberi pelajaran pada orang-orang tersebut.


Braakkk


Terperanjat kaget para wanita itu ketika melihat siapa yang baru saja menutup pintu mobil dengan sangat kuat. Mereka kemudian saling berbisik.


"Bukankah pria itu adalah orang yang telah membuat keributan di sekolah pagi tadi ya?"


"Ya, kau benar sekali. Cihhh, ternyata wanita pembawa aib itu yang telah membuat kita jadi seperti ini. Tunggu saja. Aku tidak akan tinggal diam. Berani sekali mereka memperlakukan kita dengan sebegini hina. Aku tidak terima!"


"Siapa yang kalian sebut wanita pembawa aib hah?" teriak Bern murka.


"Aku. Kenapa memangnya?"


"Oh, kau!" Bern tersenyum. Namun, senyum tersebut sarat akan kemarahan yang begitu besar. Sambil terus berjalan mendekat, Bern memberi kode pada penjaga agar menyeret wanita itu ke hadapannya. Dia ingin membalaskan rasa sakit dan juga hinaan yang telah di tujukan untuk Justin dan Renata.


Sreeetttt


"Yakkk! Apa-apaan kalian! Dasar brengsek! Kalian tahu tidak sia ....


Plaaakkk


Satu tamparan mendarat di wajah wanita itu sebelum ia sempat menyelesaikan perkataannya. Tak puas sampai di sana, dengan kasar Bern mencubit kulit lengan wanita ini kemudian memelintirnya sekuat mungkin. Tak ayal perbuatan Bern membuat wanita tersebut menjerit kesakitan dan membuat gerombolan wanita itu beringsut ketakutan.


"Sakit?" tanya Bern tanpa melepaskan cubitannya.


"Sakit, sakit. Tolong lepaskan. Kulitku bisa terkelupas kalau kau menariknya terus. Tolong lepaskan!" jawab si wanita sambil menangis menahan sakit. Bibirnya sampai bergetar sakit tak kuat menahan rasa tersebut.


"Tolong kau bilang?"


Bern tertawa terbahak-bahak saat wanita itu meminta tolong agar dilepaskan. Setelah itu Bern merogoh ponsel di saku celana kemudian menunjukkan foto tubuh Justin yang di penuhi luka lebam bekas cubitan.


"Kau tahu siapa anak yang berada di dalam foto ini?"


"T-tahu, aku tahu. D-dia Justin. A-anak di luar nikahnya Nona Renata."


"Apa kau bilang? Coba ulangi sekali lagi!"


"I-itu Justin. Putranya Nona Renata. Hiksss, tolong lepaskan cubitanmu. Rasanya benar-benar sakit. Aku mohon,"


"Aku akan melepaskan cubitan ini setelah kau menjawab pertanyaanku dengan jujur. Bisa?"


"Bisa bisa,"


Sebelum berbicara, Bern menyimpan kembali ponselnya ke saku celana. Namun sebelum itu dia menyempatkan diri untuk memutar rekaman suara Justin yang sedang menjerit kesakitan saat lukanya di olesi obat. Bergetar, hatinya sakit mendengar jeritan tersebut. Hal ini membuat Bern kembali dilanda kemarahan yang sangat luar biasa hebat. Dia lalu menambah kekuatan untuk memelintir kulit lengan wanita ini hingga membuat pemiliknya bergulingan di tanah sambil menjerit memohon ampun.


"Ampun, Tuan. Ampun. Tolong maafkan aku. Aku salah."


"Saat putraku menangis kesakitan apa kalian semua melepaskannya? Tidak. Kalian malah berbondong-bondong menyerang bocah tiga tahun yang belum mengerti apa-apa. Lidah kalian dengan hebatnya mengatai putraku sebagai aib yang menjijikkan seolah kalian adalah makhluk yang paling suci. Kalian pikir kalian itu siapa hah!"


Plaaakkk


"Baik, Tuan!"


Karl, Cio, Reiden, Russell, Oliver dan juga Andreas bergegas keluar dari dalam mobil untuk menghentikan Bern yang sudah siap dengan senjatanya. Dengan gerakan yang sangat cepat Andreas langsung merampas senjata tersebut dari tangan Bern kemudian bergerak menjauh untuk menyembunyikannya.


"Kembalikan senjataku, Yas. Aku ingin meledakkan kepala mereka semua. Kembalikan, Andreas!" bentak Bern dengan mata berkilat marah.


"Bern, sadar. Kita dilarang keras membunuh anak-anak dan wanita jika kesalahan mereka tidak terlalu fatal. Aku tahu kau tidak terima atas apa yang terjadi pada Justin, tapi bukan berarti kau boleh merenggut nyawa mereka sebagai balasannya. Masih ada banyak cara yang bisa kau gunakan untuk membalas mereka. Oke?" sahut Andreas dengan sabar mengingatkan sepupunya agar tidak salah mengambil keputusan.


"Persetan dengan semua itu. Cepat kembalikan senjataku atau aku akan ....


Kraaakkkk


"ARRGGHHHHHH! SAKIITTTT!"


Suara jeritan seorang wanita mengalihkan amarah Bern yang sedang memuncak. Karl, pria ini baru saja mematahkan satu jari tangan milik wanita yang mencoba untuk kabur dari sana.


"Sorry. Aku hanya penasaran terbuat dari apa jari tangan wanita ini sampai berani melukai keponakanku," ucap Karl dengan santainya. Dia lalu mengangkat kedua tangannya ke atas memberi tanda kalau dia tidak akan ikut campur lagi.


"Wahh, ide keren. Aku boleh ikut menyumbang tidak, Bern?" tanya Reiden ikut penasaran.


"Terserah!"


"Oke. Let's Go!"


Reiden memilih wanita mana yang akan dia jadikan mainan. Pilihannya kemudian tertuju pada satu wanita yang bentuk wajahnya paling sadis. Dia lalu mengingat-ingat apa peran wanita ini dalam menyiksa keponakannya yang lucu itu.


"Ah, aku ingat sekarang. Di rekaman CCTV itu kaukan yang mencubit pipinya Justin kemudian mendorongnya sampai jatuh?" ucap Reiden sambil menyeringai lebar. "Nyonya, sekarang tolong kau berdiri ya. Anggaplah kita sedang bertukar tempat untuk memerankan pembullyan yang kau lakukan pada keponakanku. Di sini kau akan berperan sebagai Justin dan aku akan berperan sebagai dirimu. Ayo cepat!"


Karena ketakutan, wanita itu tak berani bergerak dari posisinya. Melihat hal tersebut pun Reiden merasa tersinggung. Dia dengan kasar mencengkram rambutnya kemudian memaksa wanita ini agar berdiri.


"Begini saja repot. Giliran membully bocah bayi saja kau menjadi yang paling bersemangat. Jadi gemas kan aku?"


Suara teriakan langsung terdengar setelah Reiden mencubit pipi wanita tersebut hingga memerah. Oh, jangan kalian kira cubitan itu hanya sekedar cubitan seperti yang sering kalian lihat ya. Tentu saja tidak. Reiden memelintir kulit wajah wanita ini sampai terkelupas dan mengeluarkan rembesan darah. Keren sekali, bukan?


"Sekarang giliranku memilih permainan," ucap Cio sambil menggosokkan telapak tangannya. Dia lalu memilih wanita yang paling cantik. "Kau. Pesonamu menarik mataku. Ayo cepat berdiri!"


Satu-persatu dari wanita itu akhirnya menerima balasan dari Bern cs. Dan balasan yang paling seru dilakukan oleh Russell. Dokter ini sengaja membuat ukiran di tangan dan juga pinggang salah satu wanita dengan menggunakan pisau lipat miliknya. Sengaja Russell melakukan hal ini karena jengkel ada yang berani mengusik anggota keluarganya.


"T-Tuan, ampun. Kami salah, kami minta tolong. Tolong ampuni kami, Tuan,"


"Besok minta maaflah pada anak dan istriku. Kalau mereka memaafkan, aku baru akan melepaskan kalian. Tapi jika mereka menolak, maka bersiaplah keluarga kalian akan menjadi gelandangan," sahut Bern sambil menginjak tangan wanita yang paling sering mengatai Justin dan Renata sebagai aib.


"Ba-baik, Tuan. Besok k-kami akan meminta maaf pada Justin dan N-Nona Renata. Kami janji."


Bern menghela nafas panjang. Agak puas setelah menyalurkan emosinya pada wanita-wanita ini.


"Wahai para Nyonya, jika kalian merasa tak terima dan ingin membuat gugatan di kantor polisi maka silahkan saja. Pria ini adalah ayah kandungnya Justin dan juga suaminya Renata. Namanya Ber dan kami adalah anggota keluarga Ma. Buatlah laporan sebanyak yang kalian mau lalu bersiaplah untuk membusuk di penjara. Oke?" ucap Cio dengan tengilnya menakut-nakuti para wanita ini.


"A-apa? Ke-keluarga Ma?"


"Ya, keluarga Ma. Kenapa memangnya? Kaget ya karena ternyata orang yang kalian bully adalah menantu dan juga cucu pemilik keluarga Ma?"


Kicep. Wajah sekelompok wanita itu bertambah semakin pucat saja setelah mengetahui dari keluarga mana Justin dan Renata berasal. Sungguh, ini namanya bunuh diri. Bagaimana bisa mereka tidak tahu kalau anak yang siang tadi mereka bully ternyata adalah cucu dari keluarga paling disegani di kota ini? Ya Tuhan ....


***