
Sesampainya di rumah, Renata segera memandikan Justin dan memberinya obat. Walau sudah tak demam lagi, tapi Renata merasa itu masih perlu dilakukan untuk berjaga-jaga. Setelah itu diapun bergegas membersihkan diri, membiarkan Justin bermain dulu dengan ibunya di ruang tengah.
Apa tadi masakanku tidak enak ya? Reaksinya Bern begitu aneh. Dia bahkan tidak mengucapkan sepatah katapun tentang makanan yang aku buat. Mungkinkah Bern hanya sedang berpura-pura menyukai makanan itu agar aku tidak merasa tersinggung?
Tadi setelah Bern meminta Renata agar sarapan di apartemennya saja, dia bergegas pergi memasak. Bukan karena Renata menyukai pria itu, tapi karena dia memang sudah terbiasa melakukannya di rumah. Akan tetapi Renata dibuat terheran-heran akan reaksi di diri pria tersebut. Padahal dia sangat berharap Bern akan memuji masakannya. Tapi ya sudahlah, Renata tidak mungkin memaksakan kehendak. Siapa tahu Bern sedang tidak dalam suasana hati yang baik, makanya hanya diam saja tanpa memuji.
"Kenapa aku jadi memikirkan masalah ini terus ya? Aneh sekali," gumam Renata heran akan pikirannya sendiri.
Renata bergegas keluar dari kamar mandi saat pikirannya terus tertuju pada Bern. Dia tampak menggeleng-gelengkan kepala saat bayangan pria itu terus muncul di pelupuk mata.
"Ya ampun, Renata. Kau ini kenapa sih. Bern itu bukan siapa-siapamu, kau jangan malah tidak tahu diri beginilah. Sadar!" ucap Renata sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Tok tok tok
"Ren, apa Ibu boleh masuk ke dalam?"
Hampir saja Renata terlonjak kaget mendengar suara ketukan pintu. Segera dia menormalkan ekpresi di wajahnya sebelum mempersilahkan sang ibu masuk ke dalam kamar.
"Masuk saja, Bu. Pintunya tidak di kunci."
Ceklek
Nandira menghela nafas. Dia menatap lekat putrinya yang sedang mengambil baju dari dalam lemari. Sembari melangkah masuk, Nandira menanyakan sesuatu pada putrinya itu.
"Ren, semalam kau dan Justin sebenarnya menginap di mana?"
Di tanya seperti itu membuat Renata menjadi gugup. Dia lalu menggigit bibir bawahnya, bingung menimang apakah dia harus bicara jujur atau tidak. Semalam Renata memang meminta pada sopir agar mengatakan kalau dia dan Justin menginap di hotel. Renata merasa kurang nyaman saja jika memberitahu orangtuanya kalau dia dan Justin menginap di apartemen milik Bern. Dia takut ibunya akan berpikir macam-macam pada mereka.
"Jangan diam saja, Renata. Bicaralah. Oke?" bujuk Nandira.
"Apa Justin mengatakan sesuatu yang aneh pada Ayah dan Ibu?" tanya Renata.
"Ya." Nandira lagi-lagi menghela nafas. "Justin bilang semalam kalian menginap di rumah ayahnya. Siapa itu?"
"Jangan salah paham dulu, Ibu. Aku sama sekali tidak melakukan sesuatu yang hina."
"Apa Ibu terdengar seperti sedang menuduhmu melakukan hal yang seperti itu?"
Renata menggeleng. Dia lalu pamit untuk memakai baju sebentar. Sedangkan Nandira, dia memilih untuk duduk di sisi ranjang.
Jika itu adalah Bern, maka ini adalah awal yang bagus. Aku bukan serakah ataupun ingin egois, tapi aku hanya ingin yang terbaik untuk anak dan juga cucuku. Dan semoga saja itu memang dia.
Seusai memakai baju, Renata kembali menemui ibunya. Dia menarik nafas panjang, sudah siap untuk memberitahukan yang sebenarnya.
“Relaks, sayang. Jangan berprasangka kalau Ibu ingin menekanmu. Ibu hanya ingin tahu saja dengan siapa kalian menginap semalam. Itu saja,” ucap Nandira tanggap akan rasa kurang nyaman di diri putrinya. Dia lalu melambaikan tangan, meminta Renata duduk di sebelahnya. “Kalau pertanyaan Ibu tadi membuatmu merasa kurang nyaman, Ibu minta maaf. Ibu hanya khawatir padamu dan juga pada Justin.”
“Aku paham maksud Ibu. Dan mengenai pertanyaan Ibu, aku akan menjawabnya,” sahut Renata sambil tersenyum tipis. “Semalam saat aku berkata ingin membawa Justin pergi jalan-jalan, itu hanyalah alasan saja. Ibu ingat tidak semalam Ibu sempat bertanya siapa yang mengirim pesan padaku?”
Nandira mengangguk.
“Nomor asing tiba-tiba mengirim sebuah alamat apartemen padaku. Dan di saat yang kebetulan juga Justin membuat reaksi seakan memintaku agar pergi ke sana. Entah ini hanya insting seorang ibu atau karena ada kebetulan lain, aku memberanikan diri untuk datang ke apartemen tersebut. Aku penasaran siapa pemiliknya dan kenapa seseorang bisa memberikan alamat itu kepadaku. Dan ketika si pemilik apartemen membukakan pintu untuk kami, itu membuatku sangat amat terkejut. Apa Ibu ingin tahu siapa pemiliknya?"
“Siapa?”
Renata menghela nafas panjang.
“Bern Wufien Ma. Dia adalah pemilik apartemen itu, Bu.”
“A-apa? Bern?” pekik Nandira kaget. Kedua alisnya saling bertaut saking dia tak menyangka kalau semalam putrinya menginap di apartemen milik putra dari keluarga berpengaruh itu. “Tapi Ren, siapa yang telah mengirimkan alamat tempat tinggal Bern kepadamu? Apa sebelumnya kau pernah bertukar nomor dengan salah satu anggota keluarga mereka?”
“Tidak sama sekali, Bu. Aku tidak mengenal satupun dari mereka selain Bern seorang. Dan aku tidak pernah meminta ataupun memberikan nomor ponselku ko kepadanya. Semalam aku sebenarnya ingin sekali bertanya apakah Bern mengenal nomor yang mengirimkan alamat itu padaku atau tidak. Tapi melihat Justin yang langsung menempel padanya, aku akhirnya mengurungkan niat. Aku takut itu akan membuat suasana menjadi canggung mengingat Justin yang terus memanggil Bern dengan sebutan ayah.”
Hening. Renata dan ibunya sama-sama terdiam setelah dia bicara seperti itu. Teringat akan perkataannya yang menawarkan pernikahan pada Bern, wajah Renata tiba-tiba memanas dengan sendirinya. Dia malu jika mengingat kekonyolan tersebut.
Jangan sampai Ibu tahu tentang hal ini. Aku takut Ibu pergi menemui Bern lalu membujuknya agar bersedia menikah denganku. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus merahasiakannya.
“Ren, memangnya Bern tidak curiga melihatmu dan Justin yang tiba-tiba muncul di apartemennya?” tanya Nandira penuh rasa ingin tahu. Dia merasa ada yang janggal di sini. Mustahil ada kebetulan yang terlihat seperti ada yang sengaja mengarahkan. Nandira rasa perlu untuknya menyelidiki masalah ini. Harus.
“Awalnya Bern sempat bertanya padaku, Bu. Tapi ya itu, pembicaraan kami terhenti karena Justin langsung memanggilnya ayah dan menempel seperti permen karet. Jadi kami sudah tidak sempat lagi untuk membahas masalah itu,” jawab Renata mencoba untuk tidak gugup.
“Lalu setelahnya apa yang terjadi? Kalian … kalian tidak tidur di atas ranjang yang sama, bukan?”
Blusshhh
Pipi Renata merona. Semalam antara dia dengan Bern memang tidak terjadi apa-apa. Namun mereka yang tertidur sambil berpegangan tangan membuat dada Renata berdebar kencang sekali. Dia sempat terbangun sebentar dan kembali terlelap setelah memandangi wajah Bern yang semakin lama dilihat, semakin terasa familiar di pikirannya. Tapi haruskah dia menceritakan masalah ini pada ibunya? Renata rasa tidak.
“Ren, jujurlah. Tidak apa-apa,” ucap Nandira dengan lembut membujuk. Di elusnya pelan rambut putrinya yang masih setengah basah.
“Bu, tidak ada apapun yang terjadi di antara kami. Dan kamipun tidak tidur di ranjang, tapi di sofa. Jadi Ibu jangan khawatir ya. Kesalahan itu hanya akan terjadi sekali seumur hidupku. Aku janji,” sahut Renata tanggap akan keresahan di diri sang ibu.
“Bukan itu maksud Ibu, Renata. Ibu hanya tidak mau ….
“Tidak perlu dijelaskan lagi, Ibu. Aku tahu dan aku sangat paham akan apa yang Ibu rasakan. Mari jangan di bahas lagi. Oke?”
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Nandira saat Renata menyela perkataannya. Sungguh, sebagai orangtua Nandira jelas berharap putrinya tidak salah jalan. Akan tetapi jika sudah terlanjur terjadi, Nandira bisa apa.
“Oya, Bu. Justin di mana? Dia demam lagi tidak?”
“Justin sedang bermain dengan ayahmu di luar. Kondisi Justin benar-benar sangat baik, Ren. Dia terlihat berseri-seri sejak kalian pulang ke rumah. Mungkin pertemuannya dengan Bern telah mempengaruhi emosinya.”
“Hmmmm, syukurlah kalau dia sudah tak demam lagi. Aku lega.”
“Kau akan pergi toko?”
“Lihat bagaimana keadaan Justin dulu, Bu. Kalau demamnya naik lagi kemungkinan aku tidak akan pergi ke toko. Tapi kalau dia baik-baik saja aku mungkin akan pergi sebentar. Hari ini ada pelanggan tetap yang memesan bunga, jadi aku perlu memastikan kalau para karyawan tidak melakukan kesalahan.”
“Ya sudah kalau begitu. Lekaslah bersiap. Ibu akan menunggumu di luar,” ucap Nandira kemudian berdiri. Sebelum pergi dia mencium puncak kepala Renata terlebih dahulu. Putrinya, kesayangannya. “Ibu keluar dulu ya?”
Renata mengangguk. Dia terus memperhatikan sang ibu sampai pintu kamar tertutup kembali. Setelahnya Renata berbaring telentang di ranjang. Pikirannya melayang.
“Bern, siapa kau sebenarnya?”
***