
Max segera menginjak rem mobilnya saat sebuah kendaraan tiba-tiba menghadang tepat di depan. Untung saja dia sedang tidak melaju dalam kecepatan tinggi, jadi kecelakaan bisa dengan cepat dia hindari.
"Apa-apaan orang ini. Apa mereka sudah gila tiba-tiba menghentikan mobil di depan kendaraan lain yang sedang melaju? Cari mati atau bagaimana?" gerutu Max sembari melepas seatbelt di tubuh. Segera dia keluar dari dalam mobil kemudian berjalan cepat menghampiri mobil aneh tersebut.
Tok tok tok
"Permisi. Bisakah kau keluar sebentar? Kita perlu bicara!"
Di dalam mobil, terlihat Cio yang sedang tersenyum tidak jelas sambil menatap wajah jengkel ayahnya Renata. Di sampingnya ada Karl yang hanya diam tak mengindahkan suara ketukan jendela.
"Yow Bung, jangan acuh begitulah. Cepat keluar dari temui Tuan Max. Sana!" usir Cio.
"Kau saja." Malas Karl menjawab. "Aku sedang tidak mood bicara dengan orang lain."
"Halah gayamu. Lalu kau anggap apa aku, hah? Makhluk tak kasat mata?"
"Jangan berisik!"
"Ya sudah sana cepat keluar. Kasihan Tuan Max. Nanti dia merajuk!"
Karl akhirnya menoleh. Dia menatap lama ke arah ayahnya Renata sebelum akhirnya memaksa Cio untuk ikut keluar bersamanya.
Melihat pintu mobil yang mulai terbuka membuat Max segera mundur ke belakang. Dan di detik selajutnya Max dibuat menelan ludah begitu melihat siapa pemilik dari mobil tersebut.
Karl? Cio? Hah, kenapa mereka tiba-tiba menghadang jalanku? Seingatku kami tidak sedang berseteru dalam bisnis. Ada apa ya?
Karl yang mendengar isi pikiran Tuan Max hanya diam membiarkan. Dia lalu menepis tangan Cio yang ingin merangkul bahunya.
"Pelit sekali!"
"Aku tidak suka di sentuh sembarangan!"
"Belum saja kau di sentuh wanita. Sekalinya terasa dijamin burungmu langsung tegak berdiri!" seloroh Cio kesal melihat sikap sepupunya ini.
"Bisa serius dulu tidak?" Karl melayangkan tatapan datar pada Cio yang malah bicara tidak karu-karuan. Jengkel sekali rasanya.
"Oke-oke aku tidak bercanda lagi."
Segera setelah berkata demikian Cio memasang ekpresi yang sangat datar ketika akan menyapa Tuan Max.
"Halo Tuan Max, selamat malam. Maaf jika kami menyapamu dengan cara yang sedikit berbeda,"
"Selamat malam kembali, Tuan Cio, Tuan Muda Karl," sahut Max agak gugup menghadapi kedua pria ini. "Maaf, kalau boleh tahu kenapa ya kalian menghadangku seperti ini? Apa sebelumnya kita terlibat masalah?"
"Tidak, sama sekali tidak ada masalah yang terjadi di antara kita. Santai," ucap Cio sambil mengibaskan tangan. Dia kemudian berdehem sambil melirik ke dalam mobil. "Bagaimana kalau kita bicara di dalam mobil saja? Rasanya agak aneh kalau kita mengobrol di tengah jalan begini. Mau?"
"Kenapa harus di dalam mobil?"
"Ikut saja. Atau kau akan kehilangan seseorang."
Cio ingin sekali menabuh kepalanya Karl yang mengancam Tuan Max agar bersedia masuk ke dalam mobil mereka. Susah payah Cio menata image sopan di depan pria ini, malah dirusak dengan sebegitu mudahnya oleh Karl. Benar-benar ya.
Tadinya Max pikir kedua pria tersebut ingin melakukan sesuatu yang buruk kepadanya. Akan tetapi begitu dia masuk ke dalam mobil, kedua matanya langsung membelalak lebar mendapati seseorang yang sedang duduk dengan kondisi tangan terikat dan mulut terpasang plaster. Dan orang tersebut adalah istrinya sendiri.
"NANDIRA!" pekik Max terkaget-kaget. Segera dia melepas plaster yang menutup mulut istrinya kemudian membantu membuka tali di tangan. Setelah itu Max langsung menarik kerah baju Cio dari belakang. "Apa yang sudah kalian lakukan pada istriku hah! Kalian menculiknya?!"
"Ck, bisa tidak jangan main kasar, Tuan? Bajuku harganya sangat mahal. Tolong di hargai!" omel Cio sambil memakai seatbelt di tubuhnya. Dia sama sekali tak berniat menghajar pria kurang ajar ini. Malas.
"Main kasar kau bilang? Yakk, kata-kata itu jauh lebih cocok untuk kalian yang telah menculik dan menyiksa istriku. Aku tahu kalian berasal dari keluarga terpandang, tapi bukan berarti aku akan diam saja melihat istriku di perlakukan dengan semena-mena oleh kalian. Dasar kurang ajar!" amuk Max dengan mata berkilat marah. Dia sudah tidak peduli lagi dengan latar belakang keluarga kedua orang ini. Satu yang pasti. Max tidak terima.
"Salahkan saja istrimu yang menolak untuk memberitahu kami tentang siapa Renata sebenarnya. Itulah kenapa dia berakhir seperti itu!" ucap Karl dingin. Dia lalu menoleh ke belakang, menatap datar pada wanita yang tengah menangis sesenggukan. "Nyonya, kami bertanya baik-baik padamu. Kenapa kau tidak mau menjawab? Padahal yang kami tanyakan bukanlah tentang kesedianmu untuk mati cepat. Kami hanya ingin tahu mengapa luka-luka di tubuh Renata bisa tidak ada. Apa yang sebenarnya terjadi, hm?"
Tarikan tangan Max di baju Cio langsung terlepas begitu Karl menyinggung tentang luka yang ada di tubuh putrinya. Seketika dia membeku, tak menyangka kalau Cio akan menanyakan hal ini pada mereka.
"Diammu aku anggap sebagai jawaban kalau Renata adalah saudara kembar putri kalian!" ucap Karl langsung mendapatkan jawaban yang dia mau. "Sekarang kalian ceritakan saja kemana perginya semua luka-luka di tubuh Amora. Aku tahu kalianlah dalang di balik semua ini."
Max dan Nandira saling berpegangan tangan begitu di cecar oleh Karl. Raut panik, ketakutan, cemas, semua itu bercampur aduk menjadi satu di diri mereka. Sungguh, kejadian ini sangat amat tak terduga. Mereka bingung harus menjawab apa.
"Kalian jangan takut. Tujuan kami bertanya seperti ini adalah demi kebahagiaan Justin dan Renata juga. Kami sama sekali tak berniat membawa Renata pergi dan mengembalikannya pada keluarga Shin. Kami tidak sejahat itu," ucap Cio mencoba membujuk dengan cara halus. Siapa tahu berhasil. Iya, kan?
"Be-benarkah?"
"Tentu saja. Semua keputusan itu ada di tangan Renata. Jika dia berkenan memberitahu ayahnya, maka biar dia saja yang mengatakannya. Kami tidak mau ikut campur."
Cio membuang nafas. Dia kemudian menatap Karl yang hanya diam mendengarkan.
"Amora dulunya adalah kekasih sepupuku. Tiga tahun lalu dia mengalami kecelakaan mobil dan mayatnya ditemukan beberapa hari kemudian. Sepupuku sekarat, kemudian pergi dari negara ini. Dan beberapa waktu yang lalu dia kembali lagi ke sini, lalu tak sengaja bertemu dengan Justin dan Renata!" terpaksa Cio menceritakan soal Bern. Dia ingin masalah ini bisa segera menemukan titik terang. "Aku harap kalian mau menceritakan detail kejadian yang menimpa Renata sejak tiga tahun lalu. Tidak usah cemas karena kami tidak berniat buruk pada putri dan cucu kalian."
"Benar kau tidak akan menyakiti dan membawa Renata serta Justin dari kami?" tanya Nandira memastikan.
"Tentu saja. Manalah mungkin kami memisahkan mereka dari kalian meskipun pada kenyataannya Justin adalah bagian dari keluarga kami," jawab Cio.
"A-apa? Bagian dari keluarga kalian? Maksudnya apa?"
"Makanya ceritakan dulu kenapa luka-luka di tubuh Amora bisa hilang semua. Baru setelahnya aku akan memberitahu kalian tentang siapa Justin sebenarnya. Istilah katanya kita melakukan barter. Oke?"
Apa mungkin Justin adalah anaknya Bern ya? Jika memang benar begitu artinya aku tidak punya celah lagi untuk berbohong. Percuma. Melawan keluarga Ma adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Astaga.
Kedua mata Karl langsung terpejam saat mendengar isi pikiran Nyonya Nandira. Jawaban sudah di kunci. Renata adalah Amora, si gadis malang yang hilang sejak tiga tahun lalu.
"Nyonya, kapan kau akan memberitahu kami? Perutku mulas menunggumu bicara!" desak Cio makin tak sabar.
"Em baiklah aku akan menceritakan kejadian yang sebenarnya pada kalian. Akan tetapi tolong rahasiakan hal ini dari siapapun. Aku tidak mau kehilangan putriku!" sahut Nandira meminta janji pada Cio dan Karl agar merahasiakan apa yang akan dia ceritakan.
"Oke. Rahasia ini aman di tangan kami berdua!"
Setelah itu Karl dan Cio menyimak cerita Nyonya Nandira dengan seksama. Mereka penasaran sekali mengapa luka-luka di tubuh wanita itu bisa hilang tak berbekas.
Bern, aku harap setelah ini kau mau memberiku kesempatan untuk bicara. Tiga tahun lalu aku sama sekali tak menyentuh Amora. Yang terjadi tidaklah seperti yang kau kira karena pada saat itu aku datang menemui Amora adalah untuk meminta maaf padanya. Aku sama sekali tak berniat mencelakainya. Sungguh.
***