
"Terserah bagaimana Bern dan Renata saja, Nyonya. Sebagai orangtua, kami hanya ingin yang terbaik untuk mereka," ucap Nandira sedikit gugup ketika ditanya kapan waktu yang cocok untuk putrinya menikah. Jantungnya tak berhenti berdebar sejak masuk ke restoran ini.
"Jangan gugup, Nyonya. Sebentar lagi kita akan menjadi besan. Anggaplah kami seperti keluarga sendiri. Ya?" sahut Elea tanggap kalau calon besannya sedang gugup. Lucu juga. Padahal keluarga Goh adalah salah satu keluarga yang cukup terpandang di kota mereka. Tapi Tuan Max maupun Nyonya Nandira, kedua orang ini masih saja menunjukkan sikap yang canggung.
"Maaf. Kami tidak menyangka kalau Renata akan dipinang oleh salah satu tuan muda dari keluarga Ma. Hal ini seperti mimpi, Nyonya. Itulah mengapa kami merasa sangat gugup bertemu dengan kalian,"
"Tidak ada perbedaan di antara kita, Nyonya Nandira. Baik itu keluarga Goh maupun keluarga Ma, kita semua sama di mata Tuhan. Kalian jangan khawatir. Kami tidak pernah mengukur seseorang hanya lewat dari kekayaannya saja, melainkan dari hatinya juga. Dan karena Renata sudah dipilih oleh Bern, itu artinya kalian layak untuk menjadi bagian dari keluar kami!"
Max dan Nandira terpana mendengar penuturan Nyonya Elea yang begitu bijaksana. Ternyata memang benar apa kata orang kalau Nyonya Ma adalah wanita yang sangat rendah hati. Walau kaya raya, keluarga ini sama sekali tak membedakan orang lain lewat kasta. Sungguh beruntung sekali karena mereka akan segera menjadi bagian dari keluarga hebat tersebut.
"Jadi Bern, kapan rencananya kau akan meresmikan hubunganmu dengan Renata?" tanya Elea seraya menatap putranya lekat.
"Secepatnya, Bu." Bern menoleh. Tangannya yang berada di bawah meja segera menggenggam erat tangan Renata sebelum lanjut berbicara. "Aku ingin pernikahanku dengan Renata dilakukan secepat mungkin."
"Baiklah. Lalu kau Renata, apa kau setuju dengan keinginan calon suamimu?"
Renata menelan ludah. Secepat ini? Padahal baru tadi pagi dia menerima lamaran Bern, lalu sekarang dia sudah dimintai persetujuan untuk menikah.
Haruskah aku menyetujui hal ini? Bern dan aku masih belum mengenal dekat. Bagaimana jika nanti Bern menyesal setelah menikahiku? Ya Tuhan, aku harus apa sekarang. Menolak juga tidak mungkin aku lakukan. Lalu aku harus menjawab apa?
Gabrielle yang mendengar isi pikiran Renata segera mengambil sikap. Dia mendekat ke tubuh Elea kemudian berbisik.
"Sayang, Renata meragu. Dia khawatir Bern akan kecewa setelah menikahinya karena mereka belum saling mengenal dekat. Coba kau yakinkan dia. Aku tidak mau melihat putra kita kecewa."
"Umm baiklah."
Begitu mendengar bisikan Gabrielle, Elea segera bangun dari duduknya kemudian menghampiri Renata yang sedang melamun. Tangannya terulur membelai rambut calon mantunya hingga membuatnya tersentak kaget.
"B-Bibi?"
"Bibi tahu apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Ren. Kau ragu dengan perasaanmu, bukan?"
Kepala Renata tertunduk. Genggaman tangan Bern menguat, membuat Renata gelisah saat menyadari kalau pria ini mulai ketakutan.
"Katakan saja. Jangan ditahan. Menikah itu bukan sesuatu yang bisa digampangkan. Kalau memang ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, segera kau sampaikan saja pada kami semua. Dengan begitu hatimu bisa lega. Ya?" ucap Elea dengan sabar membujuk.
"Bibi, maaf sebelumnya. Memang betul aku telah menerima lamaran Bern, tapi aku tidak menyangka kalau pernikahan kami akan diadakan secepat ini. Ada satu dari lain hal yang membuat hatiku tidak tenang. Kami belum lama bertemu dan Bern belum mengenalku dengan baik. Begitu juga sebaliknya. Aku khawatir hubungan kami tidak bisa berjalan dengan lancar akibat minimnya informasi di antara kami berdua. Begitu," sahut Renata memberanikan diri mengutarakan isi hati.
"Siapa bilang di antara kita minim informasi, sayang?" Bern menimpali. "Aku sangat mengenalmu. Dan aku tahu semua hal tentang dirimu."
"Aku atau Amora yang kau kenal, Bern?"
Glukkk
Mulut Bern langsung terkatup rapat begitu Renata menyinggung tentang Amora. Hampir saja dia kelepasan bicara.
"Yang kau kenal itu Amora, bukan aku. Iya, kan?"
"Amora adalah Amora. Dia tidak ada hubungannya dengan hal ini, sayang."
"Coba tanya hatimu. Benarkah Amora tidak ada hubungannya dengan kita?" tanya Renata setengah mendesak. Lagi-lagi dia dibuat heran, juga de ja vu saat Bern dengan lantang mengatakan kalau ia mengenalnya dengan baik. Padahal mereka belum lama bertemu. Mustahil Bern bisa mengetahui semua kepribadiannya dengan baik.
"Kalau begitu bisakah ....
"Ayah, Ibu. Miss bilang bertengkar itu adalah perbuatan setan. Kenapa Ayah dan Ibu melakukannya? Apa di sini ada setan?" celetuk Justin heran melihat kedua orangtuanya bertengkar. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Gabrielle, Max, Nandira, dan juga Elea berusaha menahan tawa mereka agar tidak bocor keluar saat mendengar celetukan Justin. Sedangkan Flow, dia sudah terkikik lucu melihat kakak dan calon kakak iparnya tertegun malu karena ditegur oleh keponakannya. Rasakan itu. Siapa suruh bertengkar di hadapan anak kecil. Ya begini ini jadinya. Haha.
"Itu benarkan, Bi?" ucap Justin seraya menatap sang Bibi yang sedang terkikik sambil memangkunya.
"Ekhmmm, itu benar sekali, sayang. Orang yang suka bertengkar mereka adalah pengikut setan. Kalau sudah besar nanti kau jangan suka bertengkar dengan orang lain ya. Itu tidak baik. Mengerti?" jawab Flow dengan isengnya membenarkan ucapan Justin. Kapan lagi coba bisa menjahili kakaknya yang irit bicara itu.
"Nah, Ayah dan Ibu sudah dengarkan? Tidak baik lho bertengkar!"
"Baiklah, komandan. Ayah dan Ibu minta maaf ya karena sudah bertengkar," ucap Bern berbesar hati untuk meminta maaf. Syukurlah Justin menimbrung pembicaraan. Dengan begini Renata tidak akan berani lagi mengajaknya berdebat soal Amora. Dia selamat kali ini.
"Sudah Justin maafkan, Ayah. Justin juga minta maaf ya,"
Renata tak kuasa menahan tawa melihat Justin balik meminta maaf pada Bern. Seketika dia lupa dengan pembicaraan mereka. Putranya terlalu manis.
"Justin, Justin mau tidak tinggal serumah dengan Ayah?" tanya Bern mulai melancarkan aksi untuk meluluhkan hati Renata.
"Mau sekali, Ayah. Rumah Ayah sangat besar. Di sana Nenek Zhu juga sering datang. Justin mau tinggal di rumah Ayah!" jawab Justin penuh semangat.
Gabrielle dan Elea membeku di tempat. Nenek Zhu?
"Kalau begitu tolong bantu Ayah membujuk Ibu ya supaya mau tinggal dengan kita. Oke?"
Justin langsung mengangguk. Dia meminta turun dari pangkuan sang bibi kemudian berjalan menghampiri ibunya. Karena tubuhnya kecil, Justin meminta tolong Nenek Elea untuk mengangkat tubuhnya.
"Mau apa, hm?" tanya Renata gemas.
"Bu, ayo tinggal bersama Ayah. Rumah Ayah sangat besar lho. Nanti aku bisa beternak dinosaurus di sana. Ya?"
"Oh, jadi kau mau Ibu tinggal bersama Ayah hanya agar kau bisa beternak dinosaurus di sana? Iya?"
"Iya,"
"Tidak ada hal yang lain lagi?"
Justin menggeleng. Hal itu membuat semua orang tertawa gemas. Dan pada akhirnya keinginan Justin berhasil meluluhkan hati Renata. Biarlah dia mengalah asalkan putranya bisa hidup bahagia bersama dengan orangtua yang lengkap.
"Jadi bagaimana?" tanya Bern seraya memasang senyum penuh kepuasan. Dia menang telak berkat bantuan Justin. Haha.
"Aku ikut apa katamu saja, Bern." Renata melirik. Dia lalu mengumpat tanpa suara. "Dasar licik!"
Bern menyeringai. Licik? Umpatan ini terdengar bagus. Dia suka.
***