Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 88


Junio pura-pura tak melihat ketika menyaksikan putranya tengah menjadi sasaran amukan macan betina di rumah mereka. Ya, Patricia. Wanita iblis itu tengah mengamuk. Entah apa sebabnya, Junio tak tahu. Yang jelas dia tak mau ikut campur. Malas kena imbasnya.


"Ini sudah keberapa kalinya kau membuat anak gadis orang menangis, Cio. Tolonglah. Ibu benar-benar sudah sangat lelah menghadapi kelakuanmu. Sungguh!" kesal Patricia sambil terus memukuli putranya dengan bantal. Kesabarannya hampir mencapai limit akhir.


"Bu, kenapa Ibu selalu menyalahkan aku sih. Mereka seperti itu karena kemauan sendiri. Jika tidak, aku mana mungkin berani menyentuhnya!" sahut Cio berusaha membela diri. Alih-alih mendapat waktu untuk istirahat, begitu sampai di rumah Cio malah disambut amukan ibunya. Ingin marah, tapi dia tidak memiliki nyali untuk membalas wanita ini. Alhasil dia hanya bisa pasrah sambil sesekali mencoba membela diri.


"Meski begitu setidaknya kan kau bisa menahan n*fsu. Orangtua para gadis itu sudah bersusah payah membesarkan mereka, tapi kau dengan mudahnya malah merenggut masa depannya tanpa merasa berdosa. Tidak takut karma kau ya?"


"Jelas takutlah."


"Lalu?"


"Ayolah, Bu. Di dunia ini mana ada seekor kucing yang bisa menolak jika ditawari ikan asin? Sealim apapun kucing tersebut, aku berani jamin n*fsunya pasti akan langsung bangkit begitu melihat santapan enak. Tanyakan pada Ayah jika tidak percaya. Iyakan, Yah?"


(Dasar anak setan. Kenapa malah membawa-bawa namaku sih. Apa dia tidak tahu kalau perkataan itu bisa membuatku tidur di luar? Argghhh, anak siapa sih kau sebenarnya?)


Junio tetap bertahan untuk pura-pura. Dia begini karena sudah hafal dengan perangai Patricia. Menjawab salah, tidak menjawab akan menjadi jauh lebih salah. Jadi lebih baik dia tak menggubris omongan Cio saja supaya aman.


"Hei kau. Jangan kau pikir bisa lari dari permasalahan anak kita ya. Cepat jawab!" teriak Patricia sambil menatap garang pada suaminya yang sok sibuk membaca koran. Dipikirnya dia tidak tahu apa kalau sedang berpura-pura. Cihh.


"Sayang, bisa tidak jangan menjadikan aku sebagai korban saat kalian sedang bertengkar?" sahut Junio akhirnya memberikan respon. Daripada kena sapu terbang. Bisa bocor kepalanya nanti. "Masalah para gadis itu tidak ada hubungannya denganku. Sungguh!"


"Halah, Ibu jangan percaya apa kata Ayah. Jelas-jelas Ayahlah yang mengajariku cara menguasai hati wanita sampai ke akar-akarnya. Pokoknya semua masalah yang terjadi padaku berasal dari ajaran Ayah. Titik!" sahut Cio tak membiarkan ayahnya selamat. Enak saja.


"Hei, jangan bicara sembarangan kau ya. Fitnah itu!"


"Mana ada fitnah. Memang Ayah kok yang mengajarkan. Masih saja mau berkilah. Huh!"


Patricia mendengus kasar melihat anak dan suaminya yang malah heboh saling menyalahkan. Setelah itu dia duduk sambil memijit kening. Pusing memikirkan kelakuan kedua pria tersebut.


"DIAM!"


Kicep, Cio dan Junio tak lagi ribut begitu sang penguasa rumah berteriak. Segera Cio duduk di samping ibunya kemudian memijit bahunya pelan.


"Ibu jangan khawatir. Sebejat-bejatnya aku, aku bersumpah tidak akan membuat para gadis itu hamil masal. Intinya begini. Aku inikan pria. Aku punya senjata dan mereka adalah pemilik benteng. Kalau mereka kuat bertahan, mustahil senjataku bisa menembus benteng mereka. Tapi jika mereka lalai dan sengaja membiarkan pintu benteng terbuka, sudah pasti rudalku akan menerobos masuk ke dalamnya. Sebagai pria normal aku ini memiliki kebutuhan khusus yang hanya mereka saja yang bisa memuaskan. Jadi jika mereka datang lagi dan membuat drama menjijikkan, tanyakan saja pada mereka siapa yang memulai. Aku berani jamin mereka pasti tidak akan berani menemui Ibu lagi!"


Plaaakkk


"Dasar anak kurang ajar. Kenapa bicara sevulgar itu pada orangtua!" omel Patricia setengah menahan tawa saat mendengar curhatan Cio. Ada-ada saja anak ini.


"Ini bukan tentang masalah vulgar atau tidak vulgarnya, Bu. Tapi ini tentang harga diri!" sahut Cio.


"Harga diri apa maksudnya? Kau diperk*sa oleh mereka apa bagaimana?"


"Ah, sudahlah. Aku bosan membicarakan para wanita itu. Kita ganti topik lain saja."


Cio menarik nafas. Seulas smirk tipis muncul di bibirnya ketika dia akan bercerita tentang pria yang sempat mengganggu Renata.


"Tahu tidak, Bu. Kemarin ada pria gila yang membuat kekacauan di toko bunga milik Renata. Pria itu memaksa Renata agar mau menikah dengannya. Menyebalkan sekali, bukan?"


Junio dan Patricia langsung memasang ekpresi serius begitu mendengar cerita Cio. Mereka lalu mendengarkan dengan seksama kelanjutan dari cerita tersebut.


"Untung saat itu Russell datang ke sana. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada Renata. Pria gila itu pasti sudah menyakitinya," ucap Cio sedikit mendramatisir keadaan.


"Sudah. Hanya saja mereka berjaga di luar, bukan di dalam. Sedangkan pria gila itu sendiri sudah cukup lama menjadi pelanggan di toko Renata. Jadi mereka tidak curiga."


"Lalu apa yang kalian lakukan pada pria gila itu?"


"Tentu saja menghabisinya lah. Gila saja membiarkannya tetap hidup. Renata adalah pangkal dari semua masalah yang terjadi antara Bern dan Karl. Bisa kerasukan setan mereka jika aku tidak memberikan pelajaran!"


"Jadi kau yang bertugas sebagai tukang eksekusi?"


Cio mengangguk.


"Karl ... apa yang dia lakukan?"


"Dia kalah pada permohonan Renata. Jadi tugas itu diberikan padaku. Begitu."


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Patricia setelah dia mendengar cerita tersebut. Baru juga ditemukan, tapi Renata sudah diincar orang. Sepertinya dia perlu bicara banyak tentang masalah ini bersama dengan Gabrielle dan Elea.


"Kapan mereka menikah?" tanya Junio sembari duduk mendekat ke samping Patricia. Jari telunjuknya kemudian bergerak memilin rambut panjang wanita yang telah bertahun-tahun menjadi pawangnya. "Takutnya jika terlalu lama mengulur waktu akan membuat Renata semakin sering berada dalam bahaya."


"Bern sudah memborong perhiasan. Tinggal menunggu penentuan tanggalnya saja," jawab Cio. Sedetik setelah itu raut wajahnya berubah datar. "Ayah, Ayah kenal Nona Kimberly tidak?"


"Kimberly? Siapa dia?"


"Dia adalah salah satu rekan bisnisnya Bern ketika masih memimpin Group Ma dulu. Entah ini ada unsur kesengajaan atau tidak, wanita itu sekarang telah menjadi tetangganya. Dan tadi anak buahku melapor kalau mereka melihat Kimberly jalan berdua dengan Renata!"


Kening Junio mengerut. Lama berkecimpung di dunia bisnis, membuatnya jadi memahami satu hal. Tidak ada yang namanya kebetulan. Semuanya pasti didasari oleh kesengajaan yang berbalut maksud terselubung. Sebutlah wanita yang bernama Kimberly itu sengaja muncul sebagai tetangganya Bern. Namun dibalik itu semua, wanita tersebut pasti punya tujuan tersendiri.


"Kalian jangan sampai lengah. Siapapun orangnya kalian wajib untuk waspada!" ucap Junio tegas mengingatkan.


"Ayah tenang saja. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik hidup para saudaraku," sahut Cio seraya menyunggingkan senyum lebar. Ah, mangsa baru. Semoga saja tidak mengecewakan.


"Apa Kimberly cantik?"


"Sangat."


Pandangan mata Cio dan Junio bertemu. Melihat hal itupun Patricia langsung tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anak dan suaminya. Segera dia memukul wajah keduanya menggunakan majalah yang dia ambil dari atas meja.


Pakk pakkk


"Masih ingin membuat manekin dari tubuh manusia? Hah!"


"Ck, sayang. Hanya yang berhati busuk saja yang kami incar. Tolong jangan salah paham!" sahut Junio sambil berdecak kuat. Patricia telah mengetahui semua rahasia penting dihidupnya.


"Busuk tidak busuk tetap saja yang kalian lakukan itu salah."


"Lalu kami harus apa? Hanya diam saja membiarkan wanita cantik itu merajalela menyusahkan umat?"


Hening sesaat. Patricia tiba-tiba beranjak pergi menuju kamar. Namun sebelum menaiki anak tangga, dia mengucapkan sepatah kata yang membuat anak dan suaminya bersorak heboh.


"Pastikan keluarga kita aman dan bahagia. Selebihnya terserah kalian mau berbuat apa!"


***