Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 83


"T-Tuan Muda K-Karl."


"Oh, jadi kau mengenalku?"


Karl bertanya santai. Ekor matanya melirik ke arah Bern yang tengah memeluk Renata. Entah iparnya pingsan atau sedang ketakutan, yang jelas b*jingan dihadapannya merupakan penyebab keadaan ini bisa terjadi. Dan sebagai ipar yang baik jelas Karl tak akan tinggal diam. Selama masih bernafas, hanya dia satu-satunya orang yang boleh menyakiti keluarganya. Orang lain? Heh, jangan harap.


"Kau mengenalku, tapi bagaimana bisa kau tidak mengenali wanita milik saudaraku?" tanya Karl seraya menempelkan ujung sepatu ke dagu pria yang tengah duduk bersimpuh sambil meringis menahan sakit. "Wanita yang baru saja kau ganggu adalah calon iparku. Apa yang telah kau lakukan padanya?"


"M-maafkan aku, T-Tuan Muda. Ak-aku benar-benar tidak tahu kalau Renata adalah calon iparmu. Selama ini aku mengenalnya sebagai wanita beranak satu yang tidak memiliki suami. Makanya aku gencar mengejarnya. A-aku sangat menyukainya, T-Tuan Muda. S-sungguh."


"Apa kau bilang? Suka?" Karl menoleh ke arah Bern. Pandangan mata saudaranya menggelap seketika begitu mendengar pengakuan pria b*jingan ini. "Kau dengar itu, Bern. B*jingan ini menyukai calon istrimu. Apa kau akan terima begitu saja?"


"Habisi saja. Sampah sepertinya tidak pantas hidup di muka bumi ini," sahut Bern dingin. Dia bicara sambil terus mengusap punggung Renata yang masih ketakutan di pelukannya.


"Hmmm, baiklah."


"Kalian jangan begitu. Kasihan dia. Bagaimana jika nanti keluarganya mencari pria itu? Mereka pasti sedih," ucap Renata lirih mengingatkan Karl dan Bern agar tidak berbuat jahat. Setelah itu Renata memberanikan diri untuk menatap Karl. Perasannya seolah menyebutkan pernah terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Semacam masalah yang belum terselesaikan sepenuhnya. "Karl, tolong ampuni dia ya. Sesalah-salahnya manusia, mereka pantas untuk diberi kesempatan kedua. Di sini aku tidak sedang membenarkan perbuatannya, tapi aku hanya ingin mengingatkan kalian kalau karma itu ada. Jadi aku minta tolong kalian jangan terpancing emosi ya. Lepaskan dia. Cukup beri peringatan saja agar dikemudian hari dia tak lagi mengulangi perbuatannya. Ya?"


Deg


Jantung Karl dan Bern sama-sama berdetak kuat begitu mereka mendengar teguran dari Renata. Wanita ini mungkin hilang ingatan, tapi tidak dengan mereka. Jelas kalimat teguran yang Renata lontarkan sangat amat menohok perasaan, terutama Karl. Ingatan buruk tentang kejahatan yang pernah dia lakukan pada wanita ini membuat dada Karl terasa sesak. Tubuhnya sampai sulit digerakkan. Sungguh.


(Apa mungkin sebenarnya Renata tidak benar-benar lupa dengan jati dirinya sebagai Amora sehingga ia bisa bicara seperti ini? Atau kalimat yang dia ucapkan hanya sebatas ketidaksengajaan saja? Ya Tuhan, sakit sekali dadaku.)


"Tuan Muda Karl, tolong maafkan aku. A-aku mengaku salah. Dan aku berjanji setelah ini aku tidak akan pernah lagi mengganggu Nona Renata. Tolong maafkan aku ya," ucap si pria memohon agar diampuni. Di negara ini siapalah yang tidak mengenal keluarga Ma. Berurusan dengan mereka sama artinya dengan bunuh diri. Jadi sebisa mungkin dia harus berusaha mendapatkan maaf dari pria mengerikan ini.


"Kumaafkan," sahut Karl antara sadar dan tidak sadar.


"Be-benarkah?"


"Ya,"


Renata langsung menarik nafas panjang melihat Karl bersedia memberikan maafnya. Rasanya sungguh lega sekali.


"Karl!"


Bern menggeretakkan gigi. Dia tak terima b*jingan itu dimaafkan begitu saja.


"Kalau kau masih menganggapku sebagai saudara, kau pasti tahu seperti apa sifat asliku," ucap Karl memberi kode lewat kata-kata. Dia kemudian menatap pria yang masih betah bersimpuh di lantai. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran untuk menghabisimu."


"B-baiklah, Tuan Muda. Sekali lagi terima kasih atas maafmu. Aku sungguh menyesal telah menyinggung perasaan kalian. Sekali lagi aku minta maaf. Permisi,"


Begitu pria tersebut merangkak pergi dari hadapan Karl, dia langsung mengambil ponsel di saku celana kemudian mengirim pesan pada seseorang. Di dalam sini b*jingan itu memang telah mendapatkan maaf darinya, tapi bagaimana dengan yang di luar?


["B*jingan itu kuserahkan padamu. Aku tak berdaya di bawah keinginan Renata yang meminta untuk memaafkannya. Sementara Bern sendiri ingin agar b*jingan itu lenyap dari atas bumi ini. Singkirkan!"]


Russel yang telah selesai mengobati Lindri hanya diam saja melihat pria yang sudah hampir mati di tangan Bern berjalan dengan tertatih menuju pintu keluar. Sungguh kasihan. Yang pria itu lewati baru tiga pria mematikan di keluarga Ma. Masih ada satu orang lagi yang bengisnya tidak ketulungan. Yaitu titisan Morigan Junio dan Patricia Young, Cio Morigan Stoller.


"Paman Cio, dia kenapa?" tanya Justin sembari memperhatikan seorang pria yang baru saja keluar dari dalam toko. Pria itu terlihat takut dan kesakitan, membuat Justin merasa heran sekaligus kasihan.


Cio yang tengah membaca pesan dari Karl segera menatap pria malang yang akan segera menjadi mangsanya. Sedetik setelah itu Cio menyeringai. Tangannya lalu bergerak mengusap puncak kepala Justin yang begitu perhatian pada b*jingan tersebut.


"Baik, Paman," sahut Justin patuh.


"Good boy. Sepulang nanti Paman akan membelikan hadiah untukmu. Oke?"


"Oke, Paman. Terima kasih."


Segera setelah berpamitan Cio menghampiri pria yang hendak membuka pintu mobilnya. Mencari celah ketika Justin tidak sedang memperhatikannya, dengan gerakan yang sangat cepat Cio mendorong pria tersebut masuk ke dalam mobil kemudian memintanya menyetir. Hal ini Cio lakukan sambil menempelkan senjata ke pinggang pria tersebut.


"Cari tempat yang sepi. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan!" perintah Cio dingin.


"K-kau siapa?"


"Aku Cio, Pamannya Justin. Anak dari wanita yang baru saja kau ganggu."


"A-apa?"


"Cepat jalan atau aku akan menembak kepalamu sekarang juga. Cepat!"


Baru saja terlepas dari mulut buaya, pria tersebut malah berpindah masuk ke mulut harimau. Dengan keadaan panik dan ketakutan, dia akhirnya melajukan mobil menuju tempat yang sepi. Mau bagaimana lagi. Ajalnya mungkin sudah dekat. Jadi dia hanya bisa pasrah menerima ketika pria di sampingnya mulai menarik pelatuk senjata.


(Renata, seandainya aku tahu kalau kau adalah bagian dari keluarga Ma, dibayar uang sepuluh truk pun aku tidak akan pernah mau menggodamu. Gara-gara kebodohanku sekarang nyawaku menjadi taruhan. Aku menyesal. Sangat amat menyesal.)


Dorrrr


Justin menoleh ke arah jalan. Dia termangu beberapa saat sebelum akhirnya kembali asik dengan mainannya.


"Kakak, aku lupa memberitahu Paman Cio," ucap Justin.


"Lupa memberitahu apa?"


"Nenek Zhu bilang Paman harus melakukannya pelan-pelan. Tapi tadi aku mendengar suara yang begitu kuat. Nanti Nenek Zhu pasti akan memarahi Paman. Kasihan ya?"


Mendengar ucapan Justin yang membingungkan membuat karyawan Renata tak terlalu menggubrisnya. Dia mengira kalau ucapan tersebut hanya sebatas celotehan asal yang biasa dilakukan oleh anak kecil. Namun, sebenarnya yang dia dengar merupakan kode. Kode tak kasat mata yang hanya bisa didengar oleh Justin seorang.


Sementara itu di dalam, Bern meminta anak buah Renata untuk pulang. Kejadian hari ini cukup membuat mereka syok, terutama calon istrinya. Jadi Bern mengatakan kalau toko baru akan buka setelah kondisi Renata membaik.


"Lindri, kau ikut kami ke rumah sakit. Lukamu perlu diperiksa lagi di sana,"


"Tidak usah, Tuan. Tadi lukanya sudah diobati oleh dokter Russel," sahut Lindri agak sungkan. Bukan sungkan sih, lebih tepatnya dia takut. Ketiga pria kaya yang dihadapannya memiliki kepribadian yang sangat mengerikan. Lindri trauma setelah mendengar percakapan mereka bertiga tadi.


"Jangan melawan. Sekarang masuk ke mobil. Yang lainnya bereskan dulu kekacauan di toko. Pilih yang ringan-ringan saja. Selebihnya biar tukang yang urus!"


"Baik, Tuan."


Bersama dengan kedua saudaranya, Bern segera membawa Renata masuk ke dalam mobil. Melihat ibunya lemas membuat Justin hampir menangis. Karl dan Russell segera ambil tindakan dengan mengajak keponakan mereka pergi jalan-jalan.


***