Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 98


Guysss, mulai jam 4 sore nanti Karl & Ilona akan mulai tayang ya. Tetapi karena dilombakan, judulnya terpaksa emak ganti. Jangan lupa mampir ya kalian semua karena dari bab 1 alurnya semua dirubah. Dijamin kalian bakal panas dingin bacanya.



***


Brruukkk


"Ughhhhh," rintih si pelayan ketika tubuhnya di dorong jatuh ke tanah. Dia lalu mengerang kesakitan saat seorang penjaga menginjak punggung tangannya. "T-Tuan, s-sakiitt," ....


"Itu akibatnya jika nekad menjadi seorang pengkhianat," sahut Cio iseng. "Lagipula kau ini ada-ada saja sih. Setahuku keluarga Goh sangat arif dan juga sayang pada semua yang tinggal di rumahnya. Tega sekali kau mengumpankan nyawa mereka demi kepentingan pribadi. Dasar tak tahu terima kasih!"


"T-Tuan, s-saya tidak bermaksud melakukannya. Sungguh!"


"Tidak bermaksud? Lawak sekali kau!"


Sebuah mobil berhenti tak jauh dari lokasi tempat Karl cs berada. Melihat siapa yang datang, si pelayan segera merangkak mendekati. Selain menunjukkan rasa kesakitan, pelayan tersebut juga menampilkan raut penuh sesal pada majikan yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Tuan Max, tolong dengarkan saya. S-saya tahu perbuatan saya sangat fatal, tapi saya melakukannya karena terpaksa. Tolong jangan bunuh saya, Tuan. Tolong!"


"Terpaksa? Maksudnya bagaimana?" tanya Max bingung. Dia iba melihat keadaan pelayan ini yang terluka begitu parah. Entah apa yang telah dilakukan oleh anak buahnya Karl. Pasti pria kejam itu telah menyiksanya habis-habisan sebelum dibawa kemari.


"Adik saya ... adik saya disandera. Wanita itu menolak membebaskan jika saya tidak patuh pada apa yang dia perintahkan. Saya terdesak, Tuan. Sungguh. Akhhhhh!"


"Kau baik-baik saja?"


Tergerak hati, Max segera menolong si pelayan yang tiba-tiba terbaring di tanah sambil memegangi dada. Sedetik setelah itu pelayan ini tiba-tiba memuntahkan darah. Max panik. Dia lalu menatap semua orang yang ada di sana.


"Aku mohon tolong dia,"


"Siapkan obat untuknya!" perintah Karl. "Sekalian cari tahu siapa lagi dalang yang terlibat dalam masalah ini."


"Baik, Tuan Muda."


"Kenapa mereka masih belum mengirimkan video itu padaku? Apa jangan-jangan wanita itu lepas?"


"Ayah yang melarang mereka untuk membunuhnya, Karl."


Entah kapan datangnya, tiba-tiba saja Gabrielle sudah ada di tempat itu. Dia datang bersama seorang penjaga setelah mengantarkan Flow dan Elea ke apartemen Bern.


"Kenapa?"


"Tidak seharusnya kita berlaku kejam pada wanita, Karl. Ingat pesan Nenekmu sebelum meninggal tidak?"


"Wanita itu lancang ingin menyakiti anggota keluarga kita, Ayah. Haruskah dibiarkan tetap hidup?"


"Ayah tahu, tapi tetap Ayah tak akan membiarkan kau membunuhnya. Ayah tak ingin kau mengotori tanganmu lagi, Karl. Tolong mengertilah. Ya?"


Karl mendengus kasar. Marah, dia memutuskan untuk pergi saja dari sana. Percuma juga untuk tetap berada di tempat jika sang ayah kembali mengingatkannya pada kematian sang nenek. Hatinya sakit. Juga terdera rasa bersalah yang begitu besar.


"Bagaimana, Bern. Apa motif pelayan ini berkhianat pada keluarga calon mertuamu?" tanya Gabrielle sembari menepuk bahu putra sulungnya.


Gabrielle tak langsung menjawab pertanyaan Bern. Setelah apa yang terjadi di keluarganya, semampu mungkin Gabrielle berusaha agar tidak ada lagi karma-karma lain datang menghampiri mereka. Cukup sekali saja, tidak dengan kedua kali.


"Kau tahu bukan betapa keluarga kita sangat menderita akibat karma yang dibawa oleh leluhur Nenekmu?" ucap Gabrielle setengah berbisik. "Ayah hanya tidak ingin ada hal buruk yang menahan perubahan di diri Karl. Ibumu bilang suatu hari nanti akan datang seorang gadis yang bisa mencabut kutukan karma itu darinya. Dan sebagai orangtua, Ayah hanya ingin yang terbaik untuk saudaramu. Ayah tak mau melihat Karl terus tersiksa seperti sekarang. Kau paham apa maksud ucapan Ayah, kan?"


"Apa Karl masih dibayang-bayangi oleh bisikan misterius itu?"


"Masih, tapi sedikit banyak dia sudah mampu mengontrol diri. Cuma ya itu. Amarahnya mudah sekali naik dan keinginan untuk membunuh begitu kuat menguasai pikiran. Kasihan dia kalau tidak ada yang mengingatkan."


"Hmmmm,"


Perhatian Bern dan Gabrielle tertuju pada ayah Renata yang terlihat begitu peduli pada pelayan yang tengah tak sadarkan diri di pangkuannya. Tak tega, mereka pun memutuskan untuk mendekat.


"Apa sebaiknya tidak dibawa ke rumah sakit saja, Paman?" tanya Bern.


"Aku tidak berani melakukannya jika bukan Karl yang menginginkan," jawab Max kelewat iba pada kondisi pelayannya. "Meski tak bisa disalahkan sepenuhnya, tapi dia secara tidak langsung telah terlibat dalam masalah ini. Dan penjelasannya tadi masih belum membuatku sepenuhnya percaya. Masih ada yang mengganjal!"


"Dibagian mana menurut Paman ada yang mengganjal?"


"Bern, hubungan kami selama ini sangat dekat. Baik aku maupun Renata, kami tak pernah memperlakukan mereka dengan cara yang tidak pantas. Kami menganggap mereka semua sebagai bagian dari keluarga Goh. Jika benar-benar terdesak harusnya dia bisa memberitahu kami lewat kode atau secara diam-diam. Dengan begitu kejadian hari ini tidak akan terjadi. Jujur, aku kecewa. Tetapi melihat kondisinya sekarang hatiku ikut terasa pedih. Dia adalah seorang yatim piatu yang hanya memiliki satu saudara saja. Aku kasihan, tapi juga marah!"


Saat Max tengah mencurahkan kekecewaannya, mata si pelayan tiba-tiba mengerjap. Tak lama kemudian kedua matanya terbuka sempurna, tapi tetap tak mampu menutupi kalau dirinya sedang sangat kesakitan.


"T-Tuan Max," lirih si pelayan sambil menunjuk lengan. "Wanita itu menanam sesuatu di sana, tapi sudah di ambil oleh orang yang tadi menghajarku. T-tolong jangan marah. Aku sungguh tak ingin menyakiti siapapun."


"Apa kau bilang?"


Gabrielle tanggap. Segera dia menanyai salah satu penjaga yang ada di sana. Lalu dari pengakuan mereka akhirnya diketahui kalau dalang dibalik kejadian ini telah menanamkan semacam alat penyadap di dalam kulit si pelayan. Penuturan si penjaga akhirnya membuat mereka semua sadar kalau dalang dibaliknya bukan hanya wanita itu saja. Melainkan ada orang lain yang ikut menyetir rencana untuk menghabisi Justin dan Renata.


"See? Kalian sekarang sudah tahu kan kenapa Karl begitu marah tadi?" ucap Reiden santai. "Karl itu tidak bodoh. Dia jelas tahu kalau kejadian hari ini tidaklah sesederhana yang kita pikir. Ada seseorang yang coba mengambil kesempatan dalam hal ini. Kalian harus waspada!"


"Brengsek!" umpat Bern. Ekpresi di wajahnya langsung berubah dingin sekali begitu tahu kalau orang yang ingin mencelakai anak dan calon istrinya bukan wanita itu saja, tapi ada orang lain lagi di belakangnya.


"Tenang, Bern. Jangan gegabah dulu. Mari kita bahas masalah ini dengan kepala dingin. Oke?" ucap Gabrielle mencoba menenangkan amarah putranya. Dia marah, sangat malah. Namun, amarah tidak akan menyelesaikan masalah.


"Ayah, tolong urus pelayan ini. Aku akan pergi mencari Karl dulu. Aku tak terima penjahat itu masih berkeliaran bebas di luaran sana setelah apa yang diperbuatnya pada Justin dan Renata. Masalah ini harus segera dituntaskan secepatnya!"


"Sebentar lagi kau dan Renata akan menikah. Jangan kotori tanganmu ya?"


"Aku tidak bisa berjanji. Akan tetapi aku akan berusaha menahan diri." Bern menatap ayah dan calon mertuanya. "Ada orang yang ingin menyentuh jantung kehidupanku. Ini penghinaan. Dan aku tidak bisa menerimanya!"


Setelah berkata seperti itu Bern bergegas pergi dari sana. Dia tak peduli pada panggilan sang ayah yang memintanya agar tetap tinggal. Persetan. Hati dan pikirannya telah terselubungi amarah yang begitu besar.


"Permainan dimulai. Lets go," bisik Cio sembari meninju pelan lengan Reiden.


"Aku suka seperti ini. Ayo kita susul mereka!"


"Okey!"


***