
"Dasar anak kurang ajar. Kenapa tidak bilang kalau Bern sudah kembali ke negara ini?!" amuk Patricia sembari memukuli lengan Cio menggunakan tas. Dia kesal sekali karena anak ini tak memberitahu kepulangan keponakannya.
"Ishh, Ibu. Aku ini anak Ibu ya. Jadi jangan memperlakukan aku seperti anak pungut!" sahut Cio sambil meringis menahan sakit. Pukulan ibunya tidak main-main. Rasanya lumayan panas. Sungguh.
"Kau memang anak pungut yang Ibu ambil dari kolong jembatan. Makanya kau bisa sekurang ajar ini pada Ibu. Dasar kau ya. Rasakan ini!"
Bug bug bug
Bern diam menonton pertengkaran yang sedang terjadi antara bibi dan sepupunya. Ekpresi wajahnya terlihat datar sekali.
"Hei kau, cepat selamatkan aku dari serangan rubah galak ini. Jangan diam saja!" teriak Cio meminta pertolongan dari Bern. Dia sudah tak kuat menahan amukan ibunya yang semakin membabi buta.
"Malas," sahut Bern acuh.
"A-apa kau bilang? Malas?"
"Bibi, pukul yang keras saja supaya jantung anak pungut itu terlempar keluar. Kebetulan aku sedang kesal padanya. Jadi sekalian saja Bibi balaskan kekesalanku!" ucap Bern dengan sengaja memanaskan keadaan.
"Yakkk kau!"
"Tidak usah berteriak. Suaramu hanya membuat Ibu bertambah semakin kesal saja. Dasar anak kurang ajar kau ya!"
Pertengkaran itu masih terus berlaku untuk hingga beberapa menit ke depan. Bern yang melihatnya pun sama sekali tak tergerak untuk melerai. Sengaja dia melaksanakan hal tersebut karena kesal Cio tak mengusir Ruth sebelum dia sampai di perusahaan.
"Oke-oke aku minta maaf. Alasan kenapa aku tidak memberitahu Ibu adalah karena keinginan beruang kutub itu. Dia tak mau kepulangannya diketahui oleh banyak orang!" ucap Cio akhirnya meminta maaf. Dia sudah tidak kuat lagi menahan serangan ibunya.
"Benar begitu, Bern?" tanya Patricia seraya menatap sang keponakan yang hanya diam saja.
"Saat itu hubunganku dengan Karl masih sangat buruk, Bi. Termasuk juga hubunganku dengan Ayah dan Ibu. Jadi aku melarang mereka agar tidak memberitahu orang lain tentang kepulanganku ke negara ini. Aku butuh waktu untuk menerima apa yang pernah terjadi dulu!" jawab Bern membenarkan ucapan Cio.
Patricia menghela nafas setelah mendengar penjelasan Bern. Dia kemudian duduk. Menatap bergantian ke arah anak dan keponakannya.
"Lalu sekarang hubunganmu dengan mereka bagaimana? Sudah baik-baik saja, kan?"
"Lumayan." Singkat Bern menjawab. "Obat penawar atas kekecewaan yang aku alami tiga tahun lalu muncul secara tiba-tiba. Dan hal inilah yang menyebabkan hubunganku dengan mereka bisa kembali membaik seperti dulu. Renata adalah Amora yang hilang, Bibi. Dia kembali hadir di hidupku!"
"Ekhmmm! Bibi agak sedikit bingung di sini. Siapa Renata? Dan kenapa juga tadi Ruth menyebut kalau Amora memiliki saudara kembar?" tanya Patricia penuh penasaran.
Bern langsung melirik ke arah Cio saat sang bibi menanyakan perihal tentang Amora dan Renata. Terlalu malas untuknya menjelaskan. Jadi Bern memberi kode agar sepupunya saja yang bicara.
"Dulu istrinya Tuan Kendra melahirkan anak kembar. Kemudian salah satu dari mereka diberikan kepada sepasang suami istri yang baru saja mendapat vonis dokter kalau mereka tidak akan bisa mendapatkan anak. Keluarga tersebut lalu membawa kembaran Amora untuk tinggal ke luar negeri dan mereka baru kembali ke negara ini beberapa tahun yang lalu setelah sanak saudara mereka meninggal. Waktu itu kembaran Amora masih belum pulang dan gadis itu baru kembali tepat ketika Amora dan Flowrence mengalami kecelakaan. Disaat itulah keduanya tertukar. Amora yang kita kira telah meninggal dunia ternyata adalah saudara kembarnya. Amora masih hidup dan sekarang memakai identitas sebagai Renata!" ucap Cio menjelaskan kebenaran tentang Amora dan kembarannya.
"Lalu keluarga mana yang mengadopsi kembaran Amora?"
"Mereka berasal dari keluarga Goh." Cio melirik ke arah Bern. Dia lalu tersenyum tipis. "Bu, Ibu tahu tidak kalau sekarang Bern Itu bukan lagi tuan muda?"
"Bern sudah punya anak. Namanya Justin Goh!"
"Ralat. Justin Ma. Dia produk asli buatanku. Jangan coba-coba mengganti nama marganya!" tegur Bern membenarkan penyebutan marga yang dilakukan oleh sepupunya.
"Hehe, iya-iya. Begitu saja marah," sahut Cio tengil.
"Hmmmmm," ...
Patricia kaget sekali saat dia mengatakan kalau Putra kalau keponakannya telah mempunyai anak dalam hati dia membatin berarti saat Amora mengalami kecelakaan mobil bersama flow 3 tahun lalu Gadis itu sedang dalam kondisi mengandung astaga Kasihan sekali
(Gabriell dan Elea sudah mengetahui hal ini belum ya? Aku yakin mereka pasti bahagia sekali jika mengetahui kalau keluarga mah telah mendapatkan calon pewaris)
"Ekhmmm, Bern. Kalau boleh tahu Ayah dan Ibumu sudah tahu belum tentang Justin dan Renata?" tanya Patricia hati-hati. Dia cukup tahu perangai keponakannya satu ini. Jadi dia berusaha untuk tidak bicara sembarangan.
"Sudah, Bibi." Bern menjawab sambil tersenyum tipis. Tangannya kemudian bergerak mengusap dagu, memperlihatkan pada bibi dan sepupunya kalau dia bahagia saat menceritakan tentang putranya. "Aku bahkan sudah membawa Justin dan Renata pulang ke rumah. Dan semua orang menerima kehadiran mereka dengan tangan terbuka. Justin-ku begitu lucu. Nanti jika ada waktu aku akan membawa Justin ke rumah Bibi. Aku jamin Bibi pasti akan langsung jatuh cinta padanya!"
"Benar ya kau akan membawa Justin ke rumah Bibi. Kalau bisa sekalian saja dengan Renata. Oke?" ucap Patricia menawar.
"Itu pasti. Tapi nanti saat Bibi bertemu dengan Renata jangan coba-coba membahas tentang masa lalunya. Kondisi dia sekarang masih lupa ingatan dan aku tidak berniat memulihkan ingatan tersebut!"
"Kenapa begitu? Spa ini tidak terlalu kejam bagi Renata?"
"Tidak sama sekali. Dulu Amora pernah bilang padaku jika Tuhan memberinya hidup sekali lagi, dia ingin sekali terlahir sebagai sosok orang lain yang tidak terhubung dengan keluarga Sgin. Terlalu banyak rasa sakit yang Amora rasakan dulu jadi aku tidak ingin dia mengenang rasa sakit tersebut. Amora kini telah terlahir sebagai sosok baru di diri Renata. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengulik tentang penderitaannya selama menjadi putranya Tuan Kendra!" sahut Bern tegas tak terbantahkan.
Cio dan ibunya saling melempar pandang ketika Bern mengembuskan nafas kasar. Ini pertanda kalau ucapannya benar-benar sangat serius. Menyadari hal tersebutpun Patricia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Karena biar bagaimanapun keponakannya ini masih menyimpan luka dalam di dalam hatinya.
"Ya sudah kalau begitu Bibi tunggu kau mengenalkan Justin dan Renata pada kami ya. Nanti kau tinggal hubungi Bibi saja jika sudah siap untuk bertemu. Oke?" ucap Patricia seraya beranjak dari duduknya.
"Baik, Bi."
"Ibu mau pergi ke mana?" tanya Cio penasaran.
"Ke mana lagi kalau bukan memantau Ayahmu. Tidak ingat ya kalau Ayahmu itu sangat berbahaya jika dilepas seorang diri!" jawab Patricia.
"Namanya juga kakek tua yang berjiwa muda, Bu. Ayah juga butuh kesenangan untuk menghibur diri."
"Haihh, terserah kau mau bilang apa, Cio. Tidak anak tidak ayah. Kalian sama-sama mata keranjang jika sudah berhubungan dengan wanita cantik. Menyebalkan!"
Cio tertawa terbahak-bahak melihat ibunya pergi sambil mengomel. Namun, tawanya itu tidak berlangsung lama karena Bern sudah lebih dulu mengancam akan pergi dari sana jika mereka tak segera membahas pekerjaan.
Justin dan Renata sedang apa ya sekarang? Jadi merindukan mereka. Ucap Bern membatin.
***