Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)

Sang Penguasa Hati (Bern & Renata)
Bern 70


Lindri tersenyum ramah saat bosnya datang ke toko. Setelah itu dia dan teman-temannya membungkuk sopan ke arah pria tampan yang tempo hari memberikan bonus besar pada mereka.


"Selamat pagi, Tuan Bern. Selamat pagi, Nona Renata."


"Pagi," sahut Renata sambil mengerutkan kening. Dia menatap satu-persatu karyawannya dengan pandangan heran. "Ada apa ini. Kenapa wajah kalian terlihat berseri-seri sekali. Toko sedang banyak pesanankah?"


"Tidak, Nona. Walaupun tidak banyak pesanan, tapi toko tetap ramai seperti hari biasanya,"


"Lalu apa yang membuat kalian terlihat begitu bahagia?"


Pandangan Lindri dan teman-temannya langsung tertuju pada pria tampan yang tengah berdiri merengkuh pinggang bos mereka. Bern yang tahu arti dari tatapan gadis-gadis ini hanya diam saja. Sepertinya Renata lupa kalau dia telah menjanjikan bonus tambahan untuk para karyawannya. Hmmm.


"Lindri?"


"Hehehe, maaf. Saya dan teman-teman merasa bahagia karena kemarin Tuan Bern telah mengirimkan banyak bonus untuk kami, Nona. Makanya sekarang wajah kami terlihat berseri-seri. Kami mendapat jackpot yang sangat besar sekali," ucap Lindri memberitahu bosnya penyebab mengapa kebahagiaan itu bisa muncul.


"Bonus?"


Renata menoleh ke samping. Di tatapnya lekat-lekat wajah Bern yang begitu tampan.


"Jadi kau memberikan bonus pada mereka, Bern?"


"Iya, sayang. Itu aku lakukan sebagai bentuk terima kasih dariku," aku Bern.


"Maksudnya?"


Gemas, di hadapan para karyawan Renata Bern mencium pipinya. Sontak hal itu membuat wajah Renata berubah menjadi merah padam.


"Nanti kau tanyakan saja pada karyawanmu penyebab mengapa aku bisa memberikan bonus pada mereka. Sekarang aku harus segera pergi. Tidak apa-apa, kan?"


"Kau mau pergi kemana?" tanya Renata penasaran.


"Mencari nafkah,"


"Nafkah?"


"Iya. Sebentar lagi kan kita menikah, jadi aku harus giat-giat bekerja supaya kau dan Justin tidak kekurangan. Benar begitu, Lindri?"


"Benar sekali, Tua Bernn. Anda akan segera memikul tanggung jawab besar, jadi Anda tidak boleh sembarangan lagi mempermainkan waktu," sahut Lindri dengan penuh semangat. Dia lega sekali karena bosnya akan segera memiliki pasangan hidup.


Selamat, Nona Renata. Mulai sekarang kau sudah tidak perlu lagi mendengar cemoohan orang-orang karena memiliki anak tanpa menikah. Semoga hal baik ini bisa merubah hidup kalian yang dulunya penuh dengan cacian dan hinaan.


"Nah, kau dengar itukan? Aku sudah tidak bisa bermalas-malasan lagi sekarang. Kau tidak lupa kan kalau Justin ingin membuka peternakan dinosaurus? Perlu biaya yang cukup besar untuk mewujudkan keinginan putra kita itu. Iya, kan?" goda Bern sambil mengedipkan sebelah mata.


Terharu, Renata mencubit pelan pinggangnya Bern. Entah mengapa perkataannya barusan mendatangkan semacam perasaan dejavu di mana Renata merasa kalau dirinya pernah dijanjikan kebahagiaan oleh pria ini.


"Ya sudah kalau begitu kau pergilah mencari nafkah yang banyak. Dan satu lagi. Modal untuk toko bungaku perlu tambahan. Karena kau telah menyebut dirimu sebagai calon suamiku, aku harap kau tidak lari dari tanggung jawab menafkahi bisnisku juga. Bagaimana? Apa kau merasa keberatan?" seloroh Renata tiba-tiba ingin bermanja. Rasa malunya seperti hilang begitu saja meski di hadapannya sekarang ada Lindri dan karyawan yang lain.


"Tentu saja tidak, Nyonya. Dengan senang hati pria ini akan mengabulkan keinginanmu," sahut Bern sambil tersenyum lebar karena merasa dibutuhkan.


Saat Bern sedang asik bercanda bersama dengan Renata dan para karyawannya, ponsel di sakunya berdering. Segera Bern mengambilnya untuk melihat siapa yang menelpon.


"Siapa?" tanya Renata.


"Cemburu ya?" sahut Bern iseng.


"Reaksimu begitu cepat. Wajar kalau aku berpikir seperti itu,"


"Sudah sana cepat jawab panggilannya. Siapa tahu penting."


"Memang penting. Karena orang yang menelponku yang akan menyediakan lubang pekerjaan untukku mencari nafkah."


Renata kaget sekali saat Bern tiba-tiba mencium bibirnya kemudian melangkah keluar sambil tertawa lepas. Perlakuan pria itu sampai membuat Renata mematung di tempat. Ya malu, ya bahagia, kedua rasa tersebut bercampur menjadi satu di hatinya.


"Wahhh, sepertinya bunga-bunga di toko ini mekar semua. Kita sedang berada di musim semi sekarang. Iyakan teman-teman?" seru Lindri iseng menggoda bosnya yang sedang kasmaran.


"Iya benar. Haduhhh, jadi ikut berbunga-bunga hatiku,"


Suara cekikikan para gadis itu akhirnya menyadarkan Renata dari keterkejutannya. Dia kemudian berdehem untuk menormalkan perasaannya yang sedang campur aduk.


"Ekhmm, sejak kapan kalian jadi suka berbuat usil padaku?" tanya Renata sedikit malu.


"Sejak kapan ya?"


"Haih, kalian ini ya. Sudah, lanjut bekerja lagi sana,"


"Wahhh, Nona kita malu ternyata. Lihat teman-teman. Wajahnya sampai memerah seperti bunga mawar yang di jual di toko kita!"


"Lindri, kau ini," ....


Di dalam toko, Renata tak henti-hentinya di goda oleh karyawannya sendiri. Hal itu membuatnya sampai harus bersembunyi di dalam kamar saking dia merasa malu atas tindakan para bawahannya.


Ya ampun, kenapa aku jadi bertingkah seperti remaja sih. Ingat, Renata. Kau itu sudah tua, bahkan telah mempunyai seorang anak. Jangan terlalu uforia. Nanti kau bisa kecewa jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai rencana. Yang tenang.


Sementara itu di luar toko, Bern yang sedang duduk di dalam mobil tampak serius ketika berbincang dengan Cio. Kedua sisi rahangnya tampak mengerat, menandakan kalau dia sedang dalam situasi hati yang kurang baik.


"Apapun yang terjadi jangan biarkan keluarga Shin mengetahui keberadaan Renata. Kalau bisa kau buatlah mereka supaya tidak mau berhubungan lagi dengan kita. Aku tidak rela jika ingatan Renata sampai kembali gara-gara bertemu dengan mereka. Aku tidak mau itu terjadi, Cio!" geram Bern sambil memukul stir. Untung mobil masih dalam kondisi mati. Jika tidak, pukulan tadi pasti membuat klakson berbunyi.


["Wey, santai, Bung. Jangan marah-marah dulu. Kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik. Oke?" sahut Cio dari dalam telepon. "Sejak aku dan Karl datang ke kediaman keluarga Shin, sepertinya putri sulung Tuan Kendra ikut menyelidiki soal kembaran Amora. Tapi karena Karl sudah menutup semua akses yang terhubung ke sana, Nona Ruth jadi menyasar padaku. Sekarang saja wanita cantik itu masih belum pergi dari lobi perusahaan. Dia begitu keukeuh ingin bertemu denganku!"]


"Minta pengawalmu untuk menyeret wanita itu dari sana. Apa yang kau pusingkan?"


["Tidak begitu juga, Bern. Nona Ruth lumayan cantik. Rugi besar kalau aku membuangnya begitu saja. Selain cantik, otaknya juga cukup cerdas di dunia bisnis. Kalau dia menjadi kekasihku, kami pasti akan menjadi pasangan yang sangat serasi sekali. Benar tidak?"]


"Oh, jadi kau berniat mengibarkan bendera perang denganku? Baiklah, akan kuladeni kegilaanmu ini. Dasar brengsek!"


Terdengar kekehan dari dalam telepon setelah Bern mengumpat. B*jingan satu itu entah mengapa suka sekali mencari masalah. Sudah tahu Bern sangat anti dengan semua hal yang berhubungan dengan keluarga Shin, tapi Cio masih saja mencari gara-gara dengannya. Siapa yang tidak jengkel coba.


["Hehe, just kidding. Jangan serius-seriuslah. Aku juga tidak sekejam itu menarik masuk bagian masa lalu Amora ke kehidupan Renata. Aku hanya iseng saja, Bern. Santai!"]


"Bercandamu tidak lucu, Cio!" sergah Bern seraya membuang nafas kasar. "Aku baru akan bahagia bersama Renata. Tolong jangan membuat kekacauan!"


["Baiklah, aku janji tidak akan mengacaukan hubungan kalian. Jadi Bern, di manakah kau sekarang? Kapan datang ke perusahaan?"]


Alih-alih menjawab, Bern malah mematikan panggilan. Dia lalu menyalakan mesin mobil, menatap lama ke arah toko bunga milik Renata sebelum akhirnya melajukan mobil menuju perusahaan milik sepupunya.


***