Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Vangke Emang si Mantan Bos!


Aku nggak peduli nih mobil mau bawa aku kemana. Yang jelas pikiranku lagi melayang ke mbak Sena yang kabarnya hilang di hutan dan belum kembali selama kurang lebih 2 bulan ini. Dia ngilang aja gitu dari peradaban, nggak tau emang digondol setan atau bagaimana. Tapi aku kayak punya firasat kalau aku harus nyari tau, apa yang terjadi sama mbak Sena.


Yang aku butuhin sekarang, orang yang bisa bawa aku melintasi dunia ghoib, dunia diluar akal sehat manusia dan aku tau kepada siapa aku harus minta bantuan.


"Aku nggak mungkin biarin dia terjebak selamanya disana," batinku.


Aku nengok otomatis ke bapak galak yang lagi nyetir.


"Adik sepupu, aku turun di depan aja!" aku nunjuk sebuah halte di depan.


Cyiiiiiiiiittt.


Mobil berhenti mendadak. Aku lepas sabuk pengaman.


"Makasih, ya?" ucapku singkat sebelum buka pintu.


Tapi si adek sepupu malah narik belakang bajuku sampe aku doyong ke belakang.


"Eeeh, siapa yang bilang kamu boleh turun?"


"Lah kan ini udah di depan halte, kebetulan saya ada urusan lain!" kataku.


Dia masangin lagi sabuk pengaman, dan ngedorong jidatku dengan satu jari telunjuknya sampai kepalaku ini nempel kursi.


"Jangan macam-macam! saya sudah menunggu di basement lebih dari satu jam dan sekarang saya kesini menjemput kamu itu bukan untuk mengantar kamu ke halte ini, paham!"


"Isshhhhh, telunjuk tolong dikondisikan!" aku menepis jari mantan bos dari jidatku yang mempesona ini.


"Baru dapat surat pemecatan beberapa jam saja otak kamu sudah mula mengalami penurunan yang sangat signifikan!"


Aku menatap orang disampingku ini dengan tatapan sinis, bisa-bisanya dia ngatain otakku seenak jidatnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" si mantan bos nggak terima.


"Dasar adik sepupu durhaka!" ucapku spontan.


"Haissh, apa kamu bilang?"


"Apa? nggak ada..."


"Sudah, kamu ikut saya dulu. Urusan pekerjaan nanti saya yang urus. Kamu hilang juga sama saya, muka kamu begitu juga karena saya. Jadi tenang saja, saya akan tanggung jawab!" ucap pak bos dengan tegas.


Sementara mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, Ridho nge-chat mulu. Dia sempet nelfon tapi aku reject berkali-kali. Lagi nggak mood banget buat dengerin dia ngomong.


Dan sampailah kita di rumah dengan bangunan yang megah. Nggak tau juga ini rumah siapa.


"Ini rumah siapa, Pak?" tanyaku yang mulai penasaran. Jangan-jangan rumah berhantu apa gimana kan ya. Secara kalau berhubungan dengan pak Karan tuh sekarang harus lebih waspada, nggak boleh manggut-manggut aja gitu nurut.


Suwer deh, gaya rumah kolonial banget ini. Jendelanya gede-gede dan pokoknya banyak pilar-pilarnya. Yang menghuni nih rumah pasti nggak kalah mistisnya sama bangunanya. Walaupun didesign begitu apik, tapi ada sisi menakutkannya gitu loh.


Pak Karan nggak ngerewes pertanyaanku tadi, aku berhenti jalan.


"Kenapa lagi?" pak Karan udah kesel banget kayaknya.


"Saya kan tadi nanya, ini rumah siapa? kalau tidak dijawab saya juga ogah masuk ke dalam, saya mau balik aja!" kataku yang udah berbalik.


Tapi tanpa aba-aba si adik sepupu yang udah jelas badannya lebih gede dari aku ini ngangkat aku ke pundaknya. Udah kayak manggul beras tau, nggak!


"Laporin aja, saya nggak takut!" kata pak Karan sambil nepok kakiku yang kebetulan pakai setelan kerja celana panjang.


"Kepalaku pusing tau!"


"Saya nggak peduli!" jawab pak Karan.


Dan dengan langkah yang cepat dia bawa aku masuk ke dalam, dan disana ada dua orang yang sedang berbincang.


"Karan?" pekik wanita tua. Dan pak Karan nurunin aku yang kini berdiri agak sempoyongan beruntung tangannya yang aduhai itu nahan badanku. Tapi tatapannya lurus ke depan, aku pun mengikuti arah pandangan si bos minim akhlak ini.


"Karan? kau?" ucap seorang pria paruh baya dengan tatapan tidak percaya.


"Ayah," satu kata muncul dari mulut mantan bosku ini.


Oke, di ruang tamu ini ada beberapa orang yang aku nggak tau siapa. Yang jelas aku hafal banget sama nenek-nenek yang setia dengan rambutnya yang disasak dan rambutnya yang sudah beruban tapi ditata sedemikian rupa itu.


"Halo, Nek? apa kabar?" ucap pak Karan dengan senyum misteriusnya. Dia menggandengku, berjalan mendekat pada orang-orang yang kini berdiri menatap kami berdua.


"Kenapa wajah nenek begitu pucat? seperti sedang melihat hantu saja?" ucap pak bos dengan senyum misteriusnya.


"Pak Reynold?" ucapku lirih sambil menunduk hormat. Walaupun aku udah nggak kerja di perusahaan dia, tapi kan masih ada lah rasa segan gitu ya.


"Kalian duduk saja, tidak perlu terkejut seperti itu," pak Karan menggerakkan tangannya menyuruh dua orang laki-laki berjas itu duduk kembali dan dia juga main duduk aja, udah gitu narik aku supaya duduk di sampingnya.


Muka mereka pada horor semua, kecuali wajah pak Reynold yang lebih ke arah nggak percaya, kangen dan bingung. Walaupun dia tentunya berusaha menutupi semua itu, tapi tatapan mata seorang ayah nggak akan bisa membohongi.


"Jadi, bagaimana? apakah sudah selesai pembicaraan kalian mengenai pencopotan posisiku sebagai CEO di perusahaan Perkasa Group?" tanya pak bos santai.


"Ajigileeee, dia bilang urusan kerjaan gampang, dia bakal ngurus semuanya. Tapi ternyata dia juga udah dilengserin dari jabatannya, Vangke emang nih mantan bos!" aku ngumpat dalam hati.


"Kita akan membicarakan ini lain waktu," ucap nenek pak bos yang berusaha setenang mungkin.


"Baiklah kalau begitu, kami permisi?" ycap salah satu diantara kedua pria yang kini sudah berjalan meninggalkan ruangan ini.


"Kemana saja kamu, Karan? dan siapa dia?" tanya pak Reynold.


"Hufhh... ssh, mulai darimana ya aku harus menjelaskannya? Sepertinya nenek lebih tahu, Yah! apa nenek tidak pernah memberi tahu ayah kemana aku pergi?"


"Jangan membuatku pusing, Karan! jawab saja pertanyaan ayah!"


"Sudah, Reynold! tidak perlu kau tanggapi ucapannya yang ngelantur itu! kau lihat sendiri putramu makin kesini makin kurangajar!" sekarang giliran nenek pak bos yang bersuara.


Astaga nih nenek tua harusnya jadi penengah malah jadi kompor mleduk. Benar-benar tak patut


"Sebaiknya kau keluar, karena ini pembicaraan intern keluarga!" tatapan tajam pak Reynold beralih ke arahku, aku auto kicep.


"Jangan pergi tetap duduk disini!" pak Karan mencegah aku yang berniat bangkit dari situasi menegangkan ini.


"Apa yang kau lakukan, Karan!"


"Dia salah satu keluargaku juga, jadi tidak masalah kalau dia mendengarkan percakapan ini..." kata pak bos, yang menurutku udah nantangin banget.


"Kenapa, Nek? kenapa wajah nenek seperti itu? tidak mungkin kan nenek baru tahu kalau aku memiliki saudara lain dari pihak ibuku?" kata pak bos sembari terus menggenggam tanganku yang pasti udah keringetan.


...----------------...