Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kabur-Kaburan


"Maksudnya beresin gimana, oy?" aku ulangi pertanyaanku.


Barraq minggirin mobilnya dulu, "Maksudnya, aku udah bilang kalau aku udah tau apa yang dia lakukan. Awalnya dia mengelak, tapi setelah aku beberin bukti cctv itu, dia langsung kicep dan minta maaf. Dia minta jangan dipolisikan, karirnya lagi dipuncak. Ada skandal dikit aja, bisa nggak laku dan turun panggung!" jelas Barraq.


"Kita di dunia showbiz, yang dijaga tuh image, Rev! sekali image ancur, susah buat balikinnya lagi. Bisa, tapi butuh waktu lama..." lanjut Barraq.


Aku manggut-manggut aja sok ngerti, padahal mah otakku lagi mikirin yang lain. Agak nggak nyantol juga si Barraq ngomong apaan tadi.


Mobil ini bergerak menuju apartemen dan kita berpisah di unit masing-masing. Badanku masih nggak enak, tapi aku inget kalau habis dari makam harus langsung mandi.


Jadilah, aku siang bolong kayak gini mandi. Selesai bebersih aku keringin rambut, biar nggak meriyang. Sepintas aku keinget tentang kebohongan Ravel. Ini yang bener yang mana sebenernya. Ravel itu mau nikah atau nggak. Kenapa dia bilang ke Ridho aku yang mau nikah, tapi ke aku dia minta restu. Sampai sini otakku jadi panas.


Mungkin karena kecapean, aku tidur dari siang sampai langit jadi gelap. Banyak miskolan yang masuk ke hapeku. Kode akses udah aku ganti, jadi siapapun nggak ada yang bisa ucluk-ucluk masuk kesini.


Aku kebangun karena cacing di perut udah pada berontak minta jatah. Pokoknya pulang dari makam Rania, badanku tambah nggak enak, pusing loyo nggak bertenaga.


"Apa emang aku masih harus dirawat ya? tapi kalau di rumah sakit terus juga bosen..." ucapku yang cukup isi perut pake roti yang besok udah masuk tanggal kadaluarsa.


"Masih bisa dimakan lah," ucapku yang nyomot roti sekuasanya


Dengan badan yang lemes, aku balik lagi ke kamar dan mengabaikan hape yang terus aja bunyi.


Paginya, aku niat ingsun berangkat kerja lebih pagi daripada biasanya.


"Selamat pagi, Bu..." ucap Karyawan yang papasan sama aku.


"Pagi," aku jawab lirih.


Aku yang pakai rok span hitam selutut dan blouse warna biru pun duduk di kursi kebesaranku dengan pasrah. Nggak lama Arlin masuk.


"Nona, apa anda sudah sehat?" tanya Arlin basa basi.


"Ya gitu deh, Lin. Ada apa?"


"Ada berkas yang harus Nona tanda tangani," Arlin nyodorin berkas dan aku bubuhkan tanda tanganku setelah baca isi di kertas itu.


"Nona, anda sangat pucat,"


"Masa sih? tapi aku baik-baik aja. Oh ya, kamu boleh balik ke tempat kamu," ucapku


"Saya panggilkan dokter, saya khawatir dengan keadaan anda, Nona..." ucap Arlin casciscus, aku kibasin tangan lemes.


Dan ya bener, si Arlin manggil dokter buat meriksa aku di sini.


"Tekanan anda sangat rendah, sepertinya anda harus beristirahat dan jangan mengerjakan pekerjaan yang berat," kata dokter Arsen, dokter muda yang ganteng. Pinter juga si Arlin milihnya yang bening-bening buat dateng kesini.


"Iya, Dok..." sahutku lirih. Aku rebahan di sofa, berusaha buat duduk tapi dicegah dokter.


"Anda istirahat dulu saja. Kalau begitu saya permisi, Nona. Selamat pagi..." ucap dokter Arsen.


Dokter Arsen pergi, si Arlin masuk bawain teh anget, "Diminum dulu, Nona..."


"Makasih ya, Lin..." aku senyum tipis.


"Kalau butuh apa-apa, telfon saya saja, Nona. Nanti saya akan cepat datang kemari," kata Arlin.


"Iya, makasih, Lin..."


Arlin pergi ninggalin aku sendirian di ruangan ini. Lumayan enakan setelah perut diisi yang anget-anget. Aku balik lagi ke meja kerja, ngerjain apa yang bisa aku kerjain. Dan tiba-tiba pintu dibuka.


"Ada apa lagi, Lin?"


Aku mendongak, "Ridho?" gumamku dalam hati.


"Semalaman juga kamu nggak angkat telfon aku, kamu bikin aku khawatir!" ucap Ridho, tapi aku nggak ngejawab. Mataku masih sibuk dengan dokumen yang lagi aku teliti.


"Hubungan kita baru aja mau balik lagi, Dho. Tapi kau sia-siain kesempatan itu," ucapku dalam hati.


"Revaaaa?" Ridho mendekat dan merebut apa yang aku pegang.


"Apa-apaan sih?" aku tatap mata laki-laki ini.


"Kamu sebenernya kenapa?"


"Bukan aku yang kenapa, tapi kamu yang kenapa?" aku rebut lagi apa yang ada di tangannya.


Dia meluk aku, "Apaan sih, Dho. Ini kantor, jadi jangan macem-macem!" aku berusaha buat lepasin pelukan Ridho.


"Harusnya kalau kamu mau pulang dari rumah sakit, kamu kabarin aku dulu, Va. Jadi aku nggak kayak orang bego nyari-nyari kamu disana..." ucapnya.


"Udahlah, nggak usah lebay. Aku udah biasa ngurus apa-apa sendiri," kataku yang nglepasin pelukan Ridho.


Drrrtt!


Drrrrt!


Hape Ridho bunyi, "Ya halo, Mar? dicari pak Bagas? ya ya bentar, meetingnya masih setengah jam lagi kan? hemmm, iyaaa aku kesana bentar lagi,"


Ridho sakuin lagi hapenya, "Aku---"


"Pintu keluarnya sebelah sana," ucapku sambil nunjukin pintu.


Ridho mendekat, dia mencium keningku sekilas, "Pulang kerja aku langsung kesini," ucap Ridho sebelum pergi.


.


.


.


Dengan badan yang nggak enak kayak gini, aku ngelayab lagi keluar pulau. Bukan naik kapal tapi naik pesawat.


Pokoknya nggak tau kenapa aku pengen pergi aja udah. Nggak tau karena baper sama Ridho atau emang kepalaku udah terlalu stres ngadepin dunia tipu-tipu ini, pokoknya aku pengen pergi aja udah titik


Aku cuma bawa satu koper kecil aja, karena aku males ribet juga. Selama di perjalanan, aku fokus dengan hamparan langit biru dan awan putih. Nggak jarang aku malah kebablasan ngelamun karena terlalu fokus dengan apa yang aku lihat. Selama beberapa jam di atas sini, akhirnya pesawat ini landing juga.


Mungkin kalian menilai aku orangnya random banget, nggak jelas, sembrono dan lain sebagainya. Tapi yang jelas aku butuh waktu buat sendiri, dan pergi dari orang-orang yang bikin hatiku cenat cenit nggak karuan.


Begitu mendarat di bandara, aku langsung pergi ke penginapan. Aku lagi nyari suasana pantai, jadi penginapanku ini view-nya langsung laut biru.


Hape sengaja aku matiin, aku beli hape dan nomor baru, gunanya ya buat pesen-pesen makanan atau kendaraan selama disini. Arlin aja nggak tau loh kalau aku kabur kemari.


"Hah, capek banget!" aku rebahan di ranjang empuk. Sengaja aku buka tirainya biar vibes liburannya kerasa, kalau ditutup kan sama aja kayak di apartemen.


"Nggak tau salah atau bener kabur-kaburan kayak gini, yang jelas aku pengen nenangin diri dan nggak mau mikir apa-apa dulu..." gumamku sambil memandang langit-langit.


"Assalamualaikum, para penghuni tak kasat mata. Please jangan nampakin diri kalian, itu pun kalau kalian ada. Udah, kita di alam masing-masing aja, pikiranku lagi ruwet!"


Setelah kenyang rebahan, aku segerin badan dengan nyatronin tempat spa yang ada di penginapan ini. Enak banget lah, badan di pijetin semua, pundak juga agak entengan.


"Kayaknya butuh lebih dari seminggu buat mulihin otak deh," gumamku sambil menikmati aroma terapi yang bikin tenang jiwa dan raga.