Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Namanya Barraq


Pas dibuka ternyata...


Penghuni unit sebelah, pria yang entah jomblo atau nggak yang jelas good looking? Bukan, tsaaaayy! Pas dibuka ternyata nggak ada orang. Ini siang bolong loh, ya. Nggak ada setan jam segini keluyuran.


"Isshhh, siapa sih yang iseng?!" aku tutup lagi.


Hati sabtu yang sangat membingungkan, aku balik lagi ke ruang tengah, mau ngusir manusia yang lagi pewe-pewenya duduk sambil pegang hape.


Emang hati suka aneh, kalau nih orang nggak ada, dicari-cari. Giliran nongol di depan mata eh malah diusir-usir. Tapi gimana, si Ridho harus di kasih tahu dan tempe biar dia ngerasain apa yang aku rasain ketika dia ngilang secara tiba-tiba. Walaupun itu juga gara-gara pak Karan.


"Ehm, udah siang!" ucapku ambigu. Maksudnya mau ngomong 'ehm, sana cepetan balik!', lah kok malah yang muncul kalimat yang nggak diharapkan.


"Kamu dah laper?" tanya Ridho.


"Mau makan apa, ntar aku pesenin..." lanjutnya.


"Udah siang, waktunya tamu pulang..." ucapku.


"Aku nggak yakin kamu itu jadi asistennya yang punya perusahaan. Masa iya, dia milih asisten model begini, kerjaannya leha-leha nggak jelas. Gedeg banget pasti bosnya!" aku nyindir.


Ridho bangun dari posisinya, dia duduk dengan benar dan naruh hape diatas meja.


"Kamu tau nggak, Va? kita bakal jadi mutiara kalau ditemukan orang yang tepat!" kata Ridho sotoy.


Kita berdua makan siang bersama, habis itu Ridho pamit pulang. Akhirnya aku sendirian lagi di tempat ini.


Hari menjelang sore, aku nggak ada niatan buat hang out kayak orang-orang pada umumnya yang udah pasti riweuh banget kalau udah nyangkut yang namanya malam mingguan.


Hapeku bunyi.


"Halo, Ya kenapa Vel?" ternyata si Ravel yang nelpon.


"Mbak, ada waktu?"


"Iya ada, kenapa?" aku balik nanya.


"Aku mau ke tempat, Mbak..." ucap Ravel.


"Kesini?" alisku terangkat, pasalnya Ravel itu kuliah beda kota dengan tempat tinggalku. Jadi aneh aja rasanya tiba-tiba dia bilang kalau mau kesini.


"Iya, jam 5 an aku nyampe di apartnya mbak


Ya udah bye!" ucap Ravel main nutup telpon.


Dasar adik durhakaaaaa, main nutup telfon aja mbaknya juga belum selesai ngomong. Sabaaaar sabar.


Aku liat sepi banget nih kulkas, aku akhirnya mutusin buat turun buat beli sesuatu di minimarket yang ada di bawah.


Pas lagi milih-milih minuman dingin, eh ada yang nyapa.


"Beli apa?" tanya seorang pria. Otomatis aku nengok, eh ada tetangga ganteng. Dia ngebuka soft case yang ada di sampingku.


"Aku?" aku nunjuk diri sendiri.


"Iya, siapa lagi?"


"Oh, aku cuma mau beli minuman sama cemilan..." aku nyaut kayak orang kurang konsentrasi.


"Sama," ucapnya, lalu tersenyum.


"Oh ya, kita udah lama bertetangga tapi belum pernah sekali pun kenalan. Kenalin namaku, Barraq!" dia ulurin tangannya yang macho.


"Reva..." aku menyambut jabatan tangannya.


Ketemu di minimarket berakhir dengan ngobrol tipis-tipis sambil jalan ke unit kita yang ada di lantai atas. Tapi aku ngerasa, daritadi ada yang ngikutin kita, tapi pas aku nengok ke belakang, nggak ada siapa-siapa.


"Kenapa, Va?" tanya Barraq.


"Nggak ada apa-apa, cuma..."


"Cuma apa?" tanya pria itu bingung.


"Lupain ajah, nggak ada apa-apa kok," ucapku.


Ternyata kita udah nyampe di unit kita yang saling bersebelahan.


Aku yang mendengar itu cuma senyum aja, baru kali ini ada yang muji badan aing bagus. Nggak sia-sia kan aku diet selama ini.


Wuzzzzzz...


Ada sesuatu seperti angin yang tiba-tiba aja lewat. Bodo amat, aku main masuk aja ke dalam. Naruh barang belanjaan di meja makan dan duduk mencerna ucapan Barraq tadi.


Konyolnya, selama kita bertetangga baru kali ini aku tau namanya, sekaligus aku baru tau kalau passion dia ada di dunia modeling.


Beuuh, kayak aku banget tuh. Jiwa-jiwa supermodelku sedikit terpancing. Aku masukin minuman ke kulkas dan ngibrit ke kamar.


Bruukkk!!


Aku tutup pintu dan berjalan ke standing cermin yang ada di ruang ganti.


"Emang, bentukan model kan kayak begini ya. Kaki jenjang, rambut panjang, pinggang nggak ada lemak. Emang badan model goals banget ini. Tapi ketuaan nggak sih kalau aku ikut casting?" ucapku sambil mutar-muter kayak gasing di depan cermin.


Mencoba pose-pose absurd kayak nemplok di dinding, pusing kepala jenglot eh barbie. Atau pose mbok jamu sakit pinggang. Aku bukan tergiur bayaran sebagai model, aku cuma pengen fotoku ada di cover majalah.


Dan keabsurdan ini terganggu dengan suara bell dari arah depan.


Ting!


Tong!


"Iih, ganggu banget sih!" aku ngedumel.


Dan dengan muka yang ditekuk, aku buka pintu. Ternyata si Ravel yang nongol. Adekku yang satu itu pakai rok dengan baju yang udah kayak kekecilan.


"Masuk!" ucapku lebarin pintu.


Ravel duduk di sofa ruang tamu, sedangkan mataku nggak lepas dari bocah satu ini. Aku ringgalin dia, dan masuk ke kamar buat ngambil beberapa potong baju.


"Heh, anak gadis pakai baju yang bener napa! mbak nggak suka ya paha diumbar-umbar kayak gitu!" Aku kasih beberapa bajuku ke Ravel.


"Mbak nggak ngerti style anak muda, pantesan aja seret jodoh!" kata Ravel.


"Apa kamu bilang?"


"Nggak ada," Ravel mengelak, padahal jelaa-jelas aku denger apa yang dia ucapin tadi.


"Cepet sekarang ganti!" ucapku tanpa senyuman sambil menunjuk kamar tamu.


"Ck, mbaaaak..." Ravel merengek.


"Nggak ada bantahan, Vel. Kalau kamu nggak mau nurut, mbak bilangin sama mama. Biar kamu dipindah kuliahnya deket sama rumah, biat apa kamu jauh-jauh merantau tapi malah bikin kamu amburadul kayak gini!" aku udah keluar tanduk.


"Mbak Reva tuh sukanya ngancem!" Ravel main ngeloyor pergi aja dengan muka yang cemberut.


"Astagaaa, anak itu makin menjadi aja!" aku pusing ngadepin adek perempuanku itu. Emang Ravel lagi masa-masa nyari jati diri, jadi semua pengen dia coba. Makanya kalau salah arah dikit perlu dibenerin, awbel dia melenceng terlalu jauh.


Setelah beberapa saat Ravel kembali dengan pakaian yang lebih layak.


"Nah, gitu kan enak diliat...." aku nyuruh dia duduk lagi.


"Jadi kapan kamu dateng kesini? sama siapa? naik apa? kok nggak ngabarin mbak sebelumnya?" aku dengan tatapan menyelidik.


"Aku kesini sama Dilan,"


"Dilan-da musibah?" aku ngledek.


"Jangan sembarangan ganti nama orang deh, namanya Dilan Prayoga, dia sekalian mau ketemu mamanya, kan dia asli orang sini..." ucap Ravel.


"Jadi, kamu kesini kapan? hem?"


"Tadi pagi mbak Revaaaaaaaa, aku berangkat pagi ini..." Ravel nahan emosi.


"Mbak nanya kayak gini tuh karena mbak sayang sama kamu dan peduli sama kamu, Vel. Mbak nggak pengen terjadi hal-hal yangenjadi malapetaka di keluarga kita..." kataku nyerahin Ravel.


"Iya iya iya,"


"Jadi sebenernya, kamu kesini ada perlu apa sama mbak?" tanyaku.


"Ehm aku..." Ravel menggantung ucapannya.