
"Kamu udah siap aja, Va?" ucap Ridho saat melihat aku yang sudah berpakaian rapi. Aku males ngeladenin Ridho, setelah kesakitan yang aku alami pagi tadi.
"Nggak usah manyun gitu, itu muka nanti jadi mulus lagi. Kan udah dapat garansi dari si Bos," Dia ngomong sambil nahan ketawa.
Aku berdecak, " Ck, nggak usah ngeledek, deh!"
Daripada ngeliatin tuh orang mending aku cek lagi, ini jidat nambah nongnong apa nggak.
"Mooon...!" Ridho teriak manggil Ramona, adeknya.
"Ya, Mas! bentar..."
Nggak lama tuh bocah nongol dengan anduk yang masih melilit di kepalanya.
"Ada apa, Mas?" tanya Mona.
"Masuk kelas jam berapa?" tanya Ridho sambil buka dompet.
"Jam 1 siang, Mas..."
Ridho nyodorin selembar uang berwarna merah, "Nih, buat beli makan nanti malem. Barangkali mas pulang telat,"
Yang aku salut banget dari Ridho, dia kayak bertanggung jawab banget sama adeknya. Aku cuma melongo melihat interaksi mereka. Berasa adem banget nggak, sih? Liat dua orang yang berasal dari satu rahim yang sama itu bisa akur dan saling melindungi. Sedangkan aku? punya adek perempuan satu tapi sering banget gontok-gontokkan. Aku jadi inget sama Ravelia, dia baru aja naik kelas 3 SMA. Mama sering banget ngomelin tuh bocah gara-gara suka banget belanja barang-barang yang nggak guna. Terakhir mama cerita, dia pusing banget karena hampir tiap hari ada aja teriakan, "Pakeeeeet...!"
Aku kaget saat bahuku ditepuk, "Jangan suka dibiasain ngelamun," kata Ridho.
"Siapa juga yang ngelamun?" aku ngeles kayak bajaj. Mona udah balik lagi ke kamarnya, lanjutin nonton drakor sambil nyaplok cemilan kentang.
Ridho yang hari ini emang dikasih jatah libur pun duduk di kursi depan aku, "Untuk sementara waktu cincin itu biar aku yang simpen,"
"Apa nggak bahaya, Dho?" aku nanya serius.
Ridho terkekeh, "Udah sadar kalau cincin itu bukan cincin biasa?" bisa aja nih orang kalau nyindir.
"Nggak usah mulai, deh!"
.
.
.
.
Jam 10 pagi, orang suruhan pak bos datang. Aku minta Ridho supaya mau nemenin, tapi tuh orang ngehindar mulu, "Minta siapa, kek! ogah banget aku suruh nungguin," Ridho sewot.
Aku gedor pintu kamarnya, "Please, Dho! paling juga nggak lama. Aku takut setelah kejadian semalam, Dho. Kamu kok tega banget sih sama temen yang lagi kesusahan kayak gini?"
Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari dalam, "Kenapa harus aku, sih? aku mau lempengin badan, Reva! jangan gedor pintu lagi. Awas kamu!" Ridho nunjuk muka ku pakai jarinya dan segera membanting pintu.
Sejujurnya antara lagi mager dan emang udah ketergantungan banget sama si Ridho? Aku pun nggak tau, pokoknya aku pengen ditemenin. Titik.
Males pake banget, karena perempuan suruhan pak bos dateng yang diantar supir, wajahnya lempeng nggak ada ekspresi.
"Ck, dasar nyebelin!" aku mengangkat tanganku ingin memukul pintu kamar Ridho tapi nggak jadi. Keburu yang punya kamar ngebuka pintu.
"Cepetan!" Ridho jalan ngelewatin aku dengan out fit yang 'uh' banget!
Nggak muna ya Ridho ini tampang ganteng, badan oke, tinggi proporsional kayak si bos galak. Beda isi dompet doang mereka mah!
Tanpa lambe yang suka nyap-nyap nggak jelas, si Ridho itu masuk ke kategori boyfriend material banget pokoknya.
Eiiiiitsss!
Aku muji dia bukan berarti aku naksir. Kita udah nyaman sebagai temen yang saling merugikan. Sampai sini paham, ya?
.
.
Dan sekarang, kita udah sampai di rumah sakit yang uwow banget. Aku disuruh masuk ke dalam ruangan khusus. Aku sih TBL TBL gitu ( Takut Banget Loh!).
"Ini saya nunggu dokter siapa lagi, Mbak? emang keadaan saya separah itu, ya?" aku nanya sama perempuan suruhan pak bos, namanya Dila.
"Tinggal satu dokter lagi, Nona. Dokter kecantikan," kata mbak Dila.
"Va, tinggal satu dokter ini. Aku ke toilet bentar, ya?" ucap Ridho, tega banget dia ninggalin aing sendirian di mari berdua sama si lempeng ini.
Aku baru mau ngomong, Ridho udah nyerobot duluan, "Kamu bukan lagi mau ngebrojolin anak yang harus banget aku tungguin, Reva! udah ah, aku nggak tahan. Kamu diem aja disini, nanti aku balik lagi,"
Tanpa persetujuanku Ridho langsung pergi gitu aja. Dan tiba-tiba aja hapenya mbak Dila bunyi, "Saya mau angkat telepon dulu diluar,"
Dan tinggalah aku sendirian disini, "Lama banget tuh dokter datengnya!" aku udah mulai jenuh, kepala ku juga udah mulai kliyengan.
"Haaaaaah..." ada suara nafas orang ditelinga kiri ku. Aku langsung nengok, nggak ada orang. Aku mengusap tengkuk, yang udah ngerasain hawa yang nggak biasanya. Lampu beberapa kali kedap-kedip. Aku coba untuk tetap tenang, sebelum terdengar suara, "Hihihihihi..."
Dan saat itu aku langsung berdiri, mata ku melirik ke seluruh penjuru mata angin.
"Hahahahhahahahah..." suara tawa melengking dibelakangku, aku langsung berbalik. Tak ada siapa pun.
"Hhh ... hhh ... hhh," nafasku mulai tak beraturan, susah payah aku menelan salivaku.
Dan...
dreng dreng deng deng deeeeeeng!
"Aaaaaaaaaaaa....!" aku menjerit.
Ada wajah dengan posisi terbalik yang sangat menyeramkan berada tepat di depanku. Mulut yang mengaga dan mata yang melotot membuatku reflek memukulnya dengan tasku.
Bugggg!
Aku langsung lari dan keluar dari ruangan itu. Mbak Dila yang katanya mau terima telfon di luar ternyata nggak ada. Lorong itu sepi.
Beberapa lampu menyala kemudian mati. Aku berlari dan sesekali melihat ke belakang. Sosok itu mengejarku.
"Hahh ... hhh ... hahh," nafasku memburu begitu juga dengan jantungku yang lagi marathon dadakan.
Aku sesekali menoleh lagi ke belakang,
Dan...
Brukk!
Aku menabrak seseorang. Tangannya menangkap tubuhku yang hampir jatuh.
"Ridhooooo!" teriakku histeris.
"Ada apa, Va? kamu kenapa?"
"Kita harus pergi sekarang, Dho! please!" aku menangis mencengkram lengan Ridho dengan kuat. Dan benar saja, suara lengkingan itu terdengar, bahkan semakin keras.
"Ikut aku!" Ridho menarikku dan mengajakku untuk berlari lagi.
Sampai di depan lift, Ridho langsung memencet tombol anak panah ke bawah.
"Ayo, cepat buka!" aku udah nggak kuat, tanganku gemeteran.
"Aaargggh, sial!" Ridho mengerang.
"Ridhoooo..." aku udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi selain memanggil nama pria yang kini sedang menekan tombol lift beberapa kali.
Dan besyukurlah pintu besi itu terbuka.
"Masuk!" Ridho menarikku masuk ke dalam kotak besi. Tangan Ridho terulur untuk menekan tombol tutup pintu.
Aku semakin panik saat makhluk itu semakin dekat, namun pintu lift tak juga mau menutup.
Sampai akhirnya....