Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kesurupan


Tapi, ternyata tangan itu malah memegang lagi kedua bahuku kuat.


Aku pegang dan kupelintir sambil muter badan ternyata itu tangan seseorang.


"Mbak Luri?" gumamku.


Tangan tadi aku lepasin seketika.


"Sory, aku pelintir tadi. Soalnya ngagetin!"


Mbak Luri diem aja. Matanya melihatku tanpa berkedip. Merasa ada yang aneh, aku mencoba buat menjaga jarak dengan wanita kemayu yang berpotensi merebut ayang Ridho dariku.


"Mbak udah sembuh? kalau udah sembuh mbak tunggu disini, aku panggil Ridho dan mas Rahman," kataku yang nyari-nyari alesan gitu buat kabur dari sini.


"Kenapa?" tanya mbak Luri.


"Pokoknya mbak tunggu disini aja, bi-biar aku kesana ... iya kesana, ta-tadi..." aku susah buat ngomong, apalagi ngeliat matanya yang melihatku dengan tajam.


"Tadi apa?" mbak Luri nanya balik.


"Tidak perlu kesana, kau disini saja..." lanjut mbak Luri yang bahasanya mulai aneh.


"Ehm," aku cuma bisa berdehem, tapi mata tetep waspada.


Mbak luri menarik satu sudut bibirnya, crispy eh creepy. Aku dikit-dikit mundur cantik.


Tapi...


Tadaaaaa!


Matanya langsung melirik sinis!


Fix, mbak Luri lagi kerasuuuuukan ini. Aku udah pengalaman masalah beginian. Pengalaman yang nggak ngenakin, beneran. Aku masih traumahhhhh di pontang-pantingin, beneran deh.


Ayang Ridho mana sih, tolongin aing dimari ya ampuuun. Bener kan tadi harusnya aku ikut kangmas, kalau kayak gini aku harus apa?


Mbak Luri berjalan satu langkah demi satu langkah. Aku pun nggak mau kalah, aku mundur aja dikit-dikit.


Lama-lama dia makin dekat aku pun berbalik dan berniat berlari tapi sayang seribu sayang. Harapan tinggal harapan karena rambut panjang hitam dan semampai yang kucir kuda ini malah ditarik dengan enaknya.


"Mbakkkk lepas rambut saya, ini bukan tambang! pedes tau nggak kulit kepala sayaaaaaaa!!!!!!" aku ngegas puuuuoool.


"Hahahahhaaha, masa sih?"


"Sini aku jambak balik!" tanganku berusaha menggapai kepalanya tapi kan nggak bisa, dia ada dibelakang aku tanganku kayak lagi ngeraih sesuatu yang sia-sia.


Dan...


Braaaaak!!!!!


Dia mendorongku ke pohon.


"Aaaaaaaawhhh!" aku menjerit, aku ngerasa jidatku benjol.


"Revaaaaaaaaa!" ada suara seseorang yang sangat familiar.


"Adek sepupu?" aku ragu karena sekarang sosoknya terlihat seperti ganda. Ya aku ngeliat pak Karan jadi dua.


"Nggaak ... nggak, nggak mungkin ada pak Karan! ini pasti setan yang menjelma jadi pak Karan!"


Aku mundur sambil pegangin kepalaku yang berdarah.


"Hahahahahhaaha!" mbak Luri ketawa,dia berjalan sempoyongan.


"Dasar setan nggak ada akhlak! jidatku benjol tau!" aku ngedumel, suara lengkingannya bikin kepalaku tambah pusing.


"Revaaaaa!" panggil pak Karan lagi.


"Kenapa sih kalian pada ngegeroyok aku? aku salah apa?"


Perlahan rasa pusingku berkurang berganti rasa nyut-nyutan di jidat. Sosok pak Karan yang semula ganda kini menjadi tunggal.


"Sudah saya duga pasti ada yang tidak beres! laki-laki macam apa dia meninggalkan kamu sendirian disini!" pak Karan berada di depanku, dia regangkan tangannya agar sosok mbak Luri nggak bisa meraih aku.


"Bapak setan apa bukan?" aku nul-nul pundaknya. Mastiin ini orang beneran atau hanya halusinasiku aja.


"Astagaaa, kamu ini nggak bisa bedain mana setan mana orang?" pak Karan keluar galaknya.


"Gimana bisa bedain? noh yang manusia aja bisa kerasukan setan!" jawabku.


"Atau jangan-jangan aku ini lagi mimpir karena nggak sengaja ketiduran!" lanjutku.


PLAAAAKKK!


PLAAAAAKK!


Aku nampar muka sendiri bolak balik!


"Aaawhhh! sakittt bego!" aku marahin tangan sendiri karena kekencengan pas nabok.


"Berarti ini nyata!" aku pegangin pipiku yang panas.


Kalau ini nyata, bagaimana bisa pak Karan dateng kesini. Gimana bisa?


"Dia siapa?" tanya pak Karan.


"Dia yang mana?"


"Wanita ini...!"


"Dia, mbak Luri. Panjang jelasinnya, yang jelas dia lagi kerasukan, dia ngincer aku!" ucapku.


"KALIAN BERISIK SEKALIIIII!" teriak mbak Luri, dia ngacak-ngacak rambutnya.


Dan berlari ke arah kami, namun pak Karan segera mendorong aku supaya menjauh.


Sat set sat set.


Ternyata ada beberapa orang yang menghampiri kita. Mereka menangkap mbak Luri.


"Aaaaaarghhh lepaaas! lepaaaaaass!" mbak Luri berontak. Tapi karena jumlah orang yang memeganginya lumayan banyak, dia nggak bisa begitu berkutik.


Salah satu diantara mereka mengeluarkan tali dan mengikat mbak Luri di pohon. Aku ngeliatnya nggak tega.


"Jangan! jangan diikat seperti itu!" kataku.


Bagaimanapun diikat pasti rasanya sakit, nggak tega lah ngeliatnya begitu walaupun sekarang posisinya sedang ada yang mendiami raga mbak Luri.


"Jangan diikat di pohon! cukup ikat tangan dan kakinya supaya tidak bergerak!" perintah pak Karan.


"Baik, Tuan!" ucap salah satu bodyguard-nya adek sepupu.


"Aaarrrrghhhhh!"


Aku ngeliat mereka ngiket mbak Luri, sementara wanita itu masih berteriak dan berusaha untuk melepaskan ikatan yang sepertinya sia-sia.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya pak Karan. Dia mengusap darah yang mengalir di pelipisku.


"Aawh! sakit, jangan disentuh!" aku pegang tangan pak Karan.


"Kamu berdarah!" lanjutnya, dia menunjukkan darah yang menempel di jarinya.


"Bawa kotak obat kesini, cepat!" pak Karan berteriak pada keempat orang yang menjaga mbak Luri.


"Aaarrrrrghhh, lepaaaass!" mbak Luri tereakan lagi.


Seseorang membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah kotak obat.


"Ini, tuan!" orang itu menyodorkan sebuah kotak pada bosnya yang galaknya nggak pilih kasih.


"Duduk!" suruh adek sepupu.


Aku manut aja, karena jidatku sakit kebentur pohon segede gaban.


"Seandainya saya tidak mengikuti kamu, kamu pasti sudah dicelakai wanita itu!" Pak Karan mulai membersihkan lukaku dengan cairan yang rasanya perih, aing hampir pingsan karena nahan sakitnya.


"Aawhh!" aku meringis kesakita .


"Ceroboh sekali Ridho! ninggalin manusia macam kamu disini!" kata pak Karan yang daritadi ngoceh mulu kayak burung beo, dia berniat memasang plester di jidatku tapi gagal karena...


"AAAAAAAARRRGHHHHHH!" mbak Luri teriak dan melepaskan ikatan tangan dan kakinya.


Ke-empat orang merupakan pengawal pak Karan segera menangkap mbak Luri tapi satu persatu laki-laki iru diangkat dan dilempar begitu saja hingga terkapar.


Aku melongo, karena seorang wanita mana mungkin punya kekuatan sebesar itu.


"Paaaak, awassss...!" aku nunjuk mbak Luri yang udah berlari ke arah kita dengan membawa kayu.


BRAAAAAKK!


Aku dorong pak Karan kesamping.


"Revaaaaa!" teriak pak Karan.


BRRAAAAAAK!


Kayu itu mengenai pohon yang ada di belakangku karena aku menghindar bergerak ke samping.


Aku berusaha untuk kabur. Tapi mbak Luri nggak tinggal diam, mengetahui incarannya mau kabur dia pun menarik rambutku lagi.


Kenapa setan dibelahan bumi manapun paling demen ngejambak rambutku yang udah susah payah aku rawat sedemikian rupa.


"Aaaaaaaaaaawh!"


Tap!


Tap!


Tap!


Ada langkah kaki yang berlari dari kejauhan mendekat ke arahku.


...----------------...