
"M-maaf, Pak! eh Dek ... eh..." aku jadi bingung harus manggil dia apa.
"Aaawhhh, kamu kenapa nginjek kaki saya?"
"Nggak sengaja! beneraaaan!" aku balik lagi nggak jadi ke toilet. Aku duduk lagi liatin kaki mana yang nggak sengaja aku injek.
"Keinjek gitu aja masa sakit?"
"Yang kamu injek itu tulang kering, Reva! kamu bukan balita yang berat badannya cuma 10 kilo!" ucap pak Karan.
"Iya iya maaf. Sini aku coba liat?"
Aku ngerasa bersalah, ya emang aku yang nggak hati-hati. Aku coba nyingkirin tangan pak Karan dari kakinya.
"Yang ini yang tadi keinjek?" tanyaku, dia ngangguk.
Aku coba pijit, ya biar agak ilang sakitnya. Sejujurnya aku nggak begitu ngerti harus diapain nih kaki si mantan bos. Tapi ya udah lah aku pijit-pijit aja, biar dia nggak ngomel-ngomel bae.
"Udah ya, udah nggak sakit kan?" ucapku karena tanganku udah pegel.
"Belum! baru juga sebentar, kaki saya masih sakit itu!"
"Kalau saya ngompol disini, Bapak yang tanggung, ya?" ancamku karena aku emang udah nggak tahan.
"Ya sudah sudah sana pergi!" pak Karan kibasin tangannya nyuruh aku buat cepat-cepat ke toilet.
Aku yang mendapatkan lampu hijau buat kabur pun nggak menyia-nyiakan kesempatan. Berhubung ketemu sama air, aku sekalian mandi. Dan pas aku keluar dengan tampilan yang lebih seger, di depan pintu udah ada pak Karan.
"Astaghfirllah, ngagetin tau nggak, Pak!" ucapku. Tapi pak Karan diem aja.
"Lah kenapa itu orang? perasaan yang keinjek kakinya bukan otaknya?" gumamku dalam hati.
Aku balik lagi ke ruang tamu, dan disana aku nemuin siapa coba? Bagus! Pak Karan.
"Loh, bukannya tadi ... Bapak--"
"Kamu ngomong apa?" serobot pak Karan yang lagi duduk di bawah dengan hape di tangannya.
"T-tadi, Bapak masuk--"
"Masuk kemana? ngomong yang jelas!" pam Karan sakuin lagi hapenya.
"Astaga, tadi Bapak masuk ke kamar mandi persis setelah aku selesai mandi!" kataku nunjuk ke arah belakang.
"Jangan ngarang kamu, Reva! kalau kamu berniat menakut-nakuti saya, kamu tidak berhasil. Karena saya bukan tipe penakut seperti kamu..." kata pak Karan.
"Ya kali saya mau nakutin? buat apa coba? beneran, Pak! tadi tuh Bapak masuk ke kamar mandi..."
"Saya daritadi disini, Reva. Kaki saya aja masih sakit, nih! kan kamu belum kelar mijitinnya..." dia malah nunjukin kaki yang menurutku baik-baik aja.
"Sini deh, Pak! kalau nggak percaya..." aku tarik pak Karan buat berdiri.
"Mana ada dua orang yang sama berada di tempat yang berbeda, Revaaaa!" ucap pak Karan yang aku paksa buat ngikutin kemana aku pergi.
Pintu kamar mandi tertutup, aku coba ketuk. Nggak ada sahutan.
"Nggak nyaut!" aku nengok ke pak Karan.
"Ya mana saya tau!"
"Ck, Bapak! mulutnya ih!" aku sebel dengan komentar pak Karan yang kesannya cuek banget. Nggak tau apa, perasaanku campur aduk saat ini. Antara pengen mastiin yang di dalem itu pak Karan, atau mending balik lagi aja anggap kejadian tadi nggak pernah ada.
Kelamaan mikir, pak Karan ngetokin pintu kamar mandi. Nggak ada sahutan sama sekali, pak Karan pun perlahan membuka pintu.
Kreeekkk!
Nggak ada siapa-siapa.
Pak Karan pun menutup pintu kembali, sedangkan aku lirik sana sini waspada.
"Kalian sedang apa?" tanya Ridho yang termyata habis pulang dari mushola. Karena ditangannya nyangking sajadah.
"Nunjukin saya dimana kamar mandinya!" jawab pak Karan cepat.
Pak Karan lalu masuk ke dalam kamar mandi, sebelum menutup pintu, dia nyuruh aku balik lagi ke ruang tamu.
"Udah sholat?" tanya Ridho.
"Belum,"
Dan nggak lama bu Ratmi dan pak Sarmin datang bersama dengan Bara juga.
"Nanti aku pinjem mukena dulu. Lupa bawa," aku tersenyum sama kangmas.
"Ya udah, aku naruh ini dulu!" ucap Ridho nunjukin sajadahnya, aku pun mengangguk.
Dan untungnya bu Ratmi datang jadi lamunanku nggak keterusan.
"Ehm, Bu saya mau pinjam mukena..." ucapku.
"Sebentar ibu ambilkan,"
Pak Karan keluar dari kamar mandi posisinya aku masih di depan ngejogrog aja kayak patung.
"Masih disini? ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain!" jawabku sambil nyengir.
Aku nyerosol aja masuk ke kamar mandi lagi buat ambil wudhu.
Abis itu aku temuin bu Ratmi buat minjem mukenanya. Ternyata pak Karan udah subuhan duluan, dia nggak pakai sarung cuma pakai sajadah buat alas sujud.
"Banyak berubah kayaknya..." aku bergumam.
"Awaaaasss jangan naksiiir!" celetuk Ridho yang ternyata denger apa yang aku ucapkan tadi.
"Ehm, nggak lah!" ucapku yang memposisikan diriku agak jauh dari pak Karan dan mulai melakukan kewajibanku sebagai muslim.
Abis aku sholat, ternyata Mona udah bangun
Tapi ya gitu dia kayaknya lemes banget.
"Masih lemes dia, Dho?" tanyaku pada Ridho yang lagi minumin Mona pakai air teh anget.
"Iya, kayaknya sih gitu..."
Aku denger ada suara mobil dateng.
"Siapa tuh?" aku nanya ke Ridho.
"Mungkin orang suruhannya adek sepupu kamu!"
"Masa sih?" aku ngerutin kening.
Aku ngelongok bentar dari jendela dan ya bener, pak Karan pagi-pagi ini udah nemuin orang.
"Bener kan?" ucap Ridho yang naruh cangkir di sampingnya.
Aku berbalik dan ngangguk, "Iya, Dho..."
Nggak berapa lama pak Karan masuk dengan satu koper di tangannya. Ternyata itu orang suruhannya kesini cuma buat nganterin baju ganti. Dan bukan cuma itu ada satu orang yang masuk buat naruh segitu banyaknya makanan.
Lah dikira kita lagi di puncak gunung yang nggak bisa masak nasi apa gimana, ya? Suka ngadi-ngadi emang ini mantan bos aing.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum," suara cewek.
"Waalaikumsalam," jawabku.
Dan ternyata yang nongol mbak Luri dengan membawa rantangan.
Bu Ratmi yang kebetulan keluar pun menyambut kedatangan mbak Luri.
"Masuk, Nak! maaf lesehan dulu, kursinya belum diberesin lagi..." kata bu Ratmi.
"Ini katanya ibu minta sekalian dimasakin..." ucap mbak Luri.
"Oh iya, ini pesenan ibu ya?" ucap bu Ratmi yang menggeser dua rantang yang dibawa mbak Luri.
"Terima kasih ya, Nak. Maaf ngrepotin..." kata bu Ratmi.
"Saya kira di depan itu mobil siapa, ternyata ada bu Ratmi kedatangan mbak Reva..." ucap mbak Luri ramah padaku. Dia juga senyum sama Ridho dan Bara sambil.nganggukin kepalanya sopan.
"Iya, Nak. Semalam mereka datang kemari..." ucap bu Ratmi.
"Apakabar mbak Luri?" tanyaku basa basi.
"Saya baik alhamdulillah, Mbak..."
Dan tiba-tiba saja, pak Karan muncul dengan outfit yang baru. Yang jelas bikin dia lebih kece dari sebelumnya.
"Nggak usah diliatin!" Ridho nyenggol lenganku.