
"Revaaaaa!" itu suara Ridho.
Brukkk!
Bahu Ridho dan pak Karan bertabrakan karena mereka nyamperin aing disaat yang bersamaan. Ah, tuan puteri sedang diperebutkan!
"Rrrrrrrghhhh! aaaargh!" teriak mbak Luri yang berlari ke arahku, tapi dengan sigap Ridho berbalik dan mencegah hal yang tidak diinginkan bisa terjadi. Mbak Luri kemudian dibekuk oleh mas Rahman dibantu ayang Ridho.
"Kenapa dia, Mas? kenapa dia mau menyerang Reva?" tanya Ridho yang kemudian mengunci tangan mbak Luri ke belakang.
"Ada yang merasuki raganya!" ucap mas Rahman.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya pak Karan. dia ngecek jidatku. Tapi mataku nggak lepas dari Ridho yang sekarang lagi megangin mbak Luri.
Mas Rahman membacakan doa yang disambut jeritan dari mulut mbak Luri, "Aaaaarrghhh,"
Jeritan yang dilanjut dengan tangisan pilu, " Hiks ... hiks..."
Mas Rahman terus saja membacakan doa-doa, dia menempelkan telapak tanfannya di punggung mba Luri yang tergalang rambut panjangnya.
"Aaaaaaaaaaaaarrrrghhh!, howwwwekk!" mbak Luri seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya, tapi kosong nggak ada apa-apa.
Beberapa kali, mbak Luri seperti orang yang sedang mual-mual, sebelum akhirnya dia pingsan.
Ridho yang ngerasa nggak ada perlawanan dari mbak Luri pun keliatan kayak orang bingung. Mungkin dia mikir seribu kali buat ngangkat dan mindahin mbak Luri. Dia cuma bisa nahan badan wanita yang udah nggak berdaya itu.
"Mas Rahman! ini tolongin saya!" seru Ridho sambil terus memandang ke arahku yang berdiri berdekatan dengan adek sepupu.
"Pindahin aja ke sana, Mas!" mas Rahman malah nunjuk ke tempat yang dibuat senderan mbak Luri sebelum kerasukan, yang waktu dia tertidur.
"Iya, ini tolongin!" kata Ridho.
Akhirnya ya, mau nggak mau Mas Rahman yang mindahin mbak Luri ke tempat yang dirasa cukup aman.
Sedangkan Ridho dia nyamperin aku.
"Aku obati lukamu," kata pak Karan.
"Bagaimana dengan orang-orangmu itu, Pak?" tanyaku yang masih menyebut adek sepupu itu, 'Pak' karena faktor kebiasaan.
"Mereka bisa mengurus diri mereka sendiri," jawab pak Karan.
Ketika pak Karan mengajakku pergi, Ridho langsung mencekal lenganku.
"Va...!" panggil Ridho.
Aku ngeliatin Ridho tanpa ingin berkata apa-apa, situasi ini begitu membingungkan.
"Va, kamu terluka, iya?" Ridho memegang kepalaku.
"Singkirkan tanganmu itu!" pak Karan menepis tangan Ridho.
Pak Karan berdiri menjadi penghalang antara aku dan Ridho. Dia melipat tangannya di depan dadanya. Mataku hanya bisa mengawasi mas pacar dari belakang badan pak Karan.
"Bapak minggir, karena saya mau lihat keadaan Reva!" kata Ridho sengit.
"Hahahaha, melihat keadaannya? atas dasar apa?" pak Karan ngeledek.
"Saya ini pacarnya, jadi Bapak tidak punya hak untuk melarang saya melihat kondisi Reva saat ini! Anda itu hanya saudara sepupu! lagi pula, bisa-bisanya anda mengikuti kami sampai kesini?"
"Apa tadi? pacar? ck, hah!" pak Karan berdecak lalu membuang napasnya sebelum berucap kembali.
"Masih untung saya ada disini, kalau tidak? Reva bisa menjadi sasaran wanita itu! kau ini mengaku sebagai pacarnya, tapi membiarkan Reva begitu saja di tengah hutan! mana tanggung jawabmu, hah?" pak Karan naik darah.
"Itu tadi karena---"
"Tidak ada alasan! kau dengar? ini hutan, segala kemungkinan bisa terjadi apalagi Reva ini paling bisa menyusahkan orang!" kata pak Karan sambil menunjuk wajah Ridho.
Wait, ini adek sepupu kok malah kesannya ngejatuhin aku dengan bilang bilang aku suka nyusahin orang? ini niat ngebela atau nggak sih, nyebelin!
Tapi ternyata Ridho nggak secemen yang aku kira. Dia bergerak cepat kesamping dan narik tanganku.
Tapi Ridho sabodo amat, dia tetep pegang tanganku dan maksa aku buat ngikutin dia.
"Apaan sih, Dho! sakit tau!" kataku, yang membuat Ridho berhenti.
Dia nyuruh aku duduk, dibelakangku ada pohon yang gede banget nggak jauh juga dari tempat mbak Luri berada yang masih dijagain mas Rahman.
"Duduk, Va. Biar aku liat luka kamu," kata Ridho.
"Nggak usah, aku nggak kenapa-napa!"
"Maaf, ya. Harusnya aku nggak ninggalin kamu disini!" kata Ridho.
"Maaf saja tidak cukup! MINGGIR!" pak Karan sengaja mendorong badan Ridho ke samping.
Dan sosok pria galak ini yang duduk di depanku, dia bawa kotak obat.
"Mau apa? nggak usah! aku bisa sendiri!" kataku.
Aku nggak mau lukaku dibersihin lagi, perih. Lagian rasanya juga udah mendingan. Tapi denfan cepat tangan Ridho menyambar apa yang dipegang pak Karan.
"Bapak pindah saja kesana. Biar saya yang melakukan ini!" kata Ridho yang bikin seorang Karan Perkasa mendidih.
"Aku yang membawa kotak ini jadi aku yang akan mengobatinya!" ucap pak Karan yang merebut obat merah dari tangan Ridho.
Aku yang pusing mendengar perdebatan mereka berdua pun memilih buat mengambil plester dan menutup lukaku sendiri.
"Sudah! kalian nggak usah ribut!" aku melerai dua orang yang sampai tahun depan nggak bakal selesai berdebat.
"Tapi luka mu belum dikasih obat, Va!" ucap Ridho.
"Nggak usah, liat kalian berdua cekcok mulu yang ada kepalaku tambah pusing!" aku menatap sinis kedua pria dewasa yang lebih mirip lagi rebutan mainan kesukaannya.
"Ya udah, kamu istirahat dulu aja..." kata Ridho ngusap kepalaku.
Kita duduk bertiga diem-dieman. Masih mending daripada denger pak Karan dan Ridho yang ribut mulu. Aku ngeliat orang-orangnya pak Karan mulai tersadar dan saling membantu satu sama lain.
Mas Rahman berjalan ke arah kita.
"Kayaknya kita nggak mungkin melakukan pencarian dalam kondisi seperti ini. Kita tunggu kabar baik dari pak Sarmin aja," kata mas Rahman.
"Pencarian?" pak Karan menatapku minta penjelasan.
Akhirnya aku pun menjelaskan secara rinci kenapa aku bisa sampai masuk ke dalam hutan ini. Nggak ada tujuan lain selain menolong mbak Sena yang hilang selama dua bulan. Pak Karan cuma geleng-geleng kepala.
"Kamu itu suka sekali melakukan sesuatu yang berbahaya, ya?" kata pak Karan.
"Kalau kamu mengatakan ini padaku, kamu tidak perlu menantang maut untuk datang kemari. Saya bisa mengerahkan orang untuk melakukan pencarian untuk orang yang kau sebutkan tadi!" kata pak Karan geram dengan tindakanku.
Sabodo amat lah, aku males ngejawabin karena nggak akan ada habisnya.
"Dan kamu! meninggalkan dia begitu saja, adalah kesalahan yang sangat besar! masih beruntung hanya kepalanya saja yang terbentur!" pak Karan menatap Ridho dengan tatapan yang menusuk.l.
"Saya meninggalkannya bukan tanpa alasan! tidak mungkin saya meninggalkan satu orang yang sedang sakit, sedangkan kami kemari untuk menyisir hutanencari orang yang hilang!" Ridho menatap balik pak Karan tanpa rasa takut.
"Sudah, sudah! jangan gaduh, tidak baik ribut di situasi seperti ini!" mas Rahman menengahi.
Sambil menunggu kelompok pak Sarmin datang, mas Rahman menyuruh kami untuk mendirikan tenda. Mbak Luri yang mulai tersadar pun kayak orang yang amnesia, dia nggak inget apa-apa soal kejadian tadi. Cara bicaranya kembali lagi jadi kemayu seperti biasanya. Sok lembut dan kalem dan itu bikin aing enek.
Para pengawal pak Karan pun mendirikan tenda buat si bos mereka.
"Reva, kamu ke tenda saya saja yang lebih luas. daripada di tenda ini yang begitu sempit!" kata pak Karan.
"Biarkan Reva disini. Bapak saja yang masuk ke tenda Bapak!" Ridho nyautin pak Karan.
"Astaga, kenapa mulai lagi?" mas Rahman menjambak rambutnya sendiri, stres dengan perdebatan Ridho dan juga pak Karan.
...----------------...