
Pak Karan naik mobil sendirian, sementara aku sama Ridho dan bayi kami.
"Kasian ya, Mas? kecil banget kayak gini..." ucapku ngeliat anakku yang beratnya cuma 2,5 kilo. Itu aja kebantu karena aku makannya nggak pilih-pilih waktu hamil.
"Inshaa Allah nanti cepet gede, nanti kita periksain juga ke rumah sakit. Mastiin anak kita dalam keadaan sehat nggak kurang suatu apapun. Kamu tenang aja, nggak usah banyak pikiran," ucap Ridho yang menggenggam sekilas.
Aku ngeliat ke depan. Nggak pernah nyangka kalau aku bakal mengalami hal yang bener-bener bikin aku ketakutan. Mungkin jika aku yang terluka, aku yang benjol, yang menjadi incaran makhluk-makhluk tak kasat mata itu aku nggak separno ini. Tapi ketika aku tau yang mereka incar anakku, darah dagingku seketika hatiku hancur. Aku takut banget kehilangan dia yang udah aku jaga sekian bulan di dalam perut.
Sekarang makhluk kecil yang masih suci dalam pikiran perkataan maupun perbuatan macam dasa daharma pramuka, lagi tidur lelap setelah semalaman ngeganjar mami sama papinya. Dia nangiiiis kejer mulu kalau malem.
Jujur aku sama Ridho belum kepikiran nama buat nih bocil. Boro-boro mikirin nama, kita aja kan masih shock dengan penuturan pak Sarmin yang nyeritain gimana mencekamnya aing pas ngebrojolin nih bayik. Sepanjang perjalanan aku sama Ridho ngebahas itu mulu.
Ketika aku nyampe di rumah. Ternyata mobil pak Karan juga ngikutin kita. Ya mungkin mastiin aku nyempe dengan selamat.
Masuk ke rumah keadaan kayak semula, sebelum peperangan dengan para demit dan lelembut terjadi.
"Ya allah, Ibu...." ucap mbak Rina yang menyambut kedatanganku dengan tangis. Aku kaget kok mbak Rina udah dateng rumah ini.
"Mbaaak? kapan balik ke sini?" tanyaku.
"Kemarin, Bu. Ya allah, ini dedek bayinya, Bu?" mbak Rina mewek.
"Maafin saya ya, Bu. Harusnya saya nggak pulang. Saya sudah denger ceritanya dari mbak Martini," mbak Rina nangis sambil ngeliatin bayi laki-laki yang aku gendong.
"Mbak Martini?"
"Itu pelayan yang aku suruh untuk menjaga rummah kamu," serobot pak Karan
"Ohhh, begitu..."
"Mbak nangisnya dipending dulu. Itu buatin minum buat pak Ridho sama pak Karan ya?" ucapku ngusap lengan mbak Rina.
Ya biar jangan nangis bae, bisa banjir air mata nih rumah.
"Oh iya iya, Bu..." ucap mbak Rina yang pergi ke dapur.
"Duduk dulu," ucapku sama pak Karan.
"Iya duduk dulu, Pak..." kata Ridho yang saat ini welcome sama adek sepupu aing.
"Oh ya, Reva. Tadi aku sempat menyuruh orangku untuk membereskan satu kamar di rumah ini. Dan disana sudah ada tempat bayi dan segala perlengkapannya, aku harap kamu tidak marah..." ucap adek sepupu.
"Iya makasih. Tapi sebenernya aku malah nggak enak, jadi ngrepotin terus. Kemarin aja yang bayar bu bidannya kami, sekarang perlengkapan bayi dibeliin juga. Aku jafi ngerasa nggak enak..."
"Aku kan om nya, jadi wajar kalau aku melakukan semua itu..." ucapnya dengan wajah yang setengah ikhlas.
"Aku pulang, ya?" ucap pak Karan yang bangkit dari duduknya.
"Loh, belum juga minum..."
"Aku harus ke perusahaan, ada hal penting yang harus aku kerjakan," ucap adek sepupu yang mendekat.
"Aku akan kesini lain waktu. Hey, boy! cepat besar ya? dan kita bisa menonton bola bersama," ucap pak Karan seraya ngelus pipi anakku yang jauh dari kata gemoy. Aku yang liatnya aja kasian.
"Dho, aku pulang..." kata pak Karan.
"Iya, Pak. Hati-hati di jalan," ucap Ridho.
Kita berdua nganter pak Karan sampai teras depan. Lalu kita berdua masuk ke dalam lagi.
"Loh, Bu. Pak Karannya mana?" tanya mbak Rina.
"Saya ke atas, saya mau istirahat dulu, Mbak..." ucapku sebelum meninggalkan mbak Rina.
Aku dan Ridho naik ke lantai atas.
As? kita belum ngabarin mama dan Ibu, Ravel dan juga Mona..." ucapku.
"Iya, nanti kita kabarin secepatnya, ya?" kata Ridho seraya mengecup kepalaku.
.
.
.
Kabar kelahiran anak kami yang begitu dadakan membuat dua wanita yang sangat mencintai kami berdua menjadi sangat antusias dan berbondong-bondong datang kemari.
Begitu juga dengan Ravel dan Mona yang nggak mau ketinggalan melihat putra kami "Reval Putra Menawan".
Sekilas namanya mirip sama si Ravel ya, tapi semoga aja kelakuannya jangan sampe niru ontinya. Amiit amiit jabang bayi. Pokoknya dia harus kalem dan anteng kayak maminya .
Karena muka udah plek ketiplek sama kangmas, aku minta namanya mendekati namaku, secara aku yang brojolin.
Mungkin belum pada tau kalau Reval menjelang maghrib pasti nangis kejer, alhasil mereka semua tuh heboh. Si bayik dioper sana sini.
Menurut uji coba, nggak ada satu pun yang bisa nenangin nih bayik kecil kecuali Bapaknya, Ridho.
"Ridho kemana sih, Va?" tanya Mama.
"Tauk nih. Udah tau bayiknya kalau jam segini ngegower dan cuma dia doang yang bisa diemin, eh jam segini masih keluyuran ajah tuh bapack bapack!" ucap Mona.
"Eaaaa eaaaa eaaa... eh, oeeee oeee," Reval masih aja nangis.
"Ibu telfon Ridho dulu..." ucap ibu mertua.
"Kamu kan maminya, masa nggak bisa ngediemin nih bocah, Va..." ucap mama.
"Cup, cup tayang..." lanjut mama yang ngegendong Reval.
"Kalau nggak gitu rambut Reva nggak bakalan rontok perkara sutresss ngadepin nih bayik, Maaah!" ucapku dengan rambut digelung asal.
"Mending namanya diganti, jangan Reval. Kayaknya kelakuannya itu mirip emaknya yang suka bikin heboh. Coba panggilannya diganti Putra kek, Awan Kinton Kek..."
"Heh, sembarangan banget ini congor adek kalau ngomong!!" aku ngruwes mulut si Ravel yang kompor banget.
"Maamaaaa, aku dikruwes sama Mbak revaaa!" Ravel kolokan.
"Reva, adek kamu lagi bunting jangan digituin. Lagian kalian itu udah pada nikah, yang satu udah punya anak, yang satu mau punya anak. Tapi kelakuan kalian itu loh bikin kepala mama nyut-nyutan!" ucap Mama.
Ibu Mertua malah ikut ketawa, "Biarin aja tho, Dek! Kalau kita di rumah sendirian, justru ini yang kita kangenin dari mereka , kan?"
"Kamu beruntung punya mertua sebaik Bu Rumi, coba kalau mertua kamu modelannya kayak kamu. Beuuh bisa panas nih rumah," ucap mama.
"Ya ampun, Maah. Anak udah kalem begini kok yaaaa..." aku jawabin mama.
Dan yang ditunggu-tunggu dateng juga. Baru mau megang si dedek, kita berempat kompak teriak.
"Cuciii tangan duluuu?!!" ucap aku, Mama, Ravel, Mona secara bersamaan.
"Astaghfirullah..." ucap kangmas kaget, dia ngelus dadanya sendiri.