
"Aduh, sakit semua nih badan saya, Nek!" aku mengusap lenganku yang tadi kena pukul.
"Nenek nenek! saya bukan nenek kamu!" dia menunjuk muka ku ini dengan tongkatnya.
"Astaga, ngimpi apa aku semalem bisa digebukin gini," aku duduk di kursi kayu yang panjang tanpa sandaran.
"Siapa suruh kamu teriak di depanku, masih untung tidak ku pelintir kedua telingamu itu!"
"Maaf, Nek. Saya tadi itu terkejut..." jawabku, berharap si nenek nggak marah lagi.
"Cuuiih!" si nenek ngeluarin sesuatu gumpalan serabut berwarna coklat kemerahan dari mulutnya.
"Mau apa kamu ke rumahku, hah?" dia bertanya padaku.
Aku berdiri dan membungkuk sopan, "Perkenalkan saya Reva," aku meraih tangan keriput itu, namun nenek itu langsung melepaskan tangannya.
"BATU TERKUTUK! DIA AKAN MENGHANTUIMU, KEMBALIKAN KE ASALNYA ATAU KAU AKAN TERIKAT SELAMANYAAAAA, SELAMANYAAAA, AAAAARGHHHHKKK! " si nenek berteriak sambil seperti orang yang kesurupan, dia melotot sambil menunjuk jariku yang tersemat cincin batu merah. Aku yang kaget dan takut pun langsung tunggang langgang.
Aku berlari sekencang mungkin, aku nggak peduli lagi aku tambah tersesat atau bagaimana yang jelas aku harus menghindar dari nenek tua itu.
"Hhh ... hhh, hhhh..."
Hujan tiba-tiba saja turun, aku yang memakai kaos hitam pun memilih untuk terus berlari.
"Semoga jangan ada gledek diantara kita ya, Jan!" aku ngomong sama hujan.
Rintik air yang membasahi sekujur badanku tapi itu semua nggak cukup bikin aku buat berhenti.
Cukup lama aku berlari sampai akhirnya aku berhasil keluar dari menemukan jalan pulang.
Dan
Aku mendengar seseorang laki-laki meneriakkan namaku, "Revaaaaaaa!"
Laki-laki itu mendekat dan segera memelukku, "Kamu kemana aja, sih? kita tuh berjam-jam nyariin kamu, kamu ngerti nggak sih kalau keluyuran sendirian itu bahaya apalagi di tempat asing kayak gini!" dia mayungin aku yang udah terlanjur basah kuyup
"Nggak usah lebay deh, Dho!" aku melepaskan pelukan Ridho, padahal dalam hati aku lega banget bisa pulang dengan selamat.
"Iya, Va ... kita berdua tuh nyariin kamu tau!" dan disitu munculah karet nasi warteg yang udah ganti kostum dan memegang sebuah payung besar.
"Sorry udah ngerepotin," aku ngeloyor balik ke rumah tanpa benda apapun yang bisa nutupin kepalaku dari air yang turunnya barengan.
"Revaaaaaa!" teriak Ridho, tapi aku nggak peduli. Aku tetep aja lari dan lari.
Dan pas banget aku nyampe di halaman rumah, aku lihat mobil hitam datang parkir di samping mobil yang dipakai Ridho buat kesini.
"Pak Karan?" aku mengernyit saat melihat sosok bos galak ku datang, dia membuka sebuah payung hitam dan keluar dari mobilnya.
"Kamu di telfon susah banget, sih!" dia jalan ke arahku.
"Bapak dateng mau jemput saya? beneran, Pak!" tanyaku girang! "
Aku langsung peluk aja pak Karan, berasa menemukan malaikat penyelamat dari langit, tapi dia segera mendorongku dengan telunjuknya, "Kamu basah, cepat ganti baju dan ikut aku pergi,"
"Revaaaaa!" teriak Ridho dari arah belakang.
"Ya udah, Pak. Saya ganti baju dulu," aku pergi meninggalkan pak Karan yang berdiri dengan payungnya.
Aku buru-buru masuk ke dalam rumah, dan segera berganti baju. Aku mengeringkan rambut seadanya. Ketika aku sedang membereskan baju-bajuku, tiba-tiba Karla masuk ke kamar.
"Va? kamu mau kemana?"
"Pulang," jawabku singkat.
"Iya," aku mengoleskan lip tint seadanya.
"Kamu ada hubungan sama pak Karan?" Karla melihatku dari pantulan cermin.
"Bukan urusan kamu!"
"Kamu kok jawabnya kayak gitu, Va?" Karla merengut.
Baru aja aku mau jawab, ada suara ketukan pintu dari luar. Karla buka pintu, dan Ridho masuk ke dalam. Sedangkan Karla keluar dari kamar.
"Reva?" Ridho mendekat.
Sedangkan aku dengan tergesa-gesa memasukkan alat tempur ke dalam pouch, dan bergerak ke tas jinjingku yang ada di dekat ranjang.
"Reva, kamu kalau dipanggil orang itu jawab kenapa sih,Va?" Ridho ngintilin aku yang lagi menutup tas baju berwarna maroon.
Aku nggak peduli, aku anggap aja yang ngomong itu syaithonirrojim.
Saat aku mengangkat tas jinjing itu tangan Ridho langsung nyamber dan merebut paksa tas dari tanganku dan meletakkannya dengan kasar di lantai, "Kamu itu kenapa sih, Va? dan kenapa pak Karan sampai kesini?" Ridho menatapku dengan tajam.
"Nggak kenapa-napa, aku cuma mau pulang, daripada ngerepotin juga kan disini, ganggu juga..."
"Ganggu apa, sih? kamu itu ngomong apa sih, Va?" Ridho memegang kedua bahuku.
"Sorry aku ngomong kayak tadi karena aku sama Karla khawatir sama kamu. Kita panik saat kamu tiba-tiba aja ngilang. Dicari di rumah juga nggak ada, kita tuh takut terjadi sesuatu sama kamu, Va!" jelas Ridho menggebu.
"Kita?" aku tersenyum sinis, "Maka dari itu aku pulang, sorry udah bikin kalian panik," aku menepis kedua tangan Ridho yang memegang bahuku. Aku jalan ke arah lemari dan segera memakai tas selempang.
"Va? kamu marah sama aku?"
"Menurutmu?" ngomong sambil jalan ke arah Ridho, dan tangankubaku ulurkan mengambil tas yang tadi dibuang sama gebetannya karet nasi warteg.
"Aku salah apa sih, Va?" si kamfret ini masih aja nyerocos.
"Nggak salah kok, cuma aku yang nggak nyaman disini,"
"Kalau kamu nggak nyaman kita kan bisa pulang bareng sama aku dan Karla, bukan malah minta pak bos kesini," ucap Ridho.
"Emang salah ya kalau Pak Karan kesini? lagian kita ada urusan,"
"Urusan apa?" Ridho memicingkan matanya.
"Nggak perlu tau! have fun, ya!"
Aku keluar dari kamar meninggalkan Ridho dan aku berjalan ke arah ruang tamu dan disana sudah ada bu Wati dan Karla yang duduk berhadapan dengan si bos.
"Sudah siap?" pak bos, aku cuma mengangguk. Dia yang semula duduk, sekarang berdiri.
Aku kemudian berpamit pada bu Wati yang kini juga bergerak mendekat ke tempat dimana aku berdiri, "Aku pamit, Bu. Maaf sudah merepotkan..." ucapku.
"Hati-hati ya, Nak. Ibu kira kamu pulang bareng Karla dan Nak Ridho. Oh ya ini nomor hape ibu, simpanlah barangkali suatu saat kamu butuh bantuan ibu," kata bu Wati penuh arti, aku menerima kertas kecil itu dan menaruhnya ke dalam tas.
"Terima kasih, kami pamit..." ucapku sebelum aku dan pak bos keluar dari rumah Karla.
Sedangkan Ridho, aku sempat melihat dia yang ternyata menyusulku sampai ke teras depan dan berdiri di samping Karla. Aku masuk ke dalam mobil dan bergerak menjauh dari rumah panggung itu.
Aku nggak tau apa yang aku rasakan saat ini, yang jelas aku hanya ingin pergi dari hadapan mereka semua.
...----------------...