Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Memanggil 'Dia'


Sraaaakk!


Sreeeekk!


Sraaaakk!


Sreeeekk!


Ada langkah kaki mungkin satu atau dua orang. Ridho yang tadi udah mau nyamber ucapan pak Karan pun nggak jadi dan lebih fokus dengerin suara-suara tadi. Pak Karan yang ngeliat kita semua diem pun naikin satu alisnya. Dalam hati mungkin dia bertanya-tanya 'apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?'


Dengan hati-hati Ridho bangkit dari kursi supaya nggak menimbulkan suara apapun. Aku yang kepo juga mau ikutan, tapi dicegah sama pak Karan.


"Mau kemana?" tanya mantan bos.


"Mau kepoin siapa yang lewat!" jawabku yang melepaskan tangan pak Karan dan nyamperin Ridho yang lagi nempelin kupingnya di pintu belakang yang mengarah ke arah samping rumah ini.


Aku tarik bajunya, "Siapa?"


Ridho gelengin kepala, dia malah nyuruh aku buat diem dan nggak bersuara. Ridho bergerak lagi ke ruang tengah, dia mengintip dari balik tirai yang menjuntai.


Kita semua pun akhirnya jalan ke ruang tamu dan meninggalkan aktivitas makan kita yang udah mau selesai juga sebenernya.


Hening.


Senyap.


Walaupun kita semua lagi berkumpul, tapi diantara kita berempat nggak ada yang cicit cuit, dan fokus dengan suara-suara yang berasal dari luar rumah ini.


Setelah dirasa langkah kaki itu nggak kedengeran lagi, tiba-tiba Ridho berbalik.


"Kayaknya udah pada pergi," kata Ridho.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" pak Karan menatap aku dan Ridho secara bergantian.


Aku ragu buat ngomong takut salah juga, mending aku diem aja deh.


"Reva? apa yang sebenarnya terjadi, katakan? sepertinya ada yang kalian sembunyikan!" pak Karan natap aing.


"Ehmmmm..." aku menimbang-nimbang apakah tepat aku mengatakan ini. Aku takut kalau apa yang aku ucapkan akan menimbulkan masalah baru.


"Jawab Reva!"


"Jangan suka membentak Reva, Pak! anda nggak berhak untuk memaksa seseorang untuk berbicara!" Ridho tegas.


Adeeeuuh, baru juga ada hening diantara kita. Eh, mereka mulai debat lagi.


"Ada orang yang sedang mengintai rumah ini!" kata Mona yang membuat kedua orang itu memandangnya.


Siapapun pasti pusing mendengar perdebatan antara pak Karan dan Ridho yang nggak ada ujungnya itu.


"Mengintai?" pak Karan mengernyit heran


Jangankan pak Karan, aing juga heran. Kenapa juga ada orang yang kayak lagi mengawasi rumah ini.


Secara ini bukan rumah mewah yang menyimpan harta benda yang melimpah. Ini rumah biasa, bahkan kursi tamu juga belum ada, lalu apa yang mau diambil coba? Disitu kadang aing kagak paham.


"Kenapa kamu tidak bilang?" tanya pak Karan pada Reva.


"Kalau tau begini kan lebih baik kamu tinggal di rumah yang saya tawarkan waktu itu. Saya yakin tante Ivanna juga akan khawatir jika anak perempuannya tinggal di tempat yang tidak aman!" ucap pak Karan.


"Kamu juga. Katanya kamu mau menjaga Reva? dengan membiarkannya tinggal di lingkungan yang asing seperti ini apa itu tindakan yang bijak?" kali ini Ridho yang disemprot.


"Udah, udah deh. Kalau kayak gini tuh yang ada aku tambah pusing ngeliat kalian berdua berdebat. Bukan cuma aku, mungkin semua makhluk baik yang nyata maupun yang astral pasti ikutan nyut-nyutan, berasa lagi sakit gigi y ng nggak sembuh-sembuh 7 hari 7 malem!" ucapku menatap kedua laki-laki dewasa yang sedang memperebutkan perhatian wanita cantik seperti diriku.


"Aku tau aku cantik dan menarik! tapi please, ini bukan saatnya kalian adu mulut!" lanjutku.


Sedangkan muka Mona nggak enak banget pas denger ucapanku yang terakhir itu, dia kek orang mau muntah tapi nggak jadi.


Baik Ridho maupun pak Karan akhirnya kicep, mereka diem aja nggak ada yang nyautin.


"Ya udah, Dho! kita lakuin aja rencana kamu itu, aku juga penasaran siapa sih orang yang lagi mau kepoin aku di rumah ini. Dan sejauh apa yang bisa dia lakukan!" ucapku sok keren, mirip kayak cewek-cewek pemberani dalam film kungfu.


Padahal mah dalam hati jangan ditanya, aing TBL TBL TBL gitu tau nggak (Takut Banget Loh!).


Akhirnya dengan pikiran yang tenang kita duduk di ruang tivi. Ridho menceritakan kembali rencana yang sudah dia susun sedemikian rupa. Dan aku diminta untuk manggilin si gadis penunggu.


"Lah kenapa jadi aku, sih? ogah ah!" aku menolak.


"Kan kamu yang udah akrab, jangan sok nggak tau deh!" ucap Ridho dia setengah ngeledek.


Kok dia tau kalau aku udah paham siapa yang nungguin nih rumah.


"Kamu satu rumah dengan hantu? bukannya kamu penakut?" tanya pak Karan.


"Sekaramg capek takut mulu! mereka udah merampas kewarasanku selama beberapa hari di rumah ini. Bikin ribut dan gaduh, itu yang bikin rasa takut ku berubah jadi rasa kesel dan pengen ngusir aja hawanya!" jelasku.


Sedangkan Mona pas denger kata hantu, dia mepet ke aku. Aku yakin dia ketar-ketir nih mau ketemu makhluk lain.


"Saya bisa menyuruh orang untuk menangkap mereka. Tidak perlu menggunakan cara konyol seperti ini dengan minta bantuan hantu!" kata pak Karan yang ingin menunjukkan powernya pada kita semua.


"Udah, nggak usah ribut!" aku menyela sebelum Ridho nyautin pak Karan.


Aku manut aja sama calon suami. Aku yakin Ridho nggak bakal ngelakuin sesuatu yang bakal ngebahayain aku sama Mona. Ridho bilang udah menghubungi pak RT dan juga pemilik rumah kalau ada orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar sini.


Aku nggak perlu ritual khusus, seperti mandi kembang tengah malam. Nggak ada.


"Hey, siapapun kamu. Datanglah! kita talking-talking sebentar!" ucapku. Aku tau daritadi dia nguping juga pembicaraan kita disini.


"Udah, jangan sembunyi! ayo kesini, bukannya kamu selalu caper supaya bisa di-notice sama aku? kenapa giliran aku panggil kamu malah ngumpet?" lanjutku.


Pak Karan cuma mengernyit mendengar cara berkomunikasiku dengan si hantu.


Dan bener aja, biangkerok kegaduhan selama aku nempati rumah ini pun akhirnya muncul juga. Tapi kayaknya dia nggak begitu suka ngeliat pak Karan. Buktinya dia nggak mau ngeliat ke arah mantan bos aing itu duduk.


"Setan aja takut liat Bapak!" aku geleng-geleng kepala.


"Sssshhh, canda!" ralatku cepat.


"Kita kenalan dulu deh, nama kamu siapa?" aku nanyain nih hantu yang rambutnya cuma sebahu. Dia duduk dekat dengan Ridho.


"Gadis!" ucapnya.


"Oh ya, Gadis. Tolong duduknya jangan deket kangmas aku ya! geser ke Mona!" aku mulai berani.


"Mbaaak Revaaaa!" Mona tereak dan auto nampol lengan aku.


"Ya ampuuun, Mona!" aku usap lenganku yang panas akibat digeplak.


...----------------...