
"Jadi ... nak Ridho dan Reva kemari ada keperluan apa, ya?" tanya pak Sarmin yang aku yakin udah penasaran banget karena didatengin tamu tak dikenal.
"Begini, Pak. Kebetulan kami ini mendengar cerita kalau Bapak pernah menolong seseorang yang dikabarkan hilang di hutan..." Ridho mulai ngejelasin, dia nengok sekilas ke aku dan balik lagi natap mata pak Sarmin.
"Dan kami datang dari luar kota, bermaksud untuk meminta tolong karena ada teman kami yang sudah 2 bulan hilang saat mendaki. Dan kami sangat berharap pak Sarmin berkenan untuk membantu menemukan teman kami yang hilang itu..." lanjut Ridho.
Pak Sarmin menarik napas lalu lupa menghembuskannya, eh. Maksudnya, pak Sarmin tarik nafas sejenak, lalu menghembuskannya perlahan.
"Semua itu atas izin Allah, Nak. Saya hanya menjadi perantara saja..." ucap pak haji Sarmin.
"Tolong kami, Pak haji..."
"Inshaa Allah, Nak Ridho. Jika Allah sudah berkehendak, teman kalian pasti ditemukan..."
"Alhamdulillah..." ucap Ridho, dia nengok dan tersenyum.
"Bu ... ibu...! kemari sebentar, Bu...!" panggil pak Sarmin.
"Sebentar, Pak..." ucap seorang wanita dari dalam rumah.
Dan beberapa saat kemudian, ada satu sosok wanita berjilbab yang keluar dari dalam rumah.
"Eh, ada tamu rupanya..." ucap wanita yang berdiri disamping pak Sarmin, ramah.
"Kenalkan bu, ini Nak Ridho dan juga Reva. Mereka ini dari luar kota," kata pak Sarmin.
"Nak Ridho, Reva. Ini Ratmi, istri saya..." lanjut pak haji.
"Malam, Bu ... maaf, bertamu malam-malam begini," ucap Ridho basa-basi.
"Tidak apa-apa, Nak Ridho..." jawab bu Ratmi.
"Bu, minta tolong buatkan teh untuk Nak Ridho dan juga Reva. Dan kalau bisa sama camilannya sekalian, Bu..." ucap pak Sarmin.
"Baik, Pak..." jawab bu Ratmi.
Bu Ratmi pun masuk lagi ke dalam rumah.
"Oh ya, siapa nama teman kalian yang hilang itu?" tanya pak Sarmin.
"Siapa, Va?" Ridho nyenggol lenganku.
"Sena Serenada, panggilannya Sena pak haji..." jawabku.
"Sena ... Sena..." ucap pak haji. Dia memejamkan matanya. Dia membaca doa terlebih dahulu. Lalu terdiam sesaat.
"Tunjukkanlah padaku ya, Allah. Dimana Sena berada? tunjukkanlah padaku, wahai dzat yang menguasai alam semesta," ucap pak Sarmin lirih.
Aku dan Ridho saling menatap satu sama lain. Aku deg-degan, semoga yang aku lihat dalam air di bokor milik nenek Darmi itu benar. Benar kalau mbak Sena masih bertahan.
Melihat ekspresi wajah pak Sarmin berubah jadi tegang, aku pun jadi takut.
"Bismillah, Va! berdoa sama Allah..."
"Gimana kalau mbak Sena--"
"Ssssh, nggak boleh ngebayangin yang jelek-jelek. Apapun hasilnya, kita udah berusaha, Va..." Ridho mengusap lenganku.
Aku emang nggak begitu deket banget sama Mbak Sena, tapi aku ngerasa dia orang yang baik. Dan nggak tau kenapa, hatiku seperti terpanggil buat ngebantu dia.
Pak Sarmin masih memejamkan matanya, bahkan sekarang dia memegang dadanya, seperti orang yang sedang menahan sakit.
"Dho..." lirihku. Ridho menggenggam tanganku, memberi aku semangat.
"Percaya, dia bakal ditemukan, okey...?" ucap Ridho, aku mengangguk.
Dan akhirnya pak Sarmin membuka matanya, dia mengatur nafasnya terlebih dahulu. Namun, saat pak Sarmin akan mengutarakan apa yang ia lihat dengan mata batinnya, tiba-tiba bu Ratmi datang dengan nampan di tangannya.
"Tehnya, Nak..." ucap bu Ratmi yabg meletakkan beberapa cangkir teh panas dan juga satu piring yang berisi pisang goreng crispy.
"Terima kasih, Bu. Jadi merepotkan..." kataku.
"Ayo, silakan diminum..." ucap bu Ratmi.
"Baik pak haji..." jawab Ridho.
Pak haji Sarmin menyuruh istrinya untuk ikut duduk bersama kami. Tatapan mata bu Ratmi begitu teduh, beda sama tatapannya nenek Darmi, upss! keceplosan, moga aja dia nggak denger ya.
Dan segelas teh panas pun membuat lambungku terasa hangat. Aku sebenernya udha penasaran pakai banget dengan apa yang sudah diketahui oleh pak haji, tapi balik lagi aku cuma bisa sabar, menunggu pak haji sendiri yang membuka pembicaraan mengenai mbak Sena.
Padahal tadi aku udah makan di warungnya mbak Luri, tapi pisang goreng yang ada di piring begitu menggiurkan. Aku pun ikut mencomot satu pisang goreng yang masih anget.
Aku meminum tehku lagi. Sambil mengambil tisu yang ada di meja buat ngelap bekas minyak di tangan.
"Jadi begini nak Ridho, teman kalian yang bernama Sena itu memang masih tertahan di hutan terlarang, tapi..."
"Tapi kenapa pak haji?" Ridho kepi banget, disini Ridho yang banyak ngomong ya. Soalnya kalau aku yang ngomong yang ada ngalor ngidul nggak nyampe-nyampe.
Aku tambah khawatir saat melihat raut wajah pak haji. Dia kayaknya berat banget buat nyampein sesuatu sama kita.
"Kenapa pak haji?" Ridho mendesak pak haji untuk bersuara.
"Dia masih bertahan, tapi semakin lama keadaannya semakin lemah. Karena bagaimanapun dia berada di dimensi lain, yang menyerap banyak energi dari tubuhnya. Dia wanita yang kuat dan sepertinya, dia memang menunggu bantuan dari kalian..." kata pak Sarmin.
"Pak haji, bantu teman saya, Pak! saya mohon, Pak..." aku akhirnya nggak tahan buat nggak ngomong.
"Tenang dulu nak Reva. Pasti, pasti saya akan mencoba membantu. Tapi kembali lagi, semua yang ada di bumi ini milik Allah dan semua yang hidup akan kembali pada-Nya. Jadi, apapun hasilnya nanti kalian harus siap menerima..." ucap pak haji.
"Inshaa Allah pak haji," ucap Ridho, dia mengusap punggungku mencoba membuat aku tenang.
"Baiklah, malam ini kita akan mengirimkan doa untuk teman kalian itu. Semoga itu akan bisa menjadi cahaya yang mengantarnya kembali menemukan jalan menuju dunia nyata..." ucap pak haji.
"Lebih baik, kalian membersihkan diri terlebih dahulu. Karena alangkah baiknya kita berdoa dalam keadaan suci..." lanjut pak Sarmin.
"Baik pak haji..." ucap Ridho mantap.
Disaat harapanku hampir pupus karena menyangka kalau aku nggak akan bisa menolong mbak Sena, ternyata Allah masih memberikan kesempatan. Dan beruntung aku bertemu dengan pak Sarmin dan bu Ratmi yang mau menerima kita dengan tangan terbuka.
Sembari menunggu Ridho mandi, aku menghampiri bu Ratmi yang ada di dapur.
"Permisi, Bu. Maaf ... ehm, nanti kita berdoa itu pakai apa ya?" tanyaku. Ya maklum aja, aku kan nggak punya baju gamis yang kayak ibu-ibu pengajian. Nggak mungkin kan acara doa kayak gitu aku pakai kaos dan celana jeans.
"Pakai mukena saja, Nak. Nanti kita berdoa bersama di ruang tamu..." jawab bu Ratmi.
"Tapi saya kebetulan tidak bawa mukena,"
"Oalah, ya nanti ibu pinjamkan..." ucap bu Ratmi seraya tersenyum.
Suwer deh, Ridho mandinya lama banget. Aku curiga dia pingsan di dalem, tapi kalau pingsan nggak mungkin ada suara gebyar-gebyur kan ya.
Dan akhirnya kangmas keluar juga dengan rambut yang basah dan muka yang seger kayak tanaman abis disiram.
"Aku sholat duluan ya," kata Ridho.
"Hu'um!" aku iyain aja biar cepet.
Dan pas aku mau masuk kamar mandi aku baru inget.
"Lah, kan aku udah mandi di rumah bu Wati...! ngapain aku mandi lagi?" aku tepok jidatku sendiri.
Lah itu si Ridho lagi nggak on apa gimana ya. Dia juga kan udah mandi, daritadi dia gebyar-gebyur yang ada ikut ngabisin air di rumah orang. Eror nih si kangmas ganteng.
Aku mengurungkan niatku buat mandi dan memilih cuma ambil air wudhu buat sholat, lalu menghampiri bu Ratmi buat pinjam mukenanya.
"Loh kok mandinya cepet banget, Nak Reva?" tanya bu Ratmi.
"Eh, itu Bu. Saya sebelum kesini sudah mandi sore, jadi saya cuma wudhu aja. Ehm, saya mau pinjam mukena, Bu..." ucapku.
"Sebentar ya, ibu ambilkan..." kata bu Ratmi.
Dan saat bu Ratmu sudah pergi dan masuk ke dalam sebuah kamar, tiba-tiba...
...----------------...