Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Gangguan Datang


Malam tiba...


Suasana kompleks kayaknya sepi, itu kata Ridho yang habis dari luar. Biasa ngasih makanan buat satpam kompleks yang kebagian jaga malam.


"Lama banget masuknya?" ucapku yang duduk sambil baca novel.


"Biasa ngobrol bentar sama pak Medi terus sama pak Ihsan. Katanya ada yang nyebarin berita horor di sini..." ucap Ridho yang lepas hodienya dan ke ruang ganti buat ganti baju.


Dia muncul lagi dengan setelan piyama, "Katanya ada penampakan kemarin, dan sekarang pak Medi disuruh keliling kompleks setiap 2 jam sekali,"


"Ngapain keliling setiap 2 jam sekali? aneh banget," aku nyaut.


Sementara Ridho masuk ke dalam selimut, "Ya itu pada minta yang aneh-aneh emang, kasian juga yang jaga malam. Gempor dia, keliling mulu udah kayak mau ngepet aja," kata Ridho.


"Sebenernya sumber berita horor itu dari bu Ranti, Mas. Nih di grup aja dia hebooh banget, katanya anaknya yang ngeliat penampakan itu. Tapi ya bagus sih kalau satpam mau ngeronda sambil jalan-jalan keliling kompleks jadi aman nggak ada maling. Daripada mereka nonton tivi di pos mulu,"


"Iya tapi nggak 2 jam sekali juga kan?" Ridho narik aku buat nyender ke dia.


"Iya kalau itu mah tinggal bagi tugas aja, Mas..." aku naruh novel yang lagi aku baca dan tiduran sambil meluk kangmas.


"Hemmm, yang penting ibadah jangan lupa. Percuma juga satpam suruh jagain, kalau kitanya aja nggak punya tameng sendiri..." ucap Ridho yang kemudian redupin lampu tidur.


Dan seperti malam sebelumnya, aku ngerasa kalau ada aktivitas lain di kamarku sekarang. Tapi aku terlalu malas buat nyari tau, apalagi lagi meluk bantal hidup kayak gini, tambah males meleknya.


Kreeeeet...


Suara kursi dari arah meja rias digeser, "Ck siapa sih?"


Aku melek dikit, dan ngeliat itu kursi geser-geser sendiri. Tapi karena udah ngantuk parah, aku cuekin aja dan balik tiduran lagi.


Kreeeet...


"Berisik!" kataku yang ternyata membuat Ridho terbangun.


"Kenapa, Sayang?" suara Ridho serak-serak becek.


"Nggak, nggak ada..." kataku.


Ridho ngencengin pelukannya, karena malam ini suasananya beda dengan malam-malam sebelumnya.


Baru juga mau ngeliyep lagi, tiba-tiba pintu balkon kebuka.


Wuzzzz!


Angin kencang masuk, bikin aku dan kangmas kebangun karena kaget.


"Akhh," aku bangun dan ngeliat tirai yang terbang ditiup angin.


"Kamu nggak mungkin lupa nutup pintu, kan?" Ridho yang tadinya tidur pun mendadak langsung melek.


Aku liat jam, masih jam 2 dini hari. Ridho turun dari ranjang. Di jalan ke arah pintu balkon.


Dan...


Greeep!


Pintu ditutup. Ridho juga nggak lupa nutup tirainya, namun waktu kangmasku ini berbalik mau nyamperin aku lagi. Ada sosok yang tiba-tiba muncul persis di belakang Ridho. Wanita berambut panjang dengan gaun putih lusuh yang aku temui di ruang dokter sewaktu nganterin kangmas periksa.


"Apa?"


Ridho berbalik, tapi seketika sosok itu ilang kayak asep yang ketiup angin. Wah aing nggak ngerti deh sampai sini. Kenapa dia cuma mau nampakin diri ke aku.


"Tadi ada---"


"Ya aku juga ngerasa tadi," serobot Ridho yang secepatnya nyamperin istrinya yang cuantikkk tiada terkira.


"Mumpung masih jam segini, lebih baik kita sholat malam. Minta perlindungan sama Allah," ajak Ridho.


Aku pun langsung mengiyakan ajakan itu. Nggak salah kan aing maung milih nih lelaki buat jadi suami.


Kita berdua ambil wudhu, mensucikan diri sebelum sholat tahajud.


Tinggal rakaat terakhir, itu hape aku bunyi mulu. Lupa aku silent, jadi sebelum diangkat tuh hape nggak mau berhenti ngeluarin suara yang lumayan nyaring.


Cuma aku berusaha fokus, nggak mau peduliin suara-suara yang muncul. Suara itu hilang saat aku dan Ridho ngucap salam terakhir.


Ridho mencium keningku setelah selesai berdoa.


"Tadi kamu denger nggak, Mas?"


"Iya denger, kamu nggak usah takut. Insya Allah, Allah akan selalu melindungi kita," kata Ridho.


"Tapi anehnya, sosok yang aku liat itu adalah sosok yang sama yang kita lihat di ruangan dokter waktu kamu periksa, Mas. Apa dia selama ini ngikutin aku ya, Mas?"


"Mungkin. Yang jelas, kita cuma bisa berlindung sama Allah, apapun itu. Apalagi kamu lagi hamil sekarang, jangan sering ngelamun dan perbanyak ibadah," ucap Ridho.


Tuh kan, Ridho nggak nyaranin bawa-bawa gunting sama peniti. Dia menekankan supaya aku banyakin ibadah. Sebenernya, sosok kayak gini kan aku sering nemuin ya. Cuma yang bikin aku khawatir kan aku lagi hamil, dan gimana kalau mereka yang punya kekuatan super itu ngebanting-banting aing. Atau ngebuat aku kerepotan kayak si Rania, itu juga kan aku hampir kehilangan nyawa.


"Pesenku cuma satu, jangan kasih kesempatan mereka buat kontak sama kamu. Jangan sampai kejadian dengan Rania terulang lagi. Aku nggak mau kamu menantang bahaya lagi," ucap Ridho serius.


"Inget, di dalam sini ada calon anak kita, Va. Kurangi sifat kedebag-kedebug kamu. Kamu harus jaga dia dengan baik," Ridho mengusap perutku.


"Iya, Mas..." aku cuma bisa berusaha buat nurut.


Setelah beberes sajadah, kita mau lanjut tidur lagi. Tapi grup chat daritadi bunyi terus.


Dan ya, ternyata pada heboh. Katanya anaknya bu Ranti ngeliat lagi sosok kunti yang lagi-lagi berhenti diantara rumahku dan bu Ella.


📱Hati-hati bu Ella dan bu Reva, kali aja itu Kunti mau sowan dan main ke rumah kalian.


itu pesan bu Ranti di jam 1 malam. Jadi katanya, si Dimas habis nganterin bapaknya ke bandara. Kebetulan dapet penerbangannya tengah malam. Jadilah dia balik ke kompleks itu ya sekitar jam 12, dan mobil.yang dikendarai Dimas itu ngelewatin rumah aku dan bu Ella. Ya udah, dia ngeliat sosok kunti yang sama lagi disekitar rumahku. Kira-kira begitu cerita dari bu Ranti yang udah malem sempet-sempetnya ngechat di grup.


"Ini liat, Mas..." aku kasih hapeku ke Ridho.


"Jadi Dimas itu yang sering ngeliat itu makhluk?" ucap Ridho sambil scroll pembicaraan ibuk-ibuk di grup.


"Iyaaa, mungkin sosok yang aku liat tadi yang dimaksud Dimas," ucapku.


"Kita cuma bisa pasrahin semua sama Allah, Sayang. Semoga kamu dan anak kita selalu dalam lindungan-Nya. Katanya mama mau pulang minggu ini, nanti aku bilang deh. Sementara biar mama nemenin kamu dulu. Sampai teror hantu itu bisa diatasi, nanti aku coba minta ustad untuk melakukan pembersihan di rumah kita," ucap Ridho.


"Aku sih terserah kamu aja, Mas..." kataku.


Kita nggak pernah tau, maksud dan tujuan makhluk itu menampakkan dirinya yang nggak banget itu. Yang jelas, mending aku pura-pura aja nggak ngeliat saat dia muncul. Aku nggak boleh ceroboh dan mengulangi kesalahan yang sama berkali-kali.