Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kalian Harus Pergi


Ridho minjem hapeku. Katanya dia mau ngehubungin pak Bagas. Bagaimanapun hari ini kan dia bolos, hapenya ketinggalan di rumah. Kan dia kesini cuma bawa diri aja.


"Sekali lagi maaf, Pak. Saya cuti untuk beberapa hari ke depan," ucap kangmas.


"Baik, Pak. Terima kasih..." lanjutnya di telepon.


Ridho menghela nafas, "Makasih ya, Yank..." ucap Ridho sambil balikin hape. Aku berusaha buat bangun.


"Loh kok bangun, sih?" tanya Ridho yang bantu aku buat duduk.


"Aku capek rebahan terus," kataku.


"Gimana? pak Bagas marah sama kamu, Mas?" aku menatap kangmas khawatir.


"Nggak marah. Lebih tepatnya kesel, karena cuma ada Rimar yang katanya daripagi kerjaannya error mulu. Padahal sebenernya dia itu---"


"Bisa nggak jangan bahas Rimar?" ucapku.


"Ya, hari ini schedule bos kacau, makanya dia agak kesel. Tapi pak Bagas tetep ijinin aku kok buat cuti, jadi kamu nggak usah khawatir..." ucap Ridho yang kini duduk di sampingku.


Hujan nggak mau berhenti. Sementara perutku semakin sakit saja ternyata. Gimana pun aku harus pergi. Karena aku yakin satu-satunya orang yang bisa menolong aku dan bayi ini adalah pak Sarmin. Paling nggak, disana kita bisa tenang karena beliau melakukan semua itu tanpa perantara jin atau sejenisnya. Aku bakalan tenang karena dia pasti ngadain pengajian di rumahnya.


Aku nggak bisa jelasin kenapa rasanya hatiku nggak tenang. Waktu rasanya berjalan sangat lambat, apalagi hujan sepertinya nggak tau kapan akan redanya. Kita masih nunggu bu Nela yang nggak kunjung datang.


"Aaarrrrghhh, sakit," aku mengerang kesakitan.


Ya Allah apa aku diguna-guna apa gimana. Kok rasanya bisa kayak dibeset-beset kayak gini. Kemana bu Nela. Kenapa dia nggak pulang-pulang.


Ridho terus aja ngelusin perutku. Dia bacain doa-doa, sampe bibirnya kering. Aku kasihan, tapi apa yang suamiku lakukan itu seenggaknya mengurangi rasa sakit yang menyiksaku sekarang.


"Mas, kayaknya aku mau pipis deh," ucapku.


"Aku anterin yah? Sekalian aku mau pinjem payung. Aku mau ambil jasnya pak Karan. Kasian kamu kedinginan kayak gini. Aku lihat ada jas di dalam koper yabg ditaruh dibagasi, " kata Ridho.


Oh ya udah dong, kita berdua yang notabene hanya tamu disini, masuk ke dalam rumah buat numpang ke kamar mandi. Kita nyari nenek Yuna dulu buat sekedar ijin.


Baru juga sampai di ruang tengah, kita mendengar orang yang lagi ngobrol sendirian. Wait, wait ngobrol tapi sendirian? moon maap, dia ngigo apa gimana?


Aku dan Ridho saling pandang. Ridho nyuruh aku masuk ke kamar mandi dulu. Dia nunjukin dimana tempatnya. Ya udah aku nurut, aku tuntasin dulu panggilan alam. Sementara Ridho tadi nungguin di depan sebuah kamar, entah kamarnya siapa. Tapi pintunya kebukaaa dikit. Iyaa dikit banget. Tapi lumayan buat kita nguping. Maapin kita ya Allah.


Ridho naruh telunjuknya di bibir, dia nyuruh aku buat jalan sepelan mungkin biar nggak menimbulkan suara.


"Sulit! entahlah, seperti ada seseorang yang melindunginya, tapi aku belum mengetahui siapa dia," ucap seorang wanita tua. Suaranya kayak nenek Yuna.


"Bukankah selama ini aku selalu mendapatkan semua yang aku inginkan?" ucap seseorang dengan suara yang parau.


"Tentu ... tentu Ratu," ucap nenek Yuna. Ternyata dia nggak lagi ngomong sendirian. Tapi


"Aku sudah menceritakan siapa yang mengincarnya untuk menahannya disini, setidaknya sampai malam itu tiba..." ucapnya lagi.


"Apa, maksudnya apa? menahan siapa yang dia maksud," batinku. Firasatku udah nggak enak sampai sini.


"Apa yang sedang direncanakan nenek tua itu?" aku menjadi khawatir sesuatu terjadi dengan kami.


Aku menatap Ridho dengan tatapan cemas. Jadi orang yang kita anggap orang baik ternyata sedang merencanakan sesuatu yang buruk.


"Dapatkan anak itu, dan aku akan memberikanmu umur yang panjang dan penerawanganmu akan sakin tajam," ucap suara perempuan lain yang sedikit parau. Tapi itu bukan suara nenek Yuna.


"Aku pasti akan mendapatkannya lebih dulu daripada laki-laki bernama Dera itu," ucap nenek Yuna.


Aku dan Ridho membuka sedikit pintu itu dan ternyata kami melihat satu sosok perempuan yang kurus, kering keriput. Dan di kepalanya terdapat tanduk seperti rusa, dia memakai gaun berwarna putih tulang yang kebesaran untuk tubuhnya yang kecil dan kerempeng seperti triplek.


Aku yang shock langsung dibekep sama Ridho, dia menggelengkan kepala. Dia nyuruh aku agar diam dan nggak bersuara. Supaya nenek Yuna tidak curiga kalau kita sedang menguping pembicaraannya dengan makhluk itu.


"Kita pergi dari siniiih..." bisikku dengan menahan rasa sakit di perutku.


Bisa jadi rasa sakitku bertambah kadarnya itu akibat ulah si nenek Yuna juga. Karena waktu kita mau pulang setelah periksa yang pertama kali itu kan aku udah mulai mendingan. Dan bertambah sakit waktu Ridho abis megang tongkatnya si nenek. Mungkin saja tongkat berbentuk kepala ular itu mempunyai kekuatan, sehingga waktu aku dan Ridho bersentuhan seperti ada daya magnet yang membuat perutku sakit.


"Sedang apa kalian di depan kamar ini? Apa kalian sedang menguping?" ucap bu Nela lirih.


Deg!


Ya amplop, kita ketauan. Tamatlah riwayatku dan Ridho, bisa jadi bu Nela juga sekongkolan sama nenek Yuna kan. Ya Allah, aku harus gimana?


Aku dan Ridho berbalik dan melihat sosok bu Nela yang basah kuyup. Saking serousnya dengerin percakapan nenek Yuna dengan makhluk ghoib, kita sampai nggak denger bu Nela yang masuk dari arah pintu depan.


Ridho bergeser sedikit demi sedikit, "Itu, kami ... Mau meminjam payung sama nenek," ucap Ridho.


"Kamar ini kamar kosong. Kamar nenek di sebelah sana," ucap bu Nela.


Aku dan Ridho nengok ke arah sebrang kamar ini yang ditunjuk bu Nela, "Oh begitu ya,"


"Aku akan mendapatkan bayi wanita itu, maka bantulah aku agar makhluk lain tidak dapat menggangguku di rumah ini. Dan lagi, bantu agar anakku bisa membantu wanita itu melahirkan di malam yang sudah kita sepakati," ucap nenek Yuna.


Bu Nela yang mendengar itu, lantas membuka pintu yang kata dia kamar kosong. Dan mata bu Nela membulat saat melihat ibunya sedang duduk bersimpuh dengan dikelilingi dupa yang dibakar dan menimbulkan asap berwarna putih baunya sangat khas. Namun sosok bertanduk itu hilang entah kemana. Di dalam kamar hanya ada nenek Yuna.


"Ibuuuu? apa yang ibu lakukan? bukankah ibu sudah berjanji tidak akan melakukan ritual-ritual seperti ini lagi? apa yang ibu rencanakan? mereka? apa ibu merencanakan sesuatu pada mereka, Bu?" ucap bu Nela.


"Istighfar, Bu. Apa yang ibu lakukan ini musyrik!" lanjut bu Nela.


"Diamlah, Nela?!! kau tidak usah ikut campur?!!" ucap nenek Yuna marah dengan kehadiran anaknya.


"Dan kalian?" nenek Yuna menatap aku dan Ridho dengan tajam.


"Masss..." aku menggenggam tangan suamiku.


"Kalian harus pergi?!" ucap bu Nela pada kami.


"