Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Laki-laki Bergosip


Disela makan mie yang enak karena emang dingin-dingin empuk begini, aku baru inget kalau kita kan dikasih bekal sama bu Wati.


"Dhoooooo!" aku ngegaplok lengan ayang.


"Uhuuuuuk!" Ridho auto kesedak kopi panas.


"Astaghfirllah! main gaplok aja itu tangan, bikin kaget!" kata Ridho sambil terbatuk.


"Maap, maap, Sayang!" ucapku spontan sambil nepuk-nepuk punggung ayang, berharap batuknya cepet udahan.


"Panggil lagi, dong!"


"Peyang!" ucapku sambil nyubit pipinya.


Plak!


Plak!


Bang Perdi neplakin tangannya.


"Kenapa, Bang?" tanya Ridho.


"Nggak apa-apa, Mas! banyak nyamuk!" ucap kang ojek yang duduk berhadapan dengan kita.


"Kalau lagi kasmaran dunia serasa milik berdua ya, Mas? yang lain dianggap ghoib!" celetuk kang Perdi.


"Hahahaha, ya elah. Kayak nggak pernah muda aja, Bang!"


"Kalau boleh tau, masih pacaran atau udah nikah?" tanya kang ojek yang kepo abis.


"Otewe pelaminan, Bang! doain, lancar jaya!" kata Ridho, aku mah buang muka, malu.


"Pasti, Mas! kalau niat baik pasti mudah jalannya!" kata bang Perdi yang meminum kopinya lagi.


"Va, tadi kenapa?" tanya Ridho.


"Yang apa?" aku mikir.


"Yang tadi, kenapa langsung neplak aku?"


"Oh, itu. Iya aku lupa, kita kan dibawain bekal sama bu Wati. Dan kita malah makan mie, aku jadi ngerasa bersalah, tau!" kataku.


"Nggak apa-apa, nanti bisa kita makan pas laper di bus. Lagian kamu lagi pengen makan ini, kan?" ucap Ridho.


Tinggal dikit lagi mie di mangkok habis, eh si mbak cantik keluar kandang.


"Mendoannya, Mas!" kata mbak Luri.


"Makas---ih" ucap Ridho auto mbleret kaya kaset rusak, karena dapat tatapan sinar x dari aing maung.


"Makasih, Mbak! tumben sendirian, ibunya mana, Mbak?" tanya bang Perdi.


"Ada, tadi ngambil belanjaan yang ketinggalan di rumah, Mas!" ucap mbak Luri.


Mendoan disini tuh enak banget, apalagi dikasih kecap sambel, tambah laziz. Yang bikin ketar-ketir tuh ngekuat mbaknya yang lemah lembut begitu, takut kangmasku ngelirik dan berpindah ke lain hati. Secara aing maung kan cewek mode gedebag-gedebug itu juga kata netijen. Padahal mah kan nggak. Nggak salah!


Bertepatan dengan acara makan mie kita yang udah selesai, datanglah bang Muklis d engan motor bebeknya.


"Mas, maap. Dapetnya yang agak maleman. Tadi saya udah capek-capek antri malah nggak kebagian!" ucap bang Muklis yang duduk di depan aku sama Ridho.


"Nggak apa-apa, Bang! yang penting dapet!" ucap Ridho.


Dia mah main nggak apa-apa mulu. Ini kita nunggunya berjam-jam disini. Dan itu artinya apa, artinya mata kangmasku bisa ngelirik si Luri dalam beberapa jam kedepan. Bikin dongkol, kan!


"Minum dulu, Bang! saya yang traktir!" ucap Ridho.


"Boleh, boleh! wah, makasih. Loh, Mas!" sahut bang Muklis bersemangat.


Melihat ada pelanggan yang baru saja datang, ini nih si mbak Luri keluar lagi. Yassalam, kenapa kagak ibunya aja sih yang kesini.


"Mau pesen apa, Mas?" tanya mbak Luri sama bang Muklis.


"Ditunggu ya, Mas!" ucap mbak Luri.


"Kenapa, Mas? cantik, ya?" bang Muklis nanya ke Ridho yang hah hoh.


"Hah, kenapa, Bang?"


"Uhuuukk!" bang Perdi malah keselek kopi denger pertanyaan bang Muklis, sedangkan aku? Aku natap mata Ridho dengan ganas.


"Mbak Luri memang cantik, cuma nasibnya aja yang kurang beruntung! dia jadi janda kembang diusia muda, padahal banyak yang antri loh buat jadiin Mbak Luri istri, termasuk saya!" ucap bang Muklis agak bisik-bisik, tapi aing masih bisa denger.


"Tapi kalau diperhatikan, sekilas muka masnya ini mirip loh sama mantan suaminya mbak Luri!" lanjut bang Muklis.


"Wah, ngasal aja nih Bang Muklis kalau ngomong!" kata Ridho.


"Tapi kata Muklis ada benernya juga! si Masnya mirip-mirip sama suaminya mbak Luri yang pernah ilang di hutan, dan pas ditemuin alhamdulillah belum wassalam," kata Bang Perdi menambahi.


"Ilang?" Ridho mengernyit dia menengok ke arahku.


Dan percakapan para lelaki ini harus terjeda, karena si biang topiknya nongol.


"Kopinya, Mas!" kata mbak Luri.


"Makasih ya, Mbak!" jawab bang Muklis.


Aku mah udah bete, ya gimana nggak bete, coba? Aing kayak obat nyamuk, lagian topiknya juga nggak mutu!


Ketika mbak Luri masuk ke dalem, dan tiga lelaki ini mulai bergosib kembali. Emang mereka nih nggak takut kena azab karena suka gibahin orang.


"Jadi gimana tadi, Bang?" Ridho penasaran. Aku senggol lengannya, dia malah senggol balik. Astogeeehhh, kenapa dia jadi kepo urusan orang sih.


"Jadi, ceritanya suaminya mbak Luri namanya Rendi. Dia ini ditelpon sama temennya yang dari kota, katanya minta ditemenin buat mendaki. Nah, posisinya mas Rendi dan Mbak Luri ini masih penganten baru loh, Mas. Tapi mungkin karena nggak enak sama temennya ya, akhirnya dia meng-iyakan ajakan itu. Singkat cerita, Mas Rendi dikabarkan terpisah dari temennya itu," jelas bang Muklis.


"Terus?" Ridho nyimak serius.


"Terus, berhari-hari dicari nggak ketemu. Sampai diadakan acara tahlilan segala loh, Mas. Karena keluarga udah pasrah aja gimana nanti nasibnya mas Rendi. Tapi berkat bantuan seseorang, akhirnya mas Rendi ditemukan. Tapi abis dari hutan itu sikap Rendi jadi berubah, terus nggak tau gimana ceritanya mereka pisah. Kan kasian banget mbak Luri, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya..." jelas bang Muklis yang seketika haus dan nyeruput lagi kopinya.


Ridho manggut-manggut, "Abang bisa anterin saya nemuin orang yang waktu itu bisa nemuin Rendi?" tanya Ridho.


"Emang ada keperluan apa mas pengen ketemu sama orangnya?" tanya bang Perdi.


"Iyah, kenapa pengen ketemu?" bang Muklis juga ngerutin keningnya heran.


"Pokoknya ada perlu, Bang! Kalau abang bisa nemuin saya sama orang itu, nanti abang berdua saya kasih komisi!" Ridho mengiming-imingi dua orang itu dengan duit.


"Nanti saya anter kesana, nggak usah komisi nggak apa-apa, yang penting ongkosnya ojeknya aja, Mas!" kata bang Muklis yang dibarengi anggukan dari bang Perdi.


Aku langsung natap Ridho. Ngapain juga dia pengen ketemu orang itu. Sebegitu keponya dia sama hidupnya Luri? jangan-jangan karena merasa mirip dengan Rendi terus dia mau berpaling dari akikah dan berpindah pada Luri si penjaga warung kopi? Wooohoooo, tidak semudah itu buldozer! Aing tidak akan pernah mengijinkan ituuuuuuuhhh.


"Ngapain sih, Dho?" aku senggol lengannya, dan sekarang dia nengok ke aku.


"Masa kamu nggak tau, sih?"


"Kepo banget kamu sama hidup orang! nggak usah aneh-aneh deh, kita mau pulang. Nanti kita ketinggalan bus, kalau mampir ke rumah orang dulu!" aku berusaha mencegang ayang buat bertamu ke rumah orang malem-malem gini.


"Astaganaga! otak kamu lemot banget sih, Va! masa kamu nggak ngerti juga?" Ridho ngetuk-ngetukin jidatku pakai jari telunjuknya.


"Ini jidat bukan pintu! Sembarangan aja diketok!" aku singkirin jari telunjuknya, masih untung nggak aku gigit.


"Lagian kamu nyambungnya lama banget!" Ridho geleng-geleng kepala.


"Ya meneketehe, emang aku nenek Darmi yang bisa nerawang isi hati orang?" aku nyeletuk aja.


"Hush! jangan panggil nama orang sembarangan, ntar kalau dia denger, bisa nyaho kamu, Va!" Ridho nakutin.


"Jadi gini, Sayangku. Kayaknya kalau kita bisa ketemu sama orang yang waktu itu nemuin suaminya mbak Luri , kemungkinan ini bisa jadi salah satu jalan buat nemuin temen kamu itu, Mbak Sena. Sampai disini udah paham?" Ridho naikin satu alisnya.


"Iiiiiiihhhh, Ridhoooooooo!" aku unyel-unyel kedua pipi ayang. Sementara bang Muklis dan Perdi cuma bisa jadi penonton setia.


...----------------...