
Aku kira pak Karan udah pulang. Ternyata nggak. Dia nelfon dokter buat ngecek kondisi kandunganku.
"Tidak ada hal yang serius, istri anda hanya terlalu tegang dan banyak pikiran," ucap dokter Farah sama Ridho.
"Saya tuh nggak lagi banyak pikiran, Dok. Saya cuma abis diajak main petak umpet sama setan," ucapku.
"Setan?" dokter Farah naikin alisnya.
"Ah, bukan apa-apa, Dok. Dia hanya kelelahan, makanya ngomongnya agak ngelantur kemana-mana. Kalau pemeriksaannya sudah selesai, anda boleh pulang," serobot pak Karan.
"Baik, Tuan..." ucap si Dokter
"Kalau begitu saya permisi, Tuan..." lanjutnya yang kemudian membereskan tas yang dia bawa dan melenggang pergi keluar diikuti oleh pak Karan yang ngebiarin pintunya ngablak aja kebuka.
Dokter kandungan yang dipanggil pak Karan memang beda dengan dokter kandungan yang setiap bulan meriksa aku dan si dedek.
"Beneran kamu nggak apa-apa?" Ridho ngelus kepalaku.
"Nggak apa-apa," ucapku lirih.
"Kalau aja aku nggak lagi hamil, aku pasti bisa nempiling itu setan," aku dalam hati.
Sekarang aku coba atur napas aja, biar nggak stress ataupun tegang. Waktu Ridho mau nutup pintu, pak Karan datang lagi.
"Mau apa?" tanya Ridho.
"Saya mau ngomong sama Reva sebentar," pak Karan nyerobot masuk ajah.
"Reva, saya kirimkan satu pelayan kemari. Supaya kalau ada apa-apa paling tidak bisa membantu kamu disini,"
"Iya makasih..." aku langsung jawab aja. Toh emang aku lagi butuh. Aku nggak tau kapan mbak Rina balik lagi kesini, lah iya kalau balik lagi. Kalau nggak? Jadi lebih baik aku terima tawaran dari adek sepupu.
"Sudahkan? Reva butuh istirahat, jadi Bapak lebih baik pulang..." kata Ridho.
"Ck, suami kamu menyebalkan sekali Reva?!" ucap pak Karan.
"Kalau kau butuh bantuan, telfon saja. Aku pulang," ucap pak Karan yang kemudian pergi tanpa menunggu jawabanku.
Ridho kemudian nutup pintu.
"Mau aku sekah? elap-elap badannya?" tanya Ridho.
"Nggak usah, aku mandi sendiri aja..." aku bangun dan pergi ke kamar mandi.
Tadi kan aku abis ketemu setan, jadi aku mandi aja ya itung-itung buang sial. Dan selain hawanya juga nggak enak kalau nggak mandi lagi,"
"Va ... Reva? mandinya jangan kelamaan, nanti masuk angin," Ridho ngetok pintu kamar mandi.
Aku yang sadar diri ini udah malam, langsung keringin badan dan ganti baju.
Dan waktu aku keluar kamar, nggak ada Ridho.
"Kemana tuh orang? yang tadi beneran suaranya Ridho kan ya?" aku duduk di depan cermin.
Dan sesaat kemudian, Ridho datang dengan segecangkir teh panas. Bukan teh hangat ya. Tapi panas. Soalnya kebulnya masih kemana-mana.
Aku mau nanya tapi keburu males dan lemes, akhirnya aku pindah lagi ke tempat tidur. Inget tadi pesen dokter kalau aku harus banyak istirahat, supaya aku nggak ngedrop.
"Aku bantu," Ridho yang masih pake setelan kerja lengkap, naro bantal buat senderan punggungku.
Aku yang kebetulan berjarak sangat dekat dengan kangmas, hidungku mengendus bau sesuatu yang nggak biasa.
"Bau apa nih?" aku tarik jasnya kangmas, aku pastiin baunya.
"Bau apa emang?" Ridho naikin satu alisnya.
Aku lepasin jasnya kangmas, "Kamu darimana aja?"
"Aku? dari kantor lah. Emang bau apa sih? aku belum mandi sih emang, tapi kayaknya nggak bau apa-apa kok. Apa hidungku yang eror?" dia melepaskan jasnya dan coba ngendus dimana bau yang mungkin aku maksud.
"Bau apa sih, Va?" dia nanya ke aku, sedangkan mataku melotot.
"Eh, bau apa sih Sayang?" ralatnya.
"Pikir aja sendiri?!"
Aku taruh bantal dan mulai rebahan dan munggungin tuh orang. Sesangkan Ridho dia taruh jasnya di kurai meja riasku. Kenapa aku bisa tau? karena aku ngelirik dikit tadi.
"Jangan berisik, aku mau istirahat!" kataku ketus.
"Aku udah bikinin teh, terus ini martabak telornya tadi aku sekalian bawain, kamu belum makan kan?"
"Kamu makan aja sendiri," kataku cuek.
"Dih, nggak enak kalau nggak makan sama kamu. Kasian anak kita di dalem sana, dia pasti kelaperan. Cobain aja dikit, ini aku belinya pakai perjuangan. Antrinya panjang, Sayang..." ucapnya memelas.
"Bodo amat,"
"Aku minta maaf, hari ini pulang telat. Nggak bisa di hubungi dan bikin kamu ngalamin kejadian kayak tadi. Aku pantes dihukum, Sayang. Nih, pukul aja nih pukul..." Ridho deketin kepalanya, dan narik tanganku buat mukul kepalanya.
Tapi tanganku aku tarik balik, "Ih, apaan sih? jangan bikin aku jadi tersangka KDRT ya," aku kesel banget.
"Ya kan biar kamu nggak marah terus sama aku,"
"Kamu nggak nanya kenapa nih hape bisa ada di aku?" aku balik badan dan menatap kangmas dengan tajam.
"Ya sebenernya pengen tau, tapi kalau aku nanya sekarang ntar aku salah lagi... " sahut Ridho.
"Suami kan tempatnya salah dan dosa," ucapnya lebay.
"Rimar, dia yang anterin kesini. Tadinya aku telfon yang angkat Rimar, dia bilang hape kamu ketinggalan waktu makan siang. Yaaa beneran ketinggalan atau?"
"Atau apa?"
"Cuma kamu yang tau jawabannya..." ucapku sinis.
"Aku pulang telat salah satunya nyari nih hape. Beneran. Kalau tau ada sama Rimar dan dia bakal kesini buat nganterin, aku nggak mungkin nyariin sampai sore," tutur Ridho.
"Kamu nggak ada inisiatif gitu buat nelfon aku lewat pak Bagas kek atau lewat apa gitu,"
"Pak Bagas? ya nggak mungkinlah. Dia bos, masa iya aku pinjem hapenya?" Ridho alesana aja.
Aku bangun dan minum teh yang sekarang udah anget. Kangmas cuma ngeliatin.
Glek.
Glek.
Glek.
Setelah tandas aku bilang sama kangmas, "Bodo amat?!" ucapku penuh penekanan.
.
.
.
Semaleman tidurku sama sekali nggak nyenyak. Malahan sekarangbakunkebangun gara-gara mimpi buruk, "Astaghfirullah, ternyata cuma mimpi, huuufh ... hh ...hh..." ucapku dengan mencoba mengatur pernafasan.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ridho yang akhirnya juga kebangun.
Aku yang masih kesel sama suami sendiri, nggak mau ngejawab dan mencoba rebahan lagi.
Tapi nafasku kayak sesek gitu. Kayaknya potongan mimpi tadi masih kebayang di otakku. Aku yang ada di dalam air dan susah banget buat nafas. Aku bangun dan mencoba untuk duduk.
"Hh ... hhh..." aku pegang dadaku yang rasanya susah buat dapet oksigen.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ridho panik.
Aku cuma cengap-cengap, kayak ikan kurang air.
"Kamu sesek nafas?" Ridho nyalain lampu kamar yang tadinya cuma lampu tidur yang jadi sumber pencahayaan.
"Hhh ... hhh..." aku pegang dadaku sendiri.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Ridho ganti baju, ambil dompet dan hape.
Lalu dengan sigap dia gendong aku yang lagi susah payah ngatur napas.
"Sabar, ya? kita bakal secepetnya sampe kesana," ucap Ridho yang nyalain mobil dan ngebut di jalanan.