
"Kalau begitu kamu saja," ucap si nenek ke arah Ridho.
"Saya?" Ridho bingung. Sesaat kita berdua saling pandang.
"Iya kamu. Istri kamu kan lagi hamil! tolong ambilkan tongkatku yang ada disana," ucap si nenek nunjuk ke kursi yang ada di teras.
"Oh ya, Nek. Sebentar..." ucap Ridho.
"Aku ambilin tongkat dulu, kamu disini dulu bentar," ucap Ridho yang nyuruh aku nunggu.
Dia segera ngambil tongkat hitam dengan ujungnya berbentuk kepala ular.
"Ini, Nek..." ucap si nenek.
"Mari saya bantu,"
PUK?!
Si nenek memukul punggung kangmas dengan tongkatnya.
"Awwwh, kok saya dipukul? saya salah apa?"
"Memangnya saya keliatan sudah sejompo itu? harus dibantu segala?!" si nenek mukul sekali lagi sebelum dia jalan dengan tongkatnya.
Ridho mah geleng-geleng kepala aja, sementara aku jadi de javu dengan kejadian tadi. Iya aku juga pernah di pukul dulu waktu pertama kali ketemu sama nenek Darmi, neneknya Karla.
Ridho mendatangi aku lagi, tapi perutku rasanya sakit banget. Nggak tau kenapa.
"Kamu kenapa, Va? Revaaaa?" Ridho menyanggah badanku, sementara tabganky mencengkram tangan Ridho kuat.
"Kok sakit banget, ya?" ucapku.
"Nelaaaaa?!!" teriak si nenek.
"Ya, Bu..." sahut bu bidan Nela dari dalam rumahnya.
"Nela, itu pasien kamu," ucap nenek.
Bu bidan Nela menghampiri kami.
"Tolong bu Bidan. Perut istri saya sakit lagi," ucap Ridho.
"Gendong dan bawa ke dalam, Mas..." ucap bu bidan.
Aku dibawa ke ruangan khusus, kayaknya ini buat tempat lahiran.
"Saya nggak mau melahirkan, Bu..." ucapku panik.
"Tenang, Mbak. Mbak saya minta berbaring disini bukan berarti saya mau memaksa Mbak untuk melahirkan. Saya hanya mau memeriksa keadaan dedek yang ada di dalam sini," ucap bu Nela dengan sabarnya.
"Cuma diperiksa kayak tadi, Sayang..." kata Ridho.
"Sotoy banget kamu, Mas! emang kamu bidannya?" aku kesel banget sama Ridho.
Bu bidan meriksa dan nanya berbagai macam pertanyaan. Apa rasanya sakit seperti mulas atau hanya tegang dan nyeri tapi hanya sesaat. Bu Nela nyuruh Ridho mindahin aku di salah satu ruangan yang ada tempat tidur dan baby box-nya.
"Kemungkinan istri anda sangat kelelahan. Lebih baik, biarkan istri anda untuk istirahat dulu disini. Sampai keadaannya membaik dan kuat untuk naik kendaraan..." kata bu Nela.
"Oh ya, maafkan ibu saya ya. Maklum sudah tua," ucap bu Nela.
"Tidak apa-apa, Bu..." ucap Ridho sopan.
"Ya sudah saya tinggal dulu ya, saya mau ke puskesmas sebentar. Nanti saya balik lagi. Telfon saja kalau ada apa-apa," bu Nela kasih kartu nama.
"Baik, terima kasih bu Bidan..." ucap Ridho.
Setelah bu Nela pergi, Ridho semakin mendekat dan mengusap kepalaku, "Sakit banget?"
Aku mengangguk, "Iya, buat melangkah kayaknya sakit banget..."
"Mungkin karena semalaman kamu nggak tidur, dan ditambah lari-larian padahal kamu lagi hamil gede kayak gini. Harusnya aku gendong terus dan jangan biarin kamu lari kayak gitu. Maafin aku ya?" Ridho ngecup punggung tanganku. Jari jermari kami saling bertautan.
"Kalau lagi genting kayak gitu mah, nggak ada yang bisa disalahin, Mas. Namanya juga panik," ucapku.
Dan kita lagi ngobrol kayak gini si nenek tongkat ular datang membawa satu cangkir teh.
Ridho yang melihat itu langsung nyamperin, "Saya bantu, Nek..."
"Minumkan istrimu teh ini, jangan dihabiskan
"Baik, Nek..."
Ridho menghampiriku dengan sebuah cangkir di tangannya. Sedangkan nenek itu duduk di salah satu kursi kayu.
"Minum?!" suruh si nenek.
"Katanya disuruh minum," ucap Ridho.
"Aman nggak?" tanyaku.
"Aku minum duluan ya? kalau ada apa-apa kan aku yang kena duluan," ucap Ridho.
"Terus kalau kamu metong? aku jadi janda dong? ogah ah! nggak usah diminum, aku nggak yakin si nenek orang baik," bisikku.
"Aku minu. dulu, kalau aman ntar giliran kamu yang minum..." ucap Ridho hang usah angkat cangkir dan mau minum.
Tapi nenek bangkit dan memukul punggung si Kangmas, "Bukan kamu yang minum! tapi istrimu!"
"Awwhhh, iya iya, Nek. Tadi saya kurang dengar," Ridho alasan.
"Kalau kamu ingin bayi kalian bisa temang dan tidak gelisah di dalam, minumkan istrimu air teh itu. Kecuali jika kamu ingin melihat iatrimu yang keras kepala itu kesakitan terus menerus. Kalian itu habis ketemu makhluk halus, tapi tidak langsung bersih-bersih. Hawanya saja masih kebawa sampai sini," ucap si nenek.
"Wooohooo, shaktiii sekali ya nenek. Mantap jiwa, tau aja kita abis digeroyok setan," batinku.
"Minum, Sayang..." ucap Ridho. Dia bantu aku buat duduk dan nyeruput itu teh yang nggak ada manis-manisnya sama sekali.
"Nggak manis," aku bilang sama kangmas.
"Sengaja, tidak saya beri gula. Nanti kamu malah keenakan. Bawa sini cangkir itu," ucap si nenek nunjuk cangkir dengan tongkatnya.
Ridho rebahin aku lagi, baru dia nyamperin si nenek.
"Kok aku mual," ucapku.
"Howeeekk," aku kayak orang mau muntah tapi nggak ada yang dikeluarin.
Sedangkan Ridho buru-buru nyamperin aku lagi setelah ngasih cangkir itu ke nenek.
"Masuk angin kali ya? sini aku pijitin ya?" ucap Ridho yang nyuruh aku tiduran menyamping dan mulai memberikan pijatan ditengkuk dan di punggung.
"Ada yang ingin menjadikan anak kalian tumbal," ucap nenek itu yang serius melihat isi cangkir.
"Tumbal?" gumamku lirih.
"Sifatmu yang keras membuat kamu sering bersinggungan dengan oranglain, apa itu benar?" tanya si nenek padaku.
"Nggak juga," ucapku.
"Ck, masih saja mengelak," si nenek menyunggingkan senyum sinisnya.
"Memangnya ada orang yang ingin mencelakai kami, nek?" tanya Ridho.
"Hanya istrimu incarannya," ucap nenek.
Kangmas menghentikan pijatan di punggungku, "Istriku? gumamnya lirih.
"Beristirahatlah, bukankah dikejar makhluk halus juga butuh tenaga?" ucap si nenek yang kemudian berdiri.
Si nenek berjalan beberapa langkah menuju pintu, kemudian dia behenti sejenak.
"Sebentar lagi anak kalian akan lahir, jadi lebih baik jangan melakukan perjalanan jauh. Itu sangat beresiko," ucap nenek tanpa menengok atau melihat ke arah kami.
Kemudian dia pergi tanpa menutup pintu.
"Mas?" aku mengubah posisiku, miring ke arah kangmas.
"Tenanglah, kita berlindung sama Allah. Kita berdoa saja, supaya bisa dihindarkan dari marabahaya," ucap Ridho yang duduk dan coba menenangkan aku.
"Aku akan berusaha untuk melindungi kamu dan calon anak kita. Kamu jangan khawatir, kamu nggak akan pernah sendiri..." Ridho mengelus perutku. Aku tersenyum tipis, sedangkan pikiranku udah melayang kemana-mana.
"Kamu istirahat dulu, tidur. Supaya kamu bisa cepet pulih, Sayang..." kata kangmas.
"Kita kan mau ke rumah pak Sarmin. Minta bantuan,"
"Jangan pikirin itu, kita fokus sama kesehatan kamu dulu baru kita akan pikirkan langkah selanjutnya, oke?" Ridho mengecup keningku.