Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Bapak Setan, Ya?


Aku matiin gitu aja telpong dari si mantan Bos.


"Saya tunggu saya tunggu! vibes galaknya itu loh nggak ilang-ilang!"


"Nih adek sepupu suka bikin sport jantung kalau udah merintah, nyebelin!" aku gedeg banget sama kelakuan pak Karan.


Ini udah jam 1 malam bayangkan, ngapain juga aing keluar rumah. Kalau akikah yang manisnya udah kayak gula biang ini keluar dan digeroyok setan gimana?


Eeiiiiitsss! ngemeng-ngemeng tentang setan, aku jadi curiga yang nelpong ini bukan pak Karan asli melainkan jin yang menjelma jadi sosoknya pak Karan. Waktu itu juga ada yang ngaku-ngaku jadi Mona, udah jelas-jelas Mona lagi sama temen-temennya.


Drrrttttt!


Ponselku bergetar.


Emang sengaja tadi aku senyapin biar nggak berisik.


"Halooo..." aku nyautin telpon dari pak Karan.


"Astaga, kamu lama sekali keluarnya..." kata pak Karan.


"Bapak Setan, ya?" aku nuduh. Aku nggak mau basa basi.


"Heh, sembarangan kamu ngatain saya setan! saya pe---"


"Pecat? saya sudah dipecat kalau Bapak lupa!sudah malam saya ngantuk!" aku tutup telepon, saking gedegnya.


Dan baru juga nempelin kepala di bantal, itu nomor pak Karan nelponin mulu. Ya ampuuuuun, bener-bener ya setan sekarang nggak beradab.


"Apa lagi, siiiihhh! udah deh, Tan! aku tuh capek, habis dipontang-pantingin temen elu di rumah nenek moyangnya pak Karan. Udah ya, aing mau istirahat, badan sakit semua! nggak usah ganggu!"


"ASTAGA, REVA SAYA BUKAN SETAN! CEPAT KAMU KELUAR!" pak Karan bentak.


Jantungku rasanya nggak karuan. Baru kali ini aing denger suara begitu menggelegar.


"Astagfirllah..." aku ngelus dada, shock.


Karena penasaran, aku pun keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Aku ngintip dari balik tirai yang menjuntai.


Ada satu sosok pria yang aku kenal, dia berdiri menghadap pintu. Mata elangnya melihat ke arah jendela. Aku refleks bersembunyi, dan hapeku bergoyang eh bergetar lagi.


"Angkat nggak ya?" aku ragu sumpeh.


Aku ngintip lagi dari jendela, dan lagi-lagi pak Karan noleh ke arah jendela. Dia nelpon lagi.


"Ya?" aku jawab agak takut-takut gimana gitu.


"Kamu ... astaga, Reva! Saya ini manusia, bukan setan. Kenapa kamu belum keluar juga? saya tau kamu ada di balik pintu ini. Cepat buka pintunya!" kata orang yang 100% mirip dengan pak Karan.


"Mana ada setan yang ngaku, Pak? lagian ngapain Bapak tengah malam begini ke kontrakan saya? emangnya Bapak nggak punya rumah?"


"Astaga, sulit sekali membuat kamu percaya kalau saya ini ... sudahlah, cepat buka pintunya diluar sangat dingin!" kata pak Karan yang kayaknya udah capek berdebat dengan akikah.


"Itu urusan, Bapak! masih untung saya mau angkat nih telepon, lagian pamali anak gadis kayak saya nerima tamu tengah malam begini. Saya nggak mau jadi bahan gunjingan tetangga, Pak!" aku kasih alesan.


"Kalau ada hal yang penting silakan Bapak sampaikan lewat telepon saja!" lanjutku.


Aku traumaaaahhhh deket-deket atau pergi berdua dengan pak Karan. Karena pasti ada aja kejadian yang berhubungan dengan makhluk halus.


Pak Karan terdiam.


"Ya udah kalau nggak ada yang mau Bapak--" ucapku sambil berbalik berniat kembali ke kamar.


Bruk!


Kedengeran ada suara yang berasal dari pintu. Aku masih nempelin nih hape di telinga sambil ngintip lagi keadaan di luar. Dan mataku membelalak saat ngeliat pak Karan duduk di lantai, senderan pintu.


"Temani saya sebentar," kata pak Karan. Kayaknya dia lagi galau berat. Aku nggak pernah ngeliat mantan bos meminta sesuatu dengan suara yang merendah seperti ini.


"Hemmm..." aku pun duduk di lantai sambil bersandar di balik pintu yang masih terkunci. Jadi kita kayak lagi punggung-punggungan gitu. Dan kayaknya yang lagi ngomong sama aku ini emang pak Karan yang asli. Tapi meskipun begitu, aku keukeuh nggak mau bukain pintu.


"Apa ada yang terjadi?" tanyaku, memecah keheningan. Karena daritadi dia juga diem aja, cuma hembusan nafas yang berat yang bisa aku dengar.


"Dia minta maaf," satu kalimat meluncur dari pak Karan.


"Siapa?" aku ngerutin kening.


"Wanita yang mencelakai ibuku,"


"Nenek Gayatri maksud Bapak?" aku mastiin lagi.


"Dia mengatakan itu setelah membuatku kehilangan ibuku. Dan apa yang dia lakukan, berimbas pada keluargamu juga. Kamu jadi kehilangan Om Dave..."


"Semua itu sudah takdir, Pak. Kita nggak bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi..." aku sok bijak. Padahal dalam hati, aku juga rindu sama papa.


"Apa kamu tidak ada rasa benci dengan wanita tua itu?"


"Kalau pun saya nyimpen rasa benci, itu juga nggak bakalan bisa balikin papa saya lagi. Hidup harus tetap berjalan, bagaimanapun sakitnya masa lalu..."


"Apa aku perlu memaafkannya?" tanya pak Karan.


"Iya, kalau Bapak ingin hidup tenang dan bahagia..." ucapku.


"Tapi dia sudah membuat--"


"Kalau Bapak inget-inget masa lalu, nggak akan ada habisnya sampai kapan pun juga! Bapak kebanyakan nengok ke belakang. Ya saya tau, kehilangan seseorang memang sangat menyakitkan, saya juga belum tentu bisa. Tapi saya berusaha setiap hari, supaya bisa berdamai dengan keadaan. Dan kalau saya bisa, kenapa Bapak nggak?" aku menggebu.


"Baiklah kalau begitu..." kata pak Karan singkat.


Aku kedap-kedip, mendengar jawaban pak Karan yang terkesan nggak ada perlawanan.


"Tumben jinak? biasanya ngegas?" gumamku dalam hati.


Sebenernya dibalik sikapnya yang galak dan bossy itu, dia menyimpan luka yang menganga. Dan yang dia butuhin cuma orang yang mau ngedengerin, bukan orang yang siap diajak perang kayak aku ini. Antara terpaksa karena nggak ada lagi yang bisa dia ajak cerita atau emang pak Karan ini melihat aku sebagai sosok yang lembut dan bijaksana dalam menghadapi ujian hidup, ehek!


Karena eh karena orang kayak pak Karan nggak bakal mau nunjukin sisi lemahnya di depan orang lain. Dia akan menutupi itu sebisa mungkin, maklum lah dunia bisnis itu kejam. Karakter pak Karan yang keras, sombong dan tukang nyuruh ini nggak disulap dalam wkatu semalam. Banyak hal yang harus dia pikul di kedua pundaknya. Nggak tau gimana ceritanya, kita jadi ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas.


Tapi teteup ya aing nggak buka pintu. Sekali lagi, aing trauma sodara-sodara. Mata akikah yang indah dan mempesona udah kiyip-kiyip gitu, tau nggak sih kiyip-kiyip? kayak yang beraaaat banget buat melek. Intinya aing ngantuk, titik. Bodo amat dah, pak Karan nyerocos apaan, aku ham hem ham hem aja. Udah nggak konek nih otak.


Dan sekarang kayak ada orang yang punya kemiripan dengan suara Mona manggil dan ngegoyang-goyangin badanku.


"Mbaaaaak, bangun Mbaaaak!"


"Emmmh," aku buka mata dikit-dikit.


Wajah Mona yang tadinya samar, sekarang semakin jelas dan nyata.


"Mbak, kok tidur disini, sih?" Mona nanya dengan wajah keheranan.


...----------------...