Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Fans Berat Barraq


Malam ini, adek sepupu nelfon. Tapi aku ragu buat angkat. Sedangkan Ridho lagi di dapur, dia nyiapin makan malam.


Sebenernya dilema banget aku, Ridho disini bikin aku lumayan tenang. Karena kalau ada apa-apa bisa ada yang nolongin. Tapi kita dua orang dewasa beda jenis yang nggak terikat pernikahan, nggak baik kalau tinggal bareng.


Nggak mungkin juga aku nyuruh Arlin nginep disini, aku nggak mau melibatkan orang lain dalam masalahku.


Satu-satunya cara, ya udah hadapi. Mungkin tuh hantu bisa dinego, cincay lah biar dia jangan gangguin aku mulu.


Aku tinggalin hape yang daritadi bunyi mulu.


"Kamu nggak pulang?" tanyaku saat udah nyampe di meja makan


"Kamu ngusir aku, Va?"


"Iya, udah malem!" kataku.


"Aku kan disini buat jagain kamu," sahut Ridho.


"Kelar makan langsung pulang, aku nggak mau ada yang salah sangka..."


"Ya, tetangga misalnya..." lanjutku dalam hati.


Raut wajah Ridho berubah. Dia taruh nasi goreng yang dia bikin di depanku. Kita makan dalam keheningan.


"Maaf, Dho! tapi kayaknya emang aku harus ngadepin ini sendiri..." ucapku dalam hati.


Aku ngeyakinin kalau aku bakal baik-baik aja. Dan setelah makan malam, Ridho pun pulang. Sebenernya aku agak was-was juga. Tapi ya udahlah, mau gimana lagi.


Sebelum tidur aku pastiin kalau aku udah sholat dulu, lampu aku biarin nyala semua. Kali ini aku nggak tidur di kamar, tapi di ruang tivi.


"Semoga nggak nongol..." gumamku.


Aku tarik selimut, gonta-ganti channel tivi. Belum ngantuk juga sampai sekarang. Aku lihat sekeliling. Fasilitas yang aku dapetin ini berkat perusahaan yang dikasihin adek sepupu.


Mataku beralih ke benda pipih super canggih, aku mengetik nama 'Pak Bos'.


Tapi segera aku hapus lagi.


"Mending aku langsung ke kantornya..." ucapku.


Aku gletakin lagi tuh hape di meja. Ada hal yang tiba-tiba menclok dipikiran, tapi besok ajalah aku ketemu sama tuh orang. Lagian udah malem juga, kayaknya nggak enak aja buat nelpon.


Dan yang sama sekali nggak ditunggu dateng gaes, si mbak Etan. Sontak aku bangun, siap-siap kabur maksudnya.


"Mau apa lagi?" aku udah pasang kuda-kuda.


Tapi dia malah duduk, dengan pandangan kosong natap layar tipi.


"Buset dah, kesini mau numpang nonton sinetron apa gimana dah? gabut banget nih Etan..." gumamku dalam hati.


Aku yang tadinya udah pasang ancang-ancang mau reply adegan silat pun akhirnya nggak jadi. Ngeliat tuh muka setan ngenes banget, akubpun akhirnya dikit-dikit merambat duduk di sofa.


"Aku nggak akan tenang..." ucapnya, sambil pandangannya lurus ke depan.


"Maksudnya?"


Dia nengok ke aku.


"Jangan nengok, liat tipi aja sonoh sambil ngomong!" aku nunjuk ke arah tipi yang nyala.


"Kenapa aku tidak bisa meminjam ragamu?" ucap si mbak Etan random.


"Ya meneketehe, kok tanya aku? aku belum mati dan belum ada keahlian buat ngerasukin orang!" aku nyautin seadanya.


Dia nengok buat yang kedua kalinya.


"Aku Rania," ucap si Etan yang mukanya natap lurus ke depan.


Kalau aku nggak usah nyebutin nama, aku yakin dia udah tau namaku siapa.


Lama dia terdiam, aku nggak ada niatan buat nanya apapun. Kayaknya ini cewek lagi galau parah yang cuma butuh didengerin. Dan bener kan dia mulai nyerocos lagi.


"Aku pengagum Barraq!" ucapnya lagi.


"Pengagum?" aku nautin alis.


Bahasanya jadul amat, pengagum. Tinggal Fans Berat Barraq gitu loh susah amat.


"Terus apa hubungannya sama aku?"


"Karena kamu dekat dengan Barraq, idolaku!" jawabnya dengan segaris senyuman ngeri di wajahnya.


"Wait, wait! deket sama Barraq? kayaknya kamu salah paham, kita cuma tetanggaan dan nggak ada kata deket, please tolong diralat itu kata-kata!" aku nyanggah omongan dia.


"Bantu aku bilang kalau aku suka sama dia, aku bahkan hilang dari bumi ini saat aku mencoba mengejar waktu untuk acara meet and greet dengan Barraq!" ungkap Rania.


Astagaaaaa, jadi dia gentayangan itu karena belum berhasil meet and greet sama Barraq? Yassssaaalaaaaaaam!


"Ngefans boleh tapi nggak segitunya juga keleeeeess. Barraq itu cuma manusia biasa yang pasti pernah kentut sembarangan..." ucapku. Tapi si Rania kayak nggak terima idolanya aku jelek-jelekin.


"Ehm, kok nyampe ke kentut ya? maap, maap jangan emosi..." lanjutku yang nahan suapaya nggak ketawa.


"Maap ya Rania, aku tuh sebenernya nggak begitu kenal sama Barraq. Aku tau Barraq itu model cover majalah taneman aja baru tau kemaren-kemaren. Terus ya, kita cuma sekedar tetangga nggak lebih. So, kayaknya kamu salah buat minta bantuan aku..." ucapku penuh kehati-hatian.


"Dia bukan model cover majalah taneman!" Rania kesel.


"Ya majalah apapun itu aku nggak peduli, yang jelas. Udah nggak usah nyoba ngerasukin aku, karena kamu pasti akan gagal maning gagal maning son!" ucapku.


"Lagian buat apa kamu ngerasukin aku? biar apa? apa Barraq bisa ngenalin kamu? satu dari puluhan, ratusan, atau mungkin ribuan penggemarnya dari berbagai pelosok negeri? nggak juga kan? jadi mendingan kamu ikhlas aja, dan terima takdir kalau kamu dan Barraq sudah beda dunia..." ucapku sok bijak.


"Tapi ada hal yang aku ketahui tapi Barraq tidak mengetahuinya..." ucap Rania.


"Apa itu? apa yang kamu ketahui?"


"Ada seorang wanita yang menaruh sesuatu di unit Barraq, sewaktu wanita itu berkunjung kesana. Dan karena benda itu, Barraq jadi tergila-gila dengan wanita itu..."


"Darimana kamu bisa tau?"


"Aku kan hantu, aku mengikuti Barraq kemanapun dia pergi, kecuali ke toilet. Karena aku tidak siap dengan itu..." ucap Rania.


Astaga, Rania. Hantu bisa ngeblush juga ternyata.


"Ya ya ya, terus? lupain part ke toiletnya," ucapku.


"Aku melihat seorang wanita bertamu di unit Barraq namanya Cheryl dan dia membawa bungkusan putih. Dia taruh persis di bawah kolong ranjang Barraq. Dan setelah itu, Barraq dan wanita itu menjadi dekat. Bahkan dia sering mengajak wanita itu ke unitnya..."


"Terus kamu cemburu gitu?" aku todong aja si Rania langsung ke intinya.


"Bukan cemburu, tapi dia melakukan cara kotor untuk memikat Barraq. Sebagai seorang fans, aku nggak terima!" ucap Rania penuh amarah, segala kecoa dan kalajengking pun keluar dari rambutnya


"Wolessss, woleessss!" aku jaga jarak dengan Rania.


Dan binatang-binatang tadi pun masuk lagi ke asal dia keluar tadi, rambutnya Rania. Mungkin di dalam rambut itu Rania bisa ngumpetin kolor, atau rumah mungkin.


"Barraq jadi terpikat dengan Cherryl. Tapi ketika dia lihat kamu, aku bisa melihat kalau Barraq bisa ada rasa tertarik, walaupun sebenernya aku juga nggak ikhlas. Bagaimanapun kami para fans, nggak pengen ada seorang pun yang memiliki idola kami. Karena Barraq milik sejuta umat!" ucap Rania.


"Lalu?" aku masih belum nangkep apa yang dia mau.


"Bantu aku buat melakukan sesuatu..." ucap Rania nengok dengan sorot mata yang serius.