
Setelah dibuka, ternyata yang ada di depan pintu adalah orang yang semalam aku temui, siapa lagi kalau bukan Karan Perkasa.
Yaelah, ini mantan bos mau ngapain lagi.
"Ikut aku!" pak Karan main narik aja. Dia bahkan nggak kasih kesempatan aku buat sekedar pamit sama Mona. Untung tanganku tadi refleks nutup pintu kontrakan, nah kalau nggak kan kucing-kucing tetangga bisa pada masuk dan bikin Mona jejeritan, perkara dia takut sama hewan yang satu itu.
"Ya ampun, Pak! hobi banget sih nongol dadakan kayak gini?" aku protes saat dia buka pintu mobil dan tanpa suara nyuruh aku.
Brakkk.
Dia setengah ngebanting pintu mobil, "Astagfirllah!"
Untung bukan mobil ompreng, yang kalau ditutup pintunya bakalan mirip kayak suara kaleng. Nggak ada akhlak beneran nih mantan bos.
Pas aku mau keluar, ternyata pintu udah dikunci secara otomatis ama yang punya mobil.
"Buka, Pak..." aku nengok ke sisi kanan.
"Nanti setelah urusan kita selesai," kata pak Karan.
Aku berdecak, "Ck, urusan apa lagi ya Allah..."
"Pasang sabuk pengaman!" suruh pak Karan.
Mau nggak mau tapi harus mau, karena keselamatan aing lebih penting dari apapun. Jangan karena nggak pakai nih sabuk, aing jadi kenapa-kenapa.
Mobil perlahan meninggalkan kontrakan. Aku gelisah karena aku kan ada janji sama Ridho. Kita berdua mau pergi hari ini, tapi sekarang aku malah ngejogrog di mobilnya pak Karan. Kalau Ridho ke kontrakan dan nggak nemuin aku disana, kan bisa panjang urusannya. Apalagi kalau dia tau aku lagi sama pak Karan, udah pasti Ridho bakal marah.
"Pak, puter balik!" aku mulai berani nyuruh.
"Tidak!"
"Semalam, badan saya sakit semua karena duduk di lantai berjam-jam. Karena kamu tidak mau buka pintu..." lanjut pak Karan yang nggak noleh sedikit pun.
"Astaga, Bapak datang tengah malam udah kayak demit yang lagi keliaran!"
"Bapak, Bapak ... saya bukan Bapak kamu!" pak Karan minggirin mobilnya mendadak. Hampir aja ini jidat kejedot kaca.
"Ya kan Bapak mantan bos saya di kantor, lagian dari dulu kan saya manggilnya juga begini. Ntar kalau dipanggil Dedek, marah? please jangan bikin saya jadi serba salah..." aku nyerocos aja udah, yang penting aku bisa dibalikin ke kontrakan. Dikirim pakai paket super kilat kalau bisa, biar nyampe sebelum Ridho dateng.
"Kamu duduk yang tenang dan dengarkan saya dulu, bisa tidak?"
"Nggak, Pak! nggak bisa!" aku udah kayak cacing kepanasan, padahal ac mobilnya kenceng banget.
"Astaga! kamu ini..." pak Karan sampai nggak bisa berkata-kata.
"Mending, Bapak atau Dedek anterin saya ke kontrakan lagi..."
"Saya bukan supir!" kata pak Karan.
"Ya memang bukan supir, tapi kan yang ngajak saya kesini itu ya anda Bapak Karan Perkasa yang terhormat. Jadi anda wajib balikin saya lagi ke tempat semula. Kalau nggak buka pintunya, nanti saya cari taksi sendiri..." aku maksa, padahal nggak ada duit di saku.
"Hah, memangnya kamu ada urusan sepenting apa, sampai susah sekali diajak bicara? hem?"
"Diajak bicara darimana coba? dari sedotan es teh? kita itu kalau ketemu yang ada ribut terus, Pak ... ya ampuuuun," aku gregetan.
"Kamu tenang dulu makanya, jangan seperti orang yang sedang ambeyen!" kata pak Karan yang tumben ngomongnya agak nyeleneh.
"Bukannya semalam kita udah ngomong, Bapaaaaaaaakkkk..."
"Terserahlah,"
Aku senderin punggung di kursi mobil yang super nyaman, cuma hati aing yang lagi kurang nyaman.
"Huuuufhhhh!" pak Karan buang duit, eh buang napas, dan untung nggak sekalian buang angin.
Hening...
Ya amplop, katanya mau ngomong, mau ada urusan? Lah ini dia malah diem-diem bae. Nggak ngerti aing, sumpeh!
Aku berkali-kali ngeliat hape. Takut kalau Ridho tiba-tiba nge-chat atau nelpon.
"Pak, kalau---"
"Kalau saya beri kamu salah satu aset saya di luar pulau, kamu mau terima tidak?" pak Karan nyerobot duluan.
"Aset? luar pulau?" aku nggak paham.
Lalu aku bergidig ngeri, "Nggak, nggak ... mama saya bisa nangis kejer loh kalau tau anaknya yang sholeha ini mau diungsikan ke luar pulau, Pak! ati-ati bisa kena kutuk mama saya loh, Pak! saya emang udah jadi pengangguran tapi itu hanya sementara..."
"Ya ampun sesusah ini bicara dengan kamu ya , Reva! sepertinya lebih nyambung bicara saat kamu sudah ngantuk daripada saat kamu masih sadar 100% seperti ini!" pak Karan tepok jidatnya sendiri.
"Kalau Bapak nggak kuat, Bapak bisa lambaikan tangan ke kamera! nanti ada kru yang bakal menjemput Bapak..."
"Kita bukan lagi syuting tayangan horor, Revaaaaa!" pak Karan udah ampun-ampunan kayaknya ya. Sama Pak, saya juga sudah ampun-ampunan sama Bapak.
"Kalau harus ke luar pulau, mending nggak usah, Pak! makasih banget, saya masih betah disini. Saya bisa cari perusahaan lain yang mau menerima karyawan cantik dan potensial seperti saya. Saya nggak perlu jauh-jauh nyebrang pulau lain hanya untuk cari duit..." aku banggain diri sendiri. Bahasaku udah campur-campur kayak nasi rames, bodo amat lah.
Pokoknya Perkasa Group itu sudah melakukan kesalahan besar udah mecat aing. Aku yakin bisa lebih sukses di tempat lain, tapi nggak tau kapan. Kan sekarang mah belum nemu, ngelamar kerja aja belum.
"Saya kasih aset, bukan nyuruh kamu kerja disana, atau pindah kesana, Revaaaaaa!" pak Karan udah mijit-mijit kepalanya, kayak tertekan gitu.
"Saya tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya jadi tante Ivanna mengasuh dia dari kecil..." pak Karan bergumam, tapi masih samar aku denger.
"Bapak ngomong apa?"
"Saya bilang, kalau tante Ivanna sudah terbukti sangat hebat karena bisa tahan punya anak seperti kamu, Reva..." kata pak Karan.
"Mama saya itu beruntung punya anak seperti saya, yang tidak silau dengan harta dan duniawi. Sudah kan bicaranya? jadi bisa dong, Bapak anter saya balik ke kontrakan?"
"Belum..." jawab pak Karan singkat.
"Apalagi yang belum?"
"Ada satu hal lagi..."
"Apa itu? Bapak bisa katakan sekarang," aku mendesak, biar cepet kelar urusan.
Dia mendekat, tangannya nemplok di pipiku.
"Aku tidak mengerti, kau begitu aneh dan menyebalkan. Tidak ada hal yang bagus yang terlihat, tapi sehari tidak berdebat denganmu rasanya ada yang kurang..." ucap pak Karan, kedua bola matanya menatapku dalam.
"Saya nggak ngerti..." lirihku.
"Aku pun sama, banyak hal yang tidak aku mengerti! kalau begitu kita menikah saja!" ucap pak Karan, aku melongo.
...----------------...