Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
The Power Of Kepepet


"Mbaaaaaaakkk? spedaaaaaa? eh, spaadaaaa?" dia tetep nggak nyaut.


Karena si Mbak receptionist itu diem-diem bae, aku pun memilih untuk mencari sendiri, "Ngeselin banget, sih!"


Aku mulai mencari tau sendiri dimana letak restoran di hotel ini, dan aku berhenti tepat di depan lift, "Kalau udah kruyukan gini, takut nggak takut harus takut. Eh, gimana?"


Ini suara gending jawanya kok nggak kedengeran, yang diputer malah musik klasik. Aku nggak ngerti ini hotel konsepnya gimana, bentar-bentar berubah. Aneh banget, sumprit.


Ting!


Pintu lift terbuka, padahal aku belum mencet.


"Woooow, apa ada sensor khusus?" Aku masuk ke dalam lift lalu aku pencet lantai 4, sesuai petunjuk yang ada di dalam lift.


"Enaknya makan apa, ya? kalau buat sekedar makan mah, nggak mungkin bikin kantong bolong-bolong amat, kan?"


Dan ting...


Pintu lift terbuka di lantai 1.


Nggak ada orang, mungkin ada orang yang tadi udah sempet mencet tapi keburu lift disampingnya kebuka dan dia masuk ke dalam lift satunya.


Klik


Aku pencet tombol tutup pintu dan pintu besi kembali tertutup.


Ting...


Pintu lift kembali terbuka di lantai 2.


Tetep nggak ada orang, aku mulai sewot.


"Iishhhh, ada yang sengaja mainan tombol lift nih, pasti! awas aja kalau ketemu, aku uwes-uwes rambutnya!" aku pencet tombol lagi supaya pintu bisa nutup.


Ting...


Di lantai 3, si pintu ngebuka lagi. Aku pencet tombol tutup pintu dengan kasar, "Rese!" ucapku.


Ting...


Akhirnya aku sampai di lantai 4, tapi sebelum aku keluar sepertinya ada sekumpulan angin yang menghantam badanku.


"Aneh!" gumamku sambil mengusap tengkuk.


Aku keluar menuju sebuah restoran yang ternyata memadukan konsep jawa dan perancis. Nggak nyambung, tapi bodo amat. Yang penting perutku harus secepatnya diisi.


"Kok mereka diem bae? nggak nanyain aku dari kamar berapa gitu?" aku menatap staff hotel dengan heran.


"Oh, iya! ini kan bukan kalau ditanya kamar berapa mah kalau breakfast, ya? hadeuh, otak ngelag kalau lagi laper kayak begini," seketika aku merasa sangat bodoh.


Aku memesan spagetti yang dipadu dengan lembutnya hati angsa, "Menarik, cobain ah! jarang-jarang juga ada menu beginian..."


Setelah memesan makanan dan minuman, aku baru menyadari kalau musik yang diputar itu seperti kaset yang rusak.


"Hadeuh, kenapa musik mbleret masih diputerin? nggak bener ini," ucapku mengomentari.


Dan kini musik tadi berganti dengan nyanyian seriosa, yang menurutku malah agak creepy ya buat diputer malam-malam begindang.


Aku melihat beberapa orang sedang duduk menikmati makanan mereka. Ada yang bersama pasangan atau pun ada yang sendirian kayak akikah, mungkin dia zombiee juga, eh zombloooo maksudnya.


"Belle Femme?" ucapku yang mengartikan nama dari hotel ini.


"Nama hotel pakai bahasa perancis, tapi bangunan model jawa. Ah, sungguh membagongkan..."


Aku mengeluarkan ponsel pintar dan mengetik nama hotel Belle Femme dalam search engine.


"Ah, serius? nggak mungkin, dah! ini yang nulis artikel pasti lagi nglantur," mataku membulat saat membaca sebuah artikel kalau hotel Belle Femme, hotel yang memadukan konsep dua negara itu telah dinyatakan tutup, 10 tahun yang lalu. Pemiliknya bernama Belevia, seorang keturunan jawa yang memiliki darah perancis dari ayahnya.


"Ah, ngaco. Nggak bener nih yang nulis!" aku geleng-geleng kepala, tapi aku tetap melanjutkan membaca artikel itu. Dan yang membuatku nggak kalah kejang-kejang, dalam tulisan itu Belevia dinyatakan meninggal satu tahun setelah hotelnya bangkrut.


Dalam artikel yang lain menerangkan hal yang sama, jika pemilik hotel Belle Femme sudah meninggal, dan hal itu dikarenakan serangan jantung.


"Nggak mungkin aku berada dalam hotel yang sudah..." ucapanku menggantung sambil melihat ke sekeliling.


"Aku harus cepat pergi!" aku yang memakai dress warna plum ini berdiri dari kursi.


Namun gerakanku dicegah oleh sebuah suara dari seorang perempuan, "Pesanan anda, Nona..." sambil tersenyum penuh arti.


"Ehm, b-berapa harga makanannya? s-saya ada kepentingan lain. K-kalau kamu mau kamu, makanan ini buat kamu saja," ucapku dengan susah payah.


"Spagetti dengan hati angsa yang dimasak dengan sempurna, anda akan menyesal jika tidak mencobanya, Nona..." ucapnya sambil meletakkan sebuah piring di atas meja.


"Ah, ya! m-mungkin lain kali, ya..." ucapku berbohong sambil memasukkan ponsel ke dalam tas dan mengeluarkan sejumlah uang.


"Makanlah sedikit saja, Nona. Atau kami akan dipecat karena dituduh lalai dalam melayani tamu..." ucapnya dingin. Wanita yang memakai dress panjang berwarna susu itu bicara dengan nada memelas. Seragam yang dipakai para staff wanita benar-benar sangat aneh.


"Maaf s-saya ... Aaaaaaaaaarrrrrgghh!" aku melihat spagetti itu berubah menjadi sekumpulan cacing tanah yang panjang dan bergerak-gerak.


"Hahhahahahahahahhaha" suara lengkingan dari pelayan yang menghidangkan spagetti tadi.


"Arrrrrrrghhhhkkk, hhh .... hhh..."


Aku berlari menuju lift. Aku pencetin itu tombol beberapa kali, nggak mau kebuka.


Beberapa makhluk yang tadi ada di dalam restoran bergerak keluar.


"Bukaaaaaa!!!!" aku mencetin tombol makin nggak sabaran.


"Aaaaaaahhh, sial!" aku nggak bisa nungguin lift itu kebuka.


Aku melihat ada tanda emergency exit.


"Hhhhh ... hhhh..." aku berlari ke arah tangga darurat yang sudah pasti gelap dan pengap.


Kaki ku dengan kumayan gempor turun tangga dari lantai 4 menuju lobby, aku takut banget tapi aku harus cepat turun, sebelum mereka semua bisa menangkapku.


Sela jariku terasa panas bahkan terasa terbakar, "Aaarrrghhhh! Ridho ... aku takut, Dhooo!" tanpa sadar bibirku memanggil nama Ridho.


"Uhukkkkh..." aku terbatuk saat sampai di lantai dua, deretan tangga itu semakin gelap dan pengap serta debu tebal yang pastinya ada di sepanjang besi pegangan anak tangga.


"Uhuuuuukkkkkkkk, hhhh ... hhhhh,"


"Hihihihi..." suara ringikan terdengar dari lantai atas.


Aku mempercepat langkahku, aku ingin mencapai lantai lobby secepatnya, "Kenapa juga aku harus nyasar kesini ya Allah..."


"Uhukkk, uhuuuukk ... hhh ... hhh," akhirnya aku melihat pintu keluar berwarna merah.


Aku mencoba membukanya, tapi susahhhh begete, "Ya ampun pintu, tolongin akikah dong! kamu kok nggak mau dibuka sih? aaarrghhh, please..." aku mengerahkan semua kekuatanku untuk menarik pintu yang sepertinya nggak pernah dibuka. Wajahku udah banjir keringet daritadi.


"Aaaaaaarrrggkkkkkk! mereka udah deket begoookk! susahhh banget sih bukanya," berbagai macam suara berkumpul menuju lantai paling bawah.


"Aaaaaaaarrrghhhhh! aku nggak mau metong dsini aku belum kaaaaawwwiiin, aaarrrghhh!"


Percaya nggak percaya, the power of kepepet ternyata bisa bikin orang punya kekuatan melebihi apa yang dipikirkannya, dan itu terjadi padaku juga saat ini.


Braaakkkk!


Pintu terbuka.


Aku nggak buang waktu, aku lari keluar. Aku yang tadinya udah hampir mencapai pintu masuk utama mendadak berbalik karena teringat seseorang.


"Pak Karaaaaannn!"


...----------------...