
"Aku? aku kenapa? nggak kenapa-napa kok?" tanganku mulai merambah makanan yang dibawa adek sepupu.
Bego banget emang, apa mataku yang agak bermasalah. Orang pak Karan aja kesini pakai kaos santai ama jeans. Lah kok aku malah dandan kayak orang mau pergi ke kantor. Liburannya emang belum kelar jadinya kayak gini, otak jadi kurang kurang pas.
"Kabur dari rumah sakit dan pergi liburan sendirian, apa kamu tidak memikirkan resikonya?" pak Karan menatapku, dia boro-boro nyomot makanan. Tuh mata aku yakin nggak ngedip sedikitpun. Saking seriusnya ngomong sama aku yang ngeliatin dia juga kagak.
"Aku udah dewasa, dan aku bisa jaga diri sendiri," aku nyaut kayak orang bener aja.
"Ck! kalau dikasih tau--"
"Iya iya aku dengerin kok! aku salah, aku ngerti," aku serobot omongan adek sepupu sebelum mbleber kemana-mana.
"Sekarang bisa nggak kita sarapan dengan tenang?" kataku yang udah laper banget.
Yang paling aku suka kalau adek bawa sandwich yang endolita rasanya. Nggak tau dia beli dimana, yang jelas seleranya diatas rata-rata. Keliatan dari packagingnya aja udah ketebak ini sandwhich level sultan. Setelah kenyang aku pun bangkit dari kursi.
"Mau kemana?" tanya pak Karan mencekal lenganku.
"Ganti baju,"
"Nggak jadi kerja?" tanya adek sepupu yang kesannya ngledek.
Aku males jawabinnya, aku lepasin tangannya dan ngeloyor ke kamar buat ganti pakaian. Tapi aku kok ngerasa gusiku kayak kesobek dikit.
"Kok sakit yah? perasaaan tadi makan nggak ada yang tajem-tajem," aku nyorotin mulut pakai senter. Gusiku keliatan merah dan kayak robek dikit gitu dibelakang gigi geraham paling belakang. Yang aku bisa liat cuma yang rahang bawah aja.
"Ssshhh, pantesan tadi makan juga agak sakit dan nggak nyaman. Ternyata ini penyebabnya, " aku elus-elus pipiku. Berharap sakitnya sedikit berkurang.
"Apa ini efek ditempelin setan kemarin? tapi masa sih sampai ke gusi-gusi gitu?"
Aku mencoba mengabaikan rasa nyeri yang mulai menjalar ke kepala.
Dan pas aku mau nemuin pak Karan lagi, ternyata di meja makan nambah satu personil lagi yang aku nggak tau kapan datengnya.
"Ridhooo?" gumamku.
Mereka lagi adu tatap, "Pada kenapa sih?" gumamku dalam hati.
"Eheeeemmm!" aku sengaja dehem agak kerasan, dan mereka auto nengok dong.
"Kapan dateng?" aku nanya Ridho.
"Baru aja, Sayang..." ucap Ridho manasin.
Emang kamfret si Ridho, di depan Rimar aja nggak muncul tuh kata Sayang. Giliran ada adek sepupu aing aja, main sayang-sayang segala.
"Kok belum siap-siap kan kita mau pergi?" ucap Ridho.
Wah, nglindur bin nglantur nih orang. Sengaja banget ngusir pak Karan dari sini, dia kagak tau apa yang aku nikmatin sekarang ya nggak jauh-jauh dari belas kasihannya pak Karan sebenernya.
"Memangnya kamu ada rencana pergi hari ini?" pak Karan menanyaiku seperti Bapak nanyain anak perawannya yang mau jalan sama gebetannya.
"I ...ya?" ucapku.
"Ya sudah kalau begitu, hati-hati. Tadinya saya mau ngajak kamu ketemu papa. Tapi karena kamu mau jalan dengananysia yang satu ini, jadi nanti kita atur waktu lagi..." ucap pak Karan.
"Ehm, aku nggak tau. Maaf ... titip salam buat Om kalau gitu," ucapku.
Pak Karan pun pergi meninggalkan unit apartemenku, dan tinggalah kami berdua disini.
"Ssshhh," bibirku refleks mendesis. Berasa sakit lagi nih gusi.
"Kenapa?" tanya Ridho.
"Beneran?" Ridho seakan nggak percaya.
"Bukan masalah besar, cuma gusi yang sobek..."
"Coba sini aku liat," Ridho gerakin tangannya, nyuruh aku mendekat.
"Ck, kamu bukan dokter! mana ngerti soal kayak beginian," aku pegangin pipi. Duduk dengan pasrahnya. Boro-boro kepikiean mau pergi, yang ada pengennya tiduran mulu di balik selimut.
"Sini, aku liat," Ridho mendekat dan nyuruh aku buka mulut.
"Oh, ini mah. Mau muncul gigi!" kata Ridho.
"Aku udah gede, mana mungkin muncul gigi baru. Ngarang banget jadi orang!"
"Elah nggak percaya banget. Itu namanya gigi bungsu atau bahasa kerennya wisdom teeth, mau numbuh tuh?! makanya sakit," ucap Ridho.
"Nggak usah sotoy,"
"Aku bukan sotoy, tapi aku udah ngalamin itu. Rahang atas bawah, dan gigi bungsuku semuanya terpendam..." jelas Ridho.
"Terus diapain?"
"Diambil lah, dicabut! aku juga awalnya kayak gitu tuh, gusinya sobek dikit-dikit dan rasanya bikin meriyang! persis kayak waktu kamu kabur ke luar pulau, bikin aku meritang nggak karuan!" ucap Ridho
"Nggak mau lah, dicabut! sakit,"
"Kalau nggak sakit namanya bukan dicabut tapi dielus, Va!" Ridho nyeletuknya suka nyebelin.
"Itu juga aku tau!"
Wisdom teeth apaan, mentang-mentang sakitnya tuh ngalah-ngalahin kenyataan gitu, makanya pake dinamain gigi kebijaksanaan. Tapi makin lama makin atit ya.
"Besok ke rumah sakit buat ngecek tuh gigi, sekarang aku beliin obat anti nyeri biar mendingan tuh gusi sebelum kamu tambah meriyang,," kata Ridho.
Oke, kali ini mau nggak mau dengan pakai segala jurus aku kinum obat bulet yang dibeliin Ridho tadi di apotek. Dan hasilnya, lumayan. Kepala nggak nyut-nyutan banget. Karena aku yang emang lagi nggak kondusif, Ridho pun nggak jadi ngajakin aku buat ngukur jalan ama nyensus tempat-tempat kulineran. Kita cuma makan sama nonton film aja di ruang tengah.
.
.
Paginya, aku dipaksa buat ke dokter gigi. Duduk di kursi penyiksaan ini sungguh bikin aku khawatir.
"Gimana, Dok?" tanya Ridho yang persis kayak emak-emak yang lagi nganter anaknya cabut gigi.
"Sepertinya ada gigi geraham paling belakang yang akan muncul. Untuk memastikannya, sekarang nona Reva lebih baik melakukan rontgent panoramic," ucap dokter laki-laki, dan nggak ganteng. Sengaja banget si Ridho nyarinya yang udah bapak-bapak nih mesti.
"Yuk, Va..." ucap Ridho nyuruh aku turun.
"Mau diapain lagi?" aku dengan muka ngenes.
"Di rontgent dulu giginya,"
"Ribet banget, udah pulang aja..." aku nawar.
"Di rontgent mah nggak sakit, Va. Lebih sakit aku yang cuma bisa jagain kamu selama 2 tahun dari jauh!" kata Ridho lebay.
Daripada nih orang nyerocos kemana-mana jadilah aku ngikutin apa yang Ridho mau.
Tapi sayangnya masuk ke ruang rontgen ini kok hawanya nggak enak. Dalam hati cuma berdoa 'Etan-Etan yang baik hatinya, jangan nongol ya, kita lagi mau dipoto giginya nuh ama tulang belulangnya, udah pada anteng aja disitu liatin dan jangan nyamperin'. Oh ya, Ridho nggak boleh masuk, dia cuma nungguin di depan. Kalau pak Karan mah, udah pasti nih semuanya pakai jalur ekslusif. Hadeuh kok jadi bahas adek sepupu, nggak boleh ya. Inget, uang bukan segalanya, tapi kalau nggak ada uang orang jadi uring-uringan. Haiiishhh, malah ngelantur kemana-mana.
"Udah?" tanya Ridho wajtu aku keluar ruangan. Aku cuma ngangguk aja.