Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Komat Kamit Baca Buku Yasin Terbalik


Tiba-tiba aku mendengar suara hapeku berbunyi dari dalam tas yang aku taruh di kamar yang di tempati Ridho buat ganti baju.


Tapi langkahku mendadak berhenti. Kan Ridho lagi di dalem, nggak mungkin aku asal nyelonong buka pintu. Apalagi kan dia bilang tadi mau sholat.


"Nak Revaa..." pundakku ditepuk dari belakang.


"Eh, ibu..."


"Ini mukenanya..." bu Ratmi menyerahkan mukena putih yang dilipat rapi.


"Terima kasih,"


"Ibu ke depan dulu ya," ucap bu Ratmi yang berjalan ke teras depan. Mungkin mau beresin bekas minum atau mau nemenin pak Sarmin yang masih betah cari angin di luar.


Dan pas aing nengok bertepatan dengan Ridho yang buka pintu.


"Astaghfirllah! Ridhooo" aku ngeliat muka Ridho di depan pintu, untung kita nggak adu jidat.


"Ya ampun Reva! di rumah orang jangan tereakan!" kata Ridho.


"Lagian kenapa tau-tau nongol gitu sih! aku kan kaget liat muka kamu!"


"Aku juga kaget kamu udah berdiri di depan pintu!"


"Mau ngapain?" tanya Ridho.


"Sholat!"


"Nggak mandi? kok yang basah cuma muka?" tanya Ridho.


"Kan aku udah mandi waktu di rumahnya bu Wati, lah bukannya kamu juga udah mandi disana sebelum sholat maghrib?"


"Oh iya, yah! makanya aku agak dejavu gitu Va liat air di kolam!" kata Ridho.


"Heleh! minggir, aku mau sholat," ucapku sambil kibasin tangan.


"Mau abang imamin nggak neng?" ucap Ridho sambil naik turunin alis.


"Ridhooooo!" aku malu-malu meong.


"Hahahah, ya udah. Aku ke depan dulu, kalau kamu takut pintunya dibuka aja jangan ditutup!" suruh Ridho.


Aku mundur beberapa langkah, buat ngasih akses ini cowok ganteng buat keluar. Takut nempel ntar aing malah batal wudhunya.


Setelah Ridho pergi aku mulai sholat siya, pi tu sengaja aku biarin terbuka, jadi kalau tiba-tiba ada jurig aku tinggal teriak.


Penasaran siapa yang nelfon tadi, selesai sholat aku ambil hape di dalam tas. Dan ternyata adek sepupu yang nelponin mulu. Aku liat ada beberapa missed call.


"Biarin aja, lah. Kalau nelpon pasti mau nyuruh-nyuruh!"


.


.


Singkatnya, kita semua udah berkumpul di ruang tamu. Bu Ratmi sengaja bikin gelaran pakai tikar. Selain aku dan Ridho ternyata ada 2 atau 3 orang yang ikutan dalam pengajian dadakan ini.


Nggak ada ritual aneh-aneh seperti kemenyan atau bunga setaman dua taman, nggak ada.


Ini beneran kayak orang ngaji pada umumnya. Aku sih nurut aja, cuma yang jadi pertanyaan ini beneran cuma begini? nggak perlu secara fisik pak Sarmin ngirim aku ke alam lelembut buat jemput mbak Sena?


Kalau iya aku sih malah seneng ya, karena aku nggak perlu ngeliat syaithon-syaithon yang terkutil itu, eh terkutuk. Males juga kalau ketemu demit terus harus kejar-kejaran di hutan kayak di film-film horor, nggak mau lah.


Aku duduk disamping bu Ratmi sedangkan Ridho duduk agak jauhan sama aku, dia di barisan laki-laki, kita berhadapan.


Tapi moon maap, aing kan belum pinter-pinter amat ngajinya, hurufnya tau tapi bacanya kan nggak bisa cepet. Aku jadi bingung, mereka udah baca sampai mana gitu akhirnya aku cuma pura-pura bolak-balik lembaran yasin sambil mulut komat-kamit nggak jelas.


Dan ketika lagi khusyuk liat rangkaian huruf arab ini, eh bu Ratmi nepok.


"Nak Reva! buku yasinnya terbalik!" celetuk bu Rai lirih.


Dan seketika harga diri aing, pencitraan yang suda dibangun setengah jam ini mendadak sirna. Untung aku nggak kejengkang saking kagetnya pas dapet celetukan dari bu Ratmi yang malah melayangkan senyumnya sama aku. Aku yakin dalam hatinya dia pengen ngakak, tapi nggak etis kan kita lagi pada baca yasin.


Aku yang udah dapet warning kalau buku yang aku baca terbalik pun segera memutar buku itu dengan raut wajah yang udah pasti malunya nggak ada obat.


"Udah jelas ini bu Ratmi jadi tau aing belum bisa baca alqur'an..." aku dalam hati.


Acara malam ini ditutup debgan doa bersama, memohon supaya mbak Sena cepat bisa ditemukan. Aku ngeliat pak Sarmin menengadahkan tangan sambil memejamkan mata. Raut wajahnya begitu tegang, bikin aing juga ngerasain hal yang sama.


"Ada apa lagi? apa terjadi sesuatu dengan mbak Sena?" aku dalam hati. Aku sempat melirik ke calon imam, dia juga balik menatapku.


"Ya Allah ya rabb, berikan jalan dan petunjuk untuk kami menemukan saudara kami yang bernama Sena. Berikan dia jalan dan penerangan, supaya dia bisa kembali pada keluarganya yang sudah lama mencari-cari keberadaannya..." ucap pak Sarmin.


"Sena ... Sena, kembalilah, Nak. Kami semua menunggumu," ucap pak Sarmin.


Lalu dia melafadzkan doa yang kemudian diamini kita semua.


Setelah pak Sarmin selesai berdoa, dia memandang aku dan Ridho secara bergantian.


"Dia semakin lemah, tapi inshaa Allah dia masih bisa bertahan dan bisa ditemukan dalam waktu secepatnya. Kita hanya bisa berdoa pada Allah, karena tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah menghendakinya. Yang kita bisa lakukan hanya berdoa dan berusaha, selebihnya kita pasrahkan pada Allah sang pemilik alam semesta..." ujar pak Sarmin.


"Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan, Pak haji?" tanya Ridho.


"Besok kita akan mencoba mencari ke hutan, kalian istirahatlah. Karena selepas subuh kita akan mencoba menjelajahi hutan..." kata pak Sarmin.


"Baik Pak haji..." ucap Ridho.


Malam ini orang yang ikut dalam pengajian pun satu persatu meninggalkan rumah setelah menikmati minuman dan camilan sekedarnya. Aku merasa berhutang budi pada pak Sarmin dan bu Ratmi secara mereka mau ngebantu kita yang notabene orang asing dan sama sekali nggak mereka kenal gitu.


"Nak Ridho dan Nak Reva, kalian punya sanak saudara disini?" tanya pak Sarmin.


"Tidak ada, Pak! awalnya kami datang sebenarnya ingin meminta bantuan pada nenek dari salah satu teman kami di kantor. Tapi ternyata beliau menolak, jadi kita memang tidak punya sanak saudara di daerah sini..." ucap Ridho.


"Ya sudah kalau begitu kalian menginap disini saja. Tapi kami cuma punya satu kamar kosong," ucap pak Sarmin.


"Tidak apa-apa, Pak. Nanti saya tidur di ruang tamu," kata Ridho.


Ya iyalah, masa akikah yang tidur diluar kan nggak mungkin. Jadilah malam ini kita menginap di rumah pak Sarmin. Aku yang emang nggak enak banget perasaannya, jadi gelisah nggak bisa tidur. Aku buka pintu buat nyamperin Ridho yang kayaknya juga masih melek.


"Loh belum tidur?" tanya Ridho yang ngeliat aku duduk di salah satu kursi di ruang tamu.


"Nggak bisa tidur,"


"Kenapa? banyak nyamuk?" tanya Ridho.


"Itu salah satunya. Tapi yang bikin aku nggak bisa merem, perasaanku kayak nggak enak gitu..." kataku.


"Perasaan nggak enak karena masih kepikiran buku yasin yang kebalik?" celetuk Ridho.


"Ihhhhh, Ridhoooo!"


"Ssssssuuut, jangan tereak. Ini rumah orang! ntar pak Sarmin dan bu Ratmi bisa kebangun!" ucap Ridho naruh telunjuk di bibirnya.


"Baca-baca surat pendek, ntar juga ngantuk terus bisa tidur..." lanjut Ridho.


"Surat pendek apaan, Dho? surat apaan, nggak ngerti..."


"Astagaaa, ck ck ck!" dia geleng-geleng kepala.


"Surat di alqur'an yang biasa dibaca pas kamu sholaaaaat..." ucap Ridho.


"Oooh itu..."


"Jangan-jangan alfatihah aja kamu nggak hafal!" tuduh Ridho.


"Ih, hafal ya! sembarangan!" ucapku yang ngelempar bantal sofa ke makhluk ganteng tapi nyebelin itu.


...----------------...