
"Terus apa?" tanya pak Karan.
"Ya terus ... terus suka halusinasib!" kataku yang melihat ke arah lain.
"Banyak penjaga, jadi tidak perlu khawatir!" kata pak Karan yang memegang salah satu pundakku.
"Ada bel di sebelah sana, jadi kalau misalnya ada setan tiba-tiba silaturahmi ke kamar kamu. Para penjaga nanti secepat kilat akan datang kemari. Apa perlu aku minta dua orang berdiri di depan kamar kamu?"
"Tidak perlu! selain kasian kaki mereka bisa kram, saya juga risih kalau dijaga seperti itu. Saya bukan anak raja atau ratu yang butuh penjagaan ketat," jawabku melihat ke arah adek sepupu.
Nggak lama ada orang yang ngetok pintu, ternyata itu pengawal yang bawa tasku.
"Taruh saja disitu!" pak Karan nunjuk ke sebuah sofa.
"Baik, Tuan!"
Dan setelah melakukan apa yang pak Karan suruh tadi, pengawal itu pun menutup pintu kembali.
"Sekali lagi, seandainya ada hal lain yang kamu butuhkan kamu tinggal pencet bel dan orangku akan datang kemari..." ucap pak Karan, aku cuma ngeliat dengan ekspresi bingung. Ya bingung harus gimana.
"Ya sudah kalau begitu, sudah malam! lebih baik kamu istirahat..." kata pak Karan yang berbalik dan jalan menuju pintu.
Sedangkan aku hanya melihat pintu yang perlahan menutup sampai akhirnya aku sendirian disini.
"Uy, yang ada disini. Please nggak usah nongol, karena aku juga males dan nggak mau kenalan. Oke, aku mau istirahat dengan nyaman!" ucapku seakan bilang pada makhluk yang mungkin menjadi penghuni rumah ini, iya itu pun kalau ada.
Aku duduk di tepi ranjang sambil buka hape. Ternyata disitu banyak banget chat dari Ridho yang nanyain kenapa hapeku metong.
"Yang ditanyain hape, nyebelin banget sih!"
Baru juga online bentar, Ridho nelpon. Angkat nggak ya. Nggak diangkat kangen, tapi aku sekarang masih sebel. Aiiih, pergolakan batin yang sangat menyebalkan.
"Halo," akhirnya aku angkat.
"Ya ampun, Revaaaaaa!" suara Ridho udah naik 1 oktaf duluan.
"Berisik deh, Dho! kuping aku sakit denger suara kamu naik volumenya kayak gitu!"
"Ya habisnya kenapa hape pake dimatiin segala? biar apa, hah? bikin aku khawatir!" Ridho nyerocos.
"Kenapa emang?"
"Astaga, kamu--"
"Udah deh, Dho! kalau kamu nelpon cuma mau ngomelin aku, mending aku tutup sekarang. Karena kepalaku udah nyut-nyutan!" aku serobot omongannya.
Aku denger Ridho ambil napas dan menghembuskannya, "Jangan ditutup, aku minta maaf..."
Aku diem aja, jual mahal dong. Mas pacar suka nggak peka banget kalau pacar lagi ngambek. Di romantis-romantisin dulu kek apa gimana, ini malah langsung dimarahin perkara hape sengaja dimatiin.
"Vaaaa..." mas pacar manggil.
"Ya," jawabku singkat.
"Jutek amat sih?" Ridho ngomong pelan.
"Nggak, tuh! biasa aja,"
"Kamu marah sama aku?" tanya Ridho.
Helooooooowwwww, pertanyaan macam apa ituuuuu. Aku nggak paham sama mas pacar, kenapa dia jadi nggak peka kayak gini. Jangan-jangan dia udah kesengsem sama mbak Luri, kan waktu di rumah pak Sarmin dia makan tuh makanan yang dimasak mbak Luri. Aku curiga, makanan itu ada peletnya. Kalau iya bener, kok mbak Luri tega sih mau ngerebut Ridho dari aku? Ini jelas nggak bisa dibiarin. Aku nggak akan tinggal diam, karena aku bakal rebut balik kangmas.
"Vaaa, kok diem aja?" suara kangmas ngebuyarin semua yang lagi aku pikirin.
"Harusnya ya, seneng. Kan lagi ditelfon sama pacar," kata Ridho.
"Cih, baru inget punya pacar? aku kira udah lupa!"
"Nggak lupa, Va. Udah aku catet juga ini di otak sama hati kalau pacarku cuma Reva. Kalau nggak percaya, kamu bisa liat sendiri sini, Va..." Ridho ngegombel.
"Gombal!"
"Loh kok gombal sih? beneran," ucap Ridho.
"Kalau inget nggak mungkin seharian nggak ada kabar, pasti kamu lagi selingkuh ya?" aku nuduh asal.
"Dih, selingkuh! aku lagi ngurusin setan malah dituduh selingkuh. Ini aja aku umpel-umpelan di kosan bareng Bara sama pak Sarmin!" kata Ridho setengah berbisik.
"Emangnya belum kelar?" tanyaku.
"Baru kelar tadi. Karena ternyata, Vena bener-bener udah diluar dugaan kita. Ntar deh aku ceritain kalau pas ketemu..." ucap Ridho.
"Kamu di rumah pak Karan?" lanjut Ridho nanya dimana sekarang posisi aing.
"Iya," aku jawab setengah nggak enak gitu.
"Ya udah, kamu diem-diem dulu disana. Sebenernya hati aku nggak rela, tapi aku nggak ada pilihan lain. Karena aku juga belum bisa nyariin tempat lagi,"
"Ya udah, yang kayak gitu nggak usah dipikirin banget. Kita kelarin dulu masalahnya Mona..." kataku yang menangkap sinyal-sinyal stres dari suara Ridho.
"Kalau ada apa-apa cepet telfon aku, terutama kalau ada hal-hal yang membahayakan Mona. Karena bisa saja Vena melakukan hal yang lebih gila lagi!" kata Ridho.
"Iya, Dho..."
Emang yang lagi diincer kan Mona, tapi nggak menutup kemungkinan kita semua kena imbasnya.
"Besok kamu kerja?" aku nanya soalnya besok hari senin. Awal pekan yang pasti selalu bikin para karyawan riweuh sama kerjaan.
"Iya berangkat. Kan nggak lucu baru beberapa hari kerja terus bolos, bisa dipecat aku, Va!" ucap Ridho.
"Ya udah, kamu istirahat. Tidur, biar besok nggak kesiangan!"
"Ya udah, aku tidur dulu ya. Kamu juga..." kata Ridho yang kemudian nutup sambungan teleponnya.
Aku menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan. Ada aja masalah yang bikin kita ruwet pikiran.
Aku juga kalau jadi Ridho pasti dilema. Disatu sisi dia harus ngurusin masalah keluarga, disatu sisi dia punya tanggung jawab sama kerjaan dia. Yang pastinya kalau dia milih kerja, bukan berarti dia mengabaikan atau nganggep remeh masalah yang dihadapi Mona. Makanya, dengan banyak pertimbangan Ridho minta bantuan sama Bara dan pak Sarmin. Dia juga dengan kerelaan hati buat biarin aku deket sama pak Karan.
Kalau kayak gini kapan aku kawinnya sama si kangmas. Urusan sama setan kok ya nggak kelar-kelar. Akujuga pengen hidup tenang tanpa ada gangguan-ganggian makhluk ghoib kayak gini.
Aku rebahin badan di kasur yang bikin diriku melayang. Emang kasurnya orang kaya beda banget rasanya, nyamannya nggak udah nggak tertolong.
"Kalau punya rumah kayak gini bareng Ridho, pasti enak banget ya..."
Sedetik kemudian aku toyor kepalaku, "Aiih, aku ini mikirnya apa sih! ck, rumah kayak gini tuh punya nya orang berduit. Lah kita aja warisan kagak punya ngimpi banget punya rumah dengan fasilitas yang nggak kaleng-kalengan!"
"Buat aku asal sama kamu, Dho. Yang nggak nyaman pasti jadi nyaman!" kataku lagi.
"Kapan kamu bawa aku nemuin emak kamu, Dhoooooooooo?" ucapku seraya rentangin dua tangan diatas ranjang.
Namun tiba-tiba...
Braaaakkkk!!!