Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Jejeritan Tengah Malam


Selama perjalanan menuju rumah pak Sarmin, situasi di dalam mobil absurd banget. Nggak ada yang yang bersuara selain Mona yang ketawa-ketawa sendiri nggak jelas.


Pak Karan yang juga sadar dengan kondisi yang nggak biasa ini pun hanya melirik dari kaca spion yang terpasang di bagian depan.


Aku beberapa kali tabrakan tatapan dengan mata adek sepupu. Dia yang tadinya nyetir woles-woles aja walaupun masih dalam kategori ngebut pun semakin menambah kecepatan mobilnya.


Aku sih berdoa mulu ini, semoga kita cepet nyampe gimana pun caranya.


Bara nggak berani ganti posisi, takut si Mona tiba-tiba ngamuk atau tiba-tiba berontak nggak jelas, kita juga yang repot.


Masih mending dia cuma ketawa-ketawa, sambil kedua tangannya mainin jari-jarinya sendiri, daripada dia tiba-tiba jejeritan sambil tereak 'Aing teh saha?', ups!


Perjalanan malam ini lumayan lancar, apalagi yang di deoan nggak pada bertingkah. Alhmdulillah kita sampai di rumah pak Sarmin menjelang tengah malam.


Tapi ada hal tidak terduga yang terjadi.


"Kalian kenapa bawa aku kesiniiii? aaarrrrrghhhh," teriak Mona.


Bara yang jadi sasarannya. Dia dipukul dan dicakar sama Mona.


"Mon, sadar, Mon...?!" aku cuma bisa mencoba misahin Mona dari Bara.


Kasian anak orang jadi bocel semua mukanya. Kalau sadar nih anak pasti nyesel banget udah melakukan kekerasan pada gebetan.


Ridho langsung keluar dari mobil dan nyuruh aku buat keluar dan mengetuk rumah pak Sarmin, "Biar aku yang urus Mona!"


"Iya, Dhooo!" aku pergi sesuai perintah.


Ngeliat aku yang berlari ke arah teras rumah pak sarmin, adek sepupu pun ikutan keluar.


"Lha bukannya bantuin Ridho, dia malah kesini?" aku cuma bisa gelengin kepala.


Tapi masa bodo amatlah, aku langsung ketokin pintu rumah pak Sarmin.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum, Pak? Bu?" aku setengah teriakan.


"Assalamualaikuuummm!" teriakku lagi.


"Sabat, ntar juga dibukain! jangan teriak begitu malem-malem!" kata pak Karan.


Astaganaga, ini situasi udah nggak bisa dikendalikan, masih aja dia bilang nyantai begitu. Nggak aku gubris omongan pak Karan aku terus aja ketuk tuh pintu sampe sakit ini tangan.


"Assalamualaikuuummmm?" aku lebih kenceng.


Ceklek!


"Waalaikumsalam," ucap pak Sarmin yang membuka pintu rumahnya.


"Pak, tolongin kita, Pak..."


Mendengar kata itu, Pak Sarmin keluar dari rumahnya, "Mana Ridho?"


"Di dalam mobil!" aku nunjuk ke arah mobil pak Karan.


Pak Sarmin berlari menuju mobil dia membuka pintu belakang, aku yang mau ngikutin dicegah adek sepupu.


"Mau kemana?" tanya pak Karan.


"Mau nolongin Mona, lah!" jawabku kesal.


"Tidak perlu. Kalau kamu bisa nolongin, kita tidak perlu jauh-jauh datang kemari! biar pak Sarmin yang membantu Ridho. Kamu diam saja!" ucap pak Karan memegang pergelangan tanganku.


Ridho dan Bara mengeluarkan Mona dari dalam mobil dengan susah payah. Sementara Mona terus saja berteriak, "Sialan kalian semua! lepasssss...! aku mau pergiiiii!!!"


"Mon, sadar, Mona!" ucap Bara yang udah nggak karian bentukannya. Rambut acak-acakan dan baju yang compang camping.


"Iya, Pak Haji..." jawab Ridho.


Mona yang sulit dikendalikan pun akhirnya digotong paksa Ridho dan Bara.


"Leeepppaaaaasss, aaaaaaarrghhhh!" Mona jejeritan ditengah malam.


Kita tamu nggak punya sopan santun emang, udah datengnya malem-malem. Nikin kegaduhan pula. Tapi kayaknya para tetangganya pak Sarmin pada kebluk semua, Mona yang ngejeritnya kenceng begitu aja nggak ada yang keluar terus protes gitu, malem-malem ganggu orang istirahat.


Kita semua masuk termasuk aku. Di dalem Mona berulah lagi. Dia berontak dan minta pulang.


"Aaarghhh, lepas! aku mau pulaaaang!"


"Nanti saya pulangkan kamu ke tempat yang seharusnya!" ucap pak Sarmin.


"Rrrrrrghh, orangtua sialan! wanita ini sudah menjadi milikku! kau jangan ikut campur" Mona melotot sambil mengumpat pak Sarmin.


"Sing eling, Mon! Monaaa..." Ridho tepokin pipi adeknya biar sadar. Tapi tetep aja ya, kan yang di dalem tubuh Mona itu makhluk lain. Kadang Ridho suka oleng, deh!


"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" tanya pak Sarmin sambil memegang dahi Mona.


"Kau tidak perlu tau siapa dia! dasar tua bangka! Hahahahaha..."


Pak Sarmin nyuruh Mona biar duduk. Ridho yang sebagai kakaknya langsung maksa Mona buat duduk di bawah dengan dibantu juga sama Bara.


Pak Sarmin mulai menempelkan tangannya di punggung Mona, dia merapalkan doa-doa. Mona menjerit histeris, "Aaaaaaaaarhhhhh!"


"Katakan, siapa yang menyuruhmu mengganggu wanita ini?" pak Sarmin memaksa makhluk itu supaya mengatakan yang sebenarnya.


"Bukan urusanmuuu!!"


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengeluarkanmu secara paksa!" ucap pak Sarmin.


Aku yang mau mendekat lagi-lagi dicegah pak Karan, "Jangan mendekat, nanti kalau jin itu masuk ke dalam tubuh kamu, bagaimana? yang ada kamu bikin repot semua orang!"


"Ck, serba dilarang!" gumamku.


Selama proses pengeluaran jin dari dalam tubuh Mona, aku dilarang mendekat.


Ridho mah lagi ribet ngurusin adeknya, dia kayaknya inget aku aja nggak. Karena situasinya lagi seriweuh itu.


Dan suara Mona kembali melengking namun sepertinya tenaganya sudah habis, "Aaaaaarrrghhhhhhh! hoeek!" dia seperti memuntahkan sesuatu tapi nggak ada apa-apa yang keluar dari mulutnya.


Selepas itu Mona pingsan seketika.


"Huuufhh, syukurlah dia sudah keluar!" ucap pak Sarmin yang sepertinya sudah kelelahan menghadapi makhluk yang tidak diketahui asal usulnya darimana.


"Mon, Monaaa..." panggil Ridho.


"Biarkan saja, nanti juga dia akan sadar. Tubuhnya terlaku lemah, biarkan dia beristirahat..." ucap pak Sarmin.


Dan tak lama istri dari pak Sarmin keluar, untuk menghidangkan teh panas. Ya nggak kebayang sih kalau tadi ada air panas di sekitar Mona, pasti bahayain banget. Dan kebetulan atau bagaimana, ruang tamu pak Sarmin ini lagi dipasangi karpet. Terus kayak kursi-kursi itu ditaruh di teras, mungkin habis ada acara pengajian atau apa. Tapi ini jadi keuntungan tersendiri, kegiatan berontak Mona jadi lebih leluasa tadi karena nggak ada barang-barang disini.


"Silakan diminum, Nak..." ucap bu Ratmi yang menata minuman di bawah, dia juga nyiapin makanan lain kayak ubi rebus dan pisang goreng.


"Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan!" ucap Ridho.


Tau aja bu Ratmi kalau perutku dari maghrib tadi belum diisi apa-apa. Boro-boro sesuap nasi, seteguk air aja nggak sempet.


Bu Ratmi ke dalam kemudian kembali lagi dengan bantal di tangannya. Mona lagi rebahan di samping Ridho.


"Biar kepalanya nggak sakit," bu Ratmi mengalasi kepala Mona dengan bantal. Dia mengusap sebentar kening sampai ubun-ubun calon adik iparku itu.


"Dia pasti kelelahan! kalian minumlah dulu," ucap bu Ratmi yang duduk di dekat Mona.


Aku yang ngeliat kangmas udah awut-awutan nggak jelas pun segera mendekat ke calon suami, "Kamu nggak apa-apa?" tanyaku.


"Nggak, Va..." jawab Ridho.